Chapter Twenty Three
Bayangan di Tepi
POV: Arya
Tiga hari setelah ulang tahunnya, bayangan itu datang.
Aku sedang menyetel piano di rumah Kila. Anak umur delapan tahun itu duduk di lantai di sebelah kananku seperti biasa, bertanya kenapa nada Si lebih susah disetel dari nada Do. Aku sedang menjelaskan tentang senar yang lebih pendek dan tegangan yang lebih tinggi, dan aku memutar kepala ke kanan untuk menatapnya.
Dan dia tidak ada.
Tidak—dia ada. Aku mendengar suaranya. Aku mendengar dia menggaruk lututnya, bunyi kuku di kulit. Tapi di tempat seharusnya wajahnya berada, di sudut bawah pandangan mata kananku, ada sesuatu.
Abu-abu. Samar. Seperti tirai tipis yang diturunkan dari sisi luar. Seperti bayangan jari yang menutupi sebagian lensa kamera.
Aku berkedip. Bayangan itu tetap di sana.
Aku menggerakkan mataku ke atas. Kila muncul—rambutnya, kuncirnya, dahinya. Aku menggerakkan mataku ke bawah. Wajahnya hilang lagi, tertutup abu-abu.
“Om?” kata Kila. “Om kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Om kayak lagi lihat hantu.”
Aku menatap ke arah suaranya. Aku memutar seluruh kepalaku sampai wajahnya berada di tengah pandanganku, di tempat yang masih jernih. Dia menatapku dengan mata bulat dan kening berkerut.
“Mata Om yang biru,” bisiknya, “lihat hantu, ya?”
“Nggak, Kila.”
“Yang hitam?”
Aku tidak menjawab.
Aku menyelesaikan piano itu. Aku tidak tahu bagaimana. Aku menyetel dengan telinga, seperti yang Kakek ajarkan. Telinga tidak punya sisi kiri. Telinga juga tidak punya tirai abu-abu.
Aku pamit pada ibu Kila dengan senyum yang kupakai seperti orang memakai jaket. Aku tidak tahu aku bisa melakukan itu. Mungkin aku belajar dari seseorang.
Di luar pagar rumah Kila, aku berdiri di trotoar dan melepas kacamata. Aku menutup mata kiriku dengan telapak tangan, meskipun itu tidak ada gunanya, karena mata kiriku memang tidak melihat apa-apa. Aku hanya ingin memastikan.
Dengan mata kanan saja, aku menatap jalan perumahan.
Bagian atas dunia masih ada. Langit. Genteng rumah-rumah. Pucuk pohon mangga. Bagian tengah masih ada, kabur seperti biasa karena minus. Tapi bagian bawah, di sudut luar, di pinggir kanan—abu-abu. Tirai tipis yang tidak bergerak. Trotoar di bawah kakiku setengah hilang.
Aku memakai kacamata lagi. Tirai itu tidak hilang. Kacamata membuat dunia tajam, tapi tidak bisa membuka tirai.
Aku mengeluarkan ponsel. Aku mencari di internet. Aku mengetik: bayangan seperti tirai di mata.
Hasil pertama adalah artikel dari sebuah rumah sakit mata. Aku membacanya dengan menahan ponsel sangat dekat ke wajah, di bagian atas layar, karena bagian bawah layar hilang di balik tirai.
Ablasio retina. Lepasnya lapisan retina dari dinding belakang mata. Gejala: kilatan cahaya, bintik-bintik melayang yang tiba-tiba bertambah, bayangan seperti tirai yang menutupi sebagian pandangan. Faktor risiko: miopia tinggi.
Merupakan kondisi darurat. Segera temui dokter spesialis mata.
Aku berdiri di trotoar perumahan di Sleman, di bawah pohon mangga, dan membaca kalimat itu berulang kali.
Merupakan kondisi darurat.
Lalu aku memesan ojek. Tujuannya bukan bengkel.
Rumah Sakit Mata di Jalan Kaliurang bangunannya putih dan dingin, dengan lantai keramik yang berkilat dan bau antiseptik yang tajam. Ruang tunggunya penuh orang tua dengan penutup mata dan kacamata hitam. Aku satu-satunya yang datang sendirian di bawah umur lima puluh.
Aku menunggu dua jam.
Selama dua jam itu, ponselku mengeong tujuh kali. Aku tidak membukanya. Aku tidak bisa. Setiap kali ponselku mengeong, aku menatap layarnya dari atas, dari bagian yang masih bisa kulihat, dan membaca potongan nama pengirim—Pacar (Pemilik Si—dan memasukkannya kembali ke saku.
Seorang perawat memanggil namaku. Aku masuk ke ruang periksa.
Dokternya laki-laki berumur lima puluhan, rambutnya beruban di pelipis, dengan kacamata berbingkai emas dan jas putih yang lengannya digulung sampai siku. Papan nama di mejanya: dr. Hendra Wiratama, Sp.M(K) — Vitreoretina.
“Arya Mahendra,” katanya, membaca berkas. “Dua puluh enam tahun. Keluhan: bayangan di mata kanan.”
“Iya, Dok.”
Dia mengangkat kepala dan menatapku. Aku melihat matanya berhenti di mata kiriku. Aku menunggu wajah yang biasanya. Tapi dr. Hendra hanya menatap dengan cara yang lain—cara seorang dokter yang membaca peta.
“Yang kiri,” katanya. “Heterokromia. Dan visus?”
“Nol, Dok. Dari lahir.”
“Hipoplasia saraf optik?”
“Kata dokter dulu, iya.”
Dia mengangguk pelan. Dia meletakkan berkas di meja. Wajahnya tidak berubah, tapi aku mendengar sesuatu di napasnya. Turun. Beberapa sen.
“Jadi mata kananmu,” katanya, “adalah satu-satunya.”
“Iya, Dok.”
“Oke.” Dia berdiri. “Kita lihat.”
Dia meneteskan obat ke mata kananku. Dingin. Perih. Lima belas menit kemudian, pupil mataku melebar, dan dunia berubah jadi terlalu terang. Lampu ruang periksa berpendar seperti matahari. Semua benda punya lingkaran cahaya di sekelilingnya.
Dia menyuruhku meletakkan dagu di sebuah alat. Dia menyorotkan cahaya yang sangat terang ke mataku. Dia menyuruhku melihat ke atas, ke bawah, ke kiri—
“Ke kiri, Mas.”
“Saya nggak bisa lihat kiri, Dok.”
“Maksud saya, lirik. Bola matanya. Ke arah kiri.”
Aku melirik ke kiri. Ke sisi yang kosong. Cahaya dari alat itu menyorot ke bagian dalam mataku, ke tempat yang tidak pernah bisa kulihat, dan dr. Hendra diam sangat lama.
Terlalu lama.
Lalu dia menarik alatnya. Dia mematikan lampunya. Dia duduk di kursinya dan menatapku, dengan kedua tangan terlipat di atas meja.
“Mas Arya,” katanya. “Saya mau jelaskan pelan-pelan. Tolong dengar sampai selesai.”
“Iya, Dok.”
“Di mata kanan Mas, di bagian tepi luar retina, ada robekan. Kecil. Dan di sekitar robekan itu, retinanya mulai lepas dari dinding belakang mata. Itu yang bikin bayangan seperti tirai.” Dia berhenti. “Istilahnya ablasio retina.”
Aku mengangguk. Aku sudah membacanya. Di trotoar, di bawah pohon mangga.
“Kabar baiknya,” lanjut dr. Hendra, “bagian tengah retina—namanya makula, bagian yang dipakai buat lihat detail, buat baca, buat lihat wajah orang—masih menempel. Masih aman. Dan area yang lepas masih kecil.”
“Kabar buruknya?”
Dia menatapku. Aku menghargai itu. Dia tidak mengalihkan pandangan.
“Mas punya minus tinggi. Retinanya tipis. Dan ini satu-satunya mata Mas.” Dia berhenti lagi. “Hari ini saya bisa laser. Lasernya kayak jahitan kecil di sekeliling robekan, supaya lepasnya nggak melebar. Kadang itu cukup. Kalau cukup, kita pantau, dan Mas bisa jalan terus seperti biasa.”
“Kalau nggak cukup?”
“Kalau lepasnya melebar—kalau bayangannya bertambah, atau pindah ke tengah—Mas harus operasi. Namanya vitrektomi. Saya masuk ke dalam mata, saya tempelkan lagi retinanya, saya isi mata Mas dengan gas supaya retinanya tertahan di tempatnya.” Dia berhenti. “Operasinya punya tingkat keberhasilan yang baik. Tapi saya nggak bisa janji penglihatan Mas akan kembali seratus persen seperti sekarang.”
Aku menatap tanganku di atas lutut. Tanpa kacamata, dengan pupil yang melebar, jari-jariku terlihat kabur dan bercahaya.
“Dok.”
“Ya.”
“Kalau semuanya gagal. Laser gagal. Operasi gagal.” Aku menyusun kalimatnya pelan-pelan, satu kata demi satu kata, seperti menyetel senar yang paling rapuh. “Saya bisa buta total?”
dr. Hendra tidak langsung menjawab.
Dia melepas kacamata berbingkai emasnya. Dia menggosok pangkal hidungnya dengan dua jari. Lalu dia memakai kacamatanya lagi, dan menatapku dengan wajah seseorang yang sudah mengatakan kalimat ini ratusan kali dan tidak pernah terbiasa.
“Ada kemungkinannya,” katanya. “Kecil, kalau kita cepat. Kita di sini supaya itu nggak terjadi. Tapi saya nggak akan bilang nol, Mas. Karena saya nggak mau bohong ke Mas.”
Aku mengangguk.
“Saya juga nggak bisa bohong, Dok,” kataku.
Dia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku masuk, wajahnya melunak.
“Kalau gitu kita cocok,” katanya pelan. “Ayo, kita laser sekarang.”
Lasernya tidak sakit. Hanya terang.
Kilatan-kilatan hijau, satu demi satu, puluhan kali, seperti kembang api yang dinyalakan tepat di depan bola mataku. Setiap kilatan disertai bunyi klik kecil dari mesin. Aku menghitungnya. Aku menghitung semua hal. Seratus dua puluh tujuh.
Setelah selesai, dr. Hendra memberiku instruksi. Jangan angkat beban berat. Jangan membungkuk terlalu lama. Kurangi aktivitas. Kontrol seminggu lagi.
“Dan Mas,” katanya, saat aku sudah berdiri di ambang pintu ruang periksa, “kalau bayangannya bertambah—sedikit saja—langsung ke sini. Jangan tunggu kontrol. Siang atau malam. Mengerti?”
“Mengerti, Dok.”
“Mas datang sendiri?”
“Iya, Dok.”
“Pulang sama siapa?”
Aku tidak menjawab.
dr. Hendra menatapku. “Pupil Mas masih melebar. Tiga sampai empat jam. Mas nggak bisa lihat jelas. Jangan pulang sendiri. Telepon seseorang.”
Aku duduk di bangku semen di luar rumah sakit, di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning.
Dunia terlalu terang. Pupil mata kananku yang melebar membuat semua cahaya jadi silau, dan semua benda jadi kabur, dan di sudut bawah, tirai abu-abu itu masih ada. Laser tidak menghapusnya, kata dr. Hendra. Laser hanya menjaganya supaya tidak melebar.
Aku menatap ke parkiran. Mobil-mobil. Motor-motor. Orang-orang berjalan dengan penutup mata. Semuanya bercahaya dan tidak jelas, seperti lukisan cat air yang terkena hujan.
Aku mencoba membayangkan tidak melihat apa-apa.
Bukan separuh. Bukan sisi kiri yang kosong, yang sudah dua puluh enam tahun kukenal seperti kamar yang lampunya tidak pernah dinyalakan. Semuanya. Kiri dan kanan. Depan dan belakang. Atas dan bawah.
Aku tidak bisa membayangkannya.
Yang bisa kubayangkan hanya satu hal. Seseorang berdiri di depan warung burjo, dengan matahari sore di pipinya, dan suaranya yang serius seperti orang mengucapkan janji.
Selama kamu masih bisa lihat ke kanan, aku di situ.
Kalau kanan hilang, di mana dia berdiri?
Aku menelepon Kevin.
Bukan dia. Kevin.
Kevin mengangkat di dering pertama, dengan suara riang dan musik di latar belakang. “Ar! Kebetulan! Aku lagi di kafe sama klien, tapi dengerin, Cleo tadi pagi—”
“Kevin.”
Musik di latar belakang tiba-tiba mengecil. Aku mendengar dia berjalan menjauh.
“Ar? Kenapa? Suaramu—”
“Aku di rumah sakit mata. Jalan Kaliurang. Bisa jemput?”
Hening.
“Aku ke sana,” kata Kevin. “Sekarang. Jangan ke mana-mana.”
Dia datang dalam dua puluh tiga menit. Aku menghitungnya. Seharusnya butuh empat puluh menit dari kantornya. Aku tidak tahu berapa lampu merah yang dia terobos.
Dia berlari dari parkiran. Aku melihatnya sebagai bentuk kabur yang bercahaya, tapi aku mengenali caranya berlari. Dia berhenti di depan bangku semen. Napasnya tersengal. Dia menatap wajahku. Dia menatap mata kananku, yang pupilnya lebar dan hitam dan tidak normal.
“Ar,” katanya. “Ar, matamu—”
“Duduk dulu.”
Dia duduk. Di sebelah kiriku. Di tempatnya.
Aku menceritakannya. Semuanya. Kilatan malam itu, titik-titik melayang, tirai abu-abu di rumah Kila. Robekan. Ablasio. Laser. Seratus dua puluh tujuh kilatan hijau. Operasi, kalau lasernya tidak cukup. Kemungkinan yang tidak nol.
Kevin tidak bicara selama aku bercerita. Aku tidak bisa melihatnya—dia di kiri—tapi aku mendengar napasnya. Semakin pendek. Semakin berat. Dan di akhir cerita, aku mendengar sesuatu yang sudah enam belas tahun tidak kudengar. Sejak dia mengubur Bento dengan sendok semen di belakang rumahnya.
Kevin menangis.
Pelan. Hampir tanpa suara. Tapi aku mendengarnya.
Ponselku mengeong.
Aku mengeluarkannya dari saku. Aku tidak bisa membaca layarnya—pupilku masih lebar, hurufnya bercahaya dan meleleh. Aku menyodorkannya ke kiri.
“Bacain,” kataku.
Kevin menerima ponsel itu. Dia menyeka wajahnya dengan lengan kemeja. Dia membaca.
“Pacarku lagi apa?” Suaranya serak. Dia berdeham. “Aku kangen. Hari ini aku MC seminar, pesertanya bapak-bapak semua, ngantuk semua. Aku pukul garpu tala di toilet tiga kali.” Kevin berhenti. “Mata kirimu udah dipuji belum hari ini? Belum? Cantik. Sampaikan ya.”
Suaranya pecah di kata sampaikan.
Aku memejamkan mata. Aku menyampaikannya. Dalam hati. Seperti biasa.
“Ar,” bisik Kevin. “Kamu harus bilang ke dia.”
“Nggak sekarang.”
“Ar—”
“Balas,” kataku. “Aku yang ngomong, kamu yang ketik.”
Kevin tidak bergerak.
“Kevin.”
Dia menghela napas panjang. Gemetar. “Oke. Oke. Apa?”
Aku memikirkannya. Aku tidak bisa bohong. Aku tidak akan bohong. Tapi aku bisa memilih kebenaran yang mana.
“Lagi di luar,” kataku. “Aku juga kangen. Mata kiriku udah terima pujiannya. Dia bilang makasih.”
Kevin mengetik. Pelan. Dengan jempol yang gemetar. Lalu dia berhenti.
“Itu bukan bohong,” katanya.
“Bukan.”
“Tapi itu juga bukan semuanya.”
Aku tidak menjawab.
Kevin menekan kirim. Lalu dia menyerahkan ponsel itu kembali ke tanganku. Dan tangannya tidak langsung pergi. Tangannya tetap di sana, di atas tanganku, di atas ponsel.
“Ar,” katanya. “Aku mau kamu bilang ke dia.”
“Aku tahu.”
“Dia berhak tahu.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa—”
“Karena aku belum tahu harus gimana.” Aku menatap ke parkiran yang bercahaya. Ke dunia yang terlalu terang dan tidak jelas. “Kalau lasernya berhasil, nggak ada yang perlu dibilang. Kalau gagal—”
Aku berhenti. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu.
“Kevin,” kataku. “Jangan bilang ke dia. Sumpah.”
“Ar, aku nggak bisa—”
“Aku minta.”
Kevin membeku.
“Aku jarang minta,” kataku pelan. “Kamu tahu. Dua puluh tahun. Aku nggak pernah minta apa-apa ke kamu. Kamu yang selalu kasih.” Aku berhenti. “Sekarang aku minta. Satu ini aja.”
Hening panjang. Di parkiran, sebuah mobil membunyikan klakson. Daun ketapang yang menguning jatuh di dekat kakiku.
“Sampai kapan?” tanya Kevin akhirnya, dengan suara yang sangat kecil.
“Sampai aku tahu harus gimana.”
Kevin tidak menjawab lama. Lalu aku merasakan tangannya meremas tanganku. Keras. Seperti anak kelas satu SD yang meremas tangan temannya di tangga semen, dengan benjolan sebesar kelereng di dahi.
“Oke,” katanya. “Aku janji.”
Aku mendengar dia menarik napas, bergetar.
“Tapi Ar,” bisiknya. “Ini pertama kalinya kamu minta sesuatu ke aku. Dan aku benci banget sama permintaannya.”
Aku tidak menjawab.
Kami duduk di bangku semen di bawah pohon ketapang sampai pupil mataku mengecil lagi, sampai dunia berhenti bercahaya, sampai matahari mulai tenggelam di balik gedung rumah sakit. Kevin di kiri. Seperti biasa.
Di sudut bawah mata kananku, tirai abu-abu itu masih ada. Samar. Tapi ada.
Aku tidak menceritakannya pada Kevin. Aku juga tidak menceritakannya pada siapa pun.
Satu kebenaran yang tidak diucapkan tidak sama dengan bohong. Aku terus mengatakan itu pada diriku sendiri, sepanjang perjalanan pulang, dengan kepala bersandar di jendela mobil Kevin.
Aku belum tahu itu juga benar atau tidak.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi reading
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut