← Separuh yang Kulihat

Chapter Five

Sisi Kanan

POV: Arya

Kami keluar dari Sudut Seduh saat matahari sudah rendah dan langit di atas Kotabaru berubah warna seperti teh yang terlalu lama diseduh.

Kevin dan Cleo berjalan di depan. Lebih tepatnya, Cleo berjalan di depan, dan Kevin mengikutinya dengan jarak yang dia kira sopan, tapi sebenarnya terlalu dekat sehingga Cleo dua kali harus berhenti mendadak supaya Kevin menabrak punggungnya sendiri.

“Aku antar pulang,” kata Kevin untuk ketiga kalinya. “Mobilku di situ.”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tahu kamu bisa. Aku cuma nawarin kemungkinan yang lebih nyaman.”

“Kemungkinan yang lebih nyaman,” kata Cleo, mengangkat ponselnya, “adalah ojek yang sudah kupesan tiga menit lalu dan sekarang ada di ujung jalan.”

Sebuah motor hijau berhenti tepat di depan mereka, seperti diatur sutradara. Cleo memakai helm, naik, lalu menoleh ke Davina di sebelahku. “Vin, kamu pulang gimana?”

“Nanti aku pesen.”

Cleo menatapku. Lama. Dengan tatapan yang biasa dipakai petugas bandara untuk memeriksa koper mencurigakan.

“Kamu,” katanya padaku. “Pastikan dia naik ojek dengan selamat.”

“Iya.”

“Plat nomornya difoto.”

“Iya.”

“Kalau drivernya nyetel lagu galau, suruh ganti.”

“Kenapa?”

“Karena dia gampang nangis kalau dengar lagu galau di jalan, terus maskaranya luntur, terus dia nyalahin aku.”

“Cleo!” protes Davina.

Motor hijau itu berangkat. Kevin berdiri di trotoar, melambai pada punggung Cleo dengan tangan yang pelan-pelan turun, seperti bendera yang kehilangan angin.

“Dia nggak noleh,” katanya.

“Dia noleh,” kataku. “Waktu di tikungan. Pakai spion.”

Kevin memutar badan menghadapku dengan kecepatan yang berbahaya untuk lehernya. “Serius?”

“Serius.”

Dia menatapku seperti aku baru saja menyembuhkan penyakit. Lalu dia menatap Davina, lalu menatapku lagi, lalu melakukan hal paling tidak halus yang pernah dia lakukan dalam dua puluh tahun persahabatan kami:

“Oke! Aku mau ambil mobil! Mobilnya jauh! Jauh banget! Parkirnya di... di Magelang! Aku balik lima belas menit lagi!”

Dan dia pergi. Setengah berlari. Ke arah yang berlawanan dengan tempat mobilnya diparkir.


Davina tertawa sampai harus bersandar ke tiang listrik.

“Temanmu,” katanya di sela tawa, “adalah manusia paling nggak bisa bohong yang pernah aku temui.”

“Dia bisa bohong. Ke orang lain.”

“Tapi nggak ke kamu?”

“Nggak pernah berhasil.”

Dia menyeka ujung matanya dengan jari. Masih tertawa kecil. Lalu dia berhenti, menegakkan tubuh, dan menatapku dari samping. Dari sisi kanan. Dia sudah berdiri di sana sejak kami keluar kafe, tanpa kuminta. Aku menyadarinya sejak langkah pertama, dan sejak langkah pertama pula aku tidak tahu harus memikirkannya bagaimana.

“Arya.”

“Hm.”

“Tadi di kafe aku belum selesai nanya.” Dia menggigit bibir bawah sebentar, lalu melepaskannya. “Boleh aku tanya soal matamu?”

Orang-orang biasanya tidak meminta izin. Mereka langsung bertanya, dengan nada yang sama seperti bertanya harga. Itu kenapa? Lahir begitu? Bisa lihat nggak? Atau mereka tidak bertanya sama sekali, dan pertanyaan itu menggantung di udara di antara kami, lebih berat daripada kalau diucapkan.

Dia minta izin.

“Boleh,” kataku.

Kami mulai berjalan pelan di trotoar. Tidak ke mana-mana. Hanya berjalan, karena berdiri diam di bawah tiang listrik sambil membicarakan mata terasa seperti adegan interogasi.

“Yang kiri,” katanya. “Beneran nggak bisa lihat sama sekali?”

“Sama sekali.”

“Dari lahir?”

“Dari lahir. Saraf matanya nggak berkembang waktu aku masih di kandungan. Dokter bilang kemungkinannya kecil. Aku dapat yang kecil itu.”

“Kalau warnanya?”

“Itu bawaan juga. Heterokromia. Nggak ada hubungannya sama butanya. Kebetulan aja datang barengan.” Aku berhenti sebentar. “Kayak beli satu dapat dua.”

Dia mendengus tertawa, lalu cepat-cepat menutup mulut, seperti merasa tidak seharusnya tertawa.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Itu memang lucu.”

“Kamu nggak... sedih?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku selalu memikirkan pertanyaan dengan sungguh-sungguh, bahkan yang sudah sering ditanyakan, karena setiap orang yang bertanya membawa nada yang berbeda.

“Waktu kecil, iya,” kataku. “Anak-anak di SD bilang aku kena kutukan. Ada yang bilang mata kiriku bisa lihat hantu. Ada yang lempar kerikil dari sebelah kiri, karena tahu aku nggak bakal lihat datangnya.”

Dia berhenti berjalan.

Aku ikut berhenti.

“Tapi terus ada Kevin,” kataku. “Dia berdiri di kiriku. Setiap hari. Sampai lulus SD. Sampai sekarang. Dan lama-lama aku berhenti sedih.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak pernah punya sisi kiri. Jadi aku nggak kehilangan apa-apa. Nggak bisa kangen sama sesuatu yang nggak pernah ada.”

Davina menatapku dengan mata yang aneh. Tidak kasihan. Aku kenal wajah kasihan; aku sudah melihatnya ribuan kali, dan wajah kasihan selalu sedikit menjauh, seolah kesialan itu bisa menular. Wajah Davina justru mendekat.

“Terus yang kanan?” tanyanya.

“Minus. Lumayan tinggi. Tapi normal.”

“Jadi seluruh duniamu lewat satu mata.”

“Iya.”

“Satu mata yang minus.”

“Iya.”

“Dan kamu masih bisa lihat aku napas empat kali di balik pilar dari jarak tiga meter, dalam gelap, di tengah dangdut koplo.”

“Aku nggak lihat pakai mata doang.”

“Terus pakai apa?”

Aku berpikir. “Pakai... perhatian.”

Dia terdiam cukup lama. Kami berdiri di bawah pohon ketapang di pinggir jalan, dan daun-daunnya yang lebar menutupi separuh langit sore.


Lalu dia bertanya hal yang tidak pernah ditanyakan orang.

“Boleh aku lihat? Dari dekat. Yang kiri.”

Aku menatapnya. Dia tidak bercanda. Tidak ada senyum mesin di wajahnya, tidak ada senyum gombal. Hanya wajah seseorang yang ingin tahu, dengan kejujuran yang mirip Kila.

Aku melepas kacamata.

Tanpa kacamata, dunia di mata kananku jadi kabur di pinggir-pinggirnya. Wajah Davina masih cukup jelas karena dia dekat, tapi pohon ketapang di belakangnya berubah jadi awan hijau. Dia maju satu langkah. Lalu satu langkah lagi, sampai aku bisa mencium wangi sabunnya—bukan parfum, sabun, sesuatu seperti melati yang dicuci air hujan.

Dia menatap mata kiriku. Mata yang tidak bisa menatapnya balik.

Aku tidak bisa melihat apa yang dia lihat. Aku hanya bisa melihat wajahnya melihat. Dan wajahnya, dari jarak sedekat itu, melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah siapa pun yang menatap mataku: dia melembut.

“Tahu nggak,” katanya pelan, “azure itu warna favoritku.”

“Kamu tahu kata azure?”

“Aku tahu kata azure.” Dia terdengar sedikit tersinggung. “Aku MC. Aku tahu kata-kata yang orang nggak tahu.”

“Ibuku nemu kata itu dari katalog cat tembok.”

“Aku nemu dari brosur travel.” Dia tersenyum, kecil. “Waktu SMA, ada brosur liburan ke Raja Ampat nyelip di koran Papa. Ada foto laut dangkal, warnanya persis kayak gini. Di bawahnya ditulis azure waters. Aku gunting fotonya, aku tempel di dinding kamar. Aku pikir, nanti kalau sudah kerja, aku ke sana.” Dia berhenti. “Belum pernah ke sana.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu. Selalu ada yang lebih penting.” Nadanya ringan, tapi aku mendengar sesuatu di bawahnya. Senar yang turun beberapa sen. “Tapi fotonya masih nempel di dinding. Sampai sekarang. Udah pudar. Warnanya udah nggak kayak dulu.”

Dia menatap mata kiriku lagi.

“Punyamu nggak pudar,” katanya.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku selalu tahu harus berkata apa, karena aku hanya mengatakan yang benar, dan yang benar biasanya pendek. Tapi kali ini, yang benar terlalu panjang dan terlalu berantakan untuk dikeluarkan.

Jadi aku memakai kacamataku lagi.

Dunia kembali tajam. Davina kembali tajam. Dan dari sisi kanan, dalam cahaya sore, dua lesung kecil itu sedang ada di pipinya.


“Oke,” katanya kemudian, menarik napas panjang, dan aku melihat perubahan itu terjadi di wajahnya seperti orang memutar tombol radio. Suasana hening yang tadi berubah jadi sesuatu yang lebih ringan, lebih berbahaya. “Sekarang giliranku.”

“Giliran apa?”

“Giliran gombal.” Dia menunjuk dadaku dengan telunjuknya, tanpa menyentuh. “Kamu tadi di kafe curang. Kamu bilang biar aku bisa lihat kamu dan aku nggak bisa jawab. Itu harus dibalas.”

“Aku nggak—”

“Diam. Aku lagi kerja.”

“Katanya kamu nggak kerja kalau sama aku.”

“Ini kerja yang beda. Ini kerja yang aku suka.”

Dia melangkah. Dia sengaja berjalan melewatiku, ke sisi kiriku, ke tempat yang tidak bisa kulihat, dan untuk sesaat dia menghilang. Aku merasakan bahuku menegang. Aku mendengar langkahnya di sebelah kiri, di ruang kosong yang sudah dua puluh enam tahun kosong, dan aku hampir memutar seluruh badanku untuk mencarinya.

Lalu dia muncul lagi. Dari belakang. Memutar ke kanan. Dan berhenti tepat di sisi kananku, cukup dekat sampai bahunya hampir menyentuh lenganku, cukup dekat sampai wajahnya memenuhi seluruh pandangan mata kananku.

Dia mendongak. Tersenyum. Dengan lesung.

“Aku di kananmu,” katanya. “Biar kamu lihat aku.”

Aku berhenti bernapas. Aku tidak sengaja. Tubuhku lupa caranya selama beberapa detik.

“Dan,” lanjutnya, suaranya turun jadi setengah bisikan, nakal dan manis dan sangat sadar dengan apa yang sedang dia lakukan, “mulai sekarang, setiap kali kamu lihat ke kanan, kamu bakal inget aku. Selamanya. Karena itu satu-satunya arah yang kamu punya.”

Hening.

Hanya ada suara motor lewat di jalan. Suara daun ketapang digeser angin. Suara jantungku sendiri yang tiba-tiba terlalu keras, terlalu cepat, fals parah—mungkin lima puluh sen, mungkin lebih.

“Itu,” kataku akhirnya, pelan, “ancaman.”

“Itu gombal, Arya.”

“Kedengarannya kayak ancaman.”

“Gombal yang bagus memang kedengeran kayak ancaman.” Dia mundur setengah langkah, puas, seperti atlet yang baru mencetak angka. “Nah. Satu sama.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Aku hanya berdiri di sana, di bawah pohon ketapang, menatap ke kanan.

Karena itu satu-satunya arah yang kupunya.


Ojek Davina datang dua menit kemudian. Aku memotret plat nomornya, seperti diperintahkan Cleo. Driver-nya bapak-bapak berumur lima puluhan dengan jaket yang kebesaran, dan dari speaker kecil di stang motornya terdengar lagu yang sangat, sangat galau.

“Pak,” kataku, “lagunya boleh diganti?”

Bapak itu menatapku, lalu menatap Davina, lalu tersenyum penuh pengertian dan memutar lagu dangdut yang riang. Davina menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku bakal bunuh Cleo,” katanya dari balik jarinya.

“Dia bilang kamu gampang nangis.”

“Aku nggak gampang nangis!”

“Dia bilang maskaramu luntur.”

“Aku pakai maskara waterproof!”

“Jadi kamu nangis, tapi maskaranya nggak luntur.”

Dia menurunkan tangannya dan menatapku dengan wajah paling kesal dan paling merah yang pernah kulihat. Lalu dia naik ke boncengan motor, memakai helm, dan sebelum motor itu berangkat, dia mencondongkan tubuh ke arahku.

“Arya.”

“Hm.”

“Nomor hp-mu berapa?”

“Aku nggak hafal.”

Dia menatapku lama. “Kamu nggak hafal nomor hp-mu sendiri.”

“Aku nggak pernah nelepon diriku sendiri.”

“Oke.” Dia mengangguk pelan, mengencangkan tali helmnya, dan matanya berkilat dengan sesuatu yang membuatku sedikit waspada. “Oke. Nggak apa-apa. Aku bakal dapet sendiri.”

“Dari Kevin?”

“Bukan dari Kevin.” Dia tersenyum. Senyum yang tidak kukenal. Bukan senyum mesin, bukan senyum lesung. Senyum ketiga. Senyum orang yang sedang merencanakan sesuatu. “Pak, jalan.”

Motor itu berangkat. Lagu dangdut riang memudar ke ujung jalan. Aku berdiri di trotoar dan melihatnya pergi sampai dia jadi titik kecil di sisi kanan duniaku, lalu hilang di tikungan.

Dia tidak menoleh.

Lalu, di tikungan, aku melihatnya. Helm putih itu berputar sedikit. Dia menoleh pakai spion.


Kevin menjemputku sepuluh menit kemudian, dengan mobil yang ternyata diparkir hanya lima puluh meter dari kafe.

Dia tidak bertanya apa-apa selama tiga lampu merah. Itu rekor. Kevin biasanya tidak bisa bertahan satu lampu merah.

Di lampu merah keempat, dia menyerah.

“Jadi?”

“Jadi apa.”

“Kalian ngobrol apa?”

“Mata.”

“Terus?”

“Dia nanya soal mataku. Aku jawab.”

“Terus?”

Aku menatap ke luar jendela. Ke kanan. Selalu ke kanan.

“Dia bilang azure warna favoritnya.”

Kevin menginjak rem sangat mendadak, padahal lampu sudah hijau. Mobil di belakang kami membunyikan klakson panjang. Kevin tidak peduli. Dia menatapku dengan mulut terbuka, dengan kedua tangan masih mencengkeram setir.

“Dia bilang apa?”

“Kevin. Lampunya hijau.”

“AR. DIA BILANG APA?”

Klakson di belakang kami bertambah jadi tiga. Kevin akhirnya menjalankan mobil, tapi sambil terus menoleh ke arahku setiap dua detik, sehingga mobil kami berjalan sedikit zig-zag di jalanan Jogja yang mulai gelap.

“Terus kamu jawab apa?” tanyanya akhirnya, setelah mobil kembali lurus.

“Nggak jawab.”

“Nggak jawab?”

“Aku nggak tahu harus jawab apa. Itu informasi. Informasi nggak perlu dijawab.”

Kevin mengerang panjang, dengan suara seperti ban bocor. Dia memukul setir pelan dengan kening, dua kali, di lampu merah berikutnya.

“Ar,” katanya ke setir. “Ar, Ar, Ar. Dengar aku baik-baik. Kalau ada cewek bilang warna favoritnya adalah warna matamu, itu bukan informasi tentang warna.”

“Terus informasi tentang apa?”

“Tentang kamu!” Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan mata melotot. “Tentang kamu, Ar! Itu informasi tentang kamu yang disamarkan jadi informasi tentang warna! Itu kode! Itu sinyal! Itu—itu lampu mercusuar di tengah laut!”

“Dia juga bilang aku harus inget dia setiap lihat ke kanan.”

Kevin tidak mengatakan apa-apa selama tiga detik penuh. Lalu dia menepikan mobil ke bahu jalan, menyalakan lampu hazard, dan menatapku dengan wajah seseorang yang baru menyaksikan keajaiban dunia kedelapan.

“Aku nggak bisa nyetir,” katanya. “Aku terlalu emosional. Kita nunggu di sini lima menit.”

Kami menunggu di sana lima menit. Kevin menghabiskannya dengan menatap langit-langit mobil dan bergumam akhirnya, ya Allah, akhirnya berulang-ulang, seperti orang yang baru selesai membayar cicilan rumah.

Aku tidak menjawab lagi.

Aku sibuk memikirkan foto laut dangkal yang ditempel di dinding kamar seorang perempuan, sudah pudar, warnanya tidak seperti dulu.

Dan bagaimana dia bilang, dengan suara yang pelan sekali, bahwa punyaku tidak.