Chapter Eight
Penasaran Itu Bahaya
POV: Davina
Kos Cleo ada di lantai dua sebuah rumah besar di daerah Demangan, dengan jendela yang menghadap pohon mangga dan dinding yang dicat abu-abu karena, menurut Cleo, warna lain terlalu banyak bicara.
Setiap Minggu malam, kalau kami berdua tidak ada acara, kami melakukan hal yang sama sejak kuliah: masker wajah, mi instan rebus dengan telur setengah matang, dan satu film yang tidak akan kami tonton sampai habis karena kami terlalu sibuk bicara.
Malam ini, Cleo memilih masker lumpur hijau yang membuat wajah kami seperti dua ogre kecil. Aku berbaring di kasurnya, kepala menggantung di pinggir, menatap langit-langit terbalik. Cleo duduk bersila di lantai, bersandar ke kasur, dengan mangkuk mi di pangkuan.
Dan dia memakai sandal itu.
Sandal kain lembut warna krem, ukuran tiga puluh delapan. Di dalam kamar. Di atas lantai keramik yang bersih.
“Cleo.”
“Hm.”
“Kamu pakai sandal di dalam kamar.”
“Lantainya dingin.”
“Lantaimu selalu dingin. Sembilan tahun lantaimu dingin. Kamu selalu nyeker.”
Cleo menyeruput mi dengan suara keras, sengaja, untuk menutupi kalimat berikutnya.
“Itu sandal dari Kevin,” kataku.
“Itu sandal dari orang tak dikenal yang ninggalin kotak di atas mobilku. Bisa aja dari penggemar rahasia. Bisa aja dari Pak Satpam.”
“Pak Satpam kasih kamu sandal ukuran tiga puluh delapan yang pas banget?”
“Pak Satpam orangnya jeli.”
“Cleo.”
“Aku nggak mau bahas.” Dia mengangkat sumpit tinggi-tinggi seperti tongkat komando. “Masker kita belum kering. Kalau kita bahas ini, aku bakal ketawa atau marah, dan maskernya retak, dan kita harus beli lagi. Lima belas ribu. Kamu mau bayar?”
Aku tertawa, dan maskerku retak di sudut bibir.
Film yang kami pilih malam itu drama Korea tentang dua orang yang terjebak di dalam lift. Dalam dua puluh menit, kami sudah berhenti menontonnya.
“Jadi,” kata Cleo, meletakkan mangkuk kosong di lantai. “Giliranmu.”
“Giliran apa?”
“Kamu udah interogasi aku soal sandal. Sekarang aku interogasi kamu soal cowok piano.”
“Nggak ada yang perlu diinterogasi.”
“Kamu ke bengkelnya berapa kali dalam dua minggu?”
Aku menghitung dalam hati. “Beberapa.”
“Berapa?”
“...Tujuh.”
“Delapan,” koreksi Cleo. “Yang Selasa kamu bilang ke aku mau ke dokter gigi, padahal gigimu sehat, dan kamu pulang bawa bau kayu.”
“Bau kayu itu dari... dari...”
“Dari cowok piano.”
Aku menutup wajahku dengan bantal. Maskerku menempel di sarungnya. Cleo akan membunuhku nanti.
“Oke,” kataku dari balik bantal. “Oke. Delapan.”
“Dan kamu kirim pesan ke dia berapa kali sehari?”
“Cleo, itu—”
“Aku lihat hp-mu tadi waktu kamu ke kamar mandi. Notifikasinya nyala terus. Dan kamu ngetik sambil senyum-senyum ke layar, kayak orang yang lagi pacaran sama hp-nya sendiri.”
Aku menurunkan bantal. “Kamu lihat nama kontaknya?”
“Aku mau lihat. Kamu keburu balik.” Cleo menyipitkan mata. “Kenapa? Namanya apa?”
“Rahasia.”
“Vin.”
“Rahasia seumur hidup. Aku bakal bawa ke kuburan.”
“Pasti sesuatu yang norak.”
“Nggak norak.”
“Pangeran Piano.”
“Nggak.”
“Mas Mata Biru.”
“Ya ampun, Cleo, nggak!”
“Suamiku Masa Depan pakai emoji cincin.”
Aku melempar bantal ke kepalanya. Dia menangkisnya dengan satu tangan tanpa berkedip, seperti pemain voli profesional.
Ponselku berdering di atas kasur.
Bukan dering pesan. Dering telepon. Nama di layar: Mama.
Aku merasakannya bahkan sebelum mengangkat. Seperti hewan yang merasakan gempa sebelum tanah bergerak. Mama tidak pernah menelepon jam sembilan malam hari Minggu kecuali ada sesuatu.
Aku duduk tegak. Aku menarik napas. Aku mengangkat telepon.
Dan suaraku berubah.
“Halo, Maaa! Kenapa, Ma? Mama udah makan?”
Suaraku tinggi dan terang, seperti lampu panggung. Aku tidak perlu cermin untuk tahu bahwa wajahku, di bawah masker lumpur hijau yang retak, sedang memakai senyum. Senyum yang sudah kupakai sejak umur tujuh tahun. Senyum yang tidak ada lesungnya.
Suara Mama di seberang tipis. Tipis dan bergetar, seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
Papa lupa ulang tahun pernikahan mereka. Yang ketiga puluh. Mama sudah memasak dari pagi—gudeg, opor, sambal krecek kesukaan Papa—dan Papa pulang jam delapan malam, lelah, lapar, dan tidak ingat. Mereka tidak bertengkar. Mama dan Papa tidak pernah bertengkar dengan suara keras. Mereka hanya diam. Diam yang panjang dan tipis, yang lebih buruk dari bertengkar, karena diam seperti itu tidak pernah selesai.
Aku mendengarkan. Aku bilang ya ampun, Ma. Aku bilang Papa pasti capek, Ma, kemarin kan dia lembur terus. Aku bilang gimana kalau besok kita bertiga makan di luar, aku yang traktir, kita rayain ulang tahun pernikahan Mama sama Papa, pakai kue, pakai lilin. Aku tertawa di tempat yang tepat. Aku membuat Mama tertawa di tempat yang tepat.
Wa-wa-wa. Gelombangnya melambat.
Setelah dua puluh menit, suara Mama sudah tidak tipis lagi. Dia bilang terima kasih, Nak. Dia bilang untung ada kamu. Dia bilang, seperti yang selalu dia bilang, kamu itu matahari di rumah ini, Vin.
Aku menutup telepon.
Aku duduk di tepi kasur Cleo dengan ponsel di pangkuan. Bahuku turun. Wajahku, di bawah masker yang sekarang sudah retak di banyak tempat, dikosongkan. Seperti panggung setelah lampunya dimatikan.
Aku menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
“Kamu napas empat kali lagi,” kata Cleo pelan.
Aku tidak menjawab.
Cleo sudah sembilan tahun melihatku menarik napas empat kali. Di balik pilar, di toilet kampus, di tangga darurat gedung resepsi. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu. Dia hanya berjaga. Pilar, jam sembilan, aku jaga.
Malam ini, dia mengatakannya.
“Kamu tahu nggak,” katanya, masih pelan, masih duduk di lantai dengan sandal krem di kakinya, “dia orang pertama yang nyebut itu ke kamu. Cowok piano itu. Waktu reuni.”
Aku menoleh.
“Kamu cerita di mobil,” kata Cleo. “Kamu bilang dia tanya, kamu capek senyum, ya?” Dia menatap lantai. “Aku sudah sembilan tahun lihat kamu capek senyum, Vin. Dan aku nggak pernah nanya. Aku pikir kalau aku nanya, kamu bakal berhenti. Dan kalau kamu berhenti, kamu bakal... nggak tahu. Runtuh, mungkin.”
“Cleo...”
“Dia nanya di menit kelima.” Cleo tertawa kecil, tidak senang. “Menit kelima. Dan kamu nggak runtuh. Kamu malah ketawa.”
Ponselku mengeong.
Tidak, ponselku tidak mengeong. Aku yang mengatur supaya ponsel Arya mengeong setiap kali aku mengirim pesan. Ponselku sendiri berbunyi dengan nada yang lain. Nada yang kupilih diam-diam untuk kontak yang namanya kurahasiakan sampai mati: satu nada piano. La.
Dia: Pak Darto telepon tadi sore. Sekolah setuju pianonya aku setel. Bulan depan.
Itu saja. Tidak ada gombalan. Tidak ada emoji. Tidak ada lagi apa atau udah makan belum. Hanya satu kabar, disampaikan seperti prakiraan cuaca, dari seseorang yang tidak tahu bahwa lima menit lalu aku baru saja selesai menjadi matahari untuk orang lain.
Dia hanya ingin memberitahuku. Karena dia pikir aku akan senang.
Dan aku senang.
Aku merasakannya naik dari perut, lewat dada, ke pipi. Bukan dipasang. Bukan dipakai seperti jaket. Naik sendiri, seperti air mendidih. Masker lumpur di pipiku retak di dua tempat, persis di dua titik yang sama.
Cleo menatapku.
Dia menatapku lama, dari bawah, dari lantai. Dan dia melihat retakan di maskerku, di dua titik itu, di tempat lesung pipitku berada.
“Itu,” bisiknya.
“Apa?”
“Itu. Lesung itu.” Cleo berdiri. Sandal kremnya tidak bersuara di atas lantai. Dia duduk di sebelahku di kasur, dan menatap wajahku dari dekat, seolah memeriksa sesuatu yang langka. “Vin. Sembilan tahun. Sembilan tahun aku lihat kamu habis telepon Mama. Dan aku nggak pernah—sekali pun—lihat lesung itu muncul setelahnya.”
Aku menyentuh pipiku. Jariku merasakan retakan masker di sana.
“Dia cuma ngabarin soal piano,” kataku, suaraku sedikit gemetar.
“Aku tahu.”
“Itu bukan apa-apa. Itu cuma... kabar. Pak Darto. Piano sekolah.”
“Aku tahu, Vin.”
“Terus kenapa aku—”
Aku berhenti, karena aku tahu kenapa. Aku sudah tahu sejak dia menggeserku ke sisi kanannya di aula tanpa bilang apa-apa. Sejak dia bilang biar aku bisa lihat kamu di Sudut Seduh. Sejak dia memejamkan kedua matanya saat bermain piano, karena tidak adil kalau hanya satu yang boleh istirahat.
Penasaran itu ringan. Penasaran itu bisa dimatikan kapan saja.
Yang ini tidak ringan.
“Aku suka dia,” kataku.
Aku mengatakannya ke langit-langit kamar Cleo yang abu-abu. Keras-keras. Untuk pertama kalinya.
“Aku tahu,” kata Cleo.
“Bukan penasaran. Suka.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak tahu harus ngapain.”
Cleo diam cukup lama. Di luar jendela, daun pohon mangga bergesekan diterpa angin malam. Lalu dia mengulurkan tangan dan mulai mengelupas masker dari pipiku, pelan-pelan, sepotong-sepotong, seperti yang dia lakukan waktu kami masih kuliah dan aku terlalu malas melakukannya sendiri.
“Vin,” katanya, “aku mau ngomong sesuatu, dan kamu harus dengar sampai selesai. Jangan potong. Jangan gombal. Jangan ketawa.”
“Oke.”
“Cowok itu bukan Kevin.” Dia mengelupas sepotong masker dari dahiku. “Kevin udah dikejar cewek dari umur lima belas tahun. Kalau satu cewek pergi, besok ada sepuluh yang datang. Dia bakal sedih, tapi dia bakal baik-baik aja.”
“Oke.”
“Cowok piano itu nggak pernah dikejar.” Sepotong lagi, dari pipi kiri. “Dia bilang sendiri, kan? Dia jarang ngobrol sama cewek. Dia nggak hafal nomornya sendiri. Dia duduk di pojok. Semua orang manggil dia yang matanya beda.”
“...Iya.”
“Kalau kamu kejar dia karena penasaran, terus kamu bosan, terus kamu pergi—” Cleo berhenti mengelupas. Dia menatapku, dan matanya serius, lebih serius dari yang pernah kulihat, bahkan lebih serius dari waktu dia patah hati dulu. “Dia bakal percaya. Dia bakal percaya bahwa semua orang benar. Bahwa nggak ada cewek yang mau sama orang yang cuma bisa lihat separuh. Dan dia nggak bakal pernah buka pintu lagi. Buat siapa pun.”
Aku tidak menjawab.
“Jadi,” kata Cleo, kembali mengelupas masker dari daguku, lebih lembut sekarang, “kalau kamu cuma penasaran, berhenti. Sekarang. Sebelum dia terlanjur.”
“Aku bukan cuma penasaran.”
“Aku tahu.” Dia mengelupas potongan terakhir. “Tapi aku harus dengar kamu bilang itu. Soalnya aku bakal jadi saksi kalau kamu melanggarnya.”
Aku menatap sahabatku. Wajahnya setengah hijau, setengah bersih. Sandal kremnya bersilang di pergelangan kaki.
“Kalau gitu, kejar,” kata Cleo. “Tapi kejar beneran. Kejar kayak kamu nggak punya rencana B.”
“Aku nggak punya rencana B.”
“Bagus.” Dia menepuk pipiku, dua kali, pelan. “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau dia nyakitin kamu, aku bakal pinjam semprotan merica ke Bu Ningsih.”
“Bu Ningsih punya semprotan merica?”
“Bu Ningsih punya segalanya.”
Aku tertawa. Dan Cleo tertawa. Dan wajah kami yang setengah hijau tertawa bersama di kamar abu-abu, di bawah langit-langit yang terlalu tenang, dengan suara pohon mangga di luar dan satu nada La yang masih menggema di kepalaku.
Setengah jam kemudian, setelah wajah kami bersih dan Cleo sibuk mencuci mangkuk, aku duduk bersila di kasur dengan tas kerjaku.
Di dalam tas kerjaku, selalu ada setumpuk kartu MC. Kartu karton putih seukuran telapak tangan, tempat aku menulis poin-poin acara, nama-nama yang harus disebut, lelucon cadangan kalau ada yang telat. Aku mengambil lima kartu kosong dan sebuah pulpen.
Di kartu pertama, dengan huruf kapital, aku menulis:
PROPOSAL PERTEMANAN RESMI Untuk: Arya Mahendra Dari: Pemilik Sisi Kanan
Cleo kembali dari kamar mandi dengan tangan basah. Dia berhenti di ambang pintu, menatap kartu-kartu yang tersebar di kasurnya.
“Vin,” katanya pelan. “Kamu lagi ngapain?”
“Nyusun strategi.”
“Kamu mau nembak dia pakai kartu MC?”
“Bukan nembak.” Aku menulis di kartu kedua: POIN 1: Pihak Pertama berhak datang ke bengkel tanpa alasan palsu. “Ini tahap satu. Pertemanan. Resmi. Dengan pasal-pasal.”
“Pasal-pasal.”
“Dia orangnya suka yang jelas. Dia nyetel piano pakai angka, Cleo. Empat ratus empat puluh hertz. Dua belas sen. Kalau aku mau masuk ke hidupnya, aku harus pakai bahasanya.” Aku menulis di kartu ketiga: POIN 2: Pihak Kedua wajib membalas pesan lebih dari satu kata. Minimal dua. Tiga lebih baik.
Cleo duduk di sebelahku dan membaca kartu-kartu itu dari atas bahuku. Dia diam lama.
“Ini,” katanya akhirnya, “adalah hal paling aneh yang pernah aku lihat kamu lakuin.”
“Aku tahu.”
“Lebih aneh dari waktu kamu nyanyi dangdut di nikahan orang Batak.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu kelihatan bahagia banget.”
Aku berhenti menulis. Aku menatap kartu keempat, yang masih kosong, dan merasakan sesuatu di pipiku. Aku tidak perlu cermin untuk tahu.
“Aku tahu,” kataku.
Cleo menghela napas panjang, dramatis, dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur di sebelahku. Kakinya yang bersandal krem terangkat ke udara.
“Tulis poin tiga,” katanya ke langit-langit. “Pihak Kedua dilarang ngomongin dopamin kalau lagi digombalin.”
Aku menulisnya.
Lalu, di kartu kelima, kartu terakhir, aku menulis satu poin lagi. Poin yang tidak akan kubacakan. Poin yang hanya untukku sendiri, untuk diingat setiap kali aku takut, setiap kali aku ingin kembali ke naskah, setiap kali aku ingin menarik napas empat kali dan pergi.
POIN TERAKHIR: Nggak ada rencana B.
Aku menyelipkan kartu itu di bagian paling belakang tumpukan, di tempat yang tidak akan dilihat siapa-siapa.
Di sebelahku, Cleo sudah setengah tertidur, dengan sandal Kevin masih terpakai di kakinya.
Aku tidak membangunkannya. Aku juga tidak menyebut soal sandal itu lagi.
Kami berdua punya rahasia yang sedang dijaga baik-baik malam itu.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya reading
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut