← Separuh yang Kulihat

Chapter Twelve

Penolakan ke-23

POV: Davina

“Dua puluh dua,” kata Kevin, meletakkan kepalanya di atas meja kerja Arya, di antara palu-palu piano dan gulungan kawat. “Dua puluh dua kali, Kak.”

“Kamu hitung?” tanyaku.

“Aku bikin spreadsheet.”

Dia mengangkat ponselnya tanpa mengangkat kepala, dan menunjukkan layarnya padaku. Benar-benar spreadsheet. Kolom A: Tanggal. Kolom B: Metode. Kolom C: Kalimat Penolakan. Kolom D: Nilai Artistik Penolakan (1-10).

Penolakan ke-17 mendapat nilai sepuluh. Kalimatnya: Aku lebih milih makan malam sama printer kantor yang macet.

“Kenapa itu dapat sepuluh?” tanyaku.

“Karena printer kantornya beneran macet waktu itu,” kata Kevin dengan suara tercekik. “Dia lagi berdiri di depannya. Dia nolak aku sambil benerin printer. Itu seni, Kak. Itu seni yang multitasking.”

Arya, di kursinya, sedang mengganti bantalan filt palu nomor tiga puluh satu dengan kain merah yang kami beli di Beringharjo. Dia tidak mengangkat kepala.

“Kamu masih mau ngajak dia?” tanyanya.

“Tentu.”

“Kenapa?”

Kevin mengangkat kepala dari meja. Dia menatap Arya dengan mata merah dan rambut berantakan, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk tapi ingin tidur lagi karena mimpinya ternyata indah.

“Karena aku bodoh,” katanya. “Karena aku jatuh cinta. Dua hal itu sama.”

Arya tidak menjawab. Tapi dia melirik ke kanan, ke arahku, di kursi lipat. Cepat sekali, hampir tidak kelihatan.

Aku membalas lirikannya.

Kami sudah membicarakannya semalam di grup rahasia. Tim Sukses Buaya sedang menyiapkan operasi terbesarnya.


Rencananya begini.

Setelah ronde tujuh—sandal itu—Cleo berubah. Dia tidak bilang apa-apa, tentu saja. Cleo tidak pernah bilang apa-apa tentang hal yang penting. Tapi dia memakai sandal krem itu di dalam kamar setiap hari. Dia tidak lagi menolak Kevin dalam satu kata; sekarang dia menolak dalam satu kalimat penuh. Dan dia bertanya padaku, tiga kali dalam satu minggu, dengan nada paling acuh tak acuh yang bisa dibayangkan, buaya itu kerja di mana sih.

Cleo takut. Aku tahu dia takut. Dia sedang menunggu bukti bahwa Kevin sama seperti laki-laki itu. Dan selama Kevin terus berusaha—bunga, puisi, spreadsheet—dia tidak akan pernah bisa melihat Kevin yang sebenarnya, karena Kevin yang sebenarnya selalu tertutup oleh Kevin yang berusaha.

“Dia harus dengar Kevin ngomong,” tulisku di grup semalam. “Tanpa Kevin tahu dia dengar. Tanpa Kevin berusaha.”

Dia: Itu nguping.

Pemilik Sisi Kanan: itu STRATEGI

Dia: Itu strategi nguping.

Pemilik Sisi Kanan: arya. kamu mau temanmu bahagia nggak?

Tidak ada balasan selama lima menit. Aku mulai khawatir aku mendorongnya terlalu jauh. Arya tidak bisa bohong. Dia tidak suka hal-hal yang tidak lurus.

Lalu:

Dia: Aku nggak mau bohong ke Kevin.

Dia: Tapi ada satu pertanyaan yang udah lama pengin aku tanyain ke dia. Dari sebelum kamu ada. Aku bisa tanya itu. Itu bukan bohong.

Pemilik Sisi Kanan: pertanyaan apa?

Dia: Kenapa Cleo.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik: kamu tahu nggak, kamu itu sahabat yang baik banget.

Dia: Aku cuma penasaran.

Pemilik Sisi Kanan: penasaran itu bahaya lho. aku tahu dari pengalaman 😌

Dia: Kenapa bahaya?

Aku tidak menjawab yang itu. Aku mengirim stiker kucing yang sedang mengedipkan satu mata.


Jadi sekarang, jam lima sore hari Kamis, aku duduk di kursi lipat di sebelah kanan Arya, dengan ponsel di pangkuan yang menampilkan percakapan dengan Cleo.

Cleo: aku udah parkir di depan. bengkelnya yang pintunya ijo kan

Aku: iya. masuk lewat pintu samping ya, yang depan lagi ada piano gede. terus tunggu bentar di ruang belakang, Arya lagi kerja yang harus sunyi

Cleo: kenapa aku jemput kamu di bengkel piano jam 5 sore, vin

Aku: soalnya aku nggak bawa kendaraan dan ojek lagi mahal

Cleo: ojek nggak pernah mahal

Aku: hari ini mahal. inflasi.

Aku mendengar pintu samping terbuka pelan di belakang. Langkah kaki yang hati-hati. Pintu ruang belakang—tempat Arya menyimpan kasur lipat, kompor kecil, dan rak-rak berisi suku cadang—bergeser sedikit. Lalu diam.

Kevin tidak mendengar apa-apa. Kevin masih bicara tentang penolakan ke-sembilan belas, yang terjadi melalui pesan suara berdurasi dua detik berisi kata hah dengan intonasi yang, menurut Kevin, mengandung seluruh filsafat Eropa.

Aku menoleh ke Arya. Aku mengangguk, sekali.

Arya meletakkan palu nomor tiga puluh satu. Dia memutar kursinya menghadap Kevin. Dia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi—yang aku tahu sekarang adalah caranya mengumpulkan keberanian.

“Kevin,” katanya.

“Hm?”

“Kenapa Cleo?”


Kevin berhenti bicara.

Dia menatap Arya. Wajahnya berubah dari dramatis menjadi bingung, lalu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tenang. Aku belum pernah melihat Kevin tenang. Kevin selalu seperti lampu disko—berputar, berkilat, ke segala arah.

“Kamu serius nanya?”

“Aku serius.”

“Kamu nggak pernah nanya soal cewek-cewekku.”

“Karena dulu kamu nggak pernah serius.”

Kevin diam. Dia menatap meja kerja, ke gulungan kain filt merah, ke palu-palu kecil berjejer. Tangannya bermain dengan sepotong kawat piano, melilitkannya ke jari telunjuk, melepaskannya, melilitkannya lagi.

“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya, pelan, “dia nolak aku dua puluh dua kali. Tapi dia nggak pernah blokir aku.”

Aku menahan napas.

“Dia bisa. Gampang. Satu klik. Cewek-cewek lain yang nggak suka sama aku langsung blokir. Tapi dia nggak.” Kevin melilitkan kawat itu lagi. “Dan waktu aku numpahin kopi di Sudut Seduh, dia bilang Bu Ningsih bakal senang. Kejam, kan? Tapi dia juga yang ambil tisu dari meja sebelah dan taruh di depanku. Diam-diam. Waktu aku nggak lihat. Aku lihat. Aku pura-pura nggak lihat.”

Arya tidak bergerak. Aku tidak bergerak. Di ruang belakang, aku tidak mendengar apa-apa.

“Dan puisiku,” lanjut Kevin, tertawa kecil. “Oke, puisiku jelek. Aku tahu puisiku jelek. Tapi dia koreksi pakai tinta merah, Ar. Satu-satu. Tata bahasa, tanda baca. Dia kasih nilai. Orang yang benci sama kamu nggak bakal ngasih nilai C-. Orang yang benci sama kamu bakal buang kertasnya.” Dia berhenti. “Dia baca puisiku sampai habis. Sampai habis. Padahal isinya lampu sen motor.”

“Jadi kenapa Cleo?” tanya Arya lagi, pelan.

“Karena dia takut,” kata Kevin. “Aku nggak tahu kenapa. Aku nggak tahu siapa yang bikin dia begitu. Tapi dia nolak aku kayak orang yang lagi nutup pintu pelan-pelan, sambil ngintip dari celahnya, buat mastiin aku masih di luar.”

Kawat piano itu berhenti melilit.

“Dan aku nggak mau dia buka pintu karena aku maksa,” kata Kevin, “atau karena aku ngasih bunga lima puluh tangkai atau katering tiga puluh kotak. Aku mau dia buka pintu karena dia ngintip dari celah itu seratus kali, dan seratus kali aku masih di situ. Nggak ke mana-mana. Cuma nunggu.”

Dia mengangkat kepala dan menatap Arya.

“Aku belajar itu dari kamu, Ar. Aku udah lihat orang paling baik yang pernah aku kenal dilempar kerikil dari sisi yang nggak bisa dia lihat, setiap hari, dari kelas satu sampai kelas enam. Dan dia nggak pernah benci siapa-siapa. Dia cuma nunggu. Sampai mereka capek sendiri.” Kevin tersenyum. Tanpa gigi. “Aku nggak sesabar kamu. Tapi aku mau coba. Buat dia.”

Hening.

Di sebelahku, Arya menatap sahabatnya. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku duduk di kanannya, dan aku bisa melihat jakunnya bergerak turun, sekali, seperti menelan sesuatu yang besar.

“Kalau dia nolak seratus kali?” tanya Arya.

“Aku bakal nyoba yang keseratus satu.”


Pintu ruang belakang bergeser.

Kevin menoleh. Dan aku melihat wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah manusia: dia menjadi pucat dan merah pada saat yang sama. Seperti orang yang sedang kena flu dan jatuh cinta secara bersamaan.

Cleo berdiri di ambang pintu ruang belakang.

Dia memakai kaus hitam dan celana jeans. Tas selempang di bahu. Rambutnya dikuncir asal-asalan. Dan di kakinya, sandal kain krem ukuran tiga puluh delapan.

Kevin melihat sandal itu. Aku melihatnya melihat sandal itu. Aku melihat mulutnya terbuka dan tidak ada suara yang keluar.

Cleo tidak menatap Kevin. Cleo menatapku.

“Inflasi,” katanya datar.

“...Aku bisa jelasin.”

“Ojek mahal karena inflasi.”

“Itu—itu strategi, Cleo.”

“Strategi nguping,” kata Arya pelan dari sebelahku, dan aku menginjak kakinya di bawah meja kerja.

Cleo mengalihkan pandangannya dariku. Pelan-pelan, seperti orang yang memutar kepala melawan angin kencang, dia menatap Kevin.

Kevin masih duduk di kursi yang reyot—Arya belum memperbaikinya, dan sekarang dia menyangganya dengan tumpukan buku—dengan kawat piano melilit jari telunjuknya dan wajah seperti orang yang akan dihukum mati.

“Cleo,” katanya. “Aku—berapa banyak yang kamu dengar?”

“Semua.”

“Semua?”

“Dari dua puluh dua kali,” kata Cleo, “sampai seratus satu.”

Kevin menutup wajah dengan kedua tangan. Kawat piano itu masih melilit di jarinya, menjuntai di depan hidungnya seperti antena.

Cleo menatapnya lama. Lama sekali. Aku memperhatikan wajahnya dengan saksama, seperti Arya memperhatikan senar, dan aku melihat sesuatu terjadi di sana. Sesuatu yang sangat kecil. Rahangnya yang biasanya terkunci rapat melonggar setengah milimeter.

“Kevin,” katanya.

Kevin menurunkan tangannya.

“Kamu mau ngajak aku makan malam, kan? Yang ke-dua puluh tiga?”

Kevin mengangguk. Tidak bisa bicara. Mengangguk lagi.

“Nggak,” kata Cleo.

Kevin mengangguk. Menerima. Bahunya turun.

“Belum,” tambah Cleo.

Hening.

Kevin mengangkat kepala sangat pelan, seperti orang yang takut salah dengar.

“...Belum?”

“Belum,” ulang Cleo. Wajahnya tidak berubah sama sekali. Dia berbalik ke arahku. “Vin, ayo pulang. Ojek mahal.”

Dia berjalan ke pintu samping. Aku melompat dari kursi lipat, mengambil tasku, dan berlari mengikutinya. Di ambang pintu, aku menoleh.

Kevin masih duduk di kursi yang disangga buku. Mulutnya terbuka. Kawat piano masih menjuntai dari jarinya. Lalu, perlahan, dia menoleh ke Arya.

“Ar,” bisiknya. “Dia bilang belum.”

“Aku dengar.”

“Belum, Ar. Belum itu—belum itu artinya nanti. Belum itu artinya ada kemungkinan. Belum itu—” Suaranya naik, pecah, meledak. “BELUM ITU ARTINYA PINTUNYA NGGAK DIKUNCI!”

Kursi yang disangga buku itu akhirnya ambruk. Kevin jatuh ke lantai bengkel dengan bunyi gedebuk dan hujan buku-buku tua. Dia tidak bangun. Dia berbaring di antara buku-buku itu, menatap langit-langit, dan tertawa. Tertawa dan tertawa, dengan tangan di dada, seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan besar.

Dari luar pintu, aku mendengar Cleo di mobilnya bergumam, “Ya Tuhan, dia berisik banget.”

Tapi waktu aku masuk ke kursi penumpang, aku melihat pipinya di kaca spion tengah.

Merah.


Cleo tidak bicara sampai Jalan Kusumanegara. Aku juga tidak. Kami berdua tahu kalau salah satu dari kami bicara, yang lain akan menangis atau tertawa, dan Cleo sedang menyetir.

Di lampu merah pertama di Kusumanegara, dia bicara duluan. Tanpa menoleh. Matanya lurus ke lampu merah.

“Vin.”

“Hm.”

“Dia bilang dia belajar dari Arya.”

“Iya.”

“Nunggu. Nggak ke mana-mana. Dilempar kerikil tapi nggak benci siapa-siapa.” Cleo mengetuk-ngetukkan jarinya di setir. “Itu diajarin cowok piano itu.”

“Nggak diajarin. Kevin cuma lihat.”

Cleo diam. Lampu masih merah. Hitungan mundur di tiang lampu lalu lintas menunjukkan angka empat puluh.

“Cowok yang bisa bikin buaya jadi sabar,” katanya akhirnya, pelan, “kamu jaga baik-baik.”

Aku menoleh padanya. Dia masih menatap lampu merah. Rahangnya terkunci lagi. Tapi di kaca spion tengah, pipinya masih merah.

“Aku jaga,” kataku.

Di lampu merah berikutnya, ponselku bergetar. Satu nada La.

Dia: Maaf aku bilang strategi nguping.

Pemilik Sisi Kanan: kamu nggak bisa bohong, aku tahu

Dia: Kakimu berat.

Pemilik Sisi Kanan: itu hukuman

Dia: Aku terima.

Dia: Tapi operasinya berhasil.

Pemilik Sisi Kanan: berhasil 🥹 kita tim yang bagus ya

Dia: Iya.

Pemilik Sisi Kanan: POIN DUA

Dia: Iya, kita tim yang bagus.

Aku menatap pesan itu sambil tersenyum. Lalu aku teringat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan Kevin, di tengah semua pengakuannya, yang sejak tadi mengganjal di tenggorokanku seperti tulang ikan.

Dilempar kerikil dari sisi yang nggak bisa dia lihat, setiap hari, dari kelas satu sampai kelas enam.

Arya pernah menceritakannya, di bawah pohon ketapang. Satu kalimat saja. Ada yang lempar kerikil dari sebelah kiri. Dia mengatakannya seperti mengatakan cuaca. Seperti hal kecil. Seperti sesuatu yang sudah selesai.

Tapi Kevin bilang setiap hari. Kevin bilang enam tahun.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Pemilik Sisi Kanan: arya. soal kerikil yang kevin bilang tadi.

Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lampu berubah hijau, dan Cleo menjalankan mobil, dan aku masih menatap layar.

Lalu:

Dia: Nanti aku ceritain.

Dia: Kalau kamu mau dengar.

Pemilik Sisi Kanan: aku mau.

Pemilik Sisi Kanan: aku mau dengar semuanya. yang enak, yang nggak enak. semua.

Pemilik Sisi Kanan: itu bukan pasal. itu aku.

Lama tidak ada balasan. Mobil Cleo melaju melewati Jalan Kusumanegara, melewati deretan warung angkringan yang mulai menyalakan lampu minyak, melewati sore yang berubah jadi malam.

Aku sudah hampir sampai di kos Cleo ketika ponselku bergetar lagi. Satu nada La.

Dia: Oke.

Satu kata. Melanggar poin dua.

Aku tidak menegurnya. Kali ini, satu kata itu terasa lebih berat dari seratus.