Chapter Nineteen
Jawaban di Nada La
POV: Arya
Hari kedua, dia menulis: Aku suka kamu. Hari ini aku MC khitanan. Anaknya nangis waktu disunat terus aku ikut nangis. Tapi itu bukan intinya. Intinya aku suka kamu.
Hari ketiga: Aku suka kamu. Tadi aku lihat kucing oranye di parkiran, aku foto, terus aku sadar aku udah nggak bisa lihat kucing oranye tanpa inget kamu. Kamu tanggung jawab.
Hari keempat, dia datang ke bengkel jam empat dengan pisang goreng keju, dan sebelum duduk, dia berdiri di depanku dan mengatakannya langsung. Tidak lewat pesan. Tatap mata. Aku suka kamu. Lalu dia duduk di KURSI PEMILIK SISI KANAN, yang sekarang punya bantal motif kucing kiriman Kevin, dan mulai bertanya tentang palu nomor lima puluh dua seolah tidak ada yang terjadi.
Hari kelima: Aku suka kamu. Mama tanya kamu kapan ke rumah lagi. Papa nggak tanya apa-apa tapi dia nyetel radio di stasiun musik klasik. Papa nggak pernah dengerin musik klasik seumur hidup. Aku rasa itu gara-gara kamu. Aku suka kamu dua kali hari ini.
Hari keenam, dia ada acara di Magelang. Pernikahan di gedung dekat alun-alun. Dia mengirim foto: dirinya di depan pelaminan, dengan riasan MC lengkap dan dua jari berbentuk V. Keterangannya: Aku di kotamu ibumu. Aku suka kamu dari jarak 43 km.
Aku tidak mengoreksi kotamu ibumu. Aku menyimpan fotonya.
Hari ketujuh: Aku suka kamu. Cleo bilang aku gila. Kevin bilang aku pahlawan. Aku bilang aku cuma suka kamu. Mereka berdua diem.
Hari kedelapan, dia hanya mengirim satu kalimat, jam enam pagi, sebelum aku bangun: Aku suka kamu. Selamat pagi. Mata kirimu udah dipuji belum? Cantik. Sampaikan ya.
Aku menyampaikannya. Seperti biasa.
Aku membalas setiap pesan. Tidak pernah satu kata. Aku menepati janjiku—syarat nomor lima. Aku tidak menjauh. Tapi aku juga belum menjawab. Dan setiap hari, setiap aku suka kamu, rasanya seperti seseorang memutar kunci setem di dadaku satu derajat. Pelan. Sangat pelan. Supaya senarnya tidak putus.
Hari kesembilan, aku tidak menunggu pesannya.
Aku mengirim duluan. Jam tujuh pagi.
Aku: Nanti malam, jam delapan. Di bengkel. Ada yang mau aku kasih dengar.
Balasannya datang dalam satu detik. Seolah dia sudah bangun, menatap ponselnya, menunggu.
Pemilik Sisi Kanan: pasal lima?
Aku: Pasal lima.
Pemilik Sisi Kanan: lagunya udah ada ujungnya??? pasal sembilan???
Aku: Belum.
Pemilik Sisi Kanan: terus apa?
Aku menimbang. Aku menyetel kalimat itu lama, di atas kasur lipat di ruang belakang bengkel, dengan cahaya pagi masuk dari jendela kecil.
Aku: Jawaban.
Tidak ada balasan selama lima menit.
Lalu satu pesan, tanpa huruf kapital, tanpa tanda baca, seperti diketik dengan jari yang gemetar:
Pemilik Sisi Kanan: aku dateng
Setelah itu, sepanjang hari, ponselku tidak mengeong sekali pun. Kevin memberitahuku kemudian bahwa Davina menghabiskan hari itu di kos Cleo, berbaring telungkup di kasur, menutupi kepala dengan bantal, dan setiap satu jam sekali mengangkat kepala untuk bertanya jam berapa sekarang dengan suara orang yang menunggu hasil operasi.
Aku menghabiskan hari itu menyetel.
Grand piano di tengah bengkel sudah tidak ada—sudah kembali ke gereja di Kotabaru. Yang tersisa hanya tiga piano tegak di sepanjang dinding, dan satu piano tegak tua milik Kakek yang tidak pernah dijual. Piano cokelat gelap, merek Jerman yang sudah tidak diproduksi lagi, dengan tempat lilin kuningan di kedua sisi papan partitur. Kakek membelinya bekas tahun tujuh puluhan, memperbaikinya sendiri selama dua tahun, dan tidak pernah membiarkan siapa pun memainkannya kecuali dirinya sendiri. Dan aku.
Aku menyetelnya dari nol.
Setiap senar. Setiap nada. Aku memakai garpu tala di atas kain flanel, memukulnya ke lututku, mendekatkannya ke telinga. La. Empat ratus empat puluh. Lalu aku menyetel La di piano itu sampai gelombangnya berhenti. Lalu semua nada lain, satu per satu, dari La, ke atas, ke bawah. Aku tidak terburu-buru.
Butuh enam jam.
Saat selesai, aku menyalakan dua lilin di tempat lilin kuningan. Aku tidak tahu kenapa. Kakek selalu menyalakan lilin itu kalau memainkan lagu yang penting. Dulu aku mengira itu kebiasaan orang tua. Sekarang, berdiri di bengkel yang mulai gelap dengan dua nyala api kecil bergoyang di atas tuts, aku mengerti.
Lilin itu bukan untuk cahaya. Lilin itu supaya kau tahu bahwa ini bukan malam yang biasa.
Aku menggeser dua kursi jati dari Jepara ke depan piano. KURSI ARYA di kiri, di depan tuts. KURSI PEMILIK SISI KANAN di kanan, sedikit ke belakang, supaya orang yang duduk di sana bisa melihat tanganku.
Lalu aku duduk. Dan menunggu.
Dia datang jam delapan kurang tiga menit.
Aku mendengar langkahnya sebelum melihatnya. Pelan. Ragu. Kaki kirinya sedikit menyeret—dia capek, atau gugup, atau keduanya. Dia berhenti di ambang pintu hijau.
Aku memutar badanku.
Dia memakai gaun biru. Bukan batik dari Beringharjo—gaun biru yang lain, lebih muda, lebih terang. Hampir azure. Rambutnya tergerai. Tidak dikepang, tidak disanggul. Wajahnya tanpa riasan panggung. Hanya wajahnya.
Dia menatap bengkel yang gelap. Menatap dua lilin. Menatap piano tua Kakek. Menatap dua kursi yang berdampingan.
Lalu dia menatapku.
“Arya,” katanya. Suaranya sangat kecil. “Ini apa?”
“Duduk dulu.”
Dia berjalan ke KURSI PEMILIK SISI KANAN. Pelan, seperti berjalan di atas es. Dia duduk. Dia menaruh kedua tangannya di pangkuan, meremas ujung gaunnya.
Aku menoleh padanya. Dari jarak sedekat itu, dalam cahaya lilin, aku bisa melihat semuanya. Bulu matanya yang tidak dipasang bulu mata palsu. Bekas goresan motor di lengan kirinya, sudah hampir sembuh. Dan wajahnya—tidak ada senyum mesin. Tidak ada senyum gombal. Hanya wajah seseorang yang sudah menunggu sembilan hari.
“Aku mau main dulu,” kataku. “Habis itu aku ngomong.”
“Oke.”
“Lagunya masih belum ada ujungnya.”
“Nggak apa-apa.”
Aku menghadap piano. Aku melepas kacamata dan meletakkannya di atas papan partitur, di sebelah kanan, di tempat yang bisa kujangkau tanpa meraba-raba. Aku meletakkan kedua tanganku di atas tuts.
Dan aku bermain.
Lagu itu dimulai seperti biasa. Turun, seperti hujan di genteng. Naik lagi, seperti orang yang memutuskan bangun pagi. Aku sudah memainkannya ratusan kali, sendirian, selama bertahun-tahun, dan aku tahu setiap nadanya seperti aku tahu jalan dari bengkel ke warung burjo.
Tapi di tengah, di bagian di mana lagu itu biasanya berhenti—di bagian di mana aku selalu kehabisan nada—aku terus bermain.
Aku menulis bagian baru itu dalam sembilan hari. Satu bagian setiap malam, setelah pesannya datang. Hari pertama, dua birama. Hari kedua, empat. Hari kelima, satu kalimat penuh. Nada-nada yang naik pelan, satu per satu, seperti orang menaiki tangga di tempat yang belum pernah dia datangi. Ragu. Berhenti. Naik lagi.
Dan di ujung bagian baru itu, aku memainkan satu nada.
La.
Hanya La. Sendirian. Di oktaf tengah. Ditekan pelan, dibiarkan bergetar, dibiarkan menggantung di udara bengkel yang sejuk.
Aku mengangkat tanganku dari tuts.
La terus bergetar. Bersih. Tanpa gelombang. Lalu pelan-pelan memudar, seperti cahaya lilin di ujung malam.
Aku tidak menoleh. Aku menatap tuts di depanku.
“Semua nada di piano,” kataku, “disetel ke La.”
Di sebelah kananku, dia tidak bergerak.
“Kamu tanya dulu, kenapa La. Kenapa bukan Do. Aku bilang karena disepakati. Semua orkestra di dunia pakai La yang sama.” Aku menatap garpu tala yang kuletakkan di atas tutup piano. “Tapi ada yang nggak aku bilang. La itu bukan nada paling tinggi. Bukan paling rendah. Bukan paling bagus. La itu cuma... nada yang jadi patokan. Nada yang semua nada lain dicocokkan ke situ. Kalau La-nya bener, semuanya bisa bener.”
Aku berhenti. Aku menarik napas.
“Beberapa bulan ini,” kataku pelan, “aku sadar aku nyetel semuanya ke kamu.”
Aku mendengar napasnya tertahan.
“Aku bangun, aku lihat hp, nunggu kucing. Aku kerja, aku nyisain kursi di kanan. Aku makan, aku mikir kamu bakal marah kalau lauknya telur. Aku jalan, aku mikir kamu di kanan atau di kiri. Aku dengar ketawa di mana pun, aku cek naik setengah nada atau nggak.” Aku menatap tanganku di atas lutut. “Aku nggak tahu kapan mulainya. Tapi sekarang semua nada di hidupku dicocokkan ke kamu.”
Aku memutar kursiku. Aku menghadapnya dengan seluruh badanku.
Tanpa kacamata, wajahnya sedikit kabur di pinggir-pinggirnya. Tapi dia dekat. Cukup dekat. Dan air mata di pipinya berkilat karena cahaya lilin.
“Kamu bilang di halaman SD,” kataku, “aku boleh minta. Ke kamu. Apa aja.”
Dia mengangguk. Tidak bisa bicara.
“Aku belum pernah minta apa-apa. Ke siapa pun. Aku nggak tahu caranya.” Aku berhenti. Aku mencari kalimat yang tepat, dan aku sudah mencarinya selama sembilan hari, dan aku masih belum yakin. “Jadi aku coba sekarang. Kalau salah, kamu betulin.”
“...Oke,” bisiknya.
“Aku minta kamu tetap di kananku.”
Dia menutup mulut dengan kedua tangan.
“Aku suka kamu,” kataku. “Aku takut. Aku masih takut. Aku nggak bisa jaga kamu dari separuh dunia, dan aku nggak tahu apa yang bakal datang dari sisi yang nggak bisa aku lihat. Tapi Kevin bilang kamu tahu persis apa yang kamu pilih. Dan kamu bilang kamu nggak minta dijaga. Kamu minta dilihat.” Aku menatapnya dengan satu-satunya mata yang bisa melihat. “Aku bisa lihat kamu. Itu satu-satunya yang aku bisa. Tapi aku bisa lakuin itu seumur hidup.”
Dia menangis.
Bukan tangis yang rapi. Bukan tangis di tangga darurat yang terlatih untuk tidak merepotkan siapa-siapa. Tangis yang berantakan, yang keluar dengan suara, dengan bahu yang berguncang dan napas yang putus-putus. Dia menangis dengan kedua tangan menutup wajah, dan di sela-sela jarinya aku mendengar dia tertawa juga, dan tawanya naik setengah nada di ujung.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mengulurkan tangan kanan dan menyentuh bahunya. Pelan.
Dia menurunkan tangannya. Wajahnya basah dan merah dan jelek dan paling cantik yang pernah kulihat.
“Arya,” katanya di sela isak.
“Hm.”
“Kalau nanti ada orang nanya aku pacarmu atau bukan—”
Aku mengerti.
Tiga kali dia menjawab belum. Di Beringharjo. Di halaman SD, dua kali. Tiga kali, dan dia bilang itu hukum alam.
“Sudah,” kataku.
Dia berhenti bernapas.
“Kalau ada yang nanya,” ulangku, “jawabannya sudah.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku, dengan mulut sedikit terbuka dan air mata yang masih jatuh, seperti orang yang baru mendengar nada yang tidak ada di piano mana pun.
Dan aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.
Aku tidak menyetelnya. Aku tidak menimbangnya. Aku tidak menghitung jarak, sudut, atau detik. Tubuhku bergerak sebelum kepalaku sempat mengizinkan, seperti tangan yang terangkat saat bola datang—dari kanan, dari sisi yang bisa kulihat.
Aku mencondongkan tubuh. Dan menempelkan bibirku di keningnya.
Sebentar. Hanya sebentar. Kulitnya hangat dan sedikit basah karena keringat dan air mata. Wangi sabun melati yang dicuci hujan. Aku merasakan dia membeku di bawah bibirku, seluruh tubuhnya, seperti senar yang ditarik ke nada paling tinggi.
Lalu aku menarik diri.
Dan otakku menyala.
Aku baru saja mencium keningnya. Aku, yang tidak pernah pacaran, yang tidak pernah memegang tangan perempuan sebelum pasar malam, yang tidak hafal nomor ponselku sendiri. Aku baru saja mencium kening Davina di depan piano Kakek dengan dua lilin menyala seperti adegan film yang tidak pernah kutonton.
Aku berdiri.
Kursi jati dari Jepara berderit ke belakang. Aku mundur satu langkah. Dua langkah. Aku tidak tahu ke mana harus pergi. Bengkel ini kecil. Tidak ada pojok yang cukup jauh.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terpikir: aku berjalan ke belakang piano Kakek, ke celah sempit antara punggung piano dan dinding, dan berdiri di sana. Tersembunyi. Seperti anak kecil yang bersembunyi di balik lemari.
Hening.
Lalu, dari depan piano, aku mendengar suara.
Awalnya pelan. Seperti orang yang mencoba menahan. Lalu makin keras. Lalu meledak.
Davina tertawa.
Dia tertawa sampai kursi jati berderit. Dia tertawa sampai aku mendengarnya terjatuh ke lantai—bunyi gedebuk pelan, kain gaun di atas semen—dan terus tertawa dari lantai. Dia tertawa dengan suara yang naik setengah nada di ujung, lagi dan lagi dan lagi, seperti orang yang terus-menerus kaget pada dirinya sendiri.
“ARYA,” katanya di sela tawa. “KAMU—KAMU NGUMPET DI BALIK PIANO—”
“Aku nggak ngumpet.”
“KAMU NGUMPET!”
“Aku lagi... ngecek punggung piano.”
“JAM DELAPAN MALAM? SETELAH NYIUM KENINGKU?”
Aku menempelkan dahiku ke dinding bengkel yang dingin. Wajahku terbakar. Telingaku terbakar. Seluruh tubuhku terbakar, fals parah, mungkin seratus sen, mungkin satu nada penuh.
Dari depan piano, tawanya pelan-pelan mereda. Aku mendengar dia berdiri. Langkahnya. Kaki kirinya sedikit menyeret. Dia berjalan ke sisi piano. Ke sisi kanan. Dan dia melongok ke celah sempit tempat aku berdiri.
Wajahnya muncul di tepi piano. Rambutnya berantakan. Matanya masih basah. Pipinya merah.
Dan di kedua pipinya, lesung. Paling dalam dari semua yang pernah kulihat. Lebih dalam dari tangga darurat. Lebih dalam dari puncak bianglala.
“Pacarku,” katanya, pelan, mencicipi kata itu, “ngumpet di balik piano.”
“Aku nggak ngumpet.”
“Pacarku bohong.”
“Aku nggak bisa bohong.”
“Terus kamu lagi ngapain?”
Aku menatapnya dari celah sempit di antara piano dan dinding. Dari satu-satunya mata yang bisa melihatnya.
“Nunggu mukaku normal lagi,” kataku jujur.
Dia tertawa lagi. Lebih pelan kali ini. Lalu dia mengulurkan tangan kirinya ke celah itu. Ke arah tangan kananku.
“Keluar,” katanya. “Pacarmu mau duduk di kanan.”
Aku menatap tangannya lama.
Lalu aku meraihnya.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La reading
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut