Chapter Seventeen
Riak
POV: Arya
Motor itu datang dari kiri.
Aku tidak melihatnya. Tentu saja aku tidak melihatnya. Aku mendengarnya—suara knalpot yang dibuka, bebek dua tak, sekitar enam puluh kilometer per jam, terlalu cepat untuk jalan kampung di belakang Prawirotaman—tapi aku mendengarnya setengah detik terlambat, karena setengah detik sebelumnya aku sedang mendengarkan hal lain.
Aku sedang mendengarkan Davina tertawa.
Kami menyeberang jalan kecil dari warung burjo ke bengkel, sore hari Senin, dan dia sedang menceritakan pengantin pria yang pingsan di pelaminan kemarin karena lupa sarapan. Dia berjalan di sebelah kananku. Seperti biasa. Aman dari jalan raya besar, karena jalan raya besar ada di sisi lain.
Tapi jalan kampung ini sempit, dan motor itu keluar dari gang di sebelah kiri, dan memotong di belakangku, dan menyerempet ke depan—
Ke arah Davina.
Aku mendengar bunyi. Bukan bunyi tabrakan. Bunyi yang lebih kecil. Kain yang tersangkut, lalu robek. Lalu suara Davina—bukan jeritan, hanya ah, pendek dan kaget—dan suara motor yang melaju terus, tidak berhenti, menghilang di tikungan.
Aku memutar seluruh badanku.
Davina berdiri di tengah jalan. Dia memegang lengan kirinya. Lengan kemejanya robek dari siku sampai pergelangan, tersangkut di stang motor itu, dan di bawahnya, di kulit lengannya, ada goresan panjang. Merah. Berdarah sedikit.
“Nggak apa-apa,” katanya cepat. “Nggak apa-apa, Arya. Cuma kegores.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Serius. Nggak sakit.” Dia tertawa. Tawanya naik setengah nada di ujung, tapi bukan karena kaget pada diri sendiri. Karena kaget pada sesuatu yang lain. “Mas-nya aja yang nggak sopan, nggak berhenti. Awas ya, aku doain bannya bocor.”
Aku masih tidak bisa bergerak.
Karena aku sedang menghitung. Aku menghitung semua hal. Dan yang kuhitung sekarang adalah jarak: motor itu datang dari kiri, dari sisi yang kosong, dan melewati belakangku, dan aku tidak melihatnya. Kalau aku melihatnya, aku bisa menarik Davina. Setengah detik. Aku butuh setengah detik.
Setengah detik yang tidak kupunya. Karena separuh duniaku tidak ada.
Aku membersihkan lukanya di bengkel dengan kapas dan antiseptik dari kotak P3K yang kupakai untuk jari yang kejepit palu. Davina duduk di kursi lipat, lengannya di atas meja kerja, dan tidak berhenti bicara.
“Tahu nggak, ini pertama kalinya aku keserempet motor. Seumur hidup. Dua puluh lima tahun. Aku sering banget jalan kaki, sering banget nyebrang, dan belum pernah. Terus hari ini, di jalan kampung, sama motor bebek. Motor bebek, Arya. Kalau mau keserempet, setidaknya sama motor gede, biar keren ceritanya.”
Aku menempelkan kasa di atas goresan itu. Plester di pinggirnya. Plester kucing oranye, yang terakhir di kotak.
“Arya.”
“Hm.”
“Kamu diem dari tadi.”
“Aku lagi kerja.”
“Kamu nggak lagi kerja. Kamu lagi nempelin plester. Itu bukan kerja.” Dia memiringkan kepala, mencoba melihat wajahku dari bawah. “Kamu marah?”
“Nggak.”
“Kamu marah ke mas-mas motornya?”
“Nggak.”
“Terus kenapa mukamu kayak gitu?”
Aku tidak tahu wajahku seperti apa. Aku tidak pernah memeriksa. Tapi aku tahu apa yang ada di balik wajah itu, dan aku tidak bisa mengatakannya, karena aku tidak bisa bohong, dan kalau aku mengatakan yang sebenarnya, dia akan membantahnya. Dia akan bilang bukan salahmu. Dia akan bilang itu motornya yang ngawur. Dia akan tersenyum dan bilang aku nggak apa-apa.
Dan semua itu benar. Dan semua itu tidak mengubah apa-apa.
“Lenganmu,” kataku, “jangan kena air dua hari.”
Malam itu, aku tidak tidur.
Aku duduk di pojok bengkel yang gelap, di kursi kayu tua dengan dinding di kiriku, dan menatap kerikil di sebelah garpu tala.
Yang ini kamu lihat datangnya.
Dia bilang begitu. Dia bilang, mulai sekarang, semua yang datang dari dia akan datang dari kanan. Tidak ada kejutan. Tidak ada yang dari sisi kosong.
Tapi dia tidak bisa menjanjikan hal yang sama tentang dunia. Dunia tetap datang dari mana saja. Motor, kerikil, sepeda, tiang, orang-orang. Dan setengah dari dunia itu datang dari sisi yang tidak bisa kulihat.
Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah dua puluh enam tahun melakukannya. Aku duduk di pojok, dinding di kiri. Aku menaruh orang di kanan. Aku mendengarkan langkah kaki.
Tapi aku tidak bisa menjaga orang lain. Tidak dari sisi itu.
Aku memikirkan semua hal yang akan datang, kalau ini diteruskan. Menyeberang jalan besar. Konser, mungkin; dia suka musik. Liburan—dia bilang dia belum pernah ke Raja Ampat. Pantai, laut, kapal, tebing. Anak tangga di tempat asing. Keramaian di bandara. Semua tempat di mana sesuatu bisa datang dari kiri, dan aku tidak akan melihatnya, dan dia yang akan terkena.
Dan itu baru mata kiri.
Aku melepas kacamata. Dunia di mata kananku jadi kabur. Pinggir-pinggirnya berkabut, seperti biasa. Minus tinggi. Normal. Aku sudah terbiasa.
Aku memakai kacamata lagi.
Waktu reuni, aku duduk di pojok dan memperhatikan orang-orang. Aku tidak mau jadi riak. Riak itu mengganggu. Riak itu membuat permukaan air yang tenang jadi berantakan. Aku selalu memilih jadi batu di dasar kolam—diam, tidak bergerak, tidak menyusahkan siapa-siapa.
Sekarang aku sadar, aku sudah jadi riak.
Di hidupnya. Di permukaan air yang seharusnya tenang. Dia menyeberang jalan dua kali untukku. Dia menempuh empat belas kilometer untuk membawakan makan siang. Dia menarasikan sisi kiriku di pasar malam, satu per satu, sampai suaranya serak. Dia keserempet motor karena berjalan di sebelahku di jalan kampung.
Semua itu riak. Dan akulah batu yang menyebabkannya.
Hari Selasa, aku membalas pesannya dengan satu kata.
Bukan karena lupa poin dua. Karena aku tidak tahu harus menulis apa lagi.
Pemilik Sisi Kanan: lenganku udah nggak perih 😊 kamu udah makan?
Aku: Udah.
Pemilik Sisi Kanan: POIN DUA 😤
Aku: Udah makan.
Pemilik Sisi Kanan: ...oke. aku kirim makan siang besok ya. ayam goreng lengkuas!
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik.
Aku: Nggak usah repot. Aku bisa beli sendiri.
Tidak ada balasan selama satu jam.
Lalu:
Pemilik Sisi Kanan: oke.
Satu kata. Dari dia. Yang selalu mengirim tujuh pesan untuk satu hal.
Aku menatap satu kata itu sampai layar ponselku mati sendiri.
Hari Rabu, jam dua belas siang, aku berhenti bekerja.
Aku tidak berniat berhenti. Tanganku berhenti sendiri, di atas palu nomor enam belas, dan telingaku mendengarkan jalan di luar pintu hijau. Suara motor. Motor bebek. Motor matik. Motor yang melambat. Motor yang tidak berhenti.
Jam dua belas lewat lima. Jam dua belas lewat sepuluh.
Tidak ada ojek. Tidak ada kantong plastik. Tidak ada kertas kecil berlipat dengan tulisan ini bukan telur.
Tentu saja tidak ada. Aku yang bilang tidak usah.
