Chapter Eleven
Senyum yang Asli
POV: Arya
“Ar, darurat,” kata Kevin di telepon. “Darurat level merah. Level merah menyala.”
“Kamu selalu bilang level merah.”
“Kali ini beneran merah. Hard disk isi video prewedding buat layar LED ketinggalan di mejaku di kantor, acaranya mulai jam tujuh, aku kejebak di Klaten karena klien yang satunya mau ganti warna backdrop lima menit sebelum acara, dan cuma kamu yang tinggal dekat kantorku dan punya kunci cadangan.”
“Aku punya kunci cadangan kantormu?”
“Aku kasih tahun lalu. Kamu taruh di kaleng permen di laci ketiga.”
Aku membuka laci ketiga. Di dalam kaleng permen, di antara sekrup dan penghapus, ada kunci dengan gantungan bebek karet.
“Antar ke mana?”
Kevin diam sebentar. Terlalu lama.
“Kevin.”
“Hotel Tentrem,” katanya cepat. “Ballroom. Pernikahan. Delapan ratus tamu.”
Aku tidak menjawab.
“Ar, aku tahu. Aku tahu, oke? Aku nggak bakal minta kalau nggak darurat. Kamu cukup masuk lewat pintu samping, cari mas-mas operator LED namanya Bayu, kasih hard disk-nya, terus pulang. Lima menit. Paling lama sepuluh.”
“Oke.”
“Dan satu lagi.” Suaranya berubah, jadi lebih hati-hati. “MC-nya Davina.”
Aku sudah tahu. Dia sudah memberitahuku tiga hari lalu, dengan pesan doain aku ya, ini klien paling rewel sepanjang karierku.
“Aku tahu,” kataku.
“Oh.” Kevin terdengar terkejut. “Oke. Cuma mau bilang. Siapa tahu kamu mau... nggak tahu. Nyapa.”
“Aku nggak bakal nyapa. Dia lagi kerja.”
“Iya, iya. Tentu.” Jeda. “Ar?”
“Hm.”
“Makasih. Aku utang besar.”
“Kamu sudah utang besar sejak kelas tiga SD.”
Ballroom Hotel Tentrem adalah keramaian dalam bentuk paling murni.
Delapan ratus orang. Lampu kristal yang memantulkan cahaya ke segala arah. Musik dari band di sudut panggung yang terlalu keras. Suara gelas, suara tawa, suara piring, suara sepatu hak di atas karpet, dan suara ribuan percakapan yang bertumpuk-tumpuk sampai jadi satu dengungan besar seperti sarang lebah.
Aku masuk lewat pintu samping, seperti instruksi Kevin. Aku menemukan Bayu, operator LED, di balik meja teknis di belakang ruangan. Dia menerima hard disk itu dengan wajah seseorang yang baru diselamatkan dari tenggelam.
“Mas, sumpah, nyawa saya ada di sini,” katanya, menepuk hard disk itu. “Makasih banyak.”
Tugasku selesai. Lima menit, seperti kata Kevin.
Aku seharusnya pulang.
Aku berbalik ke pintu samping. Lalu, di panggung di ujung ruangan, suara itu terdengar lewat speaker. Suara yang terang dan hangat, yang menyapa delapan ratus orang seperti menyapa satu keluarga.
“Selamat malam, Bapak, Ibu, hadirin yang berbahagia...”
Aku berhenti.
Aku tidak berniat berhenti. Kakiku berhenti sendiri.
Aku memutar seluruh badanku. Dari meja teknis di belakang ruangan, panggung terlihat jauh, seperti lukisan kecil yang dibingkai lampu. Dan di tengahnya, dengan gaun panjang warna champagne dan rambut disanggul rendah, dengan mikrofon di tangan kanan dan kartu-kartu putih di tangan kiri, Davina tersenyum pada delapan ratus orang.
Senyum yang sama. Setiap kali.
Tanpa lesung.
Aku tidak pulang.
Aku mencari pojok. Di ruangan sebesar ini, ada banyak pojok, tapi kebanyakan penuh. Akhirnya aku menemukannya: di sebelah kiri meja teknis, ada ruang sempit antara dinding dan pilar hias yang dililit bunga putih. Cukup untuk satu orang berdiri. Dinding di kiri. Seluruh ballroom di kanan.
Aku berdiri di sana.
Seorang ibu-ibu bersanggul tinggi, lewat membawa piring kue, berhenti di depanku dan menatap wajahku dengan kening berkerut.
“Mas, pakai lensa kontak ya? Yang biru itu?”
“Nggak, Bu.”
“Kok bisa biru sebelah?”
“Bawaan, Bu.”
“Beli di mana?”
Aku menimbang. “Di rahim ibu saya, Bu.”
Ibu itu menatapku lama. Lalu dia tertawa terbahak-bahak, menepuk lenganku—lengan kanan—dengan keras, dan pergi sambil berteriak ke temannya, Jeng, Jeng, sini, ada mas-mas lucu.
Aku tidak berniat lucu. Aku berdiri lebih rapat ke dinding.
Aku memperhatikannya selama tiga jam.
Aku melihatnya memandu prosesi masuk pengantin tanpa satu kesalahan pun, meskipun pengiring pengantin wanita salah masuk dua ketukan lebih cepat. Aku melihatnya menyebut nama-nama keluarga besar kedua mempelai—puluhan nama, dengan gelar dan hubungan kekerabatan yang rumit—tanpa melirik kartu satu kali pun.
Aku melihatnya menyelamatkan acara saat speaker kanan mendadak berdengung keras—feedback, frekuensi tinggi, sekitar dua kilohertz, aku bisa merasakannya menusuk telinga seperti jarum—dan delapan ratus orang meringis bersamaan. Dia tidak panik. Dia tertawa di mikrofon, ringan, dan bilang wah, kayaknya speakernya juga terharu, Bapak Ibu, dan seluruh ruangan ikut tertawa, dan dalam tiga detik itu Bayu di meja teknis sudah memperbaiki masalahnya.
Aku melihatnya menghibur nenek pengantin wanita yang tiba-tiba menangis saat sesi sungkeman, dengan berjongkok di sebelah kursi rodanya dan membisikkan sesuatu yang membuat nenek itu tertawa di sela tangis.
Aku melihatnya melakukan semua itu dengan senyum yang sama. Setiap kali. Tuts yang dipukul mesin.
Dan aku melihat hal-hal yang tidak dilihat delapan ratus orang itu.
Bagaimana dia memindahkan berat badannya dari kaki kanan ke kaki kiri setiap lima belas menit, karena sepatu haknya terlalu tinggi. Bagaimana tangan kirinya yang memegang kartu kadang mengepal sebentar, lalu dilepaskan. Bagaimana, setiap kali lampu sorot berpindah dari wajahnya ke pengantin, bahunya turun setengah senti—hanya setengah detik—sebelum lampu itu kembali dan bahunya naik lagi.
Seperti orang yang menahan napas di bawah air, dan hanya bisa mengambil udara saat tidak ada yang melihat.
Jam sembilan kurang seperempat, ada jeda. Band mengambil alih, tamu-tamu mulai antre di prasmanan, dan pengantin sibuk berfoto dengan keluarga.
Davina turun dari panggung. Dia berjalan di tepi ruangan dengan senyum yang masih terpasang, mengangguk ke tamu-tamu yang menyapanya, lalu menyelinap ke pintu kecil di belakang panggung. Pintu layanan.
Aku tahu ke mana dia pergi. Setiap ruangan punya pilar.
Aku keluar dari pojokku. Aku berjalan ke meja minuman di dekat pintu samping, mengambil segelas es teh tanpa gula, dan dua sachet gula dari mangkuk kecil di sebelahnya. Lalu aku mengikuti jalan yang sama.
Di balik pintu layanan ada lorong beton yang terang dan dingin, dengan troli-troli piring kotor dan bau sabun cuci. Di ujung lorong, ada pintu besi bertuliskan TANGGA DARURAT.
Aku membukanya pelan.
Dia duduk di anak tangga ketiga. Sepatu haknya sudah dilepas, tergeletak miring di lantai bordes. Kakinya yang telanjang di atas beton dingin. Mikrofon dan kartu-kartunya di pangkuan. Dan wajahnya—
Wajahnya kosong. Panggung setelah lampunya dimatikan.
Dia belum menarik napas pertamanya. Aku bisa melihat itu. Dia baru saja duduk, dan dia sedang mengumpulkan tenaga untuk mulai menghitung.
Lalu dia mendengar pintu, dan mengangkat kepala, dan melihatku.
Aku melihat wajahnya melakukan tiga hal dalam satu detik. Pertama, terkejut. Kedua, senyum itu mulai dipasang—otomatis, seperti refleks, seperti tangan yang terangkat saat bola datang. Ketiga, dia menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu, dan senyum itu berhenti di tengah jalan, setengah terpasang, seperti jaket yang baru dimasukkan satu lengannya.
“Arya?”
“Kevin nyuruh antar hard disk.”
“Itu... tiga jam lalu.”
“Iya.”
“Kamu di sini tiga jam?”
“Di pojok dekat meja teknis.”
Dia menatapku. Senyum setengah terpasang itu masih ada di wajahnya, tergantung, bingung harus dilanjutkan atau dilepas.
Aku berjalan menuruni satu anak tangga, lalu duduk di anak tangga kedua, di sebelahnya. Aku menggeser posisi sedikit, supaya dia ada di kananku. Aku meletakkan gelas es teh di anak tangga di antara kami. Lalu dua sachet gula di sebelahnya.
“Di sini kamu nggak kerja,” kataku.
Pasal delapan.
Dia menatap es teh itu. Lalu dua sachet gula. Lalu aku.
Dan senyum setengah terpasang itu jatuh.
Dia tidak menangis keras. Aku tidak tahu kenapa aku mengira dia akan menangis keras; mungkin karena dia melakukan semua hal lain dengan keras—tertawa, menggoda, menyeberang jalan dua kali. Tapi tangisnya pelan. Hampir tanpa suara. Bahunya bergetar sedikit, dan air matanya turun dengan cara yang sangat rapi, seolah bahkan air matanya pun sudah terlatih untuk tidak merepotkan siapa-siapa.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa, dan aku tidak mau mengatakan hal yang salah. Aku tidak memeluknya; aku tidak tahu apakah boleh. Aku tidak menepuk bahunya; aku tidak tahu apakah dia mau. Aku hanya duduk di sana, di anak tangga kedua, dengan dia di kananku, dan menghadap ke pintu besi.
Kalau ada yang masuk, aku yang akan lihat duluan.
Pilar, jam sembilan, aku jaga.
Dia menangis sekitar empat menit. Aku menghitungnya, karena aku menghitung semua hal. Lalu tangisnya mereda, pelan-pelan, seperti gelombang di senar yang melambat. Dia menyeka pipinya dengan punggung tangan. Dia mengambil gelas es teh, merobek dua sachet gula sekaligus, dan menuangkannya.
“Maaf,” katanya, dengan suara serak.
“Kenapa minta maaf?”
“Kamu jauh-jauh ke sini buat antar hard disk, terus aku malah nangis di tangga darurat kayak orang gila.”
“Aku nggak jauh-jauh ke sini buat antar hard disk,” kataku. “Hard disk-nya cuma lima menit.”
Dia berhenti mengaduk es teh.
“Terus tiga jamnya buat apa?”
Aku tidak menjawab. Dia tidak mendesak. Kami duduk di tangga darurat yang dingin, dengan suara band yang teredam di balik pintu besi, dan bau sabun cuci piring dari lorong.
“Bulu matamu copot,” kataku setelah beberapa saat.
“Hah?”
“Yang kiri.”
Dia menoleh padaku dengan wajah tersinggung, pipinya masih basah. “Kamu kan nggak bisa lihat kiri!”
“Bulu mata kirimu,” kataku. “Nempel di pipi kananmu.”
Dia menatapku. Lalu dia meraba pipi kanannya, dan menemukan bulu mata palsu yang copot dan menempel di sana seperti ulat bulu kecil yang tersesat. Dia mengangkatnya ke depan wajahnya, menatapnya dengan horor.
“Ya Tuhan,” katanya.
“Kelihatan kayak kumis.”
“Arya.”
“Kumis di tempat yang salah.”
Dia tertawa.
Tawanya meledak keluar di antara sisa isak, serak dan jelek dan terputus-putus, dan dia menutup wajah dengan kedua tangan sambil masih memegang bulu mata palsu itu. Bahunya berguncang lagi, tapi kali ini bukan karena menangis. Dia tertawa sampai membungkuk, sampai dahinya hampir menyentuh lutut, sampai beberapa helai rambut lepas dari sanggulnya.
Lalu dia menurunkan tangan dan menoleh padaku, masih tertawa, dengan mata merah dan maskara sedikit luntur—ternyata tidak waterproof—dan bulu mata palsu masih terjepit di antara dua jarinya.
Dan di kedua pipinya, dalam cahaya lampu neon tangga darurat yang dingin dan tidak memaafkan, dua lekukan itu muncul.
Lebih dalam dari yang pernah kulihat.
Aku menatapnya. Aku tidak bisa berhenti menatapnya. Tiga jam aku berdiri di pojok ballroom, melihat senyum yang sama delapan ratus kali. Dan sekarang, di tangga darurat, dengan bulu mata copot dan kaki telanjang dan air mata yang belum kering, dia tersenyum dengan cara yang tidak pernah dilihat delapan ratus orang itu.
“Kamu lihatin apa?” tanyanya, masih terengah.
“Lesungmu.”
Dia berhenti tertawa. Dia menatapku, dan wajahnya perlahan-lahan jadi sangat merah.
“Ada?” bisiknya.
“Ada,” kataku. “Paling dalam yang pernah aku lihat.”
Jam sembilan lewat sepuluh, ponselnya bergetar. Pesan dari koordinator acara: sesi lempar bunga lima menit lagi.
Dia menatap layar. Aku melihat bahunya mulai naik lagi, pelan-pelan, bersiap. Dia meletakkan gelas es teh yang sudah kosong, memungut sepatu haknya, dan mulai memakainya kembali.
“Masih berapa lama?” tanyaku.
“Tiga jam.”
“Acaranya selesai jam sebelas empat puluh,” kataku. “Itu dua jam tiga puluh menit.”
Dia berhenti mengikat tali sepatu. “Kamu ngitung?”
“Aku lihat jadwal di meja teknis.”
“Kamu ngitung,” katanya lagi. Bukan pertanyaan.
Dia berdiri. Dia merapikan gaunnya, menyeka bawah matanya dengan hati-hati, menempelkan kembali bulu mata palsu itu dengan bantuan kamera ponsel. Lalu dia menarik napas. Aku menunggu dia menghitung sampai empat.
Dia hanya menarik napas satu kali.
“Arya.”
“Hm.”
“Kamu pulang sekarang?”
Aku memikirkan pojok di sebelah meja teknis. Dinding di kiri, pilar berbunga putih, dan ibu-ibu bersanggul tinggi yang mungkin masih mencariku untuk dikenalkan ke temannya.
“Nggak,” kataku. “Aku di pojok. Dekat meja teknis. Sampai selesai.”
Dia menatapku lama. Dia tidak bilang terima kasih. Dia tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk sekali, pelan, dan aku mengerti bahwa itu lebih dari terima kasih.
Lalu dia membuka pintu besi, kembali ke lorong yang terang, kembali ke ballroom, kembali ke delapan ratus orang.
Aku berdiri di pojokku sampai jam sebelas empat puluh.
Aku melihatnya memandu sesi lempar bunga, sesi potong kue, sesi foto terakhir, dan penutupan. Senyumnya kembali seperti mesin. Tapi dua kali—hanya dua kali, dalam dua jam tiga puluh menit—dia menoleh ke arah meja teknis. Ke arah pojok. Ke arahku.
Dan dua kali itu, dari jarak lima puluh meter, di bawah lampu kristal yang memantulkan cahaya ke segala arah, aku melihat dua lekukan kecil muncul di pipinya.
Hanya sebentar. Hanya sepersekian detik.
Tapi aku menyetel piano. Aku bisa mendengar perbedaan dua belas sen dari jarak lima meter. Aku bisa melihat perbedaan dua lekukan kecil dari jarak lima puluh.
Tidak ada yang lain di ruangan itu yang menyadarinya.
Delapan ratus orang, dan hanya aku yang tahu bahwa MC mereka malam itu, dua kali, sedang tidak bekerja.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli reading
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut