← Separuh yang Kulihat

Chapter Eighteen

Aku Suka Kamu, Titik

POV: Davina

Aku membawa ayam goreng lengkuas.

Dua bungkus. Nasi hangat, ayam paha atas, sambal bawang, lalapan timun dan kemangi. Aku membelinya di warung langganan Mama di Condongcatur, yang ayamnya diungkep semalaman dengan lengkuas sampai dagingnya lepas dari tulang kalau disentuh.

Dia bilang nggak usah repot. Aku repot. Aku akan repot sampai dia bosan melihatku repot.

Jam empat kurang lima menit, aku berdiri di depan pintu hijau Bengkel Piano Mahendra, dengan kantong plastik di tangan kanan dan plester kucing oranye masih menempel di lengan kiri, dan jantung yang berdetak seperti drum marching band di acara tujuh belasan.

Aku sudah menyiapkan kalimat. Aku menulisnya di kartu MC semalam. Dua belas kartu. Pembukaan, isi, penutup. Argumen-argumen. Bantahan untuk setiap kemungkinan jawabannya. Aku menghafalnya sampai jam tiga pagi, sambil menangis sedikit, sambil memeluk boneka kucing oranye dari Sekaten.

Kartu-kartu itu sekarang ada di saku kemejaku.

Aku menarik napas. Satu kali.

Aku masuk.


Dia duduk di kursi jati baru.

Aku berhenti di ambang pintu. Di tengah bengkel, di tempat kursi reyot Kevin dulu ambruk, sekarang ada dua kursi kayu jati dengan sandaran melengkung dan bantalan abu-abu. Berdampingan. Arya duduk di yang sebelah kiri. Yang sebelah kanan kosong.

Di sandaran kursi yang kosong itu, ada kertas yang ditempel dengan selotip. Tulisan spidol, huruf Kevin yang besar-besar dan miring.

KURSI PEMILIK SISI KANAN

Aku menatap kertas itu. Aku menatap Arya. Dia sudah menoleh, dengan seluruh badannya, dan menatapku dari balik kacamatanya. Wajahnya datar. Tapi di bawah matanya ada bayangan gelap, seperti orang yang tidak tidur dua malam.

“Kamu dateng,” katanya.

“Aku bilang aku dateng.”

“Iya.”

“Kamu nggak kabur.”

“Kamu bilang jangan.”

Aku berjalan ke kursi kosong. Aku duduk. Bantalannya empuk. Aku meletakkan kantong plastik ayam goreng lengkuas di atas meja kerja, di sebelah garpu tala. Di sebelah kerikil. Kerikil yang kulempar dari kanan di halaman SD, yang dia simpan di sana seperti benda berharga.

Aku melihat kerikil itu, dan kartu-kartu MC di saku kemejaku tiba-tiba terasa sangat berat.


“Aku bawa ayam goreng lengkuas,” kataku.

“Aku bilang nggak usah repot.”

“Aku repot.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau.”

Dia diam. Aku mengeluarkan bungkus nasi dari kantong plastik, membukanya, meletakkannya di depannya. Uap hangat naik. Bau lengkuas dan bawang goreng memenuhi bengkel yang sejuk.

“Makan dulu,” kataku. “Habis itu kita ngomong.”

“Kita ngomong sekarang aja.”

“Makan dulu, Arya.”

“Aku nggak lapar.”

“Kamu makan telur tiga hari berturut-turut, kamu nggak tidur, dan mukamu kayak piano yang nggak disetel sepuluh tahun.” Aku mendorong bungkus nasi itu lebih dekat. “Makan. Itu bukan pasal. Itu aku.”

Dia menatapku. Lalu, sangat pelan, dia mengambil sepotong ayam dengan jari-jarinya dan memakannya.

Aku menunggu. Aku menunggu dia makan setengah bungkus. Aku menunggu sampai bahunya turun sedikit, satu senti, seperti senar yang dilepas dari tarikan terlalu keras. Lalu aku mengeluarkan kartu-kartu MC dari saku kemejaku.

Dua belas kartu. Diikat karet gelang.

Aku menatapnya. Pembukaan. Isi. Penutup. Argumen. Bantahan.

Aku memasukkannya kembali ke saku.


“Arya,” kataku.

Dia berhenti makan.

“Aku suka kamu.”

Kalimat itu keluar dari mulutku tanpa pembukaan, tanpa naskah, tanpa apa pun. Kalimat itu tidak ada di kartu mana pun. Di kartu pertama, pembukaanku adalah Arya, aku mau membahas sesuatu yang penting. Di kartu kedua, aku menulis kamu mungkin sudah menyadari bahwa selama beberapa minggu ini.

Semua itu tidak keluar. Yang keluar hanya empat kata itu.

Arya tidak bergerak. Tangannya masih memegang potongan ayam di atas bungkus nasi. Matanya—mata kanannya, yang bisa melihatku—menatapku dengan cara yang belum pernah kulihat. Terbuka lebar. Seperti orang yang mendengar nada yang tidak pernah ada di piano mana pun.

“Aku suka kamu,” ulangku, karena dia tidak menjawab, dan karena mengatakannya sekali ternyata tidak cukup. “Bukan penasaran. Bukan kasihan. Bukan karena matamu unik atau karena kamu lucu tanpa sadar atau karena kamu satu-satunya orang yang pernah nanya aku capek senyum atau nggak.”

Aku berhenti. Menarik napas. Satu kali.

“Oke, itu juga. Semua itu juga. Tapi bukan cuma itu.” Suaraku mulai bergetar, dan aku membiarkannya. “Aku suka kamu. Titik. Nggak pakai koma. Nggak pakai tapi. Aku suka kamu, dan aku bakal terus bilang ini sampai kamu capek dengernya.”


Hening lama di bengkel.

Di luar, suara motor lewat. Suara tukang burjo memanggil pembeli. Suara burung di atap. Di dalam, hanya suara napas kami berdua. Dan jantungku, yang pasti bisa dia dengar dari kursi sebelah, karena dia bisa mendengar perbedaan dua belas sen dari jarak lima meter.

“Lenganmu,” kata Arya akhirnya.

Aku menunduk menatap lengan kiriku. Plester kucing oranye.

“Lenganku kenapa?”

“Itu gara-gara aku.”

“Itu gara-gara mas-mas motor bebek yang ngawur.”

“Dia datang dari kiri. Aku nggak lihat.” Suaranya datar. Terlalu datar. Datar yang dipaksakan, seperti senar yang ditahan dengan jari supaya tidak bergetar. “Kalau aku lihat, aku bisa tarik kamu. Setengah detik. Aku nggak punya setengah detik itu.”

“Arya—”

“Dan itu baru jalan kampung.” Dia meletakkan potongan ayam di atas nasi. Dia menatap tangannya sendiri. “Nanti ada jalan besar. Tangga. Keramaian. Kamu bilang kamu mau ke Raja Ampat. Laut, kapal, tebing. Semua tempat yang separuhnya aku nggak bisa lihat.” Dia berhenti. “Aku nggak bisa jaga kamu dari separuh dunia.”

“Aku nggak minta dijaga.”

Dia mengangkat kepala.

“Aku nggak minta dijaga,” ulangku. Lebih keras. “Aku udah dua puluh lima tahun jaga diri sendiri. Aku jaga Mama, aku jaga Papa, aku jaga delapan ratus tamu di ballroom, aku jaga pengantin yang lupa nama mertua. Aku jago jaga. Aku nggak butuh satu orang lagi yang jaga aku.”

Suaraku pecah di tengah kalimat. Aku tidak peduli.

“Aku butuh satu orang yang lihat aku. Dan kamu—” Aku menunjuk dadanya dengan telunjuk. Kali ini aku menyentuhnya. Di atas jantung. Di sisi kanan. “Kamu lihat aku. Dengan satu mata, dengan mata yang minus, dengan separuh dunia. Kamu lihat aku lebih jelas dari semua orang yang punya dua mata.”

Dia menatap jariku di dadanya. Aku merasakan jantungnya di bawah ujung jariku. Cepat. Sangat cepat.

“Kalau aku keserempet motor karena jalan di sebelahmu,” kataku, lebih pelan sekarang, “aku bakal keserempet lagi. Seratus kali. Seratus satu kali. Kayak Kevin sama kerikilnya.”


Arya menutup mata.

Kedua matanya. Yang hitam dan yang azure. Seperti waktu dia bermain piano, waktu itu, pertama kali aku datang ke bengkel. Seolah dia ingin kedua matanya beristirahat bersama.

Lama dia seperti itu. Aku tidak menarik tanganku dari dadanya.

Lalu dia membuka mata, dan dia bicara. Pelan. Setiap kata dipilih satu per satu, seperti nada yang disetel dengan kunci setem, satu derajat demi satu derajat.

“Aku takut,” katanya.

Aku tidak bergerak.

“Aku belum pernah takut kayak gini. Waktu kecil, sama kerikil, aku nggak takut. Aku cuma nunggu. Aku tahu mereka bakal capek sendiri.” Dia berhenti. “Tapi ini beda. Kalau kamu yang capek... aku nggak tahu harus nunggu apa.”

“Aku nggak bakal capek.”

“Kamu nggak tahu itu.”

“Aku tahu.”

“Davina.” Dia menatapku. Mata kanannya basah. Aku belum pernah melihat matanya basah. “Aku takut aku terlalu sedikit buat kamu. Separuh mata. Separuh dunia. Separuh... semuanya.”

Aku membuka mulut untuk membantah. Dia mengangkat tangan. Pelan.

“Aku nggak bilang nggak,” katanya. “Aku nggak bilang aku nggak suka kamu. Aku cuma—” Dia mencari kata. Aku melihatnya mencari, seperti orang yang meraba-raba di kegelapan. “Kasih aku waktu. Sedikit. Buat belajar percaya kalau aku boleh.”

Aku nggak tahu apakah aku boleh.

Aku mendengarnya mengatakan itu ke Cleo, di balik tirai plastik bermotif bunga. Dan sekarang dia mengatakannya padaku. Tidak persis sama. Tapi nadanya sama.

Aku menarik tanganku dari dadanya. Aku duduk tegak di KURSI PEMILIK SISI KANAN. Aku menatapnya.

“Oke,” kataku.

Dia berkedip.

“Oke. Aku kasih waktu.” Aku mengangkat satu jari. “Tapi dengan syarat.”

“Syarat apa?”

“Satu. Aku tetap dateng jam empat. Tiap hari yang aku bisa.” Jari kedua. “Dua. Aku tetap kirim makan siang. Dan kamu nggak boleh bilang nggak usah repot lagi. Itu kalimat terlarang. Pasal dua belas.” Jari ketiga. “Tiga. Aku tetap gombalin kamu. Tiap hari. Nggak ada libur.”

“Itu tiga syarat.”

“Aku belum selesai.” Jari keempat. “Empat. Selama kamu mikir, aku tetap suka kamu. Aku nggak bakal berhenti suka kamu cuma karena kamu belum jawab.”

Dia menatapku lama.

“Dan lima,” kataku, dan suaraku jadi sangat pelan. “Kamu nggak boleh menjauh lagi kayak kemarin. Kalau kamu takut, bilang takut. Kalau kamu butuh waktu, bilang butuh waktu. Tapi jangan diem-diem pergi. Jangan balas satu kata. Jangan bilang nggak usah repot padahal maksudnya aku takut.”

“...Oke.”

“Janji?”

Dia menimbang. Lama. Aku tahu dia tidak pernah janji sembarangan, karena dia tidak bisa bohong, dan janji yang dilanggar adalah bohong yang terlambat.

“Janji,” katanya.


Pintu bengkel terbuka dengan suara keras.

“PERMISI! PAKET!”

Kami berdua menoleh. Seorang kurir berjaket merah berdiri di ambang pintu hijau, membawa kotak kardus besar yang dibungkus plastik gelembung.

“Atas nama Mas Arya Mahendra?” tanyanya, membaca label. “Dari Kevin Aditama. Isinya...” Dia menyipitkan mata ke label. “Bantal kursi. Dua buah. Motif... kucing?”

Arya menatap kotak itu. Lalu menatapku.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

Kurir itu meletakkan kotak di lantai, meminta tanda tangan, dan menatap kami berdua—Arya dengan mata basah dan wajah merah, aku dengan mata basah dan wajah merah, bungkus ayam goreng lengkuas yang setengah dimakan, dua kursi jati berdampingan—dengan ekspresi orang yang tahu dia baru saja masuk di momen yang salah.

“Mas, Mbak,” katanya pelan, “saya permisi.”

Dia pergi dengan cepat.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai membungkuk, sampai air mataku yang tadi karena sedih berubah jadi air mata karena tertawa, sampai aku harus berpegangan pada sandaran KURSI PEMILIK SISI KANAN supaya tidak jatuh. Dan di sebelahku, Arya menatapku, lalu menatap kotak bantal kucing, lalu menatapku lagi.

Dan sudut bibir kanannya bergerak.

Naik setengah milimeter. Lalu satu milimeter. Lalu lebih.

Dia tersenyum. Tidak besar. Tidak lebar. Tapi dia tersenyum, dan dia tidak menyembunyikannya, dan aku melihatnya dari sisi kanan, dari sisi yang bisa dia lihat.

Aku berhenti tertawa.

“Arya,” bisikku.

“Hm.”

“Kamu punya lesung pipit.”

Dia berhenti tersenyum. Dia menyentuh pipinya dengan satu jari, bingung, seperti orang yang baru diberitahu ada sesuatu di wajahnya.

“Nggak.”

“Ada. Satu. Di kanan. Kecil banget.”

“Aku nggak pernah tahu.”

“Karena kamu nggak pernah senyum,” kataku. “Atau kamu nggak pernah lihat.”

Dia menatapku lama. Lalu dia menurunkan tangannya.

“Kamu yang pertama lihat,” katanya.

Kami membuka kotak kiriman Kevin bersama-sama. Arya memotong selotipnya dengan cutter kecil dari meja kerja, pelan dan rapi, seperti membuka piano yang baru datang.

Di dalamnya, dua bantal duduk bermotif kucing oranye. Dan selembar kartu ucapan berwarna pink dengan tulisan tangan Kevin yang besar-besar:

UNTUK DUA PANTAT YANG DITAKDIRKAN DUDUK BERSEBELAHAN. — dari Kevin, sahabat terbaik, mak comblang terbaik, calon pengiring pengantin terbaik (semoga).

Arya membacanya keras-keras. Datar. Tanpa intonasi. Dari awal sampai semoga.

Aku tertawa sampai bantal kucing di tanganku jatuh.

“Aku bakal ngomong ke dia,” kata Arya.

“Ngomong apa?”

Dia menatap kartu pink itu lama. Lalu dia melipatnya dua, dengan hati-hati, dan menyelipkannya di bawah garpu tala. Di sebelah kerikil.

“Makasih,” katanya pelan. “Aku bakal ngomong makasih.”


Malam itu, di kamarku di Condongcatur, di bawah foto laut dangkal Raja Ampat yang sudah pudar, aku mengambil ponselku.

Aku membuka percakapan dengan kontak yang namanya kurahasiakan sampai mati. Aku mengetik.

Aku: Hari pertama.

Aku: Aku suka kamu.

Aku menekan kirim sebelum aku bisa berubah pikiran. Lalu aku membenamkan wajah di boneka kucing oranye dan menunggu.

Tiga menit. Lima menit.

Satu nada La.

Dia: Aku terima.

Dia: Pasal berapa?

Aku tertawa ke dalam bulu boneka kucing.

Aku: bukan pasal. syarat nomor empat. aku tetap suka kamu selama kamu mikir. dan aku bakal bilang tiap hari, jadi kamu nggak lupa.

Aku: sampai kamu capek.

Lama tidak ada balasan. Aku sudah hampir tertidur, dengan ponsel di dada dan lampu kamar masih menyala, ketika satu nada La terdengar lagi.

Dia: Aku nggak bakal capek.

Aku membaca pesan itu berulang-ulang sampai mataku perih. Lalu aku memeluk ponselku seperti memeluk sesuatu yang kecil dan rapuh, dan tidur, dengan lesung pipit di kedua pipi yang tidak dilihat siapa-siapa.

Besok, hari kedua.