Chapter Twenty Six
Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
POV: Davina
Aku membawa brosur.
Brosur Raja Ampat dari agen travel yang tercetak di voucher Papa. Aku mengambilnya sendiri pagi itu, ke kantor mereka di Jalan Solo, dan mbak-mbak di meja depan memberiku tiga brosur sekaligus karena aku bertanya terlalu banyak. Ada foto pulau-pulau karst yang seperti jamur hijau raksasa tumbuh dari laut. Ada foto ikan pari manta. Ada foto penyu.
Dan ada foto laut dangkal. Azure. Masih baru. Belum pudar.
Aku memasukkan tiga brosur itu ke tas, bersama sebuah kartu MC yang sudah kutulis tadi malam, dengan daftar ikan yang akan kunarasikan untuk sisi kirinya. Kirimu ada ikan badut, oranye putih, lagi ngumpet di anemon. Kirimu ada pari manta, gede banget, kayak karpet terbang.
Aku memakai gaun kuning pucat dengan kancing kecil di depan. Gaun yang kupakai waktu pertama kali ke Sudut Seduh. Cleo bilang dia akan pingsan. Dia tidak pingsan. Dia bilang sesuatu yang aneh dan jujur, dan aku tertawa seperti orang gila, persis seperti yang kubayangkan.
Aku ingin mengulangnya. Tempat pertama kami. Gaun pertama kami.
Aku tidak tahu kenapa pagi itu, waktu aku berdiri di depan cermin, aku tidak bisa berhenti menarik napas.
Dia sudah di sana waktu aku datang.
Di pojok kanan belakang, dinding di kiri. Kursi yang sama. Meja yang sama. Lampu kuning yang sama.
Tapi ada yang berbeda.
Aku berjalan ke meja. Aku berjalan ke kursi di sebelah kanannya, seperti biasa, seperti yang sudah kulakukan puluhan kali. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak menarik kursi itu untukku.
Dia tidak bergerak sama sekali.
Kursi di sebelah kanannya ada tasnya. Tas selempang abu-abu tempat dia menyimpan kunci setem dan garpu tala. Tas itu duduk di sana, di kursi itu, seperti orang yang sudah memesan tempat.
Aku berdiri di samping meja. Aku menatap tas itu. Aku menatap Arya.
Dia menatap gelas di depannya. Es kopi susu. Belum diminum.
“Duduk,” katanya.
Dia tidak bilang di mana.
Aku duduk di kursi di seberangnya. Di depannya. Bukan di kanan. Bukan di kiri. Di depan, di seberang meja, seperti orang yang datang untuk wawancara kerja.
Di depan mejaku, sudah ada segelas es teh. Tanpa gula.
Tidak ada sachet gula di sebelahnya.
“Aku bawa brosur,” kataku.
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Mungkin karena aku MC, dan MC selalu mengisi keheningan. Mungkin karena kalau aku berhenti bicara, sesuatu yang besar dan dingin yang sejak tadi merayap naik dari perutku akan sampai ke tenggorokan.
Aku mengeluarkan tiga brosur dari tas. Aku meletakkannya di atas meja, berjajar, menghadap ke arahnya.
“Raja Ampat,” kataku. “Lihat. Ini penyu. Ini pari manta. Aku udah bikin daftar ikan buat—”
“Davina.”
Aku berhenti.
Dia mengangkat kepala. Dia menatapku. Dengan mata kanannya. Dari seberang meja, dari depan, aku bisa melihat keduanya sekaligus—mata hitam dan mata azure. Aku jarang melihatnya dari depan. Selama ini aku selalu di kanan.
Dari depan, aku bisa melihat bahwa mata kanannya merah. Seperti orang yang tidak tidur.
“Aku mau kita selesai,” katanya.
Aku tidak mendengarnya.
Maksudku, aku mendengarnya. Kata-katanya masuk ke telingaku. Tapi otakku menolaknya, seperti piano menolak nada yang tidak ada di tutsnya. Aku menatapnya dan menunggu kalimat berikutnya. Kalimat yang akan membuat kalimat pertama masuk akal.
Aku mau kita selesai... makan dulu, baru ngomongin Raja Ampat.
Aku mau kita selesai... dengan urusan voucher-nya.
Kalimat berikutnya tidak datang.
“Selesai,” ulangku. Suaraku terdengar aneh. Jauh. “Selesai apa?”
“Kita.”
Aku menatapnya.
“Kamu bilang,” katanya, pelan, datar, setiap kata dipilih seperti nada yang disetel, “di depan warung burjo. Kalau suatu hari aku nggak mau lagi, aku harus bilang. Langsung. Jangan diem-diem.” Dia berhenti. “Aku bilang langsung.”
Sesuatu yang besar dan dingin itu sampai di tenggorokanku.
Aku menatap brosur-brosur di atas meja. Pulau-pulau karst. Pari manta. Penyu.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia diam sebentar. Aku melihat tangannya di atas meja. Tangan kanannya mengepal di sekitar gelas es kopi susu yang belum diminum. Buku-buku jarinya putih.
“Duniamu terlalu ramai buat aku,” katanya.
Aku tidak bergerak.
“Delapan ratus tamu. Pasar malam. Reuni. Semua orang yang manggil namamu. Semua ruangan yang miring ke arahmu.” Dia tidak menatapku. Dia menatap brosur di atas meja. “Aku orang yang duduk di pojok. Aku nggak bisa terus-terusan masuk ke duniamu.”
“Kamu nggak perlu masuk,” kataku. “Aku yang dateng ke pojokmu. Selama ini aku yang dateng. Empat belas kilometer. Tiap hari.”
“Aku tahu.”
“Terus—”
“Dan aku nggak bisa ke Raja Ampat.”
Aku berhenti.
“Aku nggak bisa,” katanya. “Nggak bulan depan. Nggak dalam waktu dekat.”
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab. Aku menunggu. Dia tidak menjawab.
“Arya. Kenapa nggak bisa?”
“Aku nggak bisa,” ulangnya. Hanya itu.
Dan aku mengerti, dengan cara yang dingin dan pelan, bahwa dia tidak akan menjawab. Bahwa ini sama seperti kontrol mata. Sama seperti lampunya silau. Kalimat yang benar, yang bukan jawaban.
“Kamu pantas dapat orang yang bisa lihat kamu utuh,” katanya.
Dia mengatakannya dengan sangat pelan. Seperti menekan satu tuts di oktaf paling bawah, dan membiarkannya bergetar.
“Dari kiri dan kanan. Yang bisa lihat kamu melambai dari dua puluh meter. Yang bisa naik pesawat ke laut yang kamu tempel di dinding tujuh tahun.” Dia berhenti. “Bukan orang yang cuma bisa lihat separuh.”
Aku menunggu dia melihatku.
Aku duduk di seberang meja dan menunggu. Karena dia selalu melihatku. Dari hari pertama. Di balik pilar, di tangga darurat, di puncak bianglala. Dia melihat senyum yang tidak ada lesungnya. Dia melihat kaki kiriku yang menyeret. Dia melihat pare yang kututupi kerupuk.
Kalau dia melihatku sekarang, dia akan melihat semuanya. Dia akan melihat bahwa aku tidak percaya. Bahwa aku tahu ada sesuatu yang lain. Bahwa aku ingin bertanya kenapa huruf di ponselnya raksasa, dan kenapa dia tidak melihatku melambai, dan kenapa ada kartu dokter mata di bawah kartu pink Kevin, dan kenapa Kevin memeluknya seperti orang di gerbang bandara.
Dia tidak melihatku.
Dia menatap brosur. Dia menatap gelas. Dia menatap meja.
Dan aku—
Aku melakukan hal yang paling kukuasai.
Aku merasakannya terjadi. Seperti refleks. Seperti tangan yang terangkat saat bola datang. Bahuku naik. Punggungku tegak. Otot-otot di pipiku mengencang, dari dalam, pelan-pelan, dan menarik sudut-sudut bibirku ke atas.
Aku tersenyum.
Senyum yang sama. Setiap kali. Tuts yang dipukul mesin. Senyum yang kupakai di depan delapan ratus tamu. Senyum yang kupakai di meja makan sejak umur tujuh tahun, supaya gelombangnya berhenti.
Tanpa lesung.
“Oke,” kataku.
Suaraku terang. Terang seperti lampu panggung.
Dia mengangkat kepala. Akhirnya. Dia menatapku. Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya—sesuatu yang retak, sangat cepat, seperti es yang pecah di permukaan kolam—sebelum dia menutupnya lagi.
Dia melihat senyumku. Dia tahu senyum apa itu. Dia yang pertama kali memberitahuku.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
“Oke,” ulangku. Aku mulai membereskan brosur-brosur di atas meja. Pelan. Rapi. Satu per satu, dimasukkan kembali ke tas. Seperti properti panggung setelah acara selesai. “Nggak apa-apa. Aku ngerti.”
“Davina—”
“Aku ngerti, Arya. Beneran.” Aku memasukkan brosur terakhir. Brosur dengan foto laut dangkal. Azure. Belum pudar. “Duniaku memang rame. Aku tahu. Aku berisik. Aku ganggu kamu kerja. Aku nyuruh kamu ke pasar malam. Aku bikin kamu ngumpet di balik piano.”
Aku tertawa. Tawa kerja. Tidak naik setengah nada di ujung.
Dia mendengarnya. Aku tahu dia mendengarnya, karena dia bisa mendengar perbedaan dua belas sen dari jarak lima meter.
“Bukan itu,” katanya. Suaranya aneh. Pecah di tengah.
“Nggak apa-apa.” Aku menutup tas. Aku berdiri. Aku merapikan gaun kuning pucatku dengan kedua tangan, yang tidak gemetar, karena aku sudah sembilan belas tahun berlatih supaya tanganku tidak gemetar. “Makasih udah bilang langsung. Sesuai syarat nomor lima. Kamu nggak pernah ingkar janji.”
Aku mengambil tas selempangku.
Aku bisa pergi sekarang. Aku bisa berjalan ke pintu, keluar, memesan ojek, dan pulang. Aku bisa melakukannya dengan senyum ini terpasang sampai ke kamar.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Aku menatapnya. Dia masih duduk di kursinya, di pojok, dengan dinding di kiri dan tas di kursi kanan. Tangannya masih mengepal di sekitar gelas es kopi susu. Buku-buku jarinya masih putih.
“Arya,” kataku.
“Hm.”
“Satu pertanyaan. Terakhir.”
Dia menunggu.
“Kamu masih suka aku?”
Hening.
Di belakangku, seseorang tertawa di meja lain. Mesin kopi mendesis. Lagu akustik mengalun pelan dari speaker di langit-langit.
Arya tidak menjawab.
Dia tidak bilang nggak. Dia tidak bisa bilang nggak, kalau jawabannya iya, karena dia tidak bisa bohong. Aku tahu itu. Aku tahu itu dengan seluruh tubuhku.
Tapi dia juga tidak bilang iya.
Dia hanya diam. Dia menatap gelas di depannya. Dan diam itu—diam itu adalah jawaban yang paling benar yang pernah dia berikan. Diam itu mengatakan iya dengan cara yang tidak bisa kupakai untuk melawan.
Karena kalau dia bilang iya, aku akan duduk kembali. Aku akan menarik tasnya dari kursi kanan dan duduk di sana dan menolak pergi. Aku akan bilang kalau kamu masih suka aku, kenapa. Aku akan menangis dan berteriak dan melempar brosur Raja Ampat ke wajahnya.
Dan dia tahu itu.
Jadi dia diam.
“Oke,” kataku, untuk ketiga kalinya. Senyumku masih terpasang. Aku tidak tahu bagaimana. “Oke.”
Aku berbalik. Aku berjalan ke pintu.
“Davina.”
Aku berhenti. Aku tidak menoleh.
“Kamu nggak perlu lagi di kananku,” katanya.
Pelan. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar di atas lagu akustik dan desis mesin kopi.
Aku berdiri di tengah Sudut Seduh, dengan punggung menghadapnya, dan merasakan kalimat itu masuk. Pelan. Seperti air dingin yang meresap ke kain.
Aku di kananmu. Di bawah pohon ketapang, sebagai gombal. Di Malioboro, sebagai tekad. Di depan warung burjo, sebagai janji.
Kamu nggak perlu lagi di kananku.
Aku tidak menjawab. Aku tidak menoleh. Aku melangkah keluar dari pintu kafe, ke trotoar, ke sore yang panas dan terang.
Aku tidak menggodanya. Tidak sekali pun. Dari masuk sampai keluar. Tidak ada gombal. Tidak ada kamu tahu nggak bedanya kamu sama gula. Tidak ada kedipan, tidak ada POIN DUA, tidak ada itu bukan pasal, itu aku.
Untuk pertama kalinya sejak reuni, di depan dia, aku tidak jadi diriku sendiri sama sekali.
Aku memesan ojek. Aku menunggu di trotoar dengan senyum terpasang. Aku naik ke boncengan. Driver-nya bapak-bapak dengan jaket kebesaran, dan dari speaker kecil di stang motornya terdengar lagu dangdut yang riang.
Aku tidak menangis di ojek.
Aku tidak menangis waktu turun di depan rumah, waktu membayar, waktu tersenyum pada bapak driver dan bilang makasih, Pak, hati-hati.
Aku tidak menangis waktu Mama memanggil dari dapur, Vin, sudah pulang? Gimana Raja Ampat-nya? Arya mau? Aku menjawab dengan suara terang, nanti ya Ma, aku mandi dulu, gerah, dan Mama tidak curiga, karena suaraku sama seperti biasa. Karena aku sudah sembilan belas tahun berlatih.
Aku masuk ke kamar mandi. Aku mengunci pintu. Aku menyalakan keran shower, keras-keras.
Lalu aku duduk di lantai kamar mandi, dengan gaun kuning pucat yang basah terkena cipratan air, dan senyum itu lepas.
Lepas begitu saja. Seperti jaket yang dijatuhkan.
Dan aku menangis.
Bukan tangis yang rapi. Bukan tangis empat menit di tangga darurat yang terlatih untuk tidak merepotkan siapa-siapa. Tangis yang keluar dari tempat yang lebih dalam dari tempat senyum-senyumku yang biasa. Tangis yang menyakitkan tenggorokan. Tangis yang harus kuredam dengan handuk, di bawah suara air shower, supaya Mama tidak mendengar.
Aku menangis sampai air shower jadi dingin.
Tasku tergeletak di lantai kamar mandi, di sebelahku. Terbuka. Brosur-brosur Raja Ampat sudah basah di pinggirnya.
Di dalam tas, di antara brosur-brosur itu, ada kartu-kartu MC. Tumpukan kecil, diikat karet gelang, yang selalu kubawa ke mana-mana sejak malam di kos Cleo.
Aku menariknya keluar. Aku melepas karet gelangnya. Kartu-kartu itu jatuh ke lantai basah.
PROPOSAL PERTEMANAN RESMI.
POIN 1: Pihak Pertama berhak datang ke bengkel tanpa alasan palsu.
POIN 8 (tambahan Pihak Kedua): Pihak Pertama nggak wajib senyum di bengkel.
Tulisan tangannya. Kecil dan miring. Mulai luntur karena air.
Dan di paling belakang, kartu yang tidak pernah kubacakan. Kartu yang hanya untukku sendiri, untuk diingat setiap kali aku takut, setiap kali aku ingin kembali ke naskah, setiap kali aku ingin menarik napas empat kali dan pergi.
POIN TERAKHIR: Nggak ada rencana B.
Aku memegang kartu itu dengan kedua tangan. Di bawah shower yang dingin. Dengan gaun kuning pucat yang basah. Dengan wajah yang tidak dipakaikan apa-apa.
Tidak ada rencana B.
Aku tidak menyiapkan rencana B. Aku bilang pada Cleo, di kamarnya yang abu-abu, bahwa aku tidak punya rencana B. Aku bilang aku akan mengejar dia seperti orang yang tidak punya jalan pulang.
Dan sekarang aku tidak tahu harus ke mana.
Aku menekan kartu itu ke dadaku. Seperti dulu, di bengkel, waktu aku menekan kartu pasal delapan ke dadaku. Tapi kali ini tidak ada lesung yang muncul tanpa senyum.
Hanya dingin. Dan air. Dan satu kalimat yang terus berulang di kepalaku, dengan suara yang pelan dan datar dan pecah di tengah.
Kamu nggak perlu lagi di kananku.
Malam itu, ponselku tidak berbunyi.
Tidak ada nada La.
Aku berbaring di tempat tidur, di bawah foto laut dangkal yang pudar, dan memegang kotak kayu kecil di dada. Aku tidak membukanya. Aku tidak memukul garpu tala. Aku tidak mau mendengar La. Aku takut kalau aku mendengarnya, aku akan mengambil ponsel dan mengetik sesuatu. Sesuatu yang akan membuatku terlihat seperti orang yang tidak bisa menerima.
Aku sudah menerima. Aku bilang oke. Tiga kali.
Aku bagus dalam hal ini. Aku sudah sembilan belas tahun melakukannya.
Tapi di tengah malam, jam dua, aku terbangun, dan aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang tidak kusadari di kafe, karena aku terlalu sibuk tersenyum.
Dia tidak menaruhku di kanan. Dia menaruh tasnya di sana. Supaya aku tidak bisa duduk di sana.
Supaya dia tidak bisa melihatku.
Aku duduk di depannya. Di seberang meja. Di tempat yang bisa dia lihat dengan mata kanannya—tapi dia tidak menatapku. Sepanjang percakapan, dia tidak menatapku. Dia menatap brosur. Gelas. Meja.
Arya Mahendra, yang melihatku menarik napas empat kali dari balik pilar, dalam gelap, di tengah dangdut koplo. Yang melihat lesungku dari jarak lima puluh meter di ballroom. Yang menghitung semua hal.
Dia menghindari melihatku.
Aku duduk tegak di tempat tidur. Jantungku berdetak keras. Dua belas sen. Lima puluh. Seratus.
Orang yang sudah berhenti suka, pikirku, tidak perlu menghindari melihat.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku reading
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut