← Separuh yang Kulihat

Chapter Four

Bukan Double Date

POV: Davina

“Itu baju keempat,” kata Cleo dari atas kasurku.

“Ketiga.”

“Keempat. Yang biru dongker kamu coba dua kali, dan kamu pikir aku nggak sadar karena kamu ganti anting.”

Aku menatap bayanganku di cermin lemari. Kemeja linen putih, rok midi warna krem, sepatu datar. Terlalu kantoran. Aku melepas kemejanya.

“Ini bukan buat dia,” kataku.

“Tentu.”

“Ini buat aku. Aku mau nyaman.”

“Kamu sudah ganti baju empat kali selama empat puluh menit untuk ketemu cowok yang kata kamu, kutip, cuma bikin penasaran.” Cleo membalik halaman majalah fesyen yang tidak sedang dia baca. “Vin, aku sudah kenal kamu sembilan tahun. Kamu ke pernikahan gubernur pakai baju yang kamu ambil dari jemuran.”

“Itu darurat.”

“Itu pernikahan gubernur.”

Aku mengambil gaun kuning pucat dengan kancing kecil di depan. Sederhana. Hangat. Warna yang membuat kulitku terlihat seperti habis tidur cukup, padahal tidak. Aku memakainya, memutar badan sekali, dan menatap Cleo lewat cermin.

Cleo menurunkan majalahnya.

“Oke,” katanya. “Itu. Dia bakal pingsan.”

“Dia nggak bakal pingsan. Dia bakal bilang sesuatu yang aneh dan jujur, terus aku bakal ketawa kayak orang gila.”

Cleo memiringkan kepala. Dia menatapku lama, dengan tatapan yang sama seperti di lampu merah malam reuni itu.

“Kamu sudah bayangin,” katanya pelan. “Kamu sudah bayangin dia ngomong apa.”

Aku tidak menjawab. Aku sibuk memakai anting.


Kafenya bernama Sudut Seduh. Kecil, di jalan samping dekat Kotabaru, dengan lampu kuning, rak buku bekas, dan hanya tujuh meja. Kevin sudah mengirim alamatnya ke Cleo dengan tambahan pesan tempatnya tenang, Arya suka tempat tenang, dan Cleo meneruskannya padaku dengan komentar buaya ini ngatur segalanya demi sahabatnya, aku jadi susah benci.

Kami datang sepuluh menit terlambat. Cleo sengaja. Biar buayanya gelisah, katanya.

Buayanya memang gelisah. Kevin berdiri begitu kami masuk, hampir menyenggol vas bunga kecil di mejanya, lalu menangkapnya, lalu pura-pura dia memang berniat memegang vas bunga itu sejak awal. Dia memakai kaus polo putih dan wangi yang lebih lembut dari malam reuni. Sepertinya dia belajar.

Dan di pojok, di kursi kanan belakang dengan dinding di sebelah kirinya, Arya sudah duduk.

Dia tidak berdiri secepat Kevin. Dia berdiri pelan, seperti orang yang baru sadar tamu datang. Kemejanya hari ini biru muda, lengan digulung sampai siku. Ada sedikit noda hitam di ujung jari telunjuknya—oli, mungkin, atau sisa pekerjaan dengan piano. Kacamatanya sama. Mata kirinya sama.

Aku berhenti sesaat di tengah kafe.

Birunya lebih terang di siang hari. Cahaya dari jendela jatuh tepat di wajahnya, dan mata itu menyala seperti kaca laut.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Aku berjalan ke meja. Ada empat kursi: dua di sisi dinding, dua di sisi luar. Aku menuju kursi kosong di sebelah kiri Arya, karena itu yang paling dekat.

Dan dia bergerak lagi.

Sama seperti di aula. Gerakan kecil yang hampir tidak kelihatan. Dia menarik kursi di sebelah kanannya—kursi yang sejak tadi dia tempati—dan menggeser dirinya ke kursi kiri, yang menempel ke dinding. Lalu dia menunggu, satu tangan masih di sandaran kursi yang baru dia tarik.

Aku duduk di kursi itu. Di sebelah kanannya.

Dia tidak bilang apa-apa.

Kevin, yang tadinya sudah melangkah ke arah kursi di sisi dinding, menatap situasi itu selama setengah detik, lalu dengan lancar memutar badan dan duduk di kursi luar, di hadapan Cleo. Seperti gerakan tari yang sudah dilatih bertahun-tahun.

Aku mencatat itu. Aku mencatat semuanya.


“Aku sudah pesen,” kata Arya.

“Kamu sudah pesenin aku?”

“Es teh,” katanya. “Tanpa gula.”

Aku mengangkat alis. “Kok tahu?”

“Waktu reuni, kamu ambil es teh tanpa gula dari meja minuman. Di depan orang-orang.” Dia berhenti sebentar. “Terus waktu kamu ke dekat meja kue, nggak ada yang lihat, kamu tuang dua sachet gula diam-diam ke gelasmu.”

Aku merasakan panas merambat dari leher ke telinga.

Cleo, di seberang meja, menaruh kedua sikunya di atas meja dan menatapku dengan binar di mata yang terlalu gembira.

“Dua sachet,” ulang Cleo pelan. “Diam-diam.”

“Aku lagi diet,” kataku cepat.

“Kamu lagi diet di depan orang,” kata Arya. “Di belakang, kamu nggak diet.”

Kevin tersedak air mineral.

Aku menatap Arya. Dia menatap balik, dengan ekspresi tenang orang yang baru saja menyebutkan prakiraan cuaca. Dan di atas meja, di sebelah gelas es tehku, sudah ada dua sachet gula. Diletakkan rapi, berdampingan, di sisi yang paling dekat dengan tanganku.

Aku memandang dua sachet gula itu lama.

Lalu aku merasakannya: pipiku mengencang, dan tanpa bisa kucegah, aku tersenyum. Senyum yang lebar dan malu dan konyol.

Arya menatap wajahku, di bagian pipi. Sebentar saja. Lalu dia kembali menatap gelasnya sendiri.

Aku tahu apa yang barusan dia lihat. Dan dia tahu bahwa aku tahu.

Itu tidak adil. Aku perlu membalas.


Aku merobek satu sachet gula, menuangkannya ke es teh, mengaduknya pelan dengan sedotan. Lalu aku mencondongkan tubuh sedikit ke kanan. Ke arahnya.

“Arya.”

“Hm.”

“Kamu tahu nggak, bedanya kamu sama gula ini?”

Dia menoleh. Kacamatanya memantulkan lampu kuning kafe.

“Gula ini,” kataku, mengangkat sachet kedua dan menggoyangkannya di depan matanya, “bikin es tehku manis. Kalau kamu...” Aku berhenti. Aku tersenyum. Senyum yang ini sengaja, tapi bukan senyum kerja. “...kamu bikin aku pengin nambah.”

Hening.

Di seberang meja, Cleo menutup wajahnya dengan dua tangan. Kevin menatapku dengan mulut sedikit terbuka, seperti murid yang baru melihat gurunya melakukan salto.

Arya berpikir. Aku bisa melihatnya berpikir. Dia benar-benar memproses kalimat itu seperti memproses nada.

“Secara teknis,” katanya akhirnya, “gula yang bikin pengin nambah. Itu dopamin. Gula memicu—”

“Arya.”

“Hm.”

“Itu gombal. Bukan pelajaran biologi.”

“Oh.” Dia berkedip. “Maaf. Aku nggak pernah digombalin.”

“Makanya aku mulai sekarang. Biar kamu terbiasa.”

“Kamu mau gombalin aku terus?”

“Sampai kamu bisa bales.”

Dia menatapku. Lalu, sangat pelan, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat di wajah manusia yang tidak sedang di pengadilan:

“Kalau gitu, kayaknya bakal lama.”

Aku tertawa. Aku tertawa sampai sedotan di mulutku jatuh. Di sebelah kiriku, Cleo menurunkan tangannya dari wajah dan mengucapkan sesuatu tanpa suara ke Kevin, yang kubaca sebagai: dia sudah tamat.

Aku tidak tahu yang tamat itu aku atau Arya.


Sementara itu, di sisi meja yang lain, Kevin berperang.

Aku harus mengakui, dia berusaha keras. Dia tidak menggombal—sepertinya ada yang sudah menasihatinya soal itu—tapi setiap kali dia mencoba percakapan normal, Cleo membalas dengan satu kalimat yang memotongnya di tengah.

“Kamu kerja di mana?” tanya Kevin.

“Stylist.”

“Wah, keren. Di mana?”

“Di tempat yang nggak ada kamu.”

“Kamu suka kopi atau teh?”

“Suka kalau yang nanya diem.”

Kevin mengangguk-angguk, menerima pukulan itu dengan wajah seperti petinju yang sudah memutuskan untuk bertahan sampai ronde terakhir. Lalu dia mengambil gelas kopi susunya, berniat menyesap dengan elegan, dan menumpahkannya ke kaus polo putihnya.

Seluruh bagian depannya.

Hening.

Cleo menatap noda kopi cokelat yang menyebar di dada Kevin seperti peta pulau yang baru ditemukan.

“Bu Ningsih bakal senang,” katanya datar.

Dan kemudian—aku melihatnya, Arya melihatnya, Kevin tidak melihatnya karena dia sibuk menyeka bajunya dengan tisu—sudut bibir Cleo bergerak. Sedikit. Naik setengah milimeter. Hanya sepersekian detik sebelum dia menyembunyikannya di balik gelas.

Aku menoleh ke kanan. Arya sedang menatap Cleo juga. Lalu dia menatapku. Dia tidak bilang apa-apa, tapi aku mengerti: kamu lihat itu?

Aku mengangguk kecil. Aku lihat.

Itu pertama kalinya kami bicara tanpa bicara. Dan anehnya, itu terasa lebih dekat dari semua gombalan yang barusan kulempar.


Selama satu jam berikutnya, aku terus mengamatinya.

Arya tidak banyak bicara. Dia menjawab kalau ditanya, dan jawabannya selalu terlalu jujur untuk kenyamanan siapa pun. Tapi dia mendengarkan dengan cara yang aneh—seperti setiap kata yang kuucapkan adalah nada yang dia periksa satu per satu.

Dan ada polanya.

Setiap kali Cleo bicara dari arah kiri meja, Arya tidak menoleh dengan kepala. Dia memutar seluruh badannya. Seluruh bahu, seluruh dada, sampai wajahnya menghadap Cleo penuh. Itu gerakan yang sedikit kaku, sedikit berlebihan, seperti orang yang menoleh dengan leher sakit.

Setiap kali pelayan datang dari sisi kirinya, dia sedikit terkejut—sangat sedikit, hanya bahunya yang menegang sepersekian detik.

Dan tadi, waktu dia menggeser kursinya supaya aku duduk di kanan. Waktu di aula, dia menggeserku ke kanan. Kevin, yang selalu duduk di kiri, atau di depan, atau di mana saja asal bukan di kanan, seolah kursi di kanan Arya itu kursi yang sudah dipesan.

Yang kiri nggak bisa lihat.

Dia bilang begitu, waktu di aula. Dengan suara datar, seperti bercanda. Tapi dia tidak bercanda. Dia tidak pernah bercanda. Aku mulai paham itu sekarang: semua yang dia katakan itu sungguhan, hanya saja kedengarannya lucu karena tidak ada orang lain yang berani sejujur itu.

Sisi kiri dunianya kosong.

Dan aku, entah kenapa, selalu dia taruh di sisi yang bisa dia lihat.


“Sen itu apa?” tanyaku, di sela obrolan tentang hal lain.

Arya menoleh. “Sen?”

“Waktu reuni. Kamu bilang ke Pak Darto, nada La-nya turun dua belas sen. Aku nguping.” Aku mengangkat bahu tanpa malu. “Aku penasaran dari kemarin. Sen itu kayak sen uang?”

Dia diam sebentar. Aku melihat sesuatu di wajahnya berubah—sesuatu yang melunak, seperti orang yang tidak pernah ditanya tentang hal yang paling dia sukai.

“Jarak antara dua nada yang bersebelahan di piano,” katanya, “dibagi seratus. Satu bagiannya namanya satu sen.”

“Jadi dua belas sen itu kecil.”

“Kecil. Kebanyakan orang nggak bisa dengar.”

“Tapi kamu bisa.”

“Itu kerjaanku.”

“Terus kalau nadanya turun cuma dua belas sen, kenapa harus dibetulin? Kan nggak ada yang sadar.”

Dia menatapku. Lalu, dengan cara bicaranya yang lurus dan pelan: “Karena dia jadi capek. Senarnya. Kalau dibiarin, lama-lama turunnya makin banyak, dan semua nada lain ikut salah. Dan yang paling nggak enak—” Dia berhenti, memilih kata. “Yang paling nggak enak, pianonya tetap dimainin. Semua orang tetap tepuk tangan. Nggak ada yang tahu dia salah.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi tenggorokanku terasa sedikit sempit.

“Kita masih ngomongin piano, kan?” tanyaku, setengah bercanda.

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap pipiku sebentar—di tempat lesung pipit seharusnya ada—lalu kembali ke gelasnya.

Aku mengaduk es tehku yang sudah habis. Lama.


Kevin dan Cleo pergi ke kasir untuk “urusan pembayaran”, yang sebenarnya adalah perdebatan lima menit tentang siapa yang membayar. Kevin ingin membayar semuanya. Cleo ingin membayar miliknya sendiri. Kevin menawarkan kompromi: dia membayar, Cleo boleh membencinya. Cleo bilang itu kompromi yang bisa dia terima.

Aku ditinggal berdua lagi dengan Arya.

Kafe sudah mulai sepi. Cahaya matahari sore masuk miring dari jendela, jatuh di meja kami, di gelas es tehku yang sudah hampir habis, di dua bungkus sachet gula kosong yang kulipat jadi kapal kecil tanpa sadar.

Aku menatap sisi wajahnya. Dari tempatku duduk, di kanannya, aku melihat mata hitamnya. Mata azure-nya tersembunyi di sisi lain, di balik batang hidung dan bingkai kacamata. Aku tiba-tiba ingin melihatnya lagi. Tiba-tiba ingin sekali.

Aku bisa saja menggoda lagi. Aku punya selusin kalimat di ujung lidah. Kamu tahu nggak, matamu itu kayak... Aku bisa melanjutkan permainan ini sampai Kevin kembali, dan Arya akan menjawab dengan fakta-fakta aneh, dan aku akan tertawa, dan semuanya akan menyenangkan.

Tapi ada satu hal yang lebih ingin kuketahui.

“Arya.”

“Hm.”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kenapa aku selalu kamu taruh di kanan?”

Dia tidak langsung menjawab. Dia mengambil kapal kecil dari sachet gula yang kulipat, memutarnya di antara jari-jarinya yang bernoda oli, memeriksanya seperti memeriksa palu piano.

Lalu dia menoleh padaku. Dengan seluruh wajahnya. Dan dia menjawab dengan nada yang sama seperti dia menjawab semua hal lain—tenang, datar, tanpa hiasan apa pun:

“Biar aku bisa lihat kamu.”

Aku membuka mulut.

Aku punya selusin kalimat di ujung lidah. Gombalan, candaan, balasan cerdas. Aku MC profesional. Aku bisa bicara di depan seribu tamu tanpa naskah selama tiga jam. Aku bisa menyelamatkan pernikahan yang pengantinnya lupa nama mertua.

Tidak ada satu pun yang keluar.

Aku menutup mulut lagi. Aku menatap gelas es tehku. Aku merasakan pipiku mengencang, pelan-pelan, dari dalam, dan aku tahu—aku tahu—bahwa dua lekukan itu sedang muncul, dan dia sedang melihatnya, dari sisi kanannya, sisi yang bisa melihat.

“Curang,” bisikku.

“Apa yang curang?”

“Kamu. Aku yang harusnya gombalin kamu.”

“Itu bukan gombal,” katanya, bingung. “Aku jawab pertanyaan.”

“Itu yang curang, Arya.”

Dia mengerutkan kening, jelas tidak mengerti, dan meletakkan kapal kecil dari sachet gula itu di depanku. Di sisi kanan gelas. Di tempat yang paling mudah dijangkau tanganku.

Di kasir, Kevin berteriak “AKU MENANG!” dengan suara yang cukup keras untuk membuat seluruh kafe menoleh, dan Cleo menjawab “kamu nggak menang, kamu cuma bayar” dengan suara yang sedikit—sangat sedikit—lebih lembut dari biasanya.

Aku tidak menoleh ke mereka.

Aku sibuk menatap kapal kecil dari kertas gula itu, dan berpikir, dengan kepanikan yang pelan dan manis dan sangat, sangat berbahaya:

Aku yang mulai duluan. Tapi kayaknya aku yang bakal kalah duluan.