Chapter Twenty Seven
Senyum Profesional
POV: Davina
Pagi pertama tanpa dia, aku bangun jam lima dan jempolku sudah mengetik sebelum otakku bangun.
Selamat pagi, pemilik mata tercantik se-Jo
Aku berhenti.
Aku menatap layar ponsel. Kursor berkedip di ujung kata yang belum selesai. Di atasnya, pesan terakhir di percakapan kami. Pesanku, kemarin sore, sebelum Sudut Seduh: BISA!!! tempat pertama kita 🥺 ada apa? mau ngomongin raja ampat ya??
Tidak dijawab.
Aku menghapus pesan yang belum selesai itu. Huruf demi huruf. Pelan. Sampai kotak ketiknya kosong.
Selama berbulan-bulan, setiap pagi, aku mengirim pujian untuk mata kirinya. Dan setiap pagi, dia menyampaikannya. Dia bilang begitu. Mata kiriku udah terima pujiannya. Dia bilang makasih.
Hari ini, mata kirinya tidak akan dipuji.
Aku meletakkan ponsel di atas bantal dan menatap langit-langit. Aku bertanya-tanya apakah dia bangun pagi ini dan menunggu. Apakah dia menatap ponselnya dan menunggu kucing mengeong.
Lalu aku berhenti bertanya-tanya. Karena kalau aku terus bertanya-tanya, aku tidak akan bisa bangun.
Dan hari ini aku ada acara.
Mama sudah di meja makan waktu aku turun. Teh manis. Roti bakar. Radio klasik Papa menyala pelan dari ruang tengah; Papa sudah berangkat, tapi dia tidak mematikannya.
“Pagi, Ma!”
Suaraku terang. Lampu panggung.
“Pagi, Vin.” Mama menuangkan teh untukku. “Acara di mana hari ini?”
“Gedung Graha Sabha. Nikahan. Tiga ratus tamu. Anak pejabat dinas, Ma, rewel banget, rundown-nya ganti tiga kali.” Aku tertawa. “Untung Cleo yang pegang wardrobe pengantinnya. Jadi ada temen.”
Mama tidak menjawab. Aku mengoleskan selai stroberi ke roti. Aku bercerita tentang pengantin perempuan yang ingin gaunnya diganti H-2. Aku bercerita tentang ibu pengantin laki-laki yang minta namanya disebut dengan gelar lengkap, S.H., M.Kn., padahal dia bukan notaris. Aku tertawa di tempat-tempat yang tepat.
Lalu aku mengangkat kepala, dan Mama sedang menatapku.
Tidak dengan wajah curiga. Tidak dengan wajah khawatir. Dengan wajah yang lain. Wajah seseorang yang sedang melihat ke cermin.
“Vin,” katanya pelan.
“Hm?”
“Arya jadi mau ke Raja Ampat?”
Aku mengunyah roti. Aku menelannya. Aku tersenyum.
“Belum tahu, Ma. Dia lagi sibuk.”
Mama menatapku lama. Lalu dia meletakkan cangkir tehnya.
“Senyummu,” katanya, “kayak senyum Mama.”
Aku berhenti mengunyah.
“Sepuluh tahun terakhir,” lanjut Mama, masih pelan, masih menatapku. “Senyum yang Mama pakai sepuluh tahun terakhir. Sebelum Mama main piano lagi. Mama tahu senyum itu. Mama pakai tiap hari. Di depan tetangga, di depan arisan, di depan kamu.”
Radio klasik Papa memainkan sesuatu yang lambat, dengan biola.
“Mama nggak bakal tanya,” kata Mama. “Mama tahu rasanya ditanya kalau lagi pakai senyum itu. Rasanya kayak mau pecah.” Dia berdiri, mengambil piring kosongku. “Tapi kalau kamu mau cerita, Mama di sini. Mama nggak ke mana-mana.”
Dia pergi ke dapur.
Aku duduk sendirian di meja makan. Aku mendengarkan radio klasik Papa. Aku menunggu senyumku lepas.
Senyumku tidak lepas. Senyumku tidak pernah lepas di depan orang. Aku sudah sembilan belas tahun berlatih.
Gedung Graha Sabha adalah gedung besar dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal yang terlalu banyak. Tiga ratus tamu. Dekorasi bunga putih dan emas. Pelaminan bergaya Jawa klasik dengan gebyok kayu jati berukir.
Aku sampai jam tujuh. Aku memeriksa sound system. Aku mengecek rundown yang ketiga kalinya berubah. Aku tersenyum pada koordinator acara, pada tim dekorasi, pada ibu pengantin laki-laki yang langsung memintaku menyebut gelarnya dengan lengkap.
Aku tersenyum pada semua orang.
Cleo menemukanku di belakang panggung jam delapan. Dia keluar dari ruang rias pengantin dengan jarum pentul di mulut, pita pengukur di leher, dan wajah orang yang sudah dua jam bertengkar dengan kain brokat.
“Vin,” katanya melalui jarum pentul. “Pengantinnya mau ganti selop. Selop yang tadi katanya nggak mencerminkan kepribadiannya. Selop, Vin. Kepribadian.”
Aku tertawa. “Ganti pakai apa?”
“Pakai selop yang lain. Yang sama persis. Cuma beda kotaknya.” Cleo melepas jarum pentul dari mulut. “Dia nggak bakal tahu. Dia...”
Cleo berhenti bicara.
Dia menatap wajahku. Dari dekat. Dengan mata yang sudah sembilan tahun menatap wajahku di balik pilar, di toilet kampus, di tangga darurat.
“Vin,” katanya, dengan suara yang lain.
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa. Capek aja. Rundown-nya ganti tiga kali.”
Cleo tidak menjawab. Dia menatap pipiku. Di tempat lesung pipitku seharusnya ada.
“Senyummu,” katanya pelan.
“Aku lagi kerja, Cleo.”
“Aku tahu kamu lagi kerja. Aku kenal senyum kerjamu.” Dia melangkah lebih dekat. “Ini bukan senyum kerja, Vin. Ini lebih parah. Ini senyum kamu umur lima belas tahun. Waktu Papamu tidur di sofa sebulan.”
Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku.
Seseorang memanggil namaku dari arah panggung. Acara dimulai lima menit lagi.
“Nanti,” kataku ke Cleo. “Nanti aku cerita. Habis acara.”
Aku berbalik sebelum dia bisa bicara lagi. Aku berjalan ke panggung. Aku mengambil mikrofon dari tangan operator sound. Aku menarik napas.
Satu kali.
Aku naik ke panggung, dan aku tersenyum pada tiga ratus orang.
Aku MC dengan sempurna.
Aku tahu itu tanpa perlu melihat rekamannya. Aku tidak salah satu nama pun. Aku menyebut gelar ibu pengantin laki-laki dengan lengkap, dua kali, dengan intonasi yang membuatnya terlihat seperti ratu. Aku mengisi jeda saat pengantin perempuan terlambat keluar karena selopnya—yang sama persis dengan selop sebelumnya—ternyata sempit. Aku membuat tiga ratus tamu tertawa empat kali.
Aku tidak pernah sebagus ini.
Aku tidak pernah sebagus ini, karena selama ini, di setiap acara, ada satu bagian kecil dari diriku yang tidak sepenuhnya di panggung. Bagian yang berpikir tentang makan siang yang akan kukirim ke bengkel. Tentang pesan yang akan kukirim setelah acara. Tentang seseorang di pojok ruangan yang mungkin, mungkin saja, sedang melihat lesungku muncul dua kali dari jarak lima puluh meter.
Hari ini, bagian itu tidak ada. Aku seluruhnya di panggung. Seluruhnya kerja.
Dan tidak ada yang tahu bedanya.
Tiga ratus orang, dan tidak ada yang tahu bahwa MC mereka hari ini tidak sekali pun sedang tidak bekerja.
Sesi ijab kabul. Hening. Pengantin laki-laki menjabat tangan ayah pengantin perempuan di depan penghulu. Suaranya bergetar sedikit, tapi dia tidak salah.
“Saya terima nikah dan kawinnya...”
Aku berdiri di pinggir panggung dengan mikrofon di tangan, menunggu. Wajahku tenang. Senyumku terpasang.
Setelah sah diucapkan dan tamu-tamu bersorak, ada sesi yang diminta pengantin perempuan secara khusus. Sesi yang tidak ada di rundown pertama dan kedua, dan ditambahkan di rundown ketiga. Sesi janji pribadi. Pengantin perempuan ingin mengucapkan sesuatu kepada suaminya, dengan mikrofon, di depan semua orang.
Aku menyerahkan mikrofon kepadanya.
Dia perempuan muda, mungkin dua puluh tiga tahun, dengan riasan paes ageng yang sempurna dan mata yang sudah basah. Dia menatap suaminya. Dia mengangkat mikrofon.
“Mas,” katanya. Suaranya kecil. “Aku nggak pandai ngomong. Jadi aku cuma mau bilang satu hal.”
Tamu-tamu hening.
“Aku mau lihat kamu tiap hari. Pagi, siang, malam. Kalau kamu sakit, kalau kamu capek, kalau kamu lagi jelek-jeleknya. Aku mau lihat semuanya.” Dia tersenyum, dan air matanya jatuh. “Dan aku mau kamu lihat aku juga. Yang bener-bener aku. Bukan yang aku pakai di depan orang.”
Tamu-tamu bertepuk tangan. Beberapa ibu-ibu di barisan depan menyeka mata dengan tisu. Pengantin laki-laki menangis tanpa malu.
Aku berdiri di pinggir panggung, dengan senyum terpasang.
Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun, aku merasakan senyum itu mulai retak.
Dari tepi. Pelan. Seperti kaca yang terkena air panas.
Aku masih punya dua menit sebelum sesi berikutnya. Aku menyerahkan mikrofon ke operator sound dengan senyum, dengan anggukan, dengan sebentar ya Mas, aku ke belakang.
Aku berjalan cepat ke toilet di lorong samping. Aku masuk ke bilik paling ujung. Aku mengunci pintunya.
Aku bersandar di dinding keramik yang dingin.
Bahuku turun. Wajahku dikosongkan. Panggung setelah lampunya dimatikan.
Aku membuka tas selempang kecil yang selalu kubawa di acara—tempat aku menyimpan kartu cadangan, lipstik, dan bedak. Di dalamnya, di antara lipstik dan bedak, ada kotak kayu kecil. Aku membawanya ke mana-mana sejak ulang tahunku. Aku tidak berhenti membawanya, bahkan kemarin. Bahkan hari ini.
Aku membukanya. Garpu tala azure di atas kain flanel biru tua.
D — La 440.
Kalau kamu lagi harus senyum dan capek, pukul ini ke lututmu, dekatkan ke telinga.
Tanganku gemetar waktu aku mengangkatnya. Aku memukulnya ke lututku. Terlalu keras. Garpu tala itu berdengung di tanganku, getarannya merambat ke pergelangan, ke siku.
Aku mendekatkannya ke telinga.
La.
Bersih. Tenang. Tanpa gelombang. Nada yang jadi patokan semua nada lain. Nada yang tidak butuh aku senyum.
Dia cuma butuh kamu dengerin.
Aku mendengarkan. Aku menutup mata dan mendengarkan La bergetar di tulang pipiku, di rahangku, di dadaku. Dan di dalam nada itu, aku mendengar suaranya. Datar. Pelan. Seperti permukaan kolam.
Semua nada di piano disetel ke La.
Beberapa bulan ini, aku sadar aku nyetel semuanya ke kamu.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Aku tidak boleh menangis. Aku masih punya satu jam empat puluh menit. Sesi potong kue, sesi foto keluarga, sesi lempar bunga, penutupan. Riasanku tidak waterproof. Tidak ada yang bisa menggantikanku.
La memudar. Hilang. Bilik toilet kembali sunyi, kecuali suara keran yang menetes di bilik sebelah.
Aku menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Aku memasukkan garpu tala kembali ke kotaknya. Aku menutup kotaknya. Aku memasukkannya ke tas. Aku membuka pintu bilik, berjalan ke cermin di atas wastafel, dan memeriksa wajahku.
Mata sedikit merah. Riasan masih utuh.
Aku tersenyum ke cermin.
Tidak ada lesung. Tentu saja tidak ada. Aku sudah tahu. Dia yang pertama kali memberitahuku.
Aku kembali ke panggung.
Cleo menungguku di parkiran setelah acara, bersandar di mobilnya dengan tangan terlipat di dada.
Aku tidak bisa menghindar. Aku sudah berjanji nanti. Dan Cleo tidak pernah melupakan janji orang lain.
“Kami putus,” kataku sebelum dia bertanya.
Cleo tidak bergerak.
“Kemarin. Di Sudut Seduh.” Aku tersenyum. Aku tidak bisa berhenti. “Dia bilang duniaku terlalu ramai. Dia bilang dia nggak bisa ke Raja Ampat. Dia bilang aku pantas dapat orang yang bisa lihat aku utuh.”
Wajah Cleo berubah. Perlahan. Dari terkejut, ke tidak percaya, ke marah.
“Aku bakal bunuh dia,” katanya pelan.
“Cleo—”
“Aku bakal ke bengkelnya sekarang. Aku bakal pinjam semprotan merica Bu Ningsih. Aku udah janji.”
“Jangan.”
“Vin, dia—”
“Ada yang aneh, Cleo.”
Cleo berhenti.
Aku menceritakannya. Huruf raksasa. Bu Harjo dan dokter dan punggung. Kartu kontrol dokter mata dengan (K) di belakang namanya. Lambaian yang tidak dia lihat. Tas di kursi kanan. Diam waktu aku bertanya apakah dia masih suka aku.
Cleo mendengarkan semuanya dengan wajah yang makin lama makin pucat.
“Dan Kevin,” kataku. “Kevin aneh. Kamu sendiri yang bilang. Kayak orang nyimpen mayat.”
Cleo menatapku lama. Lalu dia mengeluarkan ponselnya. Dia menekan satu nama. Dia menyalakan speaker.
Nama di layar: Buaya (Jangan Diangkat).
Kevin mengangkat di dering kedua.
“Cleo?” Suaranya terkejut. Lalu senang. Lalu hati-hati. “Hai. Kamu—”
“Kamu tahu sesuatu,” kata Cleo.
Hening di seberang.
“Soal Arya,” kata Cleo. “Kamu tahu sesuatu, dan kamu nggak bilang ke Davina.”
Hening lagi. Lebih panjang.
“Cleo,” kata Kevin akhirnya, dengan suara yang sangat pelan. “Aku nggak bisa bilang.”
“Nggak bisa, atau nggak mau?”
“Aku janji.”
“Ke siapa?”
“Ke Arya.”
Cleo menatapku. Aku menatap ponsel di tangannya. Aku mendengar napas Kevin di seberang. Pendek. Berat. Seperti orang yang menahan sesuatu di tenggorokan.
“Davina diputusin kemarin,” kata Cleo. “Kamu tahu?”
“...Aku tahu.”
“Kamu tahu sebelum kejadian?”
Kevin tidak menjawab.
“Kevin.” Suara Cleo berubah. Lebih pelan. Lebih berbahaya. “Kamu tahu sebelum kejadian, dan kamu nggak bilang apa-apa ke sahabatku, dan kamu biarin dia datang ke kafe pakai gaun kuning bawa brosur Raja Ampat, buat diputusin.”
“Cleo, tolong. Kamu nggak ngerti—”
“Aku ngerti.” Suara Cleo pecah. Hanya sedikit. Aku mendengarnya, karena aku sudah sembilan tahun mendengar suara Cleo. “Aku ngerti banget, Kevin. Mantanku dulu juga selalu punya alasan kenapa dia nggak bisa bilang. Selalu ada janji ke orang lain. Selalu ada yang lebih penting dari orang yang lagi dia bohongin.”
“Aku nggak bohong—”
“Kamu diem. Itu sama aja.”
Hening panjang.
“Cleo,” bisik Kevin. “Please. Aku sayang kamu. Aku bakal jelasin semuanya nanti. Aku cuma—aku nggak bisa sekarang. Aku janji ke dia. Kamu tahu aku nggak ninggalin—”
“Bento,” kata Cleo. “Iya. Aku tahu soal Bento. Kamu nggak ninggalin anjingmu.”
Dia berhenti.
“Tapi kamu ninggalin sahabatku sendirian di Sudut Seduh,” katanya. “Dan kamu tahu itu bakal terjadi.”
Dia menekan tombol merah.
Cleo berdiri di parkiran dengan ponsel di tangan dan mata yang basah. Dia tidak menangis. Cleo tidak pernah menangis di depan orang. Dia hanya berdiri di sana, menatap ponselnya, dengan rahang yang terkunci.
Lalu dia menunduk dan menatap kakinya.
Sandal kain krem. Ukuran tiga puluh delapan. Yang dia pakai setiap hari, di kamar, di studio, di acara-acara yang tidak butuh sepatu hak. Yang dia pakai hari ini, di bawah meja wardrobe, sepanjang acara.
Dia melepasnya. Satu per satu.
Dia membuka pintu belakang mobilnya dan melemparkan sandal itu ke jok belakang. Tidak keras. Tidak dengan marah. Pelan. Seperti orang meletakkan sesuatu yang sudah tidak ingin dia lihat.
Lalu dia berdiri di aspal parkiran dengan kaki telanjang.
“Cleo,” kataku.
“Aku antar kamu pulang.”
“Cleo, Kevin mungkin—”
“Masuk, Vin.”
Aku masuk. Cleo menyetir tanpa alas kaki. Kami tidak bicara sepanjang jalan. Di lampu merah Jalan Kaliurang, aku melihatnya menyeka pipinya dengan punggung tangan, cepat, sekali, lalu kembali mencengkeram setir.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya meletakkan tanganku di atas tangannya. Di atas setir.
Dia tidak menyingkirkannya.
Malam itu, di kamarku, aku menatap ponsel lama.
Tiga hari. Tiga hari tanpa nada La.
Aku membuka percakapan kami. Aku menggulir ke atas. Jauh ke atas. Melewati besok bisa ketemu, melewati aku mau, melewati pasal sembilan disetujui, melewati rekaman lagu tanpa ujung yang pernah kuputar enam kali di belakang panggung sampai bulu mataku copot.
Sampai ke pesan pertamanya. Pesan yang kukirim sendiri dari ponselnya, hari aku membajak kontaknya di bengkel.
Hai. Ini Arya. Nomorku.
Aku menatap pesan itu.
Aku bisa menulis sesuatu sekarang. Aku bisa bertanya. Arya, kamu sakit? Arya, kenapa ada kartu dokter mata? Arya, kenapa kamu nggak lihat aku melambai?
Aku mengetik. Arya.
Aku berhenti.
Dia sudah memutuskan. Dia sudah bilang langsung. Sesuai syarat nomor lima. Dia sudah bilang kamu nggak perlu lagi di kananku. Dan kalau aku bertanya sekarang, kalau aku mendesak, kalau aku menolak menerima—aku akan jadi satu lagi hal yang harus dia tanggung. Satu lagi keributan. Satu lagi riak.
Aku tahu rasanya jadi orang yang harus menanggung keributan orang lain. Aku sudah sembilan belas tahun menanggungnya.
Aku tidak mau jadi itu untuk dia.
Aku menghapus Arya. Huruf demi huruf.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Aku berbaring. Aku menatap langit-langit.
Aku tidak menarik napas empat kali. Aku tidak memukul garpu tala. Aku hanya berbaring di sana, di bawah foto laut yang pudar, dengan senyum yang akhirnya lepas karena tidak ada yang melihat.
Di bawahnya, wajahku tidak punya bentuk apa-apa.
Aku bertanya-tanya, sebelum tertidur, apakah dia juga sedang berbaring dengan wajah seperti ini. Di kasur lipat di ruang belakang bengkel. Dengan kursi jati di sebelah kanan yang kosong.
Aku tidak akan pernah tahu, pikirku.
Karena aku tidak akan bertanya.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional reading
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut