Chapter Thirty Five
Nada La
POV: Arya
Kacamata baruku berbingkai hitam tipis, sedikit lebih bulat dari yang lama.
Davina yang memilih. Dia berdiri di toko optik di Jalan Malioboro selama empat puluh menit, mencobakan dua puluh tiga bingkai ke wajahku, dan menolak semuanya dengan alasan yang berbeda-beda. Terlalu kotak, kamu kayak guru matematika. Terlalu tipis, kamu kayak hantu. Terlalu gaya, kamu kayak Kevin. Bingkai kedua puluh empat, dia diam lama. Lalu dia bilang itu, dengan suara yang sangat kecil.
“Kenapa itu?” tanyaku.
“Karena lensa kirinya bikin mata azure-mu kelihatan kayak lagi di akuarium,” katanya. “Cantik.”
Penjaga toko optik menatapku dengan wajah seseorang yang sudah dua puluh tahun menjual kacamata dan belum pernah mendengar alasan seperti itu.
Lensa kanannya lebih tipis dari yang lama. Minusku turun setelah operasi. Lensa kirinya masih kaca biasa. Masih tidak berguna apa-apa. Masih kupakai supaya kacamatanya tidak miring.
Dan supaya mata kiriku, kalau aku jujur, punya sesuatu untuk dilakukan.
Sekarang dia punya satu lagi pekerjaan. Kelihatan kayak di akuarium.
Tiga bulan setelah operasi, hari Sabtu, aku kembali ke aula SMA Tunas Bangsa.
Aula itu kosong. Tidak ada spanduk. Tidak ada gapura balon. Tidak ada dangdut koplo yang bas-nya memantul di dinding. Hanya kursi-kursi lipat yang ditumpuk di sudut, lantai keramik yang baru dipel, dan cahaya siang yang masuk dari jendela-jendela tinggi, jatuh miring di atas panggung.
Dan di sebelah panggung, di pojok, di bawah kain batik cokelat yang pinggirnya berdebu: piano tua itu.
Pak Darto membukakan pintu untuk kami. Rambutnya masih putih semua. Kemejanya masih batik yang kebesaran. Dia menatapku dari atas ke bawah, lama, lalu menatap mataku. Mata kanan. Di balik kacamata baru.
“Mas Arya,” katanya. “Sudah bisa lihat?”
“Sudah, Pak.”
“Jelas?”
“Hampir jelas, Pak.”
Pak Darto mengangguk-angguk. Matanya basah. Dia menepuk bahuku—bahu kanan—dua kali. Lalu dia menatap perempuan di sebelah kananku.
“Mbak yang cantik,” katanya.
“Pak Darto,” kata Davina, dan dia tersenyum. Dengan lesung. “Saya nepatin janji. Saya nonton.”
“Bapak inget.” Pak Darto tertawa. “Bapak simpan rahasianya lama, Mbak. Bapak hampir keceplosan tiga kali.”
“Bapak keceplosan satu kali,” kataku.
Pak Darto berhenti tertawa. Dia menatapku. Lalu dia menatap Davina, yang sedang menutup mulut dengan tangan.
“Waktu Mas sakit,” gumamnya. “Iya. Itu satu.”
Kevin dan Cleo datang dua puluh menit kemudian.
Kevin membawa kotak kardus berisi gorengan dari warung di depan sekolah—tahu isi, tempe mendoan, bakwan—yang dia letakkan di atas tumpukan kursi lipat seperti persembahan. Cleo membawa termos teh. Dan dua sachet gula, yang dia serahkan ke Davina tanpa bicara.
Cleo memakai sandal krem. Kevin memakai kemeja yang disetrika sampai lipatannya bisa dipakai memotong kertas.
Dan dia wangi.
Dan dia tersenyum pakai seluruh gigi.
Aku menatapnya dari pojok, di sebelah piano. Tiga tanda. Semuanya muncul sekaligus.
“Kevin,” kataku.
“Hm?”
“Kamu mau ngapain?”
Kevin berhenti tersenyum. Dia menatapku. Lalu dia menatap Cleo, yang sedang menuang teh ke gelas plastik dengan punggung menghadap kami. Lalu dia menatapku lagi, dengan mata yang melebar, seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan sesuatu di balik punggung.
“Nggak,” katanya. “Nggak ada. Aku cuma wangi.”
“Kemejamu disetrika.”
“Aku orang yang rapi.”
“Kamu senyum pakai gigi.”
Kevin merapatkan bibir. Terlambat. Di sebelahku, Davina mulai tertawa pelan, dengan tangan menutup mulut.
Aku mengangkat kain batik dari atas piano.
Debunya lebih tebal dari yang kuingat. Tutup tutsnya lengket. Pernisnya retak di beberapa tempat, dan salah satu kakinya sedikit goyang. Piano ini sudah menunggu lama. Lebih lama dari yang seharusnya.
Aku membuka tutup tuts. Aku menekan satu nada.
La.
Nada itu keluar. Tipis. Bergetar. Mengambang di udara aula yang sunyi.
Fals. Turun.
“Berapa?” tanya Davina di sebelah kananku.
Aku mendengarkan. Aku mendengarkan dengan telinga yang tidak punya sisi kiri, di aula tempat pertama kali aku melihatnya menarik napas empat kali di balik pilar.
“Delapan belas sen,” kataku.
“Tadinya dua belas.”
“Makin turun. Kalau dibiarin, makin turun terus.” Aku menatap tuts-tuts yang menguning. “Tapi nggak ada yang sadar. Pianonya tetap dimainin tiap pentas seni. Semua orang tetap tepuk tangan.”
Davina diam. Aku mendengar dia menarik napas. Satu kali.
“Kita masih ngomongin piano, kan?” tanyanya pelan.
Aku menoleh padanya. Dengan seluruh wajahku.
“Sekarang iya,” kataku. “Cuma piano.”
Dia tersenyum. Lesungnya muncul. Dan aku bisa melihatnya. Jelas. Dari sisi kanan. Di bawah cahaya siang yang miring dari jendela aula.
Aku mengeluarkan kunci setem dari tas selempang.
Aku menyetel piano itu selama tiga jam.
Setiap senar. Setiap nada. Dari La, ke atas, ke bawah. Aku bekerja pelan, karena dr. Hendra bilang jangan membungkuk terlalu lama, dan karena setiap satu jam, Davina menyentuh bahuku dan bilang istirahat lima menit, pasal lima belas.
Pasal lima belas dia buat minggu lalu. Isinya: Pihak Kedua wajib istirahat lima menit setiap satu jam kerja. Pengawas: Pihak Pertama.
Selama tiga jam itu, dia duduk di kursi lipat di sebelah kananku. Seperti hari pertama dia datang ke bengkel dengan pisang goreng keju. Dia tidak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan. Tanganku, kunci setem, pin-pin baja. Dan setiap kali gelombang di satu nada berhenti, setiap kali dua senar berhenti bertengkar, aku mendengar dia menarik napas pelan. Seperti orang yang ikut lega.
Kevin dan Cleo duduk di tepi panggung, kaki menjuntai. Mereka makan gorengan. Mereka bicara pelan tentang sesuatu yang tidak bisa kudengar. Sesekali Cleo tertawa—pendek, kering, tapi tertawa—dan sesekali Kevin menatapnya dengan wajah seperti orang yang melihat lampu mercusuar.
Pak Darto duduk di kursi di dekat pintu, dengan gelas teh dan wajah yang tidak berhenti tersenyum.
Saat nada terakhir selesai, aku memainkan satu tangga nada penuh. Dari bawah ke atas. Bersih. Utuh. Seperti kolam di pagi hari.
Suaranya memenuhi aula. Memantul di dinding, di langit-langit tinggi, di jendela-jendela. Tidak ada dangdut koplo yang menenggelamkannya. Tidak ada sendok dan piring melamin. Hanya piano tua di pojok aula SMA Tunas Bangsa, yang akhirnya bernyanyi dengan nada yang benar.
Pak Darto berdiri. Gelas tehnya bergetar di tangannya.
“Masya Allah,” bisiknya. “Sudah sepuluh tahun Bapak nggak dengar dia bunyi kayak gitu.”
Aku menoleh ke kanan.
Davina sedang menangis. Pelan. Tanpa suara. Air matanya turun di pipi yang punya dua lekukan, karena dia tersenyum di saat yang sama.
“Kamu yang pertama,” kataku.
Dia mengangguk. Tidak bisa bicara.
“Pasal sembilan,” kataku. “Satu lagi.”
Sebelum aku sempat bergerak, Kevin berdiri di tepi panggung.
“Tunggu,” katanya. “Tunggu, Ar. Sebelum itu. Aku mau—sebentar.”
Dia melompat turun dari panggung. Dia berjalan ke tengah aula. Dia berhenti. Dia menarik napas panjang. Dia menoleh ke Cleo, yang masih duduk di tepi panggung dengan gelas teh di tangan dan wajah curiga.
“Cleo,” kata Kevin.
Cleo meletakkan gelas tehnya.
“Kamu tahu aku orangnya berisik,” kata Kevin. “Kamu tahu aku suka gombal. Kamu tahu aku pernah nulis puisi soal lampu sen motor dan dapat nilai C-.”
“Aku yang ngasih nilainya.”
“Aku tahu.” Kevin tertawa, gugup. “Jadi aku nggak bakal gombal. Aku nggak bawa bunga. Aku nggak bawa puisi. Kamu bilang kalau aku bawa itu, kamu pulang.” Dia berhenti. “Aku cuma mau nanya satu hal. Pakai kalimat paling biasa yang aku punya.”
Cleo tidak bergerak.
Kevin menarik napas lagi. Aku melihat tangannya gemetar di samping tubuhnya. Tangan yang sama yang menggali lubang untuk Bento dengan sendok semen. Tangan yang sama yang memegang bahuku di rumah sakit dan bilang aku di sini.
“Kamu mau jadi pacarku?” tanya Kevin.
Hanya itu. Tanpa hiasan. Tanpa lampu sen. Tanpa gigi.
Aula sunyi. Pak Darto berhenti minum teh. Davina berhenti menangis.
Cleo menatap Kevin lama. Sangat lama. Rahangnya terkunci. Matanya menyipit. Seperti orang yang sedang mengoreksi puisi dengan tinta merah.
Lalu dia turun dari tepi panggung. Sandal kremnya tidak bersuara di atas lantai keramik. Dia berjalan ke tengah aula. Dia berhenti di depan Kevin.
“Iya,” katanya.
Kevin tidak bergerak.
“...Iya?” bisiknya.
“Iya.”
“Iya yang—iya yang beneran? Iya yang bukan belum? Iya yang—”
“Kevin.” Cleo menatapnya. Datar. Tapi sudut bibirnya bergerak, naik, naik, sampai akhirnya dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. “Satu iya cukup.”
Kevin jatuh berlutut.
Bukan jatuh karena kursinya ambruk. Bukan jatuh karena terlalu kaget. Dia berlutut di lantai keramik aula, di depan Cleo, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis. Keras. Seperti anak kecil. Seperti orang yang baru menang lotere dan tersambar petir pada saat yang bersamaan.
Cleo berlutut juga. Di depannya. Dia menarik tangan Kevin dari wajahnya. Dan dia memeluknya. Di tengah aula. Di tempat di mana, berbulan-bulan lalu, dia mengangkat sebelah alis dan Kevin mundur sebelum sempat menyelesaikan menyebut namanya.
Pak Darto bertepuk tangan. Sendirian. Pelan. Dengan gelas teh terjepit di antara lengan dan dada.
Davina menoleh padaku. Matanya basah. Lesungnya dalam.
“Tim Sukses Buaya,” bisiknya, “misi selesai.”
Setelah Kevin bisa berdiri lagi—butuh waktu—aku duduk di kursi piano.
Aku tidak menyalakan lilin. Tidak ada tempat lilin di piano ini. Tapi cahaya sore sudah mulai berubah warna, jadi oranye, jatuh miring dari jendela tinggi ke atas tuts. Rasanya cukup.
Aku mengeluarkan dua kerikil dari saku jaket. Kecil. Abu-abu. Yang satu dari kanan, yang satu dari kiri. Aku meletakkannya di atas papan partitur. Satu di kiri, satu di kanan. Dua penjaga.
Aku mengeluarkan kertas partitur yang sudah kulipat dari tas. Kertas yang dulu di atas piano Kakek. Not-not dari lagu tanpa ujung. Di bagian bawah, di bawah not Sol, ada kalimat kecil yang ditulis dengan pensil. Aku di kananmu. Dan di bawahnya, tulisan besar dan miring, dari jam tiga pagi sebelum operasi.
Ujungnya naik setengah nada. Kayak ketawanya.
Aku bisa membaca semuanya sekarang. Setiap not. Setiap huruf.
Davina berdiri di sebelah kananku. Kevin dan Cleo duduk di tepi panggung lagi, bahu menempel bahu. Pak Darto di dekat pintu.
Aku melepas kacamata. Aku meletakkannya di atas papan partitur, di sebelah kanan, di tempat yang bisa kujangkau tanpa meraba-raba. Di sebelah kerikil kanan.
Aku meletakkan kedua tanganku di atas tuts.
Dan aku bermain.
Hujan di genteng. Turun, pelan, seperti hari-hari sebelum aku mengenalnya. Pojok, dinding di kiri, dan dunia yang cukup.
Lalu naik. Seperti orang yang memutuskan bangun pagi, meskipun tidak ingin. Seperti pisang goreng keju di ambang pintu hijau. Seperti menyeberang Malioboro dua kali.
Lalu tangga. Nada-nada yang naik satu per satu, ragu, berhenti, naik lagi. Sembilan hari aku suka kamu. Tempat yang belum pernah kudatangi.
Lalu La. Sendirian. Menggantung. Nada yang jadi patokan semua nada lain. Aku nyetel semuanya ke kamu.
Lalu Sol, rendah, di oktaf bawah. Satu not yang kutulis malam setelah dia bilang aku di kananmu sebagai janji. Malam yang sama dengan kilatan cahaya pertama di sudut mata kananku.
Dan setelah Sol, bagian yang baru.
Aku menulisnya dalam tiga bulan. Selama menunduk. Di kepala, tanpa kertas, tanpa piano, dengan wajah di lubang bantal donat dan garpu tala dipukul di dekat telinga kananku setiap malam. Aku menulisnya dengan telinga, karena mataku tidak bisa. Satu nada demi satu nada. Gelap, lalu buram, lalu kabut yang menipis. Garis yang turun dari alis ke hidung ke dagu. Nada-nada yang pelan-pelan naik dari dasar kolam ke permukaan.
Dan di ujungnya, setelah semua itu, dua nada terakhir.
Si.
Lalu Do.
Naik setengah nada. Dari Si ke Do. Jarak paling kecil di piano. Nada yang disebut nada pengantar—nada yang paling tidak tahan untuk tidak pulang. Si selalu ingin ke Do. Seperti orang yang berdiri di ambang pintu dan akhirnya melangkah masuk.
Aku menekan Do. Pelan. Dan aku membiarkannya bergetar.
Nada itu mengambang di udara aula. Bersih. Tanpa gelombang. Naik setengah nada di ujung, seperti tawa seseorang yang kaget pada dirinya sendiri.
Lalu memudar. Pelan-pelan. Sampai hilang.
Aku tidak mengangkat tanganku dari tuts. Aku tidak menoleh.
Aula sunyi. Cahaya oranye di atas tuts. Dua kerikil di atas papan partitur.
Lalu, di sebelah kananku, aku mendengarnya.
Awalnya pelan. Seperti orang yang mencoba menahan. Lalu makin keras. Lalu pecah.
Davina tertawa.
Dia tertawa sambil menangis. Dia tertawa dengan tangan menutup mulut dan bahu berguncang dan air mata yang jatuh ke lantai keramik. Dan tawanya—aku mendengarnya, aku mendengarnya dengan telinga yang tidak punya sisi kiri, di aula tempat pertama kali aku melihatnya menarik napas empat kali—tawanya naik setengah nada di ujung.
Dari Si ke Do.
Persis seperti ujung lagunya.
Aku menoleh ke kanan. Dengan seluruh badanku. Aku memakai kacamataku lagi, dan dunia jadi tajam, dan dia ada di sana. Berdiri di sebelah kananku, di pojok aula, di cahaya sore, menangis dan tertawa, dengan dua lesung di pipi yang paling dalam dari semua yang pernah kulihat.
“Itu,” katanya di antara tawa dan isak. “Itu aku?”
“Itu kamu,” kataku.
“Ujungnya aku?”
“Ujungnya kamu.”
Dia maju satu langkah. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan. Dia menatapku—dari dekat, dari kanan, dari tempat yang bisa kulihat—dan dia menatap mata kananku, lalu mata kiriku, yang azure, yang kelihatan seperti di akuarium di balik lensa kaca yang tidak berguna.
“Lagunya judulnya apa?” bisiknya.
Aku tidak pernah memberinya judul. Bertahun-tahun di kepalaku, tanpa ujung, tanpa nama.
Aku memikirkannya. Aku ingin menjawabnya dengan tepat.
“Belum ada,” kataku.
Dia menatapku.
“Belum,” ulangku. Dan aku merasakannya. Di pipi kananku. Kecil. Satu. Yang hanya dia yang pernah lihat. “Kamu yang kasih nama. Nanti.”
Dia tertawa lagi. Naik setengah nada.
Di tepi panggung, Kevin menangis ke bahu Cleo. Cleo menepuk kepalanya, pelan, seperti menepuk kepala anak anjing. Di dekat pintu, Pak Darto mengusap matanya dengan ujung kemeja batik yang kebesaran.
Dan aku duduk di pojok aula SMA Tunas Bangsa. Dinding di kiri. Dunia di kanan.
Tidak sendirian.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La reading
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut