← Separuh yang Kulihat

Chapter Thirty

Sisi Kiri

POV: Arya

Jumat pagi, aku mencoba nada Sol lagi.

Aku duduk di depan piano Kakek. Aku tidak bekerja; dr. Hendra melarang. Tapi duduk di depan piano bukan kerja. Duduk di depan piano adalah satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan tanpa merasa aku sedang menunggu sesuatu.

Pintu hijau bengkel ada di sebelah kiriku. Seperti hari pertama dia datang, dulu, membawa pisang goreng dan dua es teh. Aku tidak pernah memindahkan piano ini. Kakek meletakkannya di sini, menghadap dinding, dengan pintu di kiri. Kakek punya dua mata. Dia tidak perlu memikirkan sisi.

Aku memainkan lagu itu dari awal. Hujan di genteng. Bangun pagi. Tangga. La.

Sol.

Lalu diam.

Aku mencoba Mi. Salah. Aku mencoba Do, tinggi. Salah. Aku menurunkan tangan dari tuts dan menatap kertas partitur di atas papan. Bagian atasnya masih terlihat, kabur. Bagian bawahnya sudah tertutup tirai. Tirai itu naik lagi semalam. Sedikit. Belum ke tengah. Tapi dekat.

Empat hari lagi.

Di luar, suara mobil berhenti.

Aku mengenal suara mesinnya. Mobil Kevin. Sedan tua warna perak yang knalpotnya sedikit bocor di sisi kanan, sehingga suaranya berdengung di frekuensi rendah. Aku mendengar pintu mobil terbuka. Satu. Lalu yang kedua.

Dua pintu.

Aku berhenti bernapas.


Langkah kaki di jalan kampung. Lalu di ambang pintu hijau.

Bukan langkah Kevin. Kevin berjalan dengan tumit dulu, keras, seperti orang yang selalu terburu-buru ke tempat yang lebih seru. Ini langkah yang lain. Lebih ringan. Sedikit ragu.

Dan kaki kirinya sedikit menyeret.

Dia capek. Atau gugup. Atau keduanya.

Aku tidak menoleh.

Pintu hijau berderit. Aku mencium sesuatu. Wangi yang masuk bersama udara pagi dari jalan kampung. Bukan parfum. Sabun. Sesuatu seperti melati yang dicuci air hujan.

Aku tidak menoleh.

Langkah itu masuk ke bengkel. Pelan. Melewati meja kerja. Melewati dua kursi jati dari Jepara. Aku mendengar langkah itu berhenti sebentar di dekat KURSI PEMILIK SISI KANAN—di sisi kananku, di tempat yang bisa kulihat, kalau aku memutar kepala sedikit saja.

Lalu langkah itu bergerak lagi.

Tidak ke kanan.

Ke kiri.

Dia berjalan memutar, di belakang punggungku, dan berhenti di sisi kiriku. Di sisi yang kosong. Di ruang yang sudah dua puluh enam tahun tidak ada isinya. Dekat. Sangat dekat. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya di bahu kiriku, tanpa menyentuh.

Aku tidak bisa melihatnya. Sama sekali. Tidak dengan mata kiri, yang tidak pernah bisa. Tidak dengan mata kanan, yang menghadap tuts piano dan kertas partitur yang setengah tertutup.

Dia tidak bicara.

Aku tidak bicara.

Kami diam lama. Satu menit. Mungkin lebih. Aku mendengarkan napasnya di sebelah kiriku. Pendek. Tidak rata. Seperti orang yang berusaha tidak menangis.

“Arya,” katanya.

“Davina.”

Hening.

“Kamu nggak noleh,” katanya.

“Aku nggak perlu.”

“Kamu nggak bisa lihat aku.”

“Nggak bisa.”

“Terus gimana kamu tahu ini aku?”

Aku menatap tuts piano. Aku menjawab dengan jujur. Aku selalu menjawab dengan jujur, kecuali satu kalimat, di gelap, dua malam lalu.

“Langkahmu,” kataku. “Kaki kirimu nyeret. Kamu capek. Sabunmu melati. Napasmu kalau lagi nahan nangis, tiga pendek satu panjang.” Aku berhenti. “Dan Kevin nggak pernah bawa orang lain ke sini.”

Dia tidak menjawab lama.

Lalu dia bicara. Pelan. Dari kiri. Dari sisi yang tidak bisa kulihat.

“Aku di kirimu,” katanya. “Dan kamu tetap tahu itu aku.”


Aku menutup mata.

Kalimat itu masuk ke telingaku, ke telinga yang tidak punya sisi kiri, dan aku merasakannya bergetar di tulang pipiku, di rahangku, di dadaku. Seperti La dari garpu tala. Bersih. Tanpa gelombang.

“Kevin cerita,” katanya.

“Kevin janji.”

“Kevin lebih dulu jadi sahabatmu.” Suaranya bergetar. “Dia bilang begitu. Di ruang tamu rumahku. Jam enam pagi. Pakai kaus yang ada noda kopinya. Nangis kayak anak kecil.”

Aku tidak menjawab.

“Semuanya, Arya. Dia cerita semuanya. Kilatan cahaya. Tirai. dr. Hendra. Laser. Operasi Senin.” Dia berhenti. Aku mendengar dia menarik napas. Tiga pendek, satu panjang. “Gas di mata. Nunduk dua minggu. Nggak boleh naik pesawat.”

“Aku nggak bohong,” kataku. “Di Sudut Seduh.”

“Aku tahu kamu nggak bohong.”

“Semua yang aku bilang itu benar.”

“Aku tahu.” Suaranya naik. Tidak keras. Tapi naik. “Duniaku rame. Benar. Kamu nggak bisa ke Raja Ampat. Benar. Aku pantas dapat orang yang bisa lihat aku utuh. Benar.” Dia berhenti. “Kamu tahu apa yang nggak benar?”

Aku menunggu.

“Kesimpulanmu.”


Aku mulai memutar badan. Refleks. Seperti tangan yang terangkat saat bola datang. Aku ingin melihatnya.

“Jangan,” katanya.

Aku berhenti.

“Jangan noleh. Dengerin aja.” Suaranya pecah di tengah. “Kamu bilang telingamu nggak punya sisi kiri. Kakekmu bilang begitu. Jadi dengerin. Dari sini. Dari sisi yang kamu nggak bisa lihat.”

Aku kembali menghadap piano. Aku meletakkan kedua tanganku di atas lutut.

“Kamu bilang aku udah nanggung terlalu banyak,” katanya. “Dari umur tujuh tahun. Mama. Papa. Delapan ratus tamu. Semua orang yang butuh aku senyum.” Dia menarik napas. “Itu benar. Aku nanggung. Karena aku harus. Nggak ada yang nanya aku mau atau nggak. Aku cuma harus.”

Aku mendengarkan.

“Kamu tahu apa yang Cleo bilang ke kamu? Di warung burjo? Aku dengar, Arya. Aku dengar dari balik tirai plastik. Aku nggak pernah bilang.” Dia berhenti. “Cleo bilang, dari semua hal di hidupnya, kamu satu-satunya yang dia mau.”

Aku membuka mata.

“Mau,” ulangnya. “Bukan harus. Mau. Kamu satu-satunya hal di hidupku yang bukan harus. Dan kamu—” Suaranya pecah sepenuhnya. “Kamu ambil satu-satunya hal itu. Karena kamu pikir kamu lagi baik ke aku.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kamu takut aku bakal jadi matamu,” katanya, lebih pelan, di antara isak yang dia tahan. “Kalau operasinya gagal. Kamu takut aku bakal narasiin semua sisi. Kiri dan kanan. Seumur hidup.”

“...Iya.”

“Aku mau.”

Satu kata. Diletakkan di udara bengkel seperti nada yang ditekan lama, dibiarkan bergetar.

“Aku udah jadi mata kirimu,” katanya. “Di pasar malam. Kirimu ada bapak jual arum manis. Kirimu ada nenek jual kerak telor. Kamu inget? Kamu bilang kamu nggak capek. Kamu bilang kirimu ada isinya.” Dia berhenti. “Kalau suatu hari kananmu juga hilang, aku bakal narasiin kanan juga. Dan itu bukan beban. Itu bukan harus. Itu hal yang paling aku mau di seluruh dunia.”


Aku merasakan sesuatu di wajahku.

Hangat. Basah. Turun dari mata kananku, lewat pipi, ke rahang.

Dan dari mata kiriku.

Aku tidak tahu mata kiriku bisa menangis. Aku tidak pernah memeriksa. Mata yang tidak bisa melihat apa-apa selama dua puluh enam tahun, dan ternyata dia tetap bisa menangis.

“Kamu nggak berhak,” katanya, pelan, di sebelah kiriku, “mutusin aku pantas dapat apa.”

Aku menunduk.

“Itu hakku. Aku yang pilih. Aku pilih waktu aku datang empat belas kilometer bawa pisang goreng. Aku pilih waktu aku nyebrang Malioboro dua kali. Aku pilih waktu aku bilang aku suka kamu, titik.” Dia berhenti. “Aku nggak lagi milih waktu kamu ngusir aku. Kamu yang milih buat aku. Dan itu bukan kebaikan, Arya. Itu kamu takut.”

“Aku takut,” kataku.

Suaraku keluar pecah. Seperti senar yang putus di tengah tarikan.

“Aku takut, Davina. Aku nggak pernah takut. Kerikil, aku nggak takut. Anak-anak yang manggil aku mata setan, aku nggak takut.” Aku menatap tuts piano yang kabur di balik air mata. “Tapi aku takut nggak bisa lihat kamu lagi. Kalau kanan hilang—kalau kanan hilang, kamu berdiri di mana? Kamu nggak punya tempat. Aku nggak punya tempat buat kamu.”

Dia tidak menjawab langsung.

Aku mendengar sesuatu. Kertas. Dikeluarkan dari tas. Lalu tangan—tangannya—muncul di sisi kananku. Dari belakang bahuku, melewati bahu kanan, masuk ke pandanganku. Di bagian atas, di bagian yang masih bisa kulihat.

Tangannya meletakkan sesuatu di atas papan partitur piano. Di atas kertas lagu tanpa ujung. Di tempat yang bisa kubaca.

Kartu MC. Kartu karton putih seukuran telapak tangan. Pinggirnya sedikit keriting, seperti pernah basah. Tulisan pulpen yang sedikit luntur.

POIN TERAKHIR: Nggak ada rencana B.

“Kartu terakhir,” katanya dari kiri. “Proposal pertemanan. Aku nggak pernah bacain. Aku tulis buat aku sendiri. Buat diinget tiap kali aku takut.”

Aku menatap kartu itu.

“Aku nggak punya rencana B, Arya. Dari awal. Aku bilang ke Cleo, aku bakal ngejar kamu kayak orang yang nggak punya jalan pulang.” Dia berhenti. “Kamu tanya aku berdiri di mana kalau kananmu hilang? Di mana aja. Kiri. Kanan. Depan. Belakang. Nggak ada rencana B. Aku nggak punya tempat lain buat berdiri.”


“Buka tangan kiri,” katanya.

Aku tidak mengerti. Tapi aku menurut. Aku mengangkat tangan kiriku dari lutut, dan membuka telapaknya. Ke arah kiri. Ke arah yang tidak bisa kulihat. Ke arah suaranya.

“Waktu di halaman SD,” katanya, “aku lempar kerikil dari kanan. Aku bilang, yang ini kamu lihat datangnya.”

“...Iya.”

“Aku ambil satu lagi. Hari itu juga. Diam-diam. Aku simpan di laci, aku nggak tahu buat apa.” Dia berhenti. “Sekarang aku tahu.”

Aku tidak mendengar dia bergerak. Aku mendengar napasnya. Tiga pendek, satu panjang.

“Sekarang,” katanya.

Dan aku mendengarnya.

Sangat pelan. Hampir tidak ada. Bunyi kecil di udara, di sisi kiriku, di ruang yang kosong. Bunyi sesuatu yang kecil dan ringan bergerak melewati udara. Seperti bisikan.

Aku tidak melihatnya datang. Aku tidak akan pernah bisa melihat apa pun datang dari sisi itu.

Tapi aku mendengarnya. Dan tanganku bergerak sebelum otakku sempat berpikir. Jari-jariku menutup.

Kerikil itu ada di telapak tangan kiriku. Kecil. Abu-abu. Hangat dari tangannya.

Aku menatap tangan kiriku. Aku harus memutar kepalaku untuk melihatnya, jauh ke kiri, dan bahkan setelah itu, aku melihatnya dari bagian atas pandanganku, samar, di atas tirai abu-abu.

Tapi aku menggenggamnya.

“Kamu nggak perlu lihat,” katanya dari kiri. Suaranya pecah jadi tangis. “Kamu bilang begitu. Di Malioboro. Waktu kamu pindahin aku ke kiri biar aku nggak keserempet motor. Kamu bilang, aku nggak perlu lihat, aku tahu kamu di situ.”

Aku menggenggam kerikil itu di tangan kiri. Di tangan kanan, aku merogoh saku jaketku, dan mengeluarkan kerikil yang satunya. Kerikil yang dia lempar dari kanan. Kerikil yang kupegang di gelap dua malam lalu, waktu aku bohong untuk pertama kalinya.

Dua kerikil. Satu di tiap tangan. Kiri dan kanan.

“Aku tahu kamu di situ,” kataku.


Aku memutar badanku.

Dia tidak melarangku lagi. Aku memutar seluruh badanku di kursi piano, ke kiri, jauh, sampai dia masuk ke pandangan mata kananku. Dari atas. Di atas tirai abu-abu.

Wajahnya.

Tidak ada riasan. Mata bengkak. Hidung merah. Rambut dikuncir asal-asalan. Bekas air mata di kedua pipi.

Dia tidak tersenyum.

Pasal delapan, pikirku. Di bengkel, dia tidak wajib senyum.

Dan dia tidak tersenyum. Dia hanya menatapku, dengan seluruh wajahnya yang tidak dipakaikan apa-apa, dan membiarkanku melihatnya. Yang benar-benar dia. Bukan yang dia pakai di depan orang.

Aku mengangkat tangan kananku, yang masih menggenggam kerikil, dan menyentuh pipinya dengan punggung jari. Di tempat lesung kanannya berada.

Dia memejamkan mata.

Lalu dia membukanya lagi. Dan dia menatapku, dan air mata masih jatuh, dan dia berkata dengan suara yang serak dan jelek dan paling indah yang pernah kudengar:

“Pacarku ganteng kalau nangis.”

Aku tertawa. Aku tidak sengaja. Tawa itu keluar dari tempat yang tidak kukenal, basah dan pecah.

“Mata kirimu juga nangis,” katanya, lebih pelan, menyentuh pipi kiriku dengan ibu jarinya. Di bawah mata azure. “Aku baru tahu mata kiri bisa nangis.”

“Aku juga baru tahu.”

“Udah berapa hari dia nggak dipuji?”

Aku menghitung. Aku menghitung semua hal.

“Sembilan.”

Dia menarik napas. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan. Dia mendekat, sampai dahinya hampir menyentuh dahiku, sampai wajahnya memenuhi seluruh bagian pandanganku yang masih ada.

“Cantik,” katanya.

“Satu,” kataku.

“Cantik.”

“Dua.”

“Cantik. Cantik. Cantik.”

Aku menghitung. Tiga, empat, lima. Dia terus mengatakannya, di antara tangis dan tawa, dengan suara yang naik setengah nada di ujung. Enam. Tujuh. Delapan.

“Cantik,” katanya untuk kesembilan kalinya. “Sampaikan ya.”

Aku menyampaikannya. Tidak dalam hati kali ini. Keras-keras. Ke mata kiriku, yang basah, yang tidak bisa melihat perempuan yang memujinya, dan yang tetap tahu dia di situ.

“Dia bilang makasih,” kataku.


Dari luar pintu hijau terdengar suara.

Awalnya pelan. Lalu makin keras. Suara isakan laki-laki dewasa yang tidak berusaha ditahan sama sekali. Diikuti suara ingus yang ditarik dengan sangat, sangat tidak elegan.

Davina menoleh ke pintu. Aku mengikuti arah wajahnya.

“Kevin,” kata Davina. “Kamu kedengeran.”

“AKU NGGAK NGUPING!” teriak Kevin dari balik pintu. Suaranya tersumbat. “Aku lagi—aku lagi jaga pintu! Cleo nyuruh aku jaga di luar! Aku jaga!”

“Kamu jaga sambil nangis.”

“Penjaga juga manusia, Kak!”

Davina menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa. Tawanya naik setengah nada di ujung. Aku mendengarnya, di tengah bengkel yang tidak ramai, dan aku tidak perlu mencarinya.

Dia ada di sini.

Di sebelahku. Di kiri, dan di kanan, dan di mana pun dia mau berdiri.

Aku menatapnya. Aku menggenggam dua kerikil di dua tanganku. Dan di dalam dadaku, sesuatu yang sudah dua puluh enam tahun terkunci rapat, mulai terbuka. Pelan. Seperti pintu hijau yang berderit.

Ada sesuatu yang harus kukatakan. Sesuatu yang tidak pernah kukatakan pada siapa pun. Tidak pada Ibu. Tidak pada Kevin. Tidak pada Kakek.

“Davina,” kataku.

Dia menurunkan tangan dari wajahnya.

“Aku mau minta sesuatu.”