Chapter Thirty One
Tolong
POV: Arya
Aku belum pernah mengucapkan kata itu.
Aku tahu artinya. Aku tahu cara menulisnya. Aku mendengarnya diucapkan orang lain ribuan kali. Anak-anak yang minta tolong diambilkan bola. Ibu-ibu yang minta tolong dibukakan tutup toples. Kevin, yang minta tolong dengan gaya seolah dia sedang memberi hadiah.
Tapi aku belum pernah mengucapkannya. Tidak dengan sungguh-sungguh. Tidak untuk sesuatu yang penting.
Waktu kelas satu SD, di tangga semen, dengan kerikil di pelipis kiri, aku tidak bilang tolong. Waktu Bapak meninggal, dan Ibu menangis di dapur dengan pintu tertutup, aku tidak bilang tolong. Waktu Kakek sakit, dan bengkel ini tiba-tiba jadi terlalu besar untuk satu orang, aku tidak bilang tolong.
Aku belajar bahwa kalau aku minta, kerikilnya makin banyak. Jadi aku berhenti minta.
Sekarang aku duduk di kursi piano Kakek, dengan dua kerikil di dua tangan, dan perempuan yang melempar keduanya berdiri di depanku dengan wajah basah dan mata bengkak dan menungguku bicara.
Aku menarik napas. Satu kali.
“Tolong,” kataku.
Kata itu keluar pelan. Aneh di lidahku. Seperti nada yang belum pernah kumainkan, di oktaf yang tidak pernah kusentuh.
“Tolong temani aku.”
Davina tidak menjawab dengan kata-kata.
Dia berlutut di lantai bengkel, di depan kursi piano, sampai matanya sejajar dengan mataku. Dia menggenggam kedua tanganku. Kedua tangan yang masih menggenggam kerikil. Tangannya di luar, tanganku di dalam, kerikil di tengah.
“Temani ke mana?” tanyanya pelan.
“Senin. Ke rumah sakit. Waktu aku masuk ruang operasi.” Aku berhenti. “Waktu aku keluar. Waktu aku harus nunduk dua minggu. Waktu aku nggak bisa lihat apa-apa.”
Aku mencari kalimat berikutnya. Aku sudah mencarinya sejak Selasa, sejak dr. Hendra bilang Mas akan butuh orang. Aku menyusunnya berkali-kali. Dan setiap kali, aku menyusunnya jadi kalimat yang membuatnya pergi.
Kali ini aku menyusunnya jadi kalimat yang benar.
“Aku butuh kamu,” kataku. “Bukan karena aku nggak bisa sendiri. Aku bisa. Aku udah dua puluh enam tahun sendiri.” Aku berhenti. “Tapi aku nggak mau.”
Dia menutup mata. Air matanya jatuh lagi, ke punggung tanganku.
“Itu permintaan,” kataku. “Kamu boleh bilang nggak.”
Dia membuka mata.
“Arya.”
“Hm.”
“Kamu serius nanya aku boleh bilang nggak? Setelah semua ini? Setelah aku lempar kerikil dari kiri?”
“Aku harus nanya. Itu sopan.”
Dia menatapku. Lalu dia tertawa. Pendek, basah, naik setengah nada di ujung. Lalu dia menempelkan dahinya ke punggung tanganku yang masih dia genggam, dan tertawa di sana, dan menangis di sana, dan bahunya berguncang.
“Iya,” katanya ke tanganku. “Iya, iya, iya, iya—”
“Satu iya cukup.”
Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan wajah paling kesal dan paling bahagia yang pernah kulihat.
“Itu kalimat Cleo,” katanya.
Jumat malam, aku menelepon Ibu.
Bukan Rabu. Bukan jam delapan lewat sedikit setelah pengajian. Jumat, jam tujuh malam, dan aku yang menelepon. Aku tidak pernah menelepon Ibu duluan. Aku tidak ingat kapan terakhir kali.
Davina duduk di KURSI PEMILIK SISI KANAN. Bantal kucing di pangkuannya. Kevin di lantai, bersandar ke kaki meja kerja. Mereka berdua diam. Mereka berdua menunggu.
Ibu mengangkat di dering ketiga. Suaranya terkejut.
“Le? Kok telepon? Ada apa?”
“Bu.”
“Kenapa, Le? Suaramu—”
“Bu, aku nggak baik-baik saja.”
Hening.
Hening yang panjang. Jangkrik di Magelang terus bernyanyi, tapi Ibu tidak. Aku mendengar napasnya berhenti. Aku mendengar sesuatu diletakkan di atas meja—mungkin cangkir, mungkin rantang—dengan sangat pelan.
“Le,” kata Ibu. Suaranya sudah berubah. Bukan suara yang bertanya sudah makan atau belum. Suara lain. Suara yang dia pakai di dapur, dengan pintu tertutup, waktu aku kelas dua SMP. “Cerita sama Ibu.”
Aku bercerita.
Aku bercerita semuanya. Pelan, dari bawah, satu nada demi satu nada. Kilatan cahaya. Tirai. dr. Hendra. Laser. Operasi. Senin. Gas di mata. Menunduk dua minggu. Kemungkinan yang tidak nol.
Ibu tidak memotong sekali pun.
Di tengah cerita, aku mendengar dia menangis. Pelan. Tidak ditahan. Dan aku tidak berhenti bercerita, karena kalau aku berhenti, aku tidak akan bisa mulai lagi.
Setelah selesai, Ibu diam lama.
“Kenapa baru bilang sekarang, Le?” tanyanya akhirnya. Bukan marah. Hanya lelah. Seperti orang yang sudah tahu jawabannya.
“Aku nggak mau Ibu khawatir.”
“Le.” Ibu menarik napas panjang, gemetar. “Ibu ini ibumu. Ibu tugasnya khawatir.”
Aku menoleh ke kanan. Davina menatapku. Dia menutup mulut dengan tangan. Aku tahu kenapa. Aku pacarmu. Aku tugasnya khawatir. Dia bilang itu di bengkel, waktu Bu Harjo datang, waktu aku bilang punggungku sakit.
“Maaf, Bu,” kataku.
“Minggu Ibu ke Jogja. Naik bus pagi.”
“Bu, nggak usah—”
“Le.”
Aku berhenti.
“Kamu baru aja bilang ke Ibu kamu nggak baik-baik saja,” kata Ibu. “Pertama kali seumur hidupmu. Dua puluh enam tahun Ibu nunggu kamu bilang itu.” Suaranya pecah. “Jangan suruh Ibu nggak datang.”
Aku menutup mata.
“Iya, Bu,” kataku. “Datang.”
Sabtu, bengkel berubah jadi rumah sakit kecil.
Kevin yang mengatur. Tentu saja Kevin. Dia datang jam tujuh pagi dengan mobil penuh barang dan daftar yang dia buat di ponsel dengan judul OPERASI ARYA (LOGISTIK) (LEVEL MERAH).
Dia menyewa kursi khusus untuk posisi menunduk—kursi dengan sandaran wajah berlubang di tengah, seperti kursi pijat di mal, supaya aku bisa duduk dengan wajah menghadap lantai tanpa lehernya patah. Dia membeli bantal donat untuk tidur telungkup. Dia membeli cermin kecil yang bisa diletakkan di lantai, di bawah lubang kursi, supaya aku bisa melihat siapa yang duduk di depanku tanpa mengangkat kepala.
“Aku riset,” katanya, dengan bangga. “Tiga artikel. Satu forum. Dua video.”
Davina menatapku. Aku menatap Davina.
“Kayak seseorang,” kata Davina pelan.
Kevin mencoba kursi itu untuk memastikan kenyamanannya. Dia duduk, meletakkan wajahnya di lubang sandaran, dan berkata oke, oke, ini lumayan, ini lumayan banget. Dua menit kemudian dia tertidur. Mendengkur, dengan wajah menghadap lantai, sampai Cleo—yang datang jam sepuluh membawa termos kopi dan wajah datar—menendang kaki kursinya dengan sepatu kets.
Kevin terbangun dan mengangkat kepala terlalu cepat. Dahinya membentur pinggir lubang.
“Aduh—”
“Itu buat pasien,” kata Cleo. “Bukan buat kamu tidur siang.”
“Aku lagi uji coba!”
“Kamu lagi ngiler di lantai orang.”
Kevin menatap lantai di bawah kursi. Memang ada setitik basah. Dia menatap Cleo dengan wajah orang yang baru tertangkap basah.
Cleo menatapnya lama. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak. Naik setengah milimeter. Dia berbalik sebelum Kevin sempat melihat.
Aku melihatnya. Dari kanan.
Davina menghabiskan hari Sabtu belajar meneteskan obat mata.
Dia menonton video dari sebuah rumah sakit mata di Jakarta, berulang kali, dengan ponsel diletakkan di atas meja kerja dan wajah yang sangat serius. Dia berlatih di Kevin, dengan air mineral di botol tetes kosong, sampai Kevin protes bahwa matanya sudah terlalu basah dan dia terlihat seperti orang yang baru diputusin.
“Kamu memang hampir diputusin,” kata Cleo dari sudut bengkel.
“Hampir,” kata Kevin. “Kata kuncinya hampir.”
Lalu Davina berlatih padaku. Dia berdiri di belakangku, di atas kepalaku, dan menyuruhku mendongak. Dia menarik kelopak mata bawahku dengan ujung jari, sangat pelan, seperti menyentuh senar yang paling tipis. Dia meneteskan satu tetes air mineral.
“Sakit?” tanyanya.
“Nggak.”
“Dingin?”
“Sedikit.”
“Nanti obatnya dingin juga. Tiga macam. Empat kali sehari. Jeda lima menit antar obat.” Dia membaca dari kertas yang ditulis tangan. Kertas HVS, dilipat empat. “Aku udah bikin jadwal. Aku pasang alarm. Enam belas alarm sehari.”
“Enam belas.”
“Empat kali sehari, tiga obat, ditambah pengingat buat ganti posisi dan pengingat buat minum.” Dia menunjukkan kertasnya. Di bagian atas, dia menulis judul dengan huruf kapital. JADWAL OBAT ARYA (JANGAN DIBANTAH).
Aku menatap kertas itu. Aku menatapnya.
“Kamu kayak Kevin,” kataku.
“Aku nggak kayak Kevin.”
“Kamu bikin judul pakai kurung.”
Dia menutup wajah dengan kertas HVS.
Minggu siang, Ibu datang.
Kevin menjemputnya di terminal Jombor. Aku menunggu di bengkel, di KURSI ARYA, dengan Davina di kananku. Dia sudah mengganti bajunya tiga kali sejak pagi. Dia memakai kemeja batik biru dari Beringharjo. Dia tidak berhenti merapikan rambutnya.
“Kamu gugup,” kataku.
“Aku nggak gugup.”
“Kamu udah rapiin rambut sebelas kali.”
“Kamu ngitung?”
“Aku ngitung.”
Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak Jumat, dia tertawa lepas.
Lalu pintu hijau berderit.
Ibu berdiri di ambang pintu. Kecil, dengan kerudung cokelat dan tas jinjing kain batik dan rantang susun tiga di tangan kanan. Rambutnya yang mengintip dari pinggir kerudung sudah lebih banyak uban dari yang kuingat. Dia menatap bengkel. Menatap piano-piano. Menatap kursi khusus dengan lubang di sandarannya.
Lalu dia menatapku.
Dia meletakkan rantang di lantai. Pelan. Dia berjalan ke arahku. Dia tidak bicara. Dia berhenti di depan KURSI ARYA, dan dia mengangkat kedua tangannya, dan dia menangkup wajahku seperti waktu aku masih kecil.
Dia menatap mata kananku. Lama. Seperti ingin menghafalnya.
“Le,” katanya.
“Bu.”
Dia memelukku. Kepalaku di dadanya. Seperti waktu aku kelas dua SMP, sehari setelah pemakaman Bapak, waktu aku akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mata merah dan dia menunggu di depan pintu dan tidak bertanya apa-apa.
Kali ini aku tidak berpura-pura mataku merah karena sabun.
Setelah Ibu melepaskanku, dia menoleh ke kanan. Ke KURSI PEMILIK SISI KANAN.
Davina sudah berdiri. Tangannya saling meremas di depan kemeja batik biru.
“Nak Davina,” kata Ibu.
“Bu,” kata Davina. Suaranya kecil. Suara MC yang sudah bicara di depan gubernur, dan sekarang tidak bisa mengeluarkan suara lebih dari bisikan.
Ibu menatapnya lama. Dari atas ke bawah. Dari rambut yang sudah dirapikan sebelas kali, ke kemeja batik, ke tangan yang saling meremas.
Lalu Ibu mengambil rantang dari lantai. Dia membuka susun paling atas. Opor ayam. Masih hangat. Bau santan dan serai memenuhi bengkel.
“Rantang yang jatuh waktu itu,” kata Ibu. “Waktu Arya bilang dia punya pacar. Rantangnya penyok. Ibu ketok-ketok sampai lurus lagi.” Dia menyodorkan rantang itu ke Davina. “Ini buat Nak Davina. Terima kasih. Sudah ngasih makan anak Ibu yang bukan telur.”
Davina menerima rantang itu dengan dua tangan. Dia menatapnya. Lalu dia menatap Ibu.
Dan dia menangis. Di tengah bengkel. Memegang rantang opor ayam.
Ibu memeluknya. Rantang di tengah-tengah mereka. Ibu menepuk punggung Davina, pelan, berulang-ulang, seperti menepuk punggung anak kecil.
“Sudah, Nak, sudah,” kata Ibu. “Di sini nggak usah senyum.”
Aku menatap mereka dari KURSI ARYA. Dua perempuan. Satu di kanan, satu di kiri. Keduanya bisa kulihat, kalau aku memutar kepala. Dari atas. Di atas tirai.
Aku tidak tahu kapan terakhir kali bengkel ini terasa sepenuh ini.
Minggu malam, Kevin mengantar Ibu ke rumah ibunya sendiri. Ibu Kevin dan Ibu sudah berteman sejak aku dan Kevin di TK. Mereka akan menginap bersama, dan besok pagi jam lima, Kevin akan menjemput mereka berdua ke rumah sakit.
Cleo pulang jam sembilan. Di ambang pintu, dia menatapku. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya mengangguk sekali, seperti hakim yang menjatuhkan vonis. Lulus.
Lalu bengkel sunyi.
Hanya aku. Dan dia.
dr. Hendra bilang puasa mulai tengah malam. Operasi jam tujuh pagi. Aku harus tidur. Aku tahu aku harus tidur.
Aku tidak mau tidur.
Aku berdiri dari KURSI ARYA. Aku berjalan ke piano Kakek. Aku mengambil korek api dari laci meja kerja, dan aku menyalakan dua lilin di tempat lilin kuningan. Seperti malam itu. Malam aku menjawab di nada La.
Davina berdiri di belakangku. Aku mendengar dia berhenti bernapas.
Aku tidak memainkan apa-apa. Aku hanya menyalakan lilin, lalu berbalik. Menghadapnya.
“Davina.”
“Hm.”
“Aku mau minta satu lagi.”
“Apa?”
“Aku mau lihat mukamu,” kataku. “Lama. Sekarang.”
Dia tidak bergerak.
“Kalau-kalau,” kataku.
Aku tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak perlu. Dia tahu. Aku melihat dia tahu. Aku melihat kalimat itu masuk ke wajahnya, pelan, seperti air dingin yang meresap ke kain.
Kalau-kalau besok, setelah operasi, aku tidak bisa melihat lagi.
Dia berjalan ke arahku. Dia berhenti di depanku, di bawah cahaya lilin. Dekat. Sangat dekat.
Tirai sudah menutup bagian bawah pandanganku. Aku menunduk sedikit, supaya wajahnya jatuh di bagian atas. Di bagian yang masih ada.
Dan aku melihatnya.
Aku melihat semuanya. Aku memperhatikannya seperti memperhatikan senar, seperti mendengarkan nada, seperti menghitung semua hal. Aku menyimpan setiap bagiannya di tempat yang aman.
Alisnya. Kiri sedikit lebih tinggi dari kanan. Aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya.
Bulu matanya. Tanpa bulu mata palsu. Pendek, lurus, sedikit basah.
Tahi lalat kecil di bawah mata kanannya. Sangat kecil. Sewarna kopi.
Hidungnya yang merah karena menangis tiga hari.
Bibirnya. Yang gemetar.
Dan pipinya. Kedua pipinya. Di tempat dua lekukan itu biasanya muncul, kalau dia sedang tidak bekerja.
Sekarang tidak ada. Dia tidak tersenyum. Dia hanya berdiri di sana, membiarkanku melihat, dengan air mata yang turun pelan-pelan dan diterangi cahaya lilin.
“Kamu hafalin,” bisiknya.
“Iya.”
“Buat apa?”
“Kalau-kalau.”
“Arya—”
“Kalau aku nggak bisa lihat lagi,” kataku, pelan, “aku mau punya ini. Di kepalaku. Yang ini. Kamu, di depan piano Kakek, pakai kemeja batik yang aku beliin di Beringharjo, dengan tahi lalat di bawah mata kanan yang aku baru tahu malam ini.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Aku nggak mau yang terakhir aku lihat itu kamu di Sudut Seduh,” kataku. “Pakai senyum kerja. Tanpa lesung. Waktu aku ngusir kamu.”
Dia menangis. Keras. Tangannya jatuh dari mulutnya.
Dan aku menciumnya.
Tidak seperti di bawah pohon jambu air. Tidak pelan dan ragu dan hanya beberapa detik.
Aku menciumnya seperti orang yang takut. Seperti orang yang tidak tahu apakah besok dia masih bisa melihat wajah yang sedang dia cium. Tanganku di kedua sisi wajahnya, ibu jariku di pipinya, di tempat lesungnya. Air matanya di ibu jariku. Air mataku sendiri, dari dua mata, yang bisa melihat dan yang tidak, jatuh ke pipinya dan bercampur dengan air matanya.
Dia membalas. Tangannya mencengkeram kemejaku di dada, di sisi kanan, di atas jantung yang berdetak terlalu keras. Dia menciumku balik dengan cara yang sama. Seperti orang yang takut. Seperti orang yang tidak punya rencana B.
Kami menangis. Kami berdua. Di tengah ciuman itu, di depan piano Kakek, di bawah dua lilin yang bergoyang.
Aku tidak menghitung berapa lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung.
Saat akhirnya kami menarik diri, dahiku menempel di dahinya. Kacamataku miring. Napas kami berdua pendek dan tidak rata. Lilin di tempat lilin kuningan sudah turun setengah senti.
“Arya,” bisiknya.
“Hm.”
“Besok, waktu kamu keluar dari ruang operasi. Waktu kamu buka mata—”
“Aku mungkin nggak bisa lihat apa-apa. dr. Hendra bilang buram. Kayak di dalam air.”
“Aku tahu.” Dia menarik napas. Tiga pendek, satu panjang. “Tapi aku bakal di situ. Pertama. Sebelum siapa pun. Sebelum Kevin. Sebelum Ibu.”
“Pasal sembilan?”
“Bukan pasal.” Dia menggeleng pelan, dahinya masih di dahiku. “Itu aku.”
Aku menutup mata. Kedua mata.
Aku menyimpan satu hal lagi di tempat yang aman. Bukan wajahnya. Suaranya. Pelan dan serak dan sedikit naik di ujung.
Itu aku.
Kalau-kalau.
Dia tidak pulang malam itu.
Dia tidur di KURSI PEMILIK SISI KANAN, dengan bantal kucing di pangkuan dan kepala miring di sandaran. Aku tidur di kasur lipat di ruang belakang, dengan pintu terbuka, supaya aku bisa mendengar napasnya dari sana.
Aku tidak tidur banyak.
Jam tiga pagi, aku bangun, dan aku berjalan ke bengkel dalam gelap. Lilin sudah padam. Aku berdiri di depan KURSI PEMILIK SISI KANAN, dan aku menatapnya tidur. Dari atas. Dari bagian yang masih ada.
Lalu aku berjalan ke piano Kakek, dan aku mengambil pensil, dan aku menulis sesuatu di kertas partitur. Di bawah not Sol. Di bawah kalimat kecil yang sudah tidak bisa kubaca. Aku menulisnya dengan huruf yang besar dan miring, supaya aku bisa membacanya nanti, kalau aku masih bisa membaca.
Kalau tidak, dia yang akan membacakannya untukku.
Aku menaruh pensil kembali. Aku menaruh dua kerikil di atas papan partitur, di kiri dan kanan, seperti dua penjaga.
Lalu aku kembali ke kasur lipat, dan berbaring, dan mendengarkan napasnya sampai jam lima pagi, sampai Kevin membunyikan klakson di luar pintu hijau, sampai waktunya pergi.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong reading
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut