Chapter Thirteen
Yang Kulihat
POV: Arya
Aku membawanya ke SD Negeri Keparakan 2 pada hari Minggu sore, saat sekolah kosong dan pagar besinya hanya dikunci dengan gembok yang sudah berkarat sejak aku kelas empat.
“Kita nyelinap?” bisik Davina, menatap gembok itu dengan mata berbinar.
“Nggak nyelinap. Pak Min kenal aku.”
Pak Min, penjaga sekolah yang tinggal di rumah kecil di pojok halaman, sudah berumur tujuh puluh tahun lebih. Dia membukakan gembok untuk kami sambil memicingkan mata ke wajahku, lalu tertawa ompong.
“Walah, Le. Si mata biru.” Dia menepuk pipiku, pipi kanan, seperti dua puluh tahun lalu. “Sudah besar. Bawa pacar?”
“Bukan pacar, Pak.”
“Belum, Pak,” kata Davina dari sebelah kananku.
Pak Min tertawa lagi, lebih keras, dan menyerahkan gembok itu padaku. “Kunci lagi kalau sudah, ya. Jangan main perosotan, sudah reyot, nanti ambrol.”
Dia masuk ke rumahnya. Davina menoleh padaku.
“Dua kali,” katanya.
“Apa?”
“Dua kali orang nanya aku pacarmu. Dua kali kamu bilang bukan. Dua kali aku bilang belum.” Dia mengangkat dua jari, seperti tanda V di foto yang menempel di dinding bengkelku. “Nanti kalau sudah tiga kali, jadi hukum alam. Pasal sebelas.”
“Proposalmu sudah punya sebelas pasal?”
“Proposalku berkembang, Arya. Kayak organisme hidup.”
Halaman SD itu lebih kecil dari yang kuingat.
Dulu lapangannya terasa seperti padang rumput yang tidak ada ujungnya. Sekarang aku bisa menyeberanginya dalam tiga puluh langkah. Tiang bendera di tengahnya catnya sudah mengelupas. Pohon trembesi di sudut timur masih ada, lebih besar, akarnya menjebol paving di sekelilingnya. Ayunan besi berkarat. Perosotan yang reyot, persis seperti kata Pak Min.
Davina langsung berlari ke ayunan.
“Arya! Dorong!”
“Pak Min bilang jangan main perosotan.”
“Ini ayunan, bukan perosotan. Beda pasal.” Dia duduk di papan kayu ayunan yang sudah melengkung, memegang rantai besinya dengan dua tangan, dan menendang-nendangkan kaki di udara seperti anak umur enam tahun. “Dorong. Please. Aku udah pakai rok yang bisa buat ayunan.”
Aku berdiri di belakangnya. Di belakang adalah sisi yang tidak bisa dilihat siapa pun, bukan hanya aku, jadi aku merasa adil. Aku mendorong punggungnya pelan.
Ayunan itu berbunyi.
Bukan derit biasa. Bunyi logam yang saling bergesekan dengan frekuensi tinggi, panjang, menyakitkan, seperti biola yang dimainkan oleh orang yang membenci biola. Burung-burung pipit di pohon trembesi terbang semua.
“NDUK!” Suara Pak Min menggelegar dari rumahnya. “ITU AYUNAN UMUR TIGA PULUH TAHUN! TURUN! NANTI BAPAK YANG DIMARAHI KEPALA SEKOLAH!”
Davina melompat turun dengan wajah merah padam, hampir jatuh, dan aku menangkap lengannya dari kanan.
“Maaf, Pak!” teriaknya ke arah rumah.
“PACARNYA JUGA! JANGAN NGEDORONG!”
“Bukan pacar, Pak!” teriakku.
Hening sebentar dari rumah Pak Min. Lalu:
“YA SUDAH, TEMANNYA JUGA!”
Davina menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa sampai berjongkok di tanah. Aku berdiri di sebelahnya dan menunggu, dan tanpa sadar aku menghitung: itu satu nada di atas tawa kerjanya. Tawa yang asli.
Aku mulai mengenali perbedaannya dengan mata tertutup.
Aku berjalan ke sisi barat halaman, ke deretan ruang kelas di bawah atap genteng. Pintu-pintunya tertutup, tapi jendelanya berkaca bening. Aku berhenti di depan ruang ketiga dari ujung.
“Kelas satu,” kataku.
Davina berdiri di sebelah kananku dan mengintip ke dalam jendela. Bangku-bangku kayu kecil. Papan tulis hijau. Gambar pahlawan nasional di dinding, warnanya sudah pudar.
“Kamu duduk di mana?”
“Di situ.” Aku menunjuk bangku di baris kedua, dekat jendela. “Bu Guru taruh aku di situ karena jendelanya di kanan. Biar aku bisa lihat ke luar.”
“Baik banget gurunya.”
“Iya. Dia baik.” Aku menatap bangku itu. “Tapi jendelanya di kanan, berarti pintunya di kiri. Dan anak-anak masuk-keluar lewat pintu.”
Davina tidak mengatakan apa-apa. Dia menunggu. Aku mulai mengerti bahwa itu salah satu hal yang dia lakukan dengan sangat baik, padahal kelihatannya dia orang yang tidak pernah berhenti bicara: dia tahu kapan harus menunggu.
Aku berjalan ke tepi lapangan dan duduk di tangga semen di depan ruang kelas. Tangga itu rendah, tiga undakan, dibuat untuk kaki anak-anak. Lututku hampir menyentuh dagu. Davina duduk di sebelah kananku, dan lututnya juga hampir menyentuh dagu, dan untuk sesaat kami terlihat seperti dua orang dewasa yang dipaksa duduk di kursi anak TK.
“Aku janji mau cerita,” kataku.
“Kamu nggak harus.”
“Aku tahu. Tapi aku mau.”
Aku tidak pandai bercerita. Aku lebih pandai mendengarkan. Tapi aku mencoba menyusunnya seperti menyusun nada—satu per satu, dari yang paling bawah.
Aku masuk SD umur enam tahun. Hari pertama, seorang anak laki-laki di barisan upacara menatap mataku dan menjerit. Bukan jeritan jahat. Jeritan kaget. Tapi anak-anak lain mendengar jeritan itu, dan menoleh, dan melihat mataku, dan mulai menyebutnya.
Mata setan.
Itu sebutan pertama. Lalu ada yang bilang mata kiriku bisa melihat hantu. Lalu ada yang bilang kalau aku menatap orang dengan mata biru itu terlalu lama, orang itu akan sakit. Anak-anak umur enam tahun punya imajinasi yang luar biasa, dan imajinasi itu, kalau tidak diarahkan, bisa jadi senjata.
Lalu seseorang menemukan bahwa aku tidak bisa melihat ke kiri.
Aku tidak tahu siapa. Mungkin tidak ada yang tahu. Mungkin itu ditemukan bersama-sama, seperti anak-anak menemukan permainan baru. Suatu hari, di jam istirahat, saat aku duduk di tangga ini—di tangga yang sama—sebutir kerikil mengenai pelipis kiriku.
Aku tidak melihat datangnya. Aku hanya merasakannya. Sakit, tajam, lalu hangat.
Lalu tawa. Dari kiri. Dari sisi yang kosong.
“Setiap hari?” tanya Davina pelan.
“Hampir. Nggak besar-besar. Kerikil kecil. Kadang kacang. Kadang tutup botol.” Aku mengangkat bahu. “Mereka nggak niat nyakitin banget. Mereka cuma pengin lihat aku kaget. Karena aku selalu kaget. Karena aku nggak pernah bisa lihat datangnya.”
Aku berhenti. Aku mengingat rasa itu. Bukan rasa sakitnya—rasa sakitnya sudah lama hilang. Rasa menunggu. Duduk di tangga, di bangku kelas, di barisan upacara, dan tahu bahwa di sisi kiriku ada ruang kosong, dan dari ruang kosong itu, kapan saja, sesuatu bisa datang.
“Kamu bilang ke guru?”
“Sekali. Kelas satu.”
“Terus?”
“Gurunya marahin mereka. Di depan kelas.” Aku menatap ke lapangan. “Besoknya, kerikilnya lebih banyak.”
Davina menarik napas pelan. Aku mendengarnya.
“Jadi aku berhenti bilang,” kataku. “Aku belajar satu hal: kalau aku minta mereka berhenti, mereka lempar lebih keras. Kalau aku diam, nggak nangis, nggak marah, nggak minta apa-apa—lama-lama mereka bosan sendiri.” Aku berhenti. “Itu butuh waktu. Tapi berhasil.”
“Kevin?” tanya Davina.
Aku tersenyum. Aku merasakannya di bibirku—tidak lebar, hanya sedikit. Aku jarang merasakannya.
“Kevin masuk kelas satu minggu ketiga. Pindahan dari Semarang. Dia sudah kayak sekarang, dari umur enam tahun. Ganteng, ceria, semua orang langsung suka. Hari pertama, semua anak mau duduk sama dia.”
“Dan dia pilih duduk sama kamu.”
“Nggak. Dia duduk sama anak lain. Anak yang paling rame.” Aku menggeleng. “Tapi hari ketiga, jam istirahat, dia lihat. Dia lihat kerikil kena kepalaku. Dia lihat aku nggak noleh—karena aku nggak bisa noleh, aku nggak tahu datangnya dari mana. Dia lihat aku cuma pegang kepala terus diem.”
“Terus dia ngapain?”
“Dia jalan ke sini,” kataku, menepuk undakan semen di sebelah kiriku. “Terus duduk di sini. Di kiriku.”
Davina menatap undakan kosong di sebelah kiriku. Dia tidak bisa duduk di sana tanpa berpindah ke sisi yang tidak bisa kulihat, dan dia tidak berpindah. Tapi dia menatap tempat itu lama, seperti menatap sesuatu yang suci.
“Dia nggak bilang apa-apa,” lanjutku. “Nggak marahin siapa-siapa. Nggak ngadu ke guru. Dia cuma duduk. Dan besoknya duduk lagi. Dan besoknya lagi.”
“Dan kerikilnya?”
“Masih ada. Beberapa kena dia.” Aku mengingat Kevin kecil dengan benjolan di dahi, pura-pura tidak sakit, pura-pura sedang menghitung semut. “Tapi lama-lama berkurang. Anak-anak nggak mau lempar ke Kevin. Semua orang suka Kevin. Jadi kalau Kevin duduk di kiriku, sisi kiriku jadi... tertutup.”
“Sampai kelas enam,” kata Davina.
“Sampai kelas enam. Terus SMP, terus SMA. Terus sekarang.” Aku menatap tangan-tanganku. Jari-jari yang bernoda oli piano. “Kevin nggak pernah pindah dari kiriku. Dua puluh tahun.”
Hening lama. Burung-burung pipit berkicau di pohon trembesi. Di kejauhan, suara motor lewat di jalan kampung.
“Terus kakekmu?” tanya Davina. “Bengkel itu?”
“Kakek yang ngajarin aku nyetel. Kelas empat SD. Aku pulang dengan kepala benjol, dan Kakek nggak nanya kenapa. Dia cuma dudukin aku di depan piano, kasih garpu tala, terus bilang: Dengerin ini. Terus dengerin senar ini. Bilang ke Kakek, sama atau beda.”
“Dan kamu bisa?”
“Aku bisa. Langsung.” Aku mengingat wajah Kakek waktu itu, alisnya yang putih terangkat tinggi. “Kakek bilang, Telinga itu nggak punya sisi kiri, Le. Telinga dengar semuanya.”
Davina menatapku dengan mata yang basah.
“Jadi aku belajar dengerin,” kataku. “Langkah kaki dari kiri. Tawa yang nahan. Kerikil yang diambil dari tanah. Aku bisa dengar semua itu sebelum datang. Lama-lama aku nggak perlu lihat. Aku dengar.” Aku berhenti. “Dan lama-lama aku juga belajar lihat hal-hal yang orang lain nggak lihat. Karena kalau kamu cuma punya separuh, kamu harus perhatiin separuh itu baik-baik.”
Aku menatap lapangan. Tiang bendera. Pohon trembesi. Ayunan berkarat.
Semuanya ada di kanan. Semuanya bisa kulihat.
“Aku nggak pernah punya sisi kiri,” kataku. “Aku sudah bilang, kan? Nggak bisa kangen sama yang nggak pernah ada. Aku punya separuh. Dan separuh itu—”
Aku mencari kata yang tepat. Kata itu sudah kupakai sejak kelas satu SD. Sejak aku duduk di tangga ini dengan kepala benjol dan memutuskan untuk tidak menangis.
“Yang kulihat cukup,” kataku.
Davina tidak menjawab.
Aku menunggu dia mengatakan sesuatu. Sesuatu yang biasa dikatakan orang. Kamu kuat banget. Aku salut sama kamu. Kasihan banget kamu waktu kecil. Aku sudah siap. Aku sudah mendengar semua versi kalimat itu.
Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri, turun dari tangga semen, dan berjalan ke tengah lapangan. Dia membungkuk di dekat akar pohon trembesi, di tempat paving-nya jebol, dan memungut sesuatu.
Lalu dia berjalan kembali. Dia berhenti di depanku, di sisi kanan, sekitar tiga langkah jauhnya.
Dia mengangkat tangannya. Di antara jempol dan telunjuknya ada sebutir kerikil. Kecil. Abu-abu. Sedikit berkilat.
“Arya,” katanya. “Tangan kanan. Buka.”
Aku membuka telapak tangan kananku.
Dia melempar kerikil itu. Pelan. Sangat pelan. Melengkung di udara, dari kanan, dari sisi yang bisa kulihat. Aku melihatnya datang. Aku melihat seluruh perjalanannya—naik, puncak, turun.
Kerikil itu jatuh di telapak tanganku.
Aku menatapnya. Kecil. Abu-abu. Hangat dari tangan Davina.
“Yang ini,” katanya pelan, “kamu lihat datangnya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak bisa ganti kerikil-kerikil yang dulu,” katanya. Suaranya bergetar sedikit. Dia tidak tersenyum. Tidak ada senyum mesin, tidak ada senyum gombal. Hanya wajahnya, jujur dan telanjang, di bawah langit sore yang oranye. “Tapi mulai sekarang, kalau ada yang dateng ke kamu dari aku, semuanya dari kanan. Kamu bakal selalu lihat datangnya. Nggak ada kejutan. Nggak ada yang dari sisi kosong.”
Aku menggenggam kerikil itu.
“Dan satu lagi,” katanya. Dia maju satu langkah. Dia berjongkok di depanku, di bawah undakan semen, sampai matanya sejajar dengan mataku. Mata hitamku. Mata azure-ku. “Kamu bilang kamu belajar nggak minta apa-apa. Karena kalau minta, kerikilnya makin banyak.”
“...Iya.”
“Aku bukan anak kelas satu SD.” Dia menatapku lurus. “Kamu boleh minta. Ke aku. Apa aja. Aku nggak bakal lempar lebih keras.”
Aku menatapnya. Aku tidak tahu apa yang ada di wajahku. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di wajahku; aku tidak pernah memeriksa. Tapi apa pun itu, pasti sesuatu yang tidak biasa, karena Davina menatapnya lama, lalu mengulurkan tangan dan—sangat pelan, dengan satu jari—menyentuh ujung kacamataku di sisi kiri. Di atas mata yang tidak bisa melihatnya.
“Yang kulihat cukup,” ulangnya. Pelan. Seperti mencicipi kalimat itu. “Itu kalimat yang bagus buat anak umur enam tahun yang nggak mau nangis.”
Dia menarik tangannya kembali.
“Tapi kamu udah dua puluh enam, Arya.”
Pak Min keluar dari rumahnya saat matahari hampir tenggelam, membawa dua gelas teh manis di atas nampan seng.
“Dari tadi Bapak lihat dari jendela,” katanya, meletakkan nampan di undakan semen. “Kok serius banget. Kayak orang mau lamaran.”
Davina tertawa. Lepas, keras, sampai burung-burung pipit di pohon trembesi terbang semua. Aku menatap Pak Min dengan wajah datar, dan Pak Min menatapku balik dengan wajah yang sangat, sangat senang.
“Bukan lamaran, Pak,” kataku.
“Belum, Pak,” kata Davina.
Dia menoleh padaku, dengan mata masih basah dan lesung pipit di kedua pipi, dan mengangkat tiga jari.
“Tiga kali,” bisiknya. “Hukum alam.”
Aku tidak membantah. Aku terlalu sibuk memegang kerikil kecil abu-abu di tangan kananku, erat-erat, seolah takut kerikil itu akan hilang kalau aku melepaskannya.
Malam itu, di bengkel, aku menaruh kerikil itu di atas meja kerja, di sebelah garpu tala.
Aku tidak tahu kenapa di situ. Mungkin karena garpu tala adalah benda yang memberitahuku nada yang benar.
Dan kerikil itu, entah kenapa, rasanya juga begitu.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat reading
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut