Chapter Thirty Six
Separuh yang Kulihat
POV: Davina
Seminggu setelah aula, dia mengajakku ke Sudut Seduh.
Pesannya datang jam tujuh pagi, di tengah alarm pertamaku—aku masih memasang alarm suara kucing setiap pagi, meskipun dia sudah tidak butuh obat tetes lagi. Kebiasaan. Atau mungkin aku hanya suka bangun dengan suara kucing.
Dia: Nanti sore. Sudut Seduh. Jam empat.
Aku menatap pesan itu lama. Kalimat yang sama. Kata demi kata. Seperti pesan yang dia kirim malam sebelum dia bilang aku mau kita selesai.
Tanganku sedikit gemetar waktu aku mengetik balasan.
Aku: ada apa?
Dia tidak langsung menjawab. Tiga menit. Lima. Aku sudah mulai menghitung napas—aku tidak bisa menahannya, tubuhku masih ingat—waktu satu nada La terdengar.
Dia: Aku mau duduk di tempat yang sama. Tapi ngulang dengan bener.
Dia: Kali ini aku nggak bakal naruh tas di kursi kanan.
Aku menempelkan ponsel ke dada dan memejamkan mata.
Aku memakai gaun kuning pucat dengan kancing kecil di depan.
Gaun yang sama. Gaun pertama ke Sudut Seduh, waktu Cleo bilang dia akan pingsan. Gaun kedua ke Sudut Seduh, waktu aku membawa brosur Raja Ampat dan pulang dengan senyum yang dipasang sampai ke kamar mandi.
Cleo bilang aku gila memakai gaun itu lagi. Itu gaun sial, Vin.
“Bukan gaun sial,” kataku, di depan cermin. “Gaun yang belum selesai.”
Cleo menatapku lama dari kasurku, dengan sandal krem di kaki.
“Kamu kedengeran kayak dia,” katanya.
“Aku tahu.”
Aku berangkat. Ojek. Mas-mas yang sama. Dia sudah berhenti bertanya kenapa wajahku begitu. Dia hanya menatapku lewat spion, tersenyum, dan menyalakan lagu dangdut yang riang tanpa kuminta.
Dia sudah di sana waktu aku datang.
Pojok kanan belakang. Dinding di kiri. Kursi yang sama. Meja yang sama. Lampu kuning yang sama. Kacamata baru berbingkai hitam tipis yang kupilih setelah dua puluh tiga bingkai ditolak.
Dan kursi di sebelah kanannya kosong.
Tidak ada tas. Tidak ada apa-apa. Hanya kursi kayu kosong, sedikit ditarik keluar dari meja. Menunggu.
Dia berdiri waktu aku masuk. Pelan, seperti biasa. Dia menatapku berjalan dari pintu, lewat meja-meja lain, lewat mesin kopi yang mendesis. Aku melihat kepalanya bergerak sedikit, mengikutiku. Lurus. Tidak menunduk, tidak mendongak. Aku tahu dia bisa melihatku dari pintu. Dari dua puluh meter, kalau Sudut Seduh sebesar itu.
Aku berhenti di samping meja.
Dia menarik kursi di sebelah kanannya. Satu tangan di sandaran. Menunggu.
Aku duduk.
Di depanku, di atas meja, sudah ada segelas es teh tanpa gula. Dan di sebelahnya, dua sachet gula. Diletakkan rapi, berdampingan, di sisi yang paling dekat dengan tanganku.
Aku menatap dua sachet gula itu lama.
Lalu aku merasakannya. Pipiku mengencang, dan tanpa bisa kucegah, aku tersenyum.
Dia menatap pipiku. Sebentar saja. Lalu dia duduk.
“Ada,” katanya.
“Aku tahu.”
Kami tidak banyak bicara di Sudut Seduh.
Aku menuang dua sachet gula ke es teh. Aku mengaduknya dengan sedotan. Dia minum es kopi susu—kali ini dia meminumnya, bukan membiarkannya di depannya sampai es batunya mencair. Kami duduk berdampingan. Bahuku hampir menyentuh bahu kanannya.
Aku tidak menggodanya. Tidak di awal. Aku ingin duduk saja dulu. Di kursi ini. Di tempat ini. Dan membiarkan tempat ini menghapus apa yang terjadi di sini terakhir kali, pelan-pelan, seperti gas di dalam mata yang diserap satu hari demi satu hari.
Setelah setengah jam, dia bicara.
“Ada satu hal,” katanya, “yang aku belum tahu.”
“Apa?”
“Nama kontakku di hp-mu.”
Aku berhenti mengaduk es teh.
“Kamu rahasiain,” katanya. “Dari awal. Kamu bilang ke Cleo kamu bakal bawa ke kuburan. Kevin bilang Cleo coba nebak tiga kali dan salah semua.” Dia menoleh padaku. “Aku nggak pernah nanya.”
“Kenapa nggak pernah nanya?”
“Karena aku pikir kalau kamu mau aku tahu, kamu bakal kasih tahu.” Dia berhenti. “Tapi sekarang aku mau minta. Kamu bilang aku boleh minta.”
Aku menatapnya. Dia menatap balik. Tenang. Datar. Dengan telinga yang sudah mulai merah.
Aku mengeluarkan ponselku dari tas. Aku membuka kontak. Aku menggulir sampai namanya. Aku tidak langsung menunjukkannya. Aku memegang ponsel itu di dadaku sebentar, dengan layar menghadap ke dalam.
“Bukan di sini,” kataku.
“Terus di mana?”
Aku berdiri. Aku mengulurkan tangan kiriku.
“Ikut aku.”
Aku membawanya ke pohon ketapang.
Pohon yang sama. Di pinggir jalan dekat Sudut Seduh, dengan daun-daun lebar yang menutupi separuh langit. Musim sudah berganti; daunnya sekarang separuh hijau, separuh merah, dan beberapa sudah jatuh di trotoar, berserakan seperti telapak tangan yang terbuka.
Di bawah pohon ini, berbulan-bulan lalu, dia melepas kacamatanya dan membiarkanku menatap mata kirinya dari dekat. Di bawah pohon ini, aku bilang azure adalah warna favoritku. Di bawah pohon ini, aku berjalan ke sisi kirinya, menghilang dari dunianya, lalu muncul lagi di kanan, dan bilang kalimat itu untuk pertama kalinya.
Sebagai gombal. Sebagai ancaman, katanya.
Kami berhenti di bawah pohon itu. Matahari sore jatuh miring di antara daun-daun, oranye dan merah.
Dan aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan sejak pagi.
Aku melepas tangannya. Aku melangkah. Aku berjalan memutar, di belakang punggungnya, dan berhenti di sisi kirinya.
Di sisi yang tidak bisa dia lihat. Di ruang yang kosong. Di tempat yang sudah dua puluh tujuh tahun tidak ada isinya—dia ulang tahun bulan lalu, dan aku memberinya bantal donat baru yang lebih empuk, sebagai lelucon, dan dia memakainya setiap malam.
Aku berdiri di sana. Diam.
Aku tidak bicara. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya berdiri di sebelah kirinya dan menunggu.
Dia tidak bisa melihatku.
Aku tahu dia tidak bisa melihatku. Mata kirinya tidak pernah bisa. Mata kanannya menghadap ke depan, ke jalan, ke daun-daun ketapang yang jatuh.
Tapi dia tahu aku di sana.
Aku melihatnya tahu. Bahunya tidak menegang. Tidak seperti dulu, bulan-bulan lalu, waktu aku berjalan ke kirinya di bawah pohon yang sama dan dia hampir memutar badan untuk mencariku. Bahunya tenang. Seperti senar di nada yang benar.
Lalu dia memutar badannya.
Tidak kepalanya saja. Seluruh badannya. Pelan. Bahu, dada, pinggang, kaki. Berputar ke kiri, jauh, sampai dia menghadapku penuh. Sampai aku masuk ke pandangan mata kanannya. Sampai dia bisa melihatku.
Dia menatapku.
Dari dekat. Dengan satu mata yang bisa melihat, yang sekarang bisa melihat sedikit lebih sedikit dari dulu. Dan satu mata yang tidak bisa melihat apa-apa, yang azure, yang kelihatan seperti di akuarium di balik lensa kaca, dan yang tetap menghadap ke arahku.
“Kenapa di kiri?” tanyanya.
“Biar kamu harus noleh.”
“Aku selalu harus noleh buat lihat kamu di kiri.”
“Aku tahu.” Aku menatapnya. “Dan kamu selalu noleh.”
Dia diam.
“Dulu kamu takut,” kataku. “Kalau kananmu hilang, aku nggak punya tempat berdiri. Kamu nanya aku berdiri di mana.” Aku menarik napas. Satu kali. “Aku berdiri di mana aja, Arya. Dan kamu selalu noleh. Seluruh badan. Kiri, kanan, depan, belakang. Kamu selalu noleh buat nyari aku.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu nggak perlu lihat seluruh dunia,” kataku. “Kamu cuma perlu noleh.”
Dia menatapku lama. Sangat lama. Di bawah pohon ketapang, di sore yang oranye, dengan daun-daun merah yang jatuh pelan di sekitar kami.
Lalu dia bicara. Pelan. Datar. Setiap kata dipilih satu per satu, seperti nada yang disetel dengan kunci setem, satu derajat demi satu derajat.
“Waktu kecil,” katanya, “di tangga semen, habis kena kerikil, aku bilang ke diriku sendiri: yang kulihat cukup. Karena separuh dunia itu semua yang aku punya. Dan aku nggak mau minta lebih.”
Aku menunggu.
“Dua malam sebelum Kevin cerita ke kamu, aku bilang kalimat itu lagi. Di gelap. Sendirian. Dan itu bohong.” Dia berhenti. “Pertama kali aku bohong seumur hidupku.”
“Aku tahu,” bisikku. “Kevin dengar.”
“Sekarang aku mau bilang lagi.” Dia menatapku. Lurus. Dengan seluruh wajahnya. “Dan kali ini, aku mau itu benar.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Yang kulihat cukup,” katanya.
Dia mengangkat tangan kanannya. Dia menyentuh pipiku. Di tempat lesung kananku berada. Dengan ibu jari. Pelan.
“Yang kulihat kamu.”
Aku menangis.
Tentu saja aku menangis. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku menangis dalam beberapa bulan terakhir. Di tangga darurat. Di bawah shower. Di lorong rumah sakit. Di aula SMA. Aku menangis lebih banyak dalam setengah tahun ini daripada dalam sembilan belas tahun sebelumnya.
Dan setiap kali, tidak ada yang memintaku berhenti.
Aku menangis di bawah pohon ketapang, dengan tangannya di pipiku, dan lesungku muncul di bawah ibu jarinya, karena aku tersenyum di saat yang sama. Karena aku tidak bisa berhenti tersenyum. Karena aku tidak mau.
Lalu aku ingat ponsel di tanganku.
Aku mengangkatnya. Aku membalik layarnya ke arahnya. Ke sisi yang bisa dia lihat.
Dia menatap layar itu. Kontak. Nomornya. Foto profilnya—foto yang kuambil diam-diam di bengkel, dia sedang menyetel piano dengan kedua mata terpejam.
Dan di atas foto itu, nama kontaknya.
Rumah
Dia menatap nama itu lama.
“Rumah,” katanya pelan.
“Hari pertama aku ke bengkel,” kataku. Suaraku serak. “Aku lihat kamu main piano. Kamu pejamin dua-dua matanya. Yang bisa lihat sama yang nggak. Biar dua-duanya istirahat bareng.” Aku menarik napas. “Terus aku bilang ke kamu, di ambang pintu. Kamu inget?”
“Kamu kelihatan kayak orang yang lagi pulang ke rumah,” katanya.
“Hari itu aku pulang, bajak hp-mu, nyimpen nomorku sebagai Pemilik Sisi Kanan.” Aku tertawa, basah. “Terus aku nyimpen nomormu. Dan aku mikir lama banget mau kasih nama apa. Dan aku sadar, bukan kamu yang kelihatan kayak lagi pulang ke rumah.”
Dia menatapku.
“Aku,” kataku. “Aku yang lagi pulang. Ke kamu.”
Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku menatapnya.
“Sembilan belas tahun,” kataku, “aku jadi matahari di rumahku sendiri. Aku yang bikin semua orang nggak fals. Aku nggak pernah punya tempat buat pulang, karena aku yang jadi rumahnya buat orang lain.” Aku berhenti. “Terus ada bengkel kecil di Prawirotaman. Ada kursi lipat di sebelah kanan. Ada orang yang bilang aku nggak wajib senyum di situ.”
Dia tidak bergerak.
“Nada La-nya bunyi,” kataku. “Tiap kali kamu kirim pesan. Nada yang jadi patokan semua nada lain. Nada yang nggak butuh aku senyum.” Aku menyentuh dadanya. Di sisi kanan. Di atas jantung. “Itu rumah.”
Dia memelukku.
Di bawah pohon ketapang, di trotoar Kotabaru, di depan orang-orang yang lewat dan motor-motor dan seorang ibu penjual bakso yang berhenti mendorong gerobaknya untuk menonton.
Dia memelukku dengan kedua tangan. Tidak seperti di depan pagar rumahku, waktu tangannya terangkat di udara seperti orang ditodong. Tidak ragu. Dia memelukku seperti orang yang tahu persis di mana tangannya harus berada.
“Lagunya,” bisiknya di rambutku.
“Hm?”
“Kamu belum kasih nama.”
Aku memikirkannya. Aku sudah memikirkannya selama seminggu. Aku mencoba puluhan nama di kepalaku, di kartu MC, di catatan ponsel. Tidak ada yang cocok. Semuanya terdengar seperti pertanyaan yang tidak dijawab.
Sampai tadi. Sampai aku membalik layar ponselku ke arahnya.
“Rumah,” kataku.
Dia diam sebentar. Aku merasakan dadanya naik dan turun di bawah pipiku. Satu kali.
“Rumah,” ulangnya. Seperti mencicipi nada itu. “Oke.”
“Satu kata. Melanggar poin dua.”
“Aku terima hukumannya.”
Aku menarik diri sedikit. Aku menatapnya dari dekat. Dari kanan—aku sudah pindah tanpa sadar, di tengah pelukan, dan dia menggeserku tanpa sadar juga, seperti menggeser gelas supaya tidak tersenggol. Seperti di aula, di reuni, di menit kelima.
“Hukumannya,” kataku, “ini.”
Aku berjinjit. Aku menciumnya.
Di bawah pohon ketapang, dengan daun-daun merah yang jatuh di bahu kami. Pelan. Hangat. Tanpa takut. Tidak seperti di depan piano kakeknya, malam sebelum operasi, waktu kami berdua menangis dan tidak tahu apakah besok dia masih bisa melihat wajahku.
Dia bisa melihat wajahku. Dari dekat. Dari kanan. Dari tempat yang selalu bisa melihatku.
Ibu penjual bakso bertepuk tangan. Sendirian. Lalu dia mendorong gerobaknya lagi sambil bersiul.
Setelah itu, kami duduk di trotoar di bawah pohon ketapang. Bahu menempel bahu. Aku di kanannya. Kepalaku di bahu kanannya. Tempat parkir resmi. Pasal sepuluh.
Aku mengeluarkan kotak kayu kecil dari tas. Aku membukanya. Garpu tala azure di atas kain flanel biru tua. D — La 440.
Aku memukulnya ke lututku. Pelan.
Aku tidak mendekatkannya ke telingaku. Aku mendekatkannya ke telinganya. Telinga kanan. Yang bisa mendengar, seperti telinga kirinya. Telinga yang tidak punya sisi kiri.
La.
Kami mendengarkannya berdua. Bersih. Tanpa gelombang. Nada yang jadi patokan semua nada lain. Bergetar di udara sore, di antara daun-daun ketapang yang jatuh, lalu memudar, pelan-pelan, sampai hilang.
“Arya,” kataku.
“Hm.”
“Aku mau bilang sesuatu. Kayak dulu. Di bawah pohon ini.”
Dia menoleh padaku. Dengan seluruh wajahnya.
Aku tidak berdiri. Aku tidak berjalan ke kiri lalu muncul lagi di kanan. Aku tidak perlu. Aku sudah di kanannya. Aku selalu di kanannya. Bahkan waktu aku di kiri, bahkan waktu aku di seberang meja, bahkan waktu dia tidak bisa melihat apa-apa di balik kasa putih dan pelindung plastik dengan plester kucing.
Aku menatapnya. Dari dekat. Dengan wajah yang tidak dipakaikan apa-apa.
Dan aku mengatakannya. Seperti dulu, di bawah pohon yang sama, tapi untuk pertama kalinya dengan cara ini. Bukan gombal. Bukan ancaman. Bukan janji yang takut dilanggar.
“Aku di kananmu,” kataku. “Selamanya. Kalau kamu izinkan.”
Dia menatapku lama.
Lalu dia tersenyum. Dengan satu lesung di kanan. Yang hanya aku yang pernah lihat.
“Aku izinkan,” katanya.
Dua kata. Poin dua terpenuhi.
Aku menyandarkan kepalaku kembali di bahunya. Dan kami duduk di sana, di bawah pohon ketapang di Kotabaru, sampai matahari tenggelam, sampai lampu jalan menyala, sampai daun-daun merah berhenti jatuh dan langit berubah jadi biru tua.
Bukan azure. Tapi cukup dekat.
Dan dia melihat semuanya. Separuh yang bisa dia lihat.
Yang ternyata, sejak awal, selalu cukup.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat reading
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut