← Separuh yang Kulihat

Chapter Twenty

Pacaran Pemula

POV: Davina

Pagi pertama sebagai pacar Arya Mahendra, aku bangun jam lima dan langsung merencanakan hal yang paling penting: mengganti nama kontakku di ponselnya.

Itu tidak bisa dilakukan dari jauh. Aku harus menunggu sampai jam empat sore, sampai aku di bengkel, sampai dia lengah.

Jadi jam empat sore, saat dia pergi ke belakang mencuci tangan, aku melakukannya. Ponselnya masih tidak dikunci. Masih retak di sudut. Aku membuka kontak Pemilik Sisi Kanan, dan aku mengetik ulang.

Pacar (Pemilik Sisi Kanan) (Resmi)

Tiga kurung. Terlalu banyak. Aku tidak peduli.

Dia kembali dari belakang. Aku meletakkan ponselnya di tempat yang sama, di sebelah garpu tala. Lalu aku mengirim pesan dari ponselku sendiri, dari jarak satu meter, sambil menatapnya.

Ponselnya mengeong.

Dia mengambilnya. Membaca layar. Aku melihat matanya berhenti di nama pengirim. Aku melihat telinganya berubah warna dengan kecepatan yang belum pernah kulihat.

Isi pesanku hanya satu kata: Hai.

“Kamu ganti nama kontakmu,” katanya, tanpa menoleh dari layar.

“Nggak diganti. Itu nama baruku.”

“Ada tiga kurung.”

“Iya.”

“Itu nggak efisien.”

“Cinta nggak efisien, Arya.”

Dia menatap layar lama. Lalu dia meletakkan ponselnya, dengan layar menghadap ke bawah, dan kembali ke palu piano. Tapi aku melihat sudut bibir kanannya. Lesung kecil itu. Yang hanya satu, di kanan, sangat kecil, dan belum pernah dilihat siapa pun sebelum aku.

Pacarku punya lesung pipit. Dan aku satu-satunya yang tahu.


Hari kedua, dia menyerahkan sesuatu padaku.

Selembar kertas HVS, dilipat empat. Aku membukanya. Tulisan tangannya yang kecil dan miring memenuhi setengah halaman.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN ORANG PACARAN (sumber: internet, 3 artikel, 1 forum, 2 video)

1. Panggilan sayang 2. Kencan (minimal 1x seminggu?) 3. Foto berdua 4. Pegangan tangan (sudah) 5. Kasih kabar (sudah — pasal 2) 6. Tahu makanan kesukaan pasangan (es teh + 2 gula, ayam paha atas, pisang goreng keju, martabak cokelat-keju, TIDAK SUKA: pare, durian) 7. Kenalan sama orang tua (sudah — satu pihak) 8. ???

Aku menatap kertas itu. Aku menatap nomor delapan, dengan tiga tanda tanya.

“Nomor delapan apa?” tanyaku.

“Aku nggak tahu. Semua artikel beda-beda di nomor delapan.” Dia menatap kertas itu dengan wajah serius, seperti menatap diagram piano. “Ada yang bilang kejutan romantis. Ada yang bilang saling kenal teman. Satu artikel bilang berbagi akun Netflix.”

“Kamu punya Netflix?”

“Nggak.”

Aku menekan kertas itu ke dadaku dan menggigit bibir keras-keras supaya tidak menjerit.

“Kamu riset,” kataku. “Kamu riset cara pacaran.”

“Aku nggak pernah pacaran. Aku nggak mau salah.”

“Arya.”

“Hm.”

“Kamu udah tahu makanan kesukaanku. Kamu tulis tidak suka pare. Aku nggak pernah bilang aku nggak suka pare.”

“Kamu nyingkirin pare dari gado-gado waktu di warung burjo. Tiga minggu lalu. Kamu taruh di pinggir piring, terus kamu tutupin pakai kerupuk biar mas-nya nggak tersinggung.”

Aku berhenti. Aku menatapnya.

Aku ingat itu. Aku ingat menutupi pare dengan kerupuk. Aku tidak ingat ada yang melihat.

“Kita coba nomor satu,” kataku, karena kalau aku tidak bicara sekarang, aku akan menangis di atas kertas HVS-nya. “Panggilan sayang. Panggil aku sesuatu.”

Dia menatapku. Dia memikirkannya. Lama. Seperti memilih nada.

“Sayang,” katanya.

Datar. Rata. Tanpa naik, tanpa turun. Seperti mesin ATM yang bilang silakan ambil kartu Anda.

Aku jatuh dari KURSI PEMILIK SISI KANAN.

Aku tidak bercanda. Aku benar-benar jatuh. Aku tertawa begitu keras sampai kehilangan keseimbangan, dan kursi jati itu terguling ke samping, dan aku terkapar di lantai bengkel yang berdebu dengan bantal motif kucing di atas perutku, tertawa sampai perutku sakit.

“Itu salah?” tanya Arya dari atas, bingung.

“Nggak—nggak salah—” Aku terengah-engah. “Kamu—kamu ngomongnya kayak—kayak robot yang disuruh ngaku cinta—”

“Aku coba lagi.”

“Jangan!” Aku mengangkat tangan. “Jangan, Arya, aku bisa mati.”

Dia menunggu sampai aku berhenti tertawa. Lalu dia mengulurkan tangan kanannya dan menarikku berdiri. Dia membetulkan kursi jati yang terguling. Dia mendudukkanku di sana. Dia mengambil bantal kucing dari lantai, menepuknya dari debu, dan meletakkannya kembali di bawahku.

Lalu dia menatapku. Dari dekat.

“Davina,” katanya.

Hanya itu. Namaku. Tapi dia mengatakannya dengan cara yang berbeda dari biasanya. Lebih pelan. Sedikit lebih rendah. Seperti nada yang dimainkan dengan jari yang menekan lebih lama, supaya getarannya menggantung di udara.

Aku berhenti tertawa.

“Itu aja,” katanya. “Aku nggak bisa sayang. Kedengerannya kayak bohong, padahal nggak bohong. Tapi aku bisa manggil namamu kayak gini.”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia mengambil pulpen dari meja kerja dan mencoret nomor satu di kertas HVS itu. Di sebelahnya, dia menulis: sudah (versi sendiri).


Hari keempat, Kevin mengadakan syukuran.

Di warung burjo sebelah bengkel. Dengan tumpeng. Tumpeng, dengan nasi kuning yang dibentuk kerucut, ayam ingkung, telur rebus, urap, dan tulisan dari irisan cabai merah di atas nasinya: SELAMAT AR.

“Ini berlebihan,” kata Arya, berdiri di depan tumpeng dengan wajah orang yang sedang dihukum.

“Ini kurang,” kata Kevin, yang matanya sudah merah sejak kami datang. “Aku mau sewa gedung. Mas-nya nggak ngizinin.”

“Aku nggak ngizinin,” kata Arya.

“Kamu nggak ngizinin. Mas-nya juga nggak.” Kevin menoleh ke mas penjaga warung. “Mas, maaf ya, jadi repot.”

“Nggak apa-apa, Mas,” kata mas penjaga warung, yang sudah mendapat jatah ayam ingkung setengah ekor. “Saya ikut seneng. Mas Arya udah lima tahun makan di sini sendirian. Baru sekarang bawa orang.”

Aku menoleh ke Arya. Dia pura-pura sangat tertarik pada urap.

Cleo datang terlambat, tentu saja. Kaus hitam, jeans, kacamata hitam di kepala. Sandal krem di kaki. Dia berdiri di ambang pintu warung dan menatap tumpeng dengan tulisan cabai merah.

“Ini apa,” katanya datar.

“Syukuran!” Kevin berdiri begitu cepat sampai kursi plastik merahnya terjungkal. “Buat Arya dan Kak Davina! Ayo duduk, Cleo, ayo—aku udah siapin kursi—”

“Aku bisa ambil kursi sendiri.”

“Aku tahu kamu bisa. Aku cuma—”

“Kevin.”

Kevin berhenti.

Cleo mengambil kursi plastik merah dari tumpukan. Dia meletakkannya di sebelah kursi Kevin. Tepat di sebelahnya. Lalu dia duduk.

Kevin menatap kursi itu seolah melihat mukjizat.

Di tengah acara—setelah Kevin memotong puncak tumpeng dan menyerahkannya kepada Arya dengan tangan gemetar sambil berkata ini buat sahabatku yang akhirnya berani minta sesuatu, dan Arya menerimanya dengan wajah datar dan telinga merah, dan aku menangis diam-diam ke tisu warung—Cleo meletakkan sendoknya.

“Kevin,” katanya.

“Ya?”

“Sabtu. Makan malam.”

Seluruh warung diam. Mas penjaga warung berhenti mengunyah ayam ingkung.

Kevin tidak bergerak. Mulutnya terbuka.

“Satu kali,” kata Cleo, menatap nasi kuningnya. “Di tempat yang aku pilih. Kalau kamu gombal, aku pulang. Kalau kamu bawa bunga, aku pulang. Kalau kamu bawa puisi, aku pulang dan aku bakar puisinya.”

Kevin masih tidak bergerak.

“Kevin?” kata Cleo, akhirnya menoleh.

Kevin jatuh dari kursi plastik merah.

Bukan pingsan. Hanya jatuh. Kursinya miring, dan dia tidak berusaha menyelamatkannya, dan dia terduduk di lantai warung dengan wajah seperti orang yang baru saja menang lotere dan tersambar petir pada saat yang bersamaan.

Cleo menatapnya dari atas.

“Itu iya atau nggak?” tanyanya.

“IYA,” kata Kevin dari lantai. “IYA, IYA, IYA, IYA—”

“Satu iya cukup.”

“IYA!”

Arya, di sebelahku, menuang es teh ke gelas Kevin yang kosong. Tanpa bicara. Dia hanya meletakkan gelas itu di dekat tangan Kevin, di lantai, dengan tenang, seperti orang yang sudah dua puluh tahun menuangkan air untuk sahabatnya yang jatuh.


Kencan pertama kami sebagai pasangan adalah di angkringan di utara Tugu.

Aku yang memilih. Arya bilang bioskop terlalu gelap dan terlalu ramai dan dia tidak bisa melihat siapa yang duduk di kirinya. Kafe sudah terlalu sering. Restoran mewah membuatnya gugup; dia tidak tahu garpu mana yang dipakai duluan.

Jadi angkringan. Tikar di trotoar, lampu minyak, nasi kucing, sate usus, gorengan, dan wedang jahe. Kami duduk di ujung tikar, di pojok. Tentu saja di pojok. Dinding toko yang sudah tutup di kiri Arya. Aku di kanan.

Kami tidak banyak bicara. Kami makan nasi kucing, dan Arya menyingkirkan pare dari urap di piringku tanpa kuminta, dan aku menyandarkan kepala di bahu kanannya—tempat parkir resmi, pasal sepuluh—dan menonton lalu lintas di sekitar Tugu.

“Nomor tiga,” kataku setelah beberapa lama.

“Hm?”

“Foto berdua. Kita belum pernah.”

Dia menatapku. Lalu menatap ponselku yang kuangkat ke atas. Kamera depan menyala. Wajah kami berdua di layar, diterangi cahaya kuning lampu minyak.

“Senyum,” kataku.

Dia menatap kamera dengan wajah seperti orang yang difoto untuk KTP.

“Arya. Senyum.”

“Aku lagi senyum.”

“Itu bukan senyum. Itu muka orang nunggu antrean bank.”

“Aku nggak tahu caranya senyum ke kamera.”

Aku menurunkan ponsel. Aku menatapnya. Lalu, tanpa peringatan, aku menoleh dan menempelkan bibirku di pipi kanannya.

Cepat. Sebentar. Tepat di tempat lesung kecilnya berada.

Dan aku menekan tombol kamera.

Aku menarik diri. Dia membeku. Seluruh tubuhnya, seperti patung di depan Gedung Agung. Matanya terbuka lebar di balik kacamata. Mulutnya sedikit terbuka.

Aku melihat hasil fotonya.

Wajahku, dari samping, dengan mata terpejam dan bibir di pipinya. Wajahnya, dari depan, dengan mata yang melotot ke kamera seperti orang yang baru melihat hantu. Dan di pipi kanannya, tepat di bawah bibirku, lesung itu. Muncul sendiri. Karena kaget, mungkin. Atau karena hal lain.

“Aku cium yang kanan,” bisikku ke telinganya, “biar kamu bisa lihat.”

Dia tidak bisa menjawab.

Dia tidak bisa menjawab sama sekali selama sepuluh menit berikutnya. Dia makan tiga bungkus nasi kucing dengan tatapan kosong ke arah Tugu, dan waktu penjual angkringan menanyakan mau tambah wedang jahe atau tidak, dia menjawab iya, Davina.

Penjual angkringan menatapnya. Lalu menatapku. Lalu tersenyum penuh pengertian dan menuangkan wedang jahe tanpa berkata apa-apa.


Hari berikutnya, aku menerima laporan kerusakan.

Dari Arya sendiri, dalam bentuk pesan-pesan pendek yang datang sepanjang hari, seperti laporan kecelakaan kerja.

Dia: Tadi aku nyetel piano Bu Dosen ke 442 Hz. Harusnya 440. Aku baru sadar setengah jalan. Harus ulang dari awal.

Dia: Aku manggil Bu Dosen “Davina”. Dia bingung.

Dia: Aku masukin gula dua sachet ke teh yang dikasih Bu Dosen. Aku nggak pakai gula.

Dia: Aku lupa bawa kunci setem. Aku bawa garpu makan.

Dia: Ini semua gara-gara kamu.

Aku membaca pesan-pesan itu di belakang panggung sebuah acara lamaran di Bantul, dengan riasan setengah jadi, dan tertawa sampai MUA-ku mengancam akan berhenti.

Aku: gara-gara aku kenapa? 😇

Dia: Kamu tahu kenapa.

Aku: nggak tahu. jelasin. poin dua, minimal tiga kata.

Lama tidak ada balasan. Lalu:

Dia: Pipi kananku masih kerasa.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. MUA-ku berteriak karena bedaknya belum kering.


Rabu malam, jam delapan lewat, aku sedang di bengkel waktu ponsel Arya berdering. Bukan mengeong. Nada dering biasa. Nama di layar: Ibu.

Arya menatap layar itu. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.

“Angkat,” kataku.

Dia mengangkat. Dia menempelkan ponsel ke telinga kanan. Aku mendengar suara perempuan samar dari seberang, dan suara jangkrik.

“Sudah, Bu. ... Nasi. ... Bukan telur, Bu. Ayam goreng lengkuas.” Jeda. “Iya, Bu. Dikirimin.”

Dia diam lama, mendengarkan. Aku melihat bahunya naik, pelan-pelan, seperti orang yang bersiap untuk sesuatu.

Lalu dia bilang: “Bu. Aku punya pacar.”

Suara dari seberang berhenti.

Hening. Bahkan jangkriknya seperti berhenti.

Lalu—aku mendengarnya dari tempatku duduk, satu meter jauhnya—suara jeritan. Jeritan perempuan setengah baya yang meledak dari speaker ponsel seperti kembang api. Diikuti suara sesuatu jatuh. Panci, mungkin. Atau kursi.

Arya menjauhkan ponsel dari telinganya. Wajahnya datar.

“Bu? ... Bu, nggak apa-apa? ... Itu apa yang jatuh? ... Oh. Rantang.” Jeda. “Iya, Bu. Yang di foto. ... Namanya Davina.”

Dari speaker, suara Ibu mulai terdengar lagi, cepat dan tinggi dan setengah menangis. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya. Tapi aku melihat wajah Arya, dari kanan. Aku melihat sesuatu di sana melunak, pelan, seperti es di permukaan kolam yang retak karena matahari.

“Ada, Bu,” katanya. “Di sini. ... Mau ngomong?”

Dia menyodorkan ponselnya padaku.

Aku menatap ponsel itu. Aku MC. Aku bicara dengan orang asing setiap hari. Aku sudah bicara dengan gubernur, bupati, pengantin yang menangis, nenek-nenek yang pikun.

Tanganku gemetar waktu menerima ponsel itu.

“Halo, Bu,” kataku. “Saya Davina.”

Suara di seberang diam sebentar. Lalu, pelan, dengan logat Magelang yang halus dan suara yang masih serak habis menangis:

“Nak Davina.”

“Iya, Bu.”

“Makasih ya, Nak. Sudah ngasih makan anak Ibu yang bukan telur.”

Aku tertawa. Air mataku jatuh di saat yang sama.

“Sama-sama, Bu.”

“Nak.” Suaranya jadi lebih pelan. “Anak Ibu itu nggak pernah minta apa-apa. Dari kecil. Kalau dia sampai bilang punya pacar ke Ibu...” Dia berhenti. Aku mendengar dia menarik napas. “Berarti dia minta. Berarti dia mau sekali.”

Aku menatap Arya. Dia sedang menatap garpu tala di atas meja kerja. Dia tidak mendengar kata-kata ibunya. Tapi dia melihat wajahku, dari sudut mata kanannya, dan dia melihat aku menangis.

“Saya jaga, Bu,” kataku ke ponsel. “Saya janji.”

“Ibu percaya,” kata ibunya. “Oh iya, Nak. Satu lagi.”

“Iya, Bu?”

“Suruh dia pakai jaket kalau malam. Dia nggak pernah pakai jaket. Dari SD.”

Aku menoleh ke Arya. Dia memakai kaus lengan pendek. Di bengkel yang dingin. Jam delapan malam.

“Siap, Bu,” kataku. “Itu pasal tiga belas.”