Aku berdiri, berjalan ke pintu, dan menatap jalan kampung yang panas dan kosong. Mas penjaga burjo di sebelah melambai padaku dari balik etalase. Aku mengangguk. Aku kembali ke dalam.
Jam dua belas lewat lima belas, aku memesan nasi telur.
Aku memakannya sambil menatap foto di dinding. Selfie dengan dua jari berbentuk V. Pengganti gizi. Dimakan pakai mata.
Nasinya tidak ada rasanya.
Hari Rabu, Kevin datang dengan dua kursi.
Dia menggotongnya sendiri dari mobil. Dua kursi kayu jati dengan sandaran melengkung dan bantalan duduk berwarna abu-abu. Kursi yang bagus. Kursi yang mahal. Di sandaran masing-masing, ada tempelan kertas yang ditulis dengan spidol.
KURSI ARYA
KURSI PEMILIK SISI KANAN
“Ta-da!” kata Kevin, meletakkan keduanya di tengah bengkel dengan napas terengah. “Janji ditepati. Kursi yang nggak reyot. Ada bantalnya. Aku pesen di Jepara, Ar. Jepara. Aku nyuruh tukangnya ngukir inisial di bawah dudukannya. A dan D.”
Aku menatap kedua kursi itu.
Kevin menatapku menatap kedua kursi itu. Senyumnya pelan-pelan turun.
“Ar?”
“Bagus.”
“Kamu nggak suka?”
“Suka.”
“Terus kenapa mukamu kayak orang lihat peti mati?”
Aku tidak menjawab. Kevin meletakkan tangan di pinggang dan menatapku lama. Dua puluh tahun. Dia bisa membaca wajahku seperti aku membaca senar.
“Kak Davina kemarin chat aku,” katanya pelan. “Dia nanya kamu kenapa. Katanya kamu jadi dingin. Katanya kamu nolak makan siang.”
“Aku nggak nolak. Aku bilang nggak usah repot.”
“Itu nolak, Ar. Itu nolak pakai bungkus kado.”
Aku diam.
Kevin duduk di KURSI ARYA. Dia menepuk KURSI PEMILIK SISI KANAN di sebelahnya, tapi aku tidak duduk. Aku tetap berdiri di depan meja kerja, dengan garpu tala dan kerikil di belakangku.
“Soal motor itu?” tanya Kevin.
Aku menoleh padanya. “Dia cerita?”
“Dia cerita. Dia bilang itu bukan salahmu. Dia bilang kamu nggak mungkin lihat. Dia bilang dia nggak apa-apa.” Kevin berhenti. “Dan dia bilang kamu kayak orang yang baru kehilangan sesuatu.”
“Aku nggak bisa jaga dia, Kevin.”
Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menyetelnya. Nadanya salah. Terlalu keras.
Kevin tidak bergerak.
“Dari sisi kiri,” kataku, lebih pelan. “Aku nggak bisa. Kamu bisa jaga aku dari kiri, dua puluh tahun, karena kamu punya dua mata. Aku cuma punya satu. Dan aku pakai satu itu buat lihat dia. Dan pas aku lagi lihat dia, dunia datang dari kiri. Dan dia yang kena.”
“Ar—”
“Aku nggak mau jadi alasan dia keserempet motor. Atau jatuh dari tangga. Atau apa pun.” Aku menatap tanganku. Jari-jari yang bernoda oli. “Dia udah cukup banyak nanggung. Orang tuanya. Pekerjaannya. Senyumnya. Aku nggak mau jadi satu lagi yang harus dia tanggung.”
Kevin menatapku sangat lama.
Lalu dia berdiri. Dia berjalan ke arahku. Dia berdiri di sebelah kiriku, di tempatnya, di tempat yang sudah dua puluh tahun dia tempati.
“Kamu inget kerikil pertama yang kena aku?” tanyanya.
“...Kelas satu. Minggu ketiga.”
“Dahi. Kanan. Benjol segede kelereng.” Kevin tertawa kecil. “Kamu tahu aku nyesel nggak?”
Aku tidak menjawab.
“Nggak, Ar. Nggak sedetik pun. Aku nggak jaga kamu karena aku kuat. Aku jaga kamu karena aku mau. Dan kalau aku kena kerikil, ya udah, kena. Itu harganya. Aku bayar dengan senang hati.” Dia berhenti. “Kamu pikir Kak Davina nggak bisa mikir kayak gitu juga?”
“Dia nggak tahu apa yang dia pilih.”
“Dia tahu.” Kevin menatapku dari kiri, dan aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa mendengar suaranya, dan suaranya lebih serius dari yang pernah kudengar. “Dia tahu persis. Kamu yang nggak mau percaya.”
Rabu malam, Ibu menelepon. Jam delapan lewat sedikit. Jangkrik di Magelang.
“Le, sudah makan?”
“Sudah, Bu.”
“Makan apa?”
Aku menatap bungkus nasi di meja kerja. Nasi telur dari warung sebelah. Tidak ada ayam goreng lengkuas.
“Telur, Bu.”
“Telur lagi.” Ibu diam sebentar. “Kemarin-kemarin katanya ada yang kirim makan siang. Kevin bilang.”
Aku menutup mata. Tentu saja Kevin bilang.
“Kevin juga kirim foto. Foto perempuan di dinding bengkelmu.” Suara Ibu jadi pelan. Hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas lantai kayu tua yang bisa berderit. “Cantik, Le. Senyumnya bagus.”
“Itu teman, Bu.”
“Teman.” Ibu mengulangnya, seolah menimbang beratnya. “Kamu nggak pernah pasang foto teman di dinding. Kevin aja nggak.”
Aku tidak menjawab.
“Le.” Suara Ibu makin pelan. “Kamu boleh bahagia, lho.”
Aku memegang ponsel sangat erat.
“Dari kecil kamu nggak pernah minta apa-apa,” kata Ibu. “Mainan, nggak minta. Baju, nggak minta. Waktu Bapak meninggal, kamu nggak nangis di depan Ibu. Ibu tahu kamu nangis di kamar mandi. Ibu dengar.” Dia berhenti. “Kamu boleh minta, Le. Sekali-sekali. Kamu boleh.”
Aku menatap kerikil di sebelah garpu tala.
Kamu boleh minta. Ke aku. Apa aja.
“Kamu baik-baik saja, to?” tanya Ibu.
Aku membuka mulut. Kata-kata itu sudah siap. Dua puluh tahun, kata-kata itu selalu siap. Baik-baik saja, Bu.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, butuh tiga detik penuh sebelum aku bisa mengucapkannya.
“Baik-baik saja, Bu.”
Ibu diam di seberang. Dia mendengar tiga detik itu. Aku tahu dia mendengarnya.
“Ya sudah,” katanya akhirnya, pelan. “Yang penting sehat.”
Jam sepuluh malam, ponselku mengeong.
Satu kali. Tidak tujuh. Satu.
Pemilik Sisi Kanan: arya. kamu lagi menjauh ya?
Aku menatap pesan itu di gelap. Cahaya layar memantul di lensa kanan kacamataku.
Aku bisa tidak menjawab. Aku bisa bilang nggak, tapi itu bohong, dan aku tidak bisa bohong. Aku bisa bilang aku sibuk, dan itu benar, tapi itu bukan jawaban.
Aku mengetik. Satu kata. Satu-satunya kata yang benar.
Aku: Iya.
Balasannya datang dalam dua detik. Seolah dia sudah mengetiknya dari tadi, dan hanya menunggu jawabanku untuk menekan kirim.
Pemilik Sisi Kanan: oke.
Pemilik Sisi Kanan: besok aku dateng. jam empat. bawa sesuatu.
Pemilik Sisi Kanan: jangan kabur.
Pemilik Sisi Kanan: itu bukan pasal. itu aku.
Aku meletakkan ponsel di atas meja kerja, di sebelah garpu tala, di sebelah kerikil.
Di tengah bengkel yang gelap, dua kursi jati dari Jepara berdiri berdampingan. KURSI ARYA dan KURSI PEMILIK SISI KANAN. Inisial A dan D terukir di bawah dudukannya, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun kecuali orang yang membalik kursinya.
Aku tidak tidur malam itu juga.
Tapi aku tidak kabur.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak reading
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut