← Separuh yang Kulihat

Chapter Six

Bengkel Piano

POV: Davina

Aku tidak kebetulan lewat.

Aku ingin mencatat itu sejak awal, karena nanti aku akan berbohong soal itu dengan sangat buruk, dan aku ingin setidaknya satu orang—aku sendiri—tahu kebenarannya.

Aku mendapatkan alamat bengkelnya dari Kevin, yang memberikannya dalam waktu kurang dari empat detik setelah aku bertanya, dengan tambahan pesan Kak Davina, aku doakan dari lubuk hati yang terdalam, disertai emoji tangan berdoa sebanyak sebelas buah. Lalu dia menambahkan jangan bilang dari aku, lalu eh bilang aja deh, biar dia tahu aku berjasa, lalu nggak nggak jangan, dia bakal ngambek, lalu dia nggak pernah ngambek sih, dia cuma diem, tapi diemnya beda.

Aku mematikan notifikasi Kevin setelah itu.

Hari Kamis, jam tiga sore, aku tidak ada acara. Aku memakai kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans, supaya kelihatan seperti orang yang sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Aku membeli sekotak pisang goreng keju dan dua gelas es teh di warung dekat perempatan, supaya kelihatan seperti orang yang kebetulan membeli terlalu banyak. Aku berlatih kalimat di dalam ojek.

Eh, Arya! Aku kebetulan lewat!

Lho, ini bengkelmu? Ya ampun, kebetulan banget.

Aku mau ke rumah teman di dekat sini, terus lihat papan namamu.

Driver ojekku, seorang mas-mas dengan jaket hijau, menatapku lewat spion dengan pandangan kasihan.


Bengkelnya ada di jalan kecil di daerah Prawirotaman, terjepit di antara toko bingkai foto dan warung burjo. Bangunan tua bergaya ruko, dengan pintu kayu lipat yang dicat hijau tua dan kusennya sudah mengelupas. Di atas pintu tergantung papan kayu dengan huruf-huruf yang dipahat tangan, catnya sudah pudar:

BENGKEL PIANO MAHENDRA Setel · Servis · Restorasi — Sejak 1978

Pintunya terbuka separuh.

Dari dalam, aku mendengar sesuatu. Satu nada piano. Dipukul. Didiamkan. Dipukul lagi. Lalu nada yang sama sekali lagi, sedikit berbeda—aku tidak bisa bilang bedanya apa, tapi berbeda. Lalu lagi. Dan lagi.

Aku berdiri di ambang pintu dengan pisang goreng dan dua es teh, dan lupa semua kalimat yang sudah kulatih.

Bagian dalamnya gelap dan sejuk, seperti gudang atau gereja kecil. Bau kayu tua, bau lem, bau sesuatu yang manis seperti lilin. Ada tiga piano tegak di sepanjang dinding, satu grand piano kecil yang tutupnya terbuka lebar di tengah ruangan, dan meja kerja panjang yang dipenuhi alat-alat yang tidak pernah kulihat: palu-palu kecil berlapis kain, gulungan kawat, kotak-kotak berisi potongan kain merah, dan benda logam seperti garpu bergagang yang tergeletak di atas kain flanel.

Arya duduk di depan grand piano. Menghadap ke sana, membelakangi pintu, dan di sebelah kirinya, pintu masuk. Sisi yang tidak bisa dia lihat.

Dia tidak tahu aku ada di sana.

Dia memegang benda seperti kunci pas panjang, terpasang di salah satu pin logam di dalam badan piano. Tangan kirinya memukul satu tuts. Nadanya mengambang. Tangan kanannya memutar kunci itu—sangat sedikit, seperti memutar tombol brankas. Nada itu dipukul lagi.

Aku mendengarnya sekarang. Di nada yang pertama tadi, ada sesuatu seperti getaran. Wa-wa-wa-wa, sangat pelan, seperti sirene yang jauh sekali. Di nada yang kedua, getarannya melambat. Waaa—waaa—waaa. Di nada yang ketiga, getarannya hilang.

Nada itu jadi bersih. Utuh. Seperti air yang berhenti beriak.

Arya melepas kunci itu dari pin. Dia tidak tersenyum, tapi bahunya turun sedikit. Seperti orang yang baru melepas napas yang ditahan.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

“Kebetulan lewat,” kataku akhirnya, keras-keras.

Dia memutar seluruh badannya di kursi. Kacamatanya memantulkan cahaya dari pintu. Dia menatapku, lalu menatap pisang goreng di tangan kiriku, lalu es teh di tangan kananku, lalu menatapku lagi.

“Rumahmu di Condongcatur,” katanya.

“...Kok tahu?”

“Waktu kamu pesan ojek kemarin, layarmu ada di sebelah kananku.”

Tentu saja. Tentu saja dia lihat.

“Ini Prawirotaman,” lanjutnya.

“Iya.”

“Itu empat belas kilometer.”

“Aku kebetulan lewat empat belas kilometer,” kataku, dan mengangkat dagu. “Ada masalah?”

Dia menatapku lama. Lalu, dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, dia berdiri, mengambil kursi lipat dari balik meja kerja, membukanya, dan meletakkannya di sebelah kanannya.

“Nggak ada masalah,” katanya.


Pisang gorengnya habis dalam dua puluh menit, sebagian besar olehku.

Aku duduk di kursi lipat, di sebelah kanannya, memperhatikan dia bekerja. Grand piano itu milik sebuah gereja di Kotabaru, katanya, dan harus selesai sebelum Minggu. Aku bertanya apa saja, dan dia menjawab semuanya dengan kesabaran yang aneh, seolah tidak ada pertanyaan yang bodoh.

“Itu apa?”

“Kunci setem.”

“Yang logam kayak garpu itu?”

“Garpu tala. Nada La. Empat ratus empat puluh hertz.”

“Kenapa La? Kenapa bukan Do?”

“Karena disepakati begitu. Semua orkestra di dunia pakai La yang sama, biar kalau musisi dari mana pun main bareng, nadanya cocok.”

“Semua orkestra di dunia?”

“Hampir semua.”

“Jadi La itu kayak... bahasa yang semua orang ngerti.”

Dia berhenti bekerja sebentar. Dia menoleh padaku—dengan seluruh wajahnya, seperti biasa—dan menatapku seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang benar.

“Iya,” katanya. “Kayak gitu.”

Aku merasakan sesuatu yang hangat mengembang di dada, konyol sekali, karena dipuji oleh penyetel piano soal teori musik yang baru kupelajari tiga menit lalu.

“Terus yang tadi,” kataku, “yang bunyinya wa-wa-wa?”

“Kamu dengar itu?”

“Aku dengar.”

“Kebanyakan orang nggak dengar.” Dia tampak sedikit terkejut, lalu sedikit senang, dan aku menyimpan ekspresi itu di tempat aman. “Satu tuts piano itu isinya dua atau tiga senar. Kalau senarnya belum sama persis, getarannya bertabrakan. Jadi ada bunyi wa-wa itu. Namanya gelombang.”

“Dan kalau sudah sama?”

“Gelombangnya berhenti.” Dia memukul tuts yang tadi. Nadanya keluar bersih, tenang, seperti kolam di pagi hari. “Kalau dua senar sudah sama, getarannya berhenti bertengkar.”

Getarannya berhenti bertengkar.

Aku mengulang kalimat itu di kepalaku, dan tiba-tiba aku teringat meja makan di rumah. Suara Mama dan suara Papa yang tipis dan tidak sama. Gelombang. Wa-wa-wa. Dan aku, umur tujuh tahun, tersenyum lebar di tengah-tengah mereka supaya bunyi itu berhenti.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi Arya, yang sedang memasang kunci setem di pin berikutnya, berhenti. Dia menoleh sedikit. Hanya sedikit.

Dia tidak bertanya. Dia hanya menunggu sebentar, memberi ruang kalau aku mau bicara.

Aku tidak mau. Belum.

Jadi aku melakukan yang selalu kulakukan. Aku menyerang.

“Arya,” kataku, dengan suara yang manja dan panjang. “Aku boleh coba?”

“Coba apa?”

“Mencet tutsnya. Satu aja.” Aku menggeser kursi lipatku lebih dekat, sampai lututku hampir menyentuh lututnya. “Please? Aku udah bawain pisang goreng. Aku udah kebetulan lewat empat belas kilometer.”

Dia menatapku. Lalu menatap lututku yang terlalu dekat. Lalu telinganya—aku melihatnya dengan kepuasan yang dalam—mulai berubah warna.

“Satu tuts,” katanya.

“Satu tuts.”

Aku memukul satu tuts. Keras. Nadanya melenting ke langit-langit.

“Itu Fa,” kata Arya. “Dan kamu baru merusak dua puluh menit kerjaku.”

“Serius?”

“Nggak.”

Aku menatapnya. Wajahnya datar. Wajahnya selalu datar. Tapi di ujung bibirnya, di sisi kanan yang bisa kulihat dengan jelas, ada sesuatu yang bergerak. Sedikit sekali. Naik setengah milimeter. Persis seperti sudut bibir Cleo di Sudut Seduh.

“Arya,” kataku pelan, “kamu barusan bercanda?”

“Nggak tahu,” katanya jujur. “Mungkin.”

“Ya Tuhan.” Aku menutup mulut dengan kedua tangan. “Ya Tuhan, kamu bercanda. Kamu bisa bercanda. Aku harus kasih tahu Kevin.”

“Jangan.”

“Aku harus kasih tahu dunia.”

“Jangan kasih tahu dunia.”

“Aku bakal umumin di nikahan yang aku MC-in Sabtu depan. Hadirin sekalian, sebelum pemotongan kue, saya ingin mengumumkan bahwa Arya Mahendra baru saja bercanda untuk pertama kalinya dalam—”

“Kedua kalinya.”

Aku berhenti. “Kedua?”

“Yang pertama waktu reuni,” katanya. “Waktu aku bilang mata kiriku nanti aku sampaikan pujianmu.”

“Itu bercanda? Aku kira kamu serius!”

“Setengah bercanda.” Dia mengembalikan perhatiannya ke pin piano. “Aku memang sampaikan. Malamnya.”

Aku membeku.

Dia terus bekerja. Kunci setem berputar sedikit. Nada dipukul. Gelombang melambat.

“Kamu,” kataku, suaraku sedikit tercekik, “kamu beneran ngomong sama mata kirimu?”

“Nggak keras-keras.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku menatap sisi wajahnya, sisi kanan yang bisa kulihat, dan merasakan sesuatu terjadi di dalam dadaku yang tidak ada hubungannya dengan penasaran. Penasaran itu ringan. Penasaran itu bisa dimatikan kapan saja.

Yang ini tidak ringan.


Menjelang jam lima, dia selesai dengan grand piano gereja.

“Coba mainkan sesuatu,” kataku. “Biar aku tahu hasilnya bagus.”

“Kamu nggak bakal tahu bedanya.”

“Aku dengar wa-wa-wa. Aku pasti tahu.”

Dia menimbang sebentar. Lalu dia melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja kerja, dan meletakkan kedua tangannya di atas tuts.

Aku tidak tahu lagunya. Mungkin dia yang membuatnya sendiri; mungkin lagu lama yang tidak pernah kudengar. Lagunya pelan dan sederhana, dengan nada-nada yang turun seperti air hujan di genteng, lalu naik lagi seperti orang yang memutuskan untuk bangun pagi meskipun tidak ingin. Tangan kanannya memainkan melodi. Tangan kirinya memainkan sesuatu yang lebih rendah, lebih tenang, seperti lantai yang menahan semuanya.

Dan dia memejamkan mata.

Kedua matanya. Yang hitam dan yang azure. Dan aku sadar, dengan perasaan yang aneh dan sedikit menyakitkan, bahwa bagi mata kirinya, memejam atau tidak sama saja. Tapi dia tetap memejamkannya. Seolah dia ingin kedua matanya beristirahat bersama. Seolah tidak adil kalau hanya satu yang boleh.

Lagunya selesai. Nada terakhir menggantung lama di udara bengkel yang sejuk, bersih, tanpa gelombang sedikit pun.

Aku tidak bertepuk tangan. Rasanya salah. Aku hanya duduk di kursi lipat dengan tangan di pangkuan dan mata yang panas.

“Bagus,” bisikku.

“Pianonya.”

“Bukan pianonya.”

Dia membuka mata. Dia meraba-raba meja kerja untuk mencari kacamatanya—ke kiri, ke tempat yang tidak bisa dia lihat, karena dia tadi meletakkannya di sana—dan tidak menemukannya.

Aku mengambil kacamata itu. Aku tidak memberikannya ke tangannya. Aku membukanya, mencondongkan tubuh, dan memakaikannya sendiri di wajahnya. Pelan. Gagang kiri dulu, melewati telinga yang sudah merah padam, lalu gagang kanan.

Dia sama sekali tidak bergerak selama aku melakukannya.

“Nah,” kataku. “Udah kelihatan?”

“Udah.”

“Kelihatan apa?”

Dia menatapku dari balik lensa yang baru kupasang. Terlalu dekat. Aku sengaja. Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.

“Kamu,” katanya. “Dan pisang goreng di gigimu.”

Aku menutup mulut dengan tangan dan memekik.


Waktu dia pergi ke belakang untuk mencuci tangan yang berlumur minyak dan pisang goreng, aku melihat ponselnya.

Ponsel itu tergeletak di meja kerja, di sebelah garpu tala. Model lama, casing-nya retak di satu sudut. Aku mengetuk layarnya dengan satu jari, untuk memastikan.

Tidak dikunci.

Tentu saja tidak dikunci. Dia orang yang tidak bisa berbohong, dan tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, dan tidak hafal nomornya sendiri. Aku merasakan campuran rasa sayang dan rasa bersalah yang sangat, sangat ringan.

Sangat ringan. Hampir tidak ada.

Aku membuka kontak. Aku menambahkan nomor baru. Nomorku. Lalu aku menimbang namanya.

Davina. Terlalu biasa.

Davina MC. Terlalu profesional.

Cewek Pisang Goreng. Tidak. Tidak akan kuberi dia amunisi.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Lalu, dengan senyum yang kutahan sekuat tenaga supaya tidak meledak jadi tawa, aku menulis:

Pemilik Sisi Kanan

Aku menyimpannya. Lalu aku masuk ke pengaturan kontak itu, menemukan pilihan nada notifikasi, dan menggulir daftar suara yang tersedia. Dering biasa, lonceng, pip-pip. Di bagian bawah, ada satu yang bernama Kucing.

Aku memilihnya.

Terakhir, aku mengirim satu pesan dari ponselnya ke nomorku sendiri: Hai. Ini Arya. Nomorku.

Ponselku bergetar di saku jeans. Aku mengeluarkannya, menyimpan nomor baru itu dengan nama yang akan kurahasiakan sampai mati, dan mengembalikan ponsel Arya ke tempatnya di sebelah garpu tala. Posisinya persis sama. Aku MC. Aku terbiasa mengatur properti panggung.

Arya kembali dari belakang dengan tangan basah.

“Aku pulang ya,” kataku, berdiri, menyelempangkan tas.

“Oke.”

“Makasih udah boleh lihat.”

“Makasih pisang gorengnya.”

“Sama-sama.” Aku berjalan ke pintu, lalu berhenti, dan menoleh. Ke arah kanannya. Ke arah yang bisa dia lihat. “Arya.”

“Hm.”

“Matamu. Kalau lagi main piano. Kamu tahu nggak, kamu kelihatan kayak orang yang lagi pulang ke rumah?”

Dia tidak menjawab. Tapi aku melihat telinganya. Itu jawaban yang cukup.

Aku melangkah keluar, dan sengaja meninggalkan kotak bekas pisang goreng di atas meja kerjanya.


Aku sudah di dalam ojek, setengah jalan ke Condongcatur, ketika ponselku bergetar.

Dia: Kamu ganti nama kontakmu di hpku.

Aku menggigit bibir untuk menahan tawa. Driver ojek menatapku lewat spion lagi.

Aku: Nggak diganti. Namaku emang itu.

Dia: Nama kontakmu Pemilik Sisi Kanan.

Aku: Iya. Dan notifnya suara kucing. Soalnya matamu kayak kucing. Kucing paling ganteng se-Jogja 🐱

Tidak ada balasan selama tiga menit. Aku menatap layar. Aku membayangkan dia duduk di bengkelnya yang sejuk, dengan ponsel yang barusan mengeong keras, menatap pesan itu dengan wajah datar dan telinga merah.

Lalu:

Dia: Kotak pisang gorengmu ketinggalan.

Aku: Aku sengaja. Biar besok ada alasan balik ke situ.

Tiga menit lagi. Lima. Aku hampir sampai rumah. Aku sudah mulai berpikir bahwa aku terlalu berani, terlalu cepat, bahwa dia mungkin sedang memikirkan cara sopan untuk bilang jangan datang lagi.

Ponselku bergetar.

Dia: Besok jam empat. Aku bikinin es teh. Gula dua sachet.

Aku membaca pesan itu sekali. Dua kali. Sepuluh kali.

Lalu aku menempelkan ponsel ke dada dan memejamkan mata di boncengan ojek, di tengah lalu lintas Jalan Kaliurang yang macet, dan tidak peduli sama sekali bahwa mas-mas driver itu sedang menatapku lewat spion dengan wajah yang, sekarang, jelas-jelas sedang menahan tawa.

Aku tidak kebetulan lewat.

Besok juga tidak.