Chapter Twenty Two
Ulang Tahun Davina
POV: Davina
Aku tidak pernah suka ulang tahunku.
Bukan karena umurnya. Dua puluh enam bukan angka yang menakutkan. Aku tidak suka ulang tahunku karena di rumah kami, ulang tahun selalu jadi acara. Dan setiap acara butuh MC. Dan MC-nya selalu aku.
Sejak umur tujuh tahun, di setiap ulang tahunku, aku yang memastikan Mama dan Papa duduk berdekatan. Aku yang memastikan ada foto bertiga. Aku yang tertawa paling keras saat lilin ditiup, supaya tidak ada yang menyadari bahwa Papa pulang terlambat, atau bahwa Mama menangis di dapur sebelum kue dikeluarkan.
Tahun ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tahun ini, Mama main piano lagi setiap sore. Papa mendengarkan radio klasik. Mereka belum banyak bicara, tapi diamnya sudah berbeda. Bukan diam yang tipis dan tajam. Diam yang lebih lembut. Seperti dua orang yang sedang belajar bahasa lama yang mereka lupa.
Dan tahun ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang akan datang ke ulang tahunku yang tahu bahwa aku tidak perlu jadi MC.
Mama memasak dari pagi. Nasi kuning, ayam goreng, sambal goreng kentang, dan puding cokelat dengan vla vanila, yang selalu dia buat untuk ulang tahunku sejak aku kecil.
Cleo datang jam enam, membawa kotak kado yang dibungkus kertas hitam dengan pita hitam. Kevin datang jam enam lewat satu menit, dengan kotak kado yang dibungkus kertas warna-warni dengan pita emas dan kartu ucapan berbentuk hati. Mereka datang terpisah. Mereka pura-pura tidak sengaja datang di waktu yang hampir bersamaan.
Mereka tidak berhasil pura-pura.
“Kalian barengan?” tanyaku di pintu.
“Nggak,” kata Cleo.
“Iya,” kata Kevin.
Cleo menatap Kevin dengan tatapan membunuh. Kevin tersenyum pakai seluruh gigi. Lalu Cleo menghela napas panjang, masuk ke rumahku, dan aku melihat—tidak ada yang lain yang melihat, hanya aku—dia menahan pintu sebentar untuk Kevin. Sebentar saja. Supaya pintunya tidak menutup di depan wajah Kevin.
Arya datang jam enam lewat lima belas.
Dia berdiri di depan pagar dengan kemeja biru muda yang disetrika—disetrika, Arya Mahendra menyetrika kemeja—dan jaket abu-abu yang dia pakai karena pasal tiga belas. Tangannya membawa kotak kayu kecil, seukuran kotak pensil, tanpa kertas kado.
Aku berlari ke pagar. Aku tidak peduli Mama melihat dari jendela.
“Kamu pakai jaket,” kataku.
“Pasal tiga belas.”
“Kamu setrika kemeja.”
“Kevin yang setrika.”
“Kevin setrika kemejamu?”
“Dia datang ke bengkel tadi siang. Dia bilang kalau aku pakai kemeja kusut ke ulang tahunmu, dia bakal malu jadi sahabatku.” Arya berhenti. “Dia juga mau nyemprotin parfum. Aku tolak.”
Aku tertawa. Aku menarik tangannya ke dalam pagar.
Di bawah lampu teras, aku melihat sesuatu. Kecil. Dia menyipitkan mata kanannya sedikit waktu lampu teras menyala di atas kami. Lalu dia mengedip dua kali, cepat, seperti orang yang terkena silau.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak. Lampunya terang.”
“Lampu teras kami lima watt, Arya.”
“Aku kurang tidur.”
Aku menatapnya. Dia menatap balik, tenang. Tidak ada yang aneh di wajahnya. Hanya lelah. Dia memang sering kurang tidur. Dia bekerja sampai larut, dan membalas pesanku sampai larut, dan aku tahu itu sebagian salahku.
“Nanti kamu tidur cepet,” kataku.
“Iya.”
“Poin dua.”
“Iya, nanti aku tidur cepet.”
Aku menariknya masuk.
Makan malam ulang tahunku tahun ini adalah yang terbaik sejak aku berumur enam tahun.
Aku tidak melebih-lebihkan. Aku menghitungnya kemudian, di kamar, seperti Arya menghitung segala hal. Tidak ada satu pun momen di mana aku harus menjadi MC.
Kevin mengambil alih semuanya tanpa diminta. Dia bercerita tentang Bu Ningsih dan Laundry Kilat sampai Mama tertawa sampai menangis. Dia bercerita tentang penolakan ke-tujuh belas, di depan printer yang macet, dengan gerakan tangan yang dramatis, sementara Cleo di sebelahnya menutup wajah dengan serbet dan bergumam aku nggak kenal orang ini. Dia bertanya kepada Papa tentang pekerjaannya—Papa insinyur sipil, sudah tiga puluh tahun membangun jembatan—dan Papa, untuk pertama kalinya yang bisa kuingat, berbicara lebih dari lima kalimat di meja makan.
Arya hampir tidak bicara. Dia duduk di sebelah kananku. Dia makan dua piring nasi kuning karena Mama terus menambahkan. Dia menyingkirkan irisan pare dari sambal goreng di piringku tanpa berkata apa-apa, dan Mama melihatnya, dan Mama menatapku dari seberang meja dengan mata yang tiba-tiba basah.
Setelah makan, Mama mengeluarkan kue.
Kue cokelat bundar, dua lapis, dengan tulisan Selamat Ulang Tahun Vina dari krim putih dan dua puluh enam lilin kecil yang menyala. Mama membawanya dari dapur dengan dua tangan. Papa berdiri di sebelahnya. Di sebelahnya. Bukan di ujung ruangan, bukan di teras. Di sebelahnya, dengan tangan di punggung Mama.
Aku menatap mereka. Aku merasakan mataku panas.
Mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Semua orang menyanyi. Kevin menyanyi paling keras, dengan suara fals yang membuat Cleo meringis. Cleo menyanyi paling pelan, tapi dia menyanyi. Arya tidak menyanyi—dia tidak pernah menyanyi, katanya dia tahu terlalu banyak tentang nada untuk berani—tapi dia bertepuk tangan dengan tempo yang sempurna.
Aku menutup mata. Aku membuat permintaan.
Aku meniup lilin.
Dua puluh enam lilin padam. Semua orang bersorak. Dan di tengah sorakan, di tengah asap tipis lilin yang naik ke langit-langit, aku melihat Arya.
Dia sedang menatap lilin-lilin yang baru padam. Dia menyipitkan mata kanannya lagi. Lalu dia menggosoknya dengan punggung jari, pelan, di bawah kacamata.
“Asapnya,” katanya waktu dia sadar aku melihat.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Perih dikit.”
Aku mengangguk. Asap lilin memang perih. Aku juga pernah.
Aku tidak memikirkannya lagi.
Kado-kado dibuka di ruang tamu, di depan piano Mama.
Dari Cleo: sepasang sepatu flat kulit berwarna nude, dengan catatan tulisan tangan di dalam kotak: Buat kerja. Biar kakimu nggak nyeret lagi. Sepatu hak itu penjajahan. Aku memeluk Cleo sampai dia protes.
Dari Kevin: sebuah album foto kecil. Isinya foto-foto yang diam-diam dia ambil selama beberapa bulan terakhir. Aku dan Arya di Sudut Seduh. Aku dan Arya di bengkel. Aku menyuapi Arya mangga dengan tusuk gigi bentuk hati. Aku terkapar di lantai bengkel dengan bantal kucing di atas perut. Di halaman terakhir, foto kami berdua di angkringan, dari belakang—aku bersandar di bahu kanannya, dan dia menatap ke arahku, dan lampu minyak menyala kuning di antara kami.
Di bawahnya, Kevin menulis dengan spidol: Aku ada di situ dari awal. Makasih udah bikin sahabatku senyum. Aku lihat lesungnya. Aku nggak bilang ke dia. — K
Aku menangis. Kevin menangis. Cleo memberikan tisu kepada kami berdua dengan wajah jijik, lalu diam-diam menyeka matanya sendiri.
Dari Mama dan Papa: sebuah amplop. Di dalamnya, voucher perjalanan dari agen travel. Aku membaca tujuannya, dan aku berhenti bernapas.
Raja Ampat. Paket 4 hari 3 malam. 2 orang.
Aku menatap Mama. Mama menatap Papa.
“Papa yang pilih,” kata Mama pelan. “Papa lihat foto di dinding kamarmu. Yang sudah pudar. Papa bilang, sudah tujuh tahun foto itu di situ.”
Aku menatap Papa. Dia sedang menatap lantai, dengan telinga yang merah. Persis seperti Arya.
“Dua orang,” kata Papa, tidak menatapku. “Terserah kamu mau ajak siapa.”
Kado Arya dibuka terakhir.
Kotak kayu kecil seukuran kotak pensil. Kayunya cokelat tua, halus, dipoles sampai mengilap. Aku mengenali kayunya. Kayu yang sama dengan piano tua kakeknya. Dia pasti mengambilnya dari sisa-sisa restorasi.
Aku membuka tutupnya.
Di dalamnya, di atas kain flanel biru tua, ada sebuah garpu tala.
Bukan garpu tala perak biasa seperti yang dia pakai di bengkel. Garpu tala ini dilapisi warna. Biru. Biru yang dalam, jernih, sedikit kehijauan di pinggirnya.
Azure.
Di gagangnya, diukir dengan huruf kecil yang rapi: D — La 440.
Aku tidak bisa bicara.
Di bawah garpu tala, ada selembar kertas yang dilipat. Aku membukanya. Tulisan tangannya yang kecil dan miring.
Kalau kamu lagi harus senyum dan capek, pukul ini ke lututmu, dekatkan ke telinga. Itu La. Nada yang jadi patokan semua nada lain. Dia nggak butuh kamu senyum. Dia cuma butuh kamu dengerin.
Warnanya aku cat sendiri. Aku cocokin sama warna mata kiriku di cermin. Tiga kali cat ulang sampai pas. Kamu bilang punyaku nggak pudar. Yang ini juga nggak akan pudar.
Selamat ulang tahun. — A
Aku mengangkat garpu tala itu dari kain flanel. Aku memukulnya pelan ke lututku, seperti yang pernah kulihat dia lakukan ratusan kali di bengkel. Lalu aku mendekatkannya ke telinga kananku.
La.
Nada itu keluar. Tipis. Bersih. Bergetar di tulang pipiku, di rahangku, di dadaku. Tanpa gelombang. Tanpa pertengkaran. Hanya satu nada yang utuh dan tenang, yang tidak meminta apa-apa dariku.
Aku menangis.
Di ruang tamu rumahku, di depan piano Mama, di depan Mama dan Papa dan Cleo dan Kevin, aku menangis memegang garpu tala berwarna azure. Dan tidak ada yang memintaku berhenti. Tidak ada yang menunggu aku tersenyum lagi.
Mama memelukku dari kiri. Cleo memelukku dari belakang. Kevin memeluk Cleo, dan Cleo tidak menyingkirkan tangannya.
Arya duduk di sebelah kananku dan tidak memelukku. Dia hanya duduk di sana. Di tempat yang bisa kulihat, dan yang bisa melihatku.
Jam sepuluh malam, aku mengantar Arya ke pagar.
Kevin dan Cleo sudah pulang. Terpisah, katanya. Aku melihat dari jendela bahwa mobil Cleo berhenti di ujung gang, menunggu mobil Kevin lewat, lalu mengikutinya. Aku tidak akan menanyakannya. Belum.
Di bawah pohon jambu air, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, Arya berhenti.
“Kamu suka?” tanyanya.
Aku memegang kotak kayu kecil itu di dada. Aku belum melepasnya sejak dibuka.
“Arya,” kataku. “Kamu cat garpu tala. Tiga kali. Sambil ngaca.”
“Warnanya harus pas.”
“Kamu tahu nggak betapa gilanya itu?”
“Kevin bilang itu gila.”
“Kevin benar.” Aku menatapnya. “Aku suka banget. Aku suka banget sampai nggak tahu harus ngapain.”
Dia diam. Dia menatapku dengan mata kanannya. Di bawah lampu jalan, aku melihat dia menyipit lagi, sebentar, lalu kembali normal.
“Aku boleh minta hadiah kedua?” tanyaku.
“Kamu yang ulang tahun. Harusnya aku yang ngasih.”
“Makanya aku minta.”
“Minta apa?”
Aku menggeleng pelan. Aku maju satu langkah. Ke sisi kanannya. Sampai wajahku memenuhi seluruh pandangannya, seperti yang sudah kulakukan puluhan kali sejak di bawah pohon ketapang.
“Kamu yang tentuin,” bisikku.
Dia menatapku lama. Aku melihatnya menimbang. Aku melihatnya menyetel, satu derajat demi satu derajat, seperti kunci setem di pin baja.
Lalu dia berhenti menimbang.
Dia mengangkat tangan kanannya ke pipiku. Ke lesung kananku. Ibu jarinya menyentuh lekukan itu, pelan, seperti menyentuh tuts yang tidak ingin dia bunyikan terlalu keras.
Dan dia menciumku.
Bibirnya hangat. Sedikit ragu. Sangat pelan. Tidak lama—hanya beberapa detik, di bawah pohon jambu air, di depan pagar rumahku, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip—tapi cukup lama untuk membuat seluruh dunia di sekitarku berhenti. Tidak ada motor. Tidak ada jangkrik. Tidak ada suara piano Mama dari dalam rumah.
Hanya satu nada. Bersih. Tanpa gelombang.
Dia menarik diri. Dahinya menempel di dahiku. Napasnya pendek dan cepat. Aku merasakan kacamatanya miring di pangkal hidungku.
“Itu,” katanya pelan, “hadiah kedua.”
Aku tidak bisa bicara. Aku memegang kotak kayu kecil di dadaku dengan satu tangan, dan kemeja birunya dengan tangan yang lain.
“Kamu nggak kabur ke balik piano,” bisikku akhirnya.
“Nggak ada piano di sini.”
“Kalau ada?”
Dia berpikir. Dahinya masih di dahiku.
“Mungkin,” katanya jujur.
Aku tertawa. Tawaku naik setengah nada di ujung. Dan aku merasakan dia tersenyum—aku tidak melihatnya, wajahnya terlalu dekat—tapi aku merasakannya, dari cara pipinya bergerak di dekat pipiku.
Satu lesung. Di kanan. Aku tahu tanpa perlu melihat.
Malam itu, di kamarku, aku meletakkan kotak kayu kecil di meja samping tempat tidur. Di bawah foto laut dangkal Raja Ampat yang sudah pudar. Di sebelah amplop voucher dari Mama dan Papa.
Aku memegang garpu tala azure itu di tangan. Aku memukulnya ke lututku sekali lagi. La. Aku mendekatkannya ke telinga dan menutup mata.
Dua orang, kata Papa. Terserah kamu mau ajak siapa.
Aku sudah tahu siapa.
Aku mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan kontak yang namanya kurahasiakan sampai mati.
Aku: Arya.
Aku: Kamu mau ke Raja Ampat sama aku? Nggak sekarang. Nanti. Kalau kamu udah siap sama laut dan kapal dan semua tempat yang separuhnya kamu nggak bisa lihat.
Aku: Aku bakal narasiin sisi kirimu. Semua. Ikan-ikannya. Karangnya. Airnya yang azure.
Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh. Dia pasti sudah tidur, pikirku. Aku menyuruhnya tidur cepat.
Satu nada La.
Dia: Aku mau.
Dia: Aku mau lihat laut yang warnanya kayak foto di dindingmu.
Dia: Pakai mata kanan. Selagi masih bisa.
Aku membaca pesan terakhir itu dua kali.
Selagi masih bisa.
Aneh, pikirku. Cara menulisnya aneh. Tapi Arya selalu menulis dengan aneh. Dia selalu memilih kata-kata yang terlalu tepat, terlalu jujur, tanpa hiasan. Selagi masih bisa mungkin maksudnya selagi masih muda. Selagi masih kuat naik kapal.
Aku tidak memikirkannya lagi.
Aku tertidur dengan garpu tala azure di tangan, dan bibir yang masih terasa hangat, dan lesung di kedua pipi yang tidak dilihat siapa-siapa.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina reading
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut