Chapter One
Dijebak
POV: Arya
Ada tiga tanda Kevin sedang berbohong, dan malam itu ketiganya muncul sekaligus.
Pertama, dia wangi. Bukan wangi Kevin yang biasa—sabun batangan dan sedikit sisa keringat futsal—tapi wangi yang tajam dan mahal, yang jelas baru dibuka dari kotaknya tadi sore.
Kedua, kemejanya disetrika sampai lipatan lengannya bisa dipakai memotong kertas.
Ketiga, dia tersenyum pakai seluruh gigi.
“Makan berdua,” katanya sambil bersandar di kusen pintu bengkel. “Aku traktir. Tempatnya baru, sepi, kamu pasti suka.”
Aku meletakkan kunci setem di atas kain flanel, lalu menutup tutup tuts piano tua milik Bu Harjo yang sudah tiga hari menginap di bengkel. Piano itu masih kurang dua nada di oktaf bawah. Besok saja.
“Kamu wangi,” kataku.
“Aku selalu wangi.”
“Kemejamu disetrika.”
“Aku orang yang rapi.”
“Kamu senyum pakai gigi.”
Kevin langsung merapatkan bibir. Terlambat. Dua puluh tahun berteman membuatku hafal semua versi senyumnya, dan yang pakai gigi selalu berarti ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik punggung.
“Oke,” katanya, mengangkat kedua tangan. “Tempatnya nggak terlalu baru. Tapi sepi. Sumpah.”
“Kevin.”
“Ar. Please. Sekali ini aja.”
Dia jarang bilang please. Kevin bisa meminta apa saja pada siapa saja dengan gaya seolah dia sedang memberi hadiah, dan biasanya orang memberinya lebih dari yang dia minta. Tapi padaku dia hampir tidak pernah meminta apa-apa. Selama dua puluh tahun, Kevin tidak pernah menyeretku ke tempat yang tidak kusukai. Itu semacam perjanjian tidak tertulis di antara kami, seperti aturan bahwa dia selalu mengambil kerupuk terakhir dan aku selalu membiarkannya.
Jadi aku menimbang. Kemungkinan terburuk: tempatnya ramai. Tapi setiap tempat ramai punya pojok. Aku belum pernah menemukan ruangan tanpa pojok, dan aku sudah mencari cukup lama.
Aku melepas celemek.
Tempat yang “baru” itu ternyata aula SMA kami.
Spanduk sepanjang enam meter terbentang di atas pintu masuk, huruf-hurufnya kuning di atas latar biru tua: REUNI AKBAR LINTAS ANGKATAN SMA TUNAS BANGSA — “PULANG KE RUMAH YANG SAMA”. Di bawahnya ada gapura balon. Di bawah gapura balon ada meja registrasi. Di belakang meja registrasi ada suara dangdut koplo dari sound system yang dipasang terlalu dekat dengan dinding, sehingga bas-nya memantul dan kembali dengan terlambat sepersekian detik.
“Oke,” kata Kevin. “Aku bisa jelasin.”
Aku berbalik ke kiri.
Kevin sudah ada di sana. Tentu saja dia sudah ada di sana. Kevin selalu berdiri di sebelah kiriku, sejak TK, sejak hari pertama dia sadar anak laki-laki dengan mata aneh di bangku sebelahnya tidak pernah melihat bola yang datang dari arah itu. Dia berdiri di kiriku seperti orang lain memasang pagar. Malam ini, pagar itu dipakai untuk mencegahku kabur.
“Kamu bilang tempatnya sepi.”
“Sepi itu relatif.”
“Kamu bilang makan berdua.”
“Kita berdua. Makan. Di sini ada makanan.” Dia menunjuk deretan meja prasmanan dengan wajah penuh kemenangan. “Semua kalimatku secara teknis benar.”
“Kamu belajar itu dari siapa?”
“Dari kamu.”
Itu, sayangnya, juga benar.
Di dalam aula, suaranya jauh lebih banyak.
Orang lain mungkin mendengar keramaian sebagai satu hal: bising. Aku mendengarnya sebagai tumpukan. Ada denting sendok di piring melamin. Ada tawa perempuan di sudut kanan yang naik setengah nada setiap kali seseorang menyebut nama “Pak Bambang”. Ada mikrofon MC yang menyentak dengung tipis setiap kali dia terlalu dekat dengan speaker. Ada suara sepatu hak di lantai keramik, tidak rata, sebab salah satu tumitnya lebih aus.
Pekerjaanku mendengarkan yang salah. Kebiasaan itu tidak bisa dimatikan hanya karena aku tidak sedang bekerja.
Beberapa orang menoleh saat kami masuk. Lebih tepatnya, mereka menoleh pada Kevin, lalu mata mereka meluncur ke sampingnya, ke aku, dan berhenti di wajahku sedikit terlalu lama.
“Eh, itu yang matanya beda, kan?”
“Iya, anak IPA 3. Yang dulu di perpustakaan terus.”
Aku tidak tersinggung. Aku sudah dua puluh enam tahun jadi yang matanya beda. Sebutan itu sudah seperti nama tengah.
Mata kananku hitam dengan lingkar cokelat tipis di sekitar pupilnya—biasa, kecuali minusnya yang lumayan parah. Mata kiriku biru. Bukan biru langit, bukan biru laut. Ibu pernah menyebutnya azure, kata yang dia temukan di katalog cat tembok waktu aku masih SD, lalu dia bangga sekali seolah dia sendiri yang menemukan warnanya. Mata itu tidak bisa melihat. Tidak pernah. Sejak lahir, sisi kiri duniaku adalah ruang kosong yang tidak gelap dan tidak terang—cuma tidak ada.
Kacamataku punya lensa tebal di kanan dan lensa kaca biasa di kiri. Lensa kiri itu tidak berguna apa-apa. Aku memakainya supaya kacamataku tidak miring. Dan supaya, kalau aku jujur, mata kiriku punya sesuatu untuk dilakukan.
“Kevin! Kevin Aditama!”
Dalam tiga puluh detik, Kevin ditelan. Seseorang merangkulnya dari belakang, seseorang lain menepuk pundaknya, dua perempuan memekik namanya dengan nada yang sama persis. Dia sempat menoleh ke arahku dengan wajah minta maaf yang separuh tulus, sebelum lingkaran orang itu menutup di atas kepalanya seperti air.
Aku mulai mencari pojok.
Pojok itu ada di dekat panggung.
Di sana ada piano tegak tua, ditutup kain batik cokelat yang pinggirnya berdebu. Di sebelahnya ada satu kursi lipat yang sepertinya ditinggalkan panitia. Dinding di kiri, ruangan di kanan. Seluruh aula bisa kulihat, dan tidak ada yang bisa mendekatiku dari sisi yang tidak bisa kulihat.
Sempurna.
Aku duduk. Setelah beberapa menit, tanganku melakukan apa yang selalu dilakukannya di dekat piano: mengangkat ujung kain batik, membuka tutup tuts, dan menekan satu nada.
La.
Nada itu keluar, tipis dan bergetar, lalu mengambang di antara dangdut koplo dan denting sendok.
Fals. Turun. Tidak banyak—orang lain tidak akan sadar—tapi cukup untuk membuat kulit di belakang telingaku terasa gatal.
“Mas Arya?”
Aku menoleh ke kanan. Pak Darto, penjaga sekolah, berdiri dengan kemeja batik yang kebesaran dan gelas teh di tangan. Rambutnya sekarang putih semua. Dulu dia yang membukakan pintu perpustakaan untukku setiap jam istirahat, sebelum petugas perpustakaan datang, karena katanya aku satu-satunya murid yang bisa dipercaya tidak akan mencoret-coret meja.
“Pak Darto.”
“Masih ingat saya?”
“Bapak yang ngasih saya kunci perpustakaan.”
Dia tertawa, senang. “Masya Allah. Sudah besar. Kerja di mana sekarang?”
“Setel piano, Pak.”
“Oalah.” Dia melirik piano di sebelahku. “Pantes tangannya langsung ke situ. Piano itu sudah nggak ada yang setel, Mas, sejak kepala sekolah ganti. Katanya nggak ada anggaran.”
“Nada La-nya turun.”
“La itu yang mana?”
“Yang jadi patokan semua nada lain,” kataku. “Kalau dia turun, semuanya ikut salah. Tapi pelan-pelan, jadi nggak ada yang sadar.”
Pak Darto mengangguk-angguk dengan wajah orang yang tidak mengerti tapi tetap menghargai. Lalu seseorang memanggilnya dari arah dapur, dan dia pamit sambil menepuk bahuku, di sebelah kanan.
Aku menutup tuts kembali.
Dari pojok, aula terlihat seperti sebuah orkestra yang tidak pernah latihan bersama.
Aku memperhatikannya selama beberapa lama. Aku suka memperhatikan. Memperhatikan adalah cara menjadi bagian dari sesuatu tanpa harus menjadi riaknya.
Pusat orkestra itu ada di tengah ruangan. Dua perempuan.
Aku tahu mereka pusatnya bukan karena aku melihat mereka lebih dulu, tapi karena semua hal lain di ruangan itu seperti miring ke arah mereka. Tiga laki-laki di dekat meja prasmanan merapikan rambut pada saat yang sama tanpa sadar. MC reuni salah menyebut nama angkatan dua kali karena matanya terus melirik ke sana. Seorang pelayan katering hampir menjatuhkan nampan gelas, menyelamatkannya di detik terakhir, lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa sambil menatap ke arah yang sama.
Perempuan pertama memakai gaun hitam. Rambutnya panjang dan bergelombang, cara berdirinya seperti orang yang tahu persis sedang diperhatikan dan memutuskan untuk tidak peduli. Setiap kali ada laki-laki mendekat, dia cukup mengangkat sebelah alis, dan laki-laki itu mundur dengan sendirinya. Efisien. Aku menghargai efisiensi.
Perempuan kedua memakai gaun warna hijau pucat. Dan dia berbeda.
Dia tertawa. Dia tertawa hampir terus-menerus, dan orang-orang di sekitarnya ikut tertawa. Dia yang menjaga percakapan tetap hidup. Aku melihatnya menarik seorang perempuan berkerudung yang berdiri canggung di pinggir lingkaran, bertanya sesuatu padanya, lalu dalam dua menit perempuan canggung itu sudah jadi pusat obrolan. Dia melakukannya dengan mudah, seperti menyalakan lampu di ruangan orang lain.
Tapi ada yang aneh dengan senyumnya.
Senyum itu sama. Setiap kali. Bentuknya persis sama, ditekan dengan tenaga yang persis sama, seperti tuts yang dipukul mesin, bukan tangan. Orang lain tidak akan sadar. Senyum itu tetap indah. Tapi aku sudah sepuluh tahun mendengarkan senar yang kelihatannya benar dan ternyata tidak.
Lalu dia pamit dari lingkarannya. Dia berjalan ke arah pojokku, dan untuk sesaat kukira dia melihatku. Ternyata tidak. Dia berhenti di balik pilar besar tiga meter di depanku, pilar yang menghalanginya dari seluruh aula, dan tidak melihat bahwa di balik bayangan piano masih ada satu orang.
Di balik pilar itu, bahunya turun.
Wajahnya berubah. Bukan jadi sedih—lebih seperti dikosongkan. Seperti panggung setelah lampunya dimatikan. Dia menekan kedua ujung jarinya ke pipi dan memijatnya pelan, memutar, seolah pipinya pegal. Lalu dia menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Setelah napas keempat, dia mengangkat wajahnya, dan senyumnya kembali. Dia memakainya seperti orang memakai jaket sebelum keluar ke hujan. Lalu dia melangkah kembali ke tengah aula, dan lampu-lampu di sekelilingnya menyala lagi.
Aku duduk diam di pojokku, dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak mendengar dangdut koplo sama sekali.
Sepuluh menit kemudian, aku melihatnya lagi.
Perempuan bergaun hitam membisikkan sesuatu di telinganya—sesuatu yang pasti jahat dan pasti lucu—dan dia tertawa. Tapi kali ini lain. Kepalanya terlempar sedikit ke belakang, tangannya menutup mulut terlambat, dan di kedua pipinya muncul dua lekukan kecil.
Lesung pipit.
Aku menegakkan duduk.
Tadi tidak ada. Di semua senyum sebelumnya—senyum yang sama, yang ditekan mesin—lekukan itu tidak ada. Hanya sekarang. Hanya di tawa yang ini.
Dua senyum, pikirku. Satu dengan lesung, satu tanpa. Dan yang tanpa lesung muncul jauh, jauh lebih sering.
Sama seperti piano di sebelahku. Kedengarannya benar bagi hampir semua orang. Tapi turun beberapa sen. Dan tidak ada yang sadar, karena tidak ada yang mendengarkan.
“Ar.”
Kevin muncul di sebelah kiriku—aku tahu dari bau parfumnya sebelum aku memutar badan—dengan napas sedikit tersengal dan dasi yang sudah miring. Dia lolos dari lingkaran manusia tadi dengan korban luka ringan.
“Ar. Ar. Lihat. Dress hitam.”
“Aku sudah lihat.”
“Aku jatuh cinta.”
“Minggu lalu kamu jatuh cinta sama barista.”
“Itu kagum. Beda.” Dia berjongkok di sebelah kursiku, sejajar dengan mataku. Pupil matanya melebar. Ini Kevin yang jarang kulihat. Biasanya Kevin yang didekati, bukan yang mendekati. “Tadi aku coba nyapa. Dia lihat aku, angkat alis, terus balik badan. Aku bahkan belum selesai nyebut nama.”
“Efisien.”
“Ar! Belum pernah ada yang begitu ke aku.”
“Mungkin itu yang kamu suka.”
Kevin terdiam. Lalu wajahnya perlahan-lahan jadi horor, seperti orang yang baru sadar dia jatuh ke lubang yang dia gali sendiri.
“Kamu benar,” bisiknya. “Astaga. Kamu benar.”
“Aku mau pulang.”
“Temani aku ke sana.”
“Nggak.”
“Kamu cukup berdiri. Kayak tiang.”
“Aku sudah jadi tiang di sini.”
“Tiang di sana lebih bagus.” Dia menarik lengan kemejaku. “Ayolah. Dia sama temannya. Kalau aku sendirian ke sana, kelihatan kayak lagi berburu. Kalau berdua, kelihatan kayak... kayak silaturahmi.”
“Aku nggak kenal mereka.”
“Nggak perlu ngomong apa-apa. Temannya itu, yang senyum terus—kamu nggak perlu ngajak ngobrol dia. Dia pasti bisa ngobrol sendiri, sama tembok pun bisa.”
“Dia capek,” kataku.
Kevin berhenti menarik lenganku. “Hah?”
“Yang senyum terus itu. Dia capek.”
Kevin menatapku lama. Dia satu-satunya orang di dunia yang tahu bahwa kalau aku bicara, aku tidak sedang menebak. Dia menoleh ke tengah aula, ke perempuan bergaun hijau pucat yang sedang tertawa dengan senyum mesinnya, lalu kembali padaku.
“Kamu merhatiin dia,” katanya pelan, dengan nada seseorang yang baru menemukan uang di saku celana lama.
“Aku merhatiin semua orang.”
“Nggak, nggak, nggak. Kamu merhatiin dia.”
Aku hendak menjawab. Tapi pada saat itu, perempuan bergaun hijau pucat menoleh.
Dia menoleh ke arah pojok. Ke arah piano. Ke arahku. Mungkin karena Kevin berjongkok di sebelahku dan Kevin, di ruangan mana pun, selalu mengundang tatapan. Tapi matanya tidak berhenti di Kevin. Matanya berhenti di wajahku. Di mataku. Keduanya—yang hitam dan yang azure.
Orang-orang biasanya melakukan satu dari dua hal saat pertama kali melihat mataku. Mereka memalingkan wajah dengan cepat, sopan dan sedikit malu, atau mereka terus menatap dengan kening berkerut, seperti sedang mencoba memecahkan teka-teki.
Dia tidak melakukan keduanya.
Dia hanya memiringkan kepala sedikit. Seperti orang yang mendengar lagu yang belum pernah didengarnya dan ingin tahu nada berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku yang memalingkan wajah lebih dulu.
Di sebelahku, Kevin berdiri perlahan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu apa yang ada di wajahnya.
“Oke,” katanya. “Itu tadi apa?”
“Nggak ada.”
“Ar.”
“Nggak ada apa-apa.”
Dia tersenyum. Pakai seluruh gigi.
“Ayo,” katanya, dan dia menarikku berdiri. Dia menarikku dari lengan kanan, seperti biasa—supaya aku bisa melihat ke mana dia membawaku. Dua puluh tahun, dan dia tidak pernah lupa.
Aku membiarkan diriku ditarik keluar dari pojok. Di belakangku, piano tua itu masih diam dengan nada La-nya yang turun beberapa sen.
Menunggu seseorang yang mendengarkan.
- 1 Dijebak reading
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut