← Separuh yang Kulihat

Chapter Seven

Ronde Satu Sampai Tujuh

POV: Arya

Ponselku mengeong.

Itu pertama kalinya, jam enam pagi di hari Jumat, dan aku terbangun dengan keyakinan penuh bahwa ada kucing liar masuk lewat jendela bengkel. Aku mencari di kolong meja kerja. Di balik piano tegak. Di dalam kotak kain filt. Baru di menit ketiga aku sadar suara itu datang dari atas bantalku sendiri.

Pemilik Sisi Kanan: Selamat pagi, pemilik mata tercantik se-Jogja ☀️ Mata kirimu udah dapat pujian hari ini? Belum? Nih: CANTIK. Sampaikan ya.

Aku duduk di tepi kasur lipat di ruang belakang bengkel, menatap layar, dan tidak tahu harus berbuat apa dengan hidupku.

Lalu aku menyampaikannya.

Pelan. Dalam hati. Seperti biasa.


Dalam dua minggu berikutnya, ponselku mengeong kira-kira empat puluh kali sehari.

Aku tahu karena aku menghitungnya. Aku menghitung semua hal. Senar, gelombang, langkah kaki, jumlah nggak yang kuucapkan ke Kevin. Menghitung meongan Davina hanyalah tambahan kecil dalam daftar.

Dia mengirim pesan saat bangun tidur, saat di jalan, saat menunggu giliran di belakang panggung. Dia mengirim foto makan siangnya dengan keterangan kamu udah makan belum? kalau belum, lihat ini aja dulu biar kenyang. Dia mengirim foto langit sore dengan keterangan ini kalau mata kirimu jadi langit. Dia mengirim foto dirinya di cermin rias, lengkap dengan kostum MC dan riasan panggung, dengan keterangan cantik nggak? jawab jujur. kamu kan nggak bisa bohong.

Aku tidak bisa bohong. Jadi aku menjawab: Iya.

Dia membalas dengan empat belas emoji wajah menangis, lalu: KAMU NGGAK BOLEH JAWAB CUMA ‘IYA’ KALAU AKU NANYA CANTIK.

Terus harus jawab apa?

Jawab yang panjang!!!

Aku menimbang. Aku mengetik: Iya, cantik.

Itu cuma nambah satu kata, Arya.

Itu dua kali lebih panjang.

Dia mengirim pesan suara. Tujuh detik. Isinya hanya jeritan kecil yang teredam, seperti dia sedang menjerit ke dalam bantal.


Masalahnya, ponselku juga mengeong saat aku bekerja.

Hari Senin, aku menyetel piano milik keluarga pensiunan dosen di Kotabaru, rumah tua dengan langit-langit tinggi dan akustik yang indah. Ponselku mengeong tiga kali berturut-turut, dan meongan itu memantul di dinding seperti ada seekor kucing yang terperangkap di dalam grand piano.

Bu Dosen, perempuan tua berkacamata tebal, muncul di pintu ruang tengah dengan wajah khawatir.

“Mas, ada kucing masuk?”

“Nggak ada, Bu.”

“Tapi saya dengar kucing.”

“Itu hp saya, Bu.”

Dia menatap ponselku yang tergeletak di atas penutup piano. Ponsel itu mengeong lagi, tepat pada saat itu, seolah sengaja.

“Hp-nya kucing?”

“Bukan. Orangnya.”

“Orangnya kucing?”

Aku menimbang bagaimana menjelaskan. Tidak ada cara. “Iya, Bu,” kataku akhirnya. “Kucing di Condongcatur.”

Bu Dosen menatapku lama, lalu kembali ke dapur sambil menggeleng-geleng, bergumam sesuatu tentang anak muda zaman sekarang.

Aku membuka pesannya.

Pemilik Sisi Kanan: lagi apa

Pemilik Sisi Kanan: aku lagi mikirin kamu

Pemilik Sisi Kanan: eh salah ketik. maksudnya aku lagi mikirin kamu. nggak salah ketik ding.

Aku mematikan suara ponsel. Lalu, lima menit kemudian, aku menyalakannya kembali. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak suka membayangkan meongannya datang dan tidak ada yang mendengar.


Sementara itu, Kevin berperang.

Aku mencatat perangnya dalam ronde-ronde, karena Kevin sendiri yang memberinya nomor. Setiap kali selesai mencoba sesuatu, dia datang ke bengkel dan melaporkan hasilnya seperti komentator tinju.

Ronde satu: Bunga.

Kevin mengirim buket mawar merah besar ke studio foto tempat Cleo bekerja. Lima puluh tangkai. Dengan kartu bertuliskan Untuk perempuan yang menolak dengan elegan.

Cleo mengirim foto buket itu ke Kevin, tergeletak di meja satpam studio. Keterangannya: Bunga itu tanaman yang dibunuh biar kamu kelihatan romantis. Pak Satpam suka, katanya buat istrinya.

“Istri Pak Satpam senang,” lapor Kevin, duduk di lantai bengkel karena aku belum memperbaiki kursi reyot itu. “Jadi secara teknis ada yang bahagia.”

Ronde dua: Katering.

Kevin, yang bekerja di agensi kreatif dan punya akses ke semua katering enak di Jogja, mengirim makan siang untuk seluruh kru pemotretan Cleo. Tiga puluh kotak nasi dengan ayam bakar madu.

Cleo mengunggah foto kru makan di Instagram. Keterangannya: Terima kasih untuk tim katering yang luar biasa.

Tim katering. Bukan Kevin.

“Tapi dia makan ayamnya,” kata Kevin. “Aku lihat di latar belakang foto. Dia makan paha atas. Dia suka paha atas, Ar. Itu informasi.”

Ronde tiga: Istilah Fesyen.

Kevin menghabiskan dua malam menonton video tentang istilah-istilah fesyen, supaya bisa bicara dengan Cleo dalam bahasanya. Saat mereka tidak sengaja—Kevin sengaja—bertemu di kafe, Kevin memuji pakaian Cleo.

“Monokrom yang sangat... avant-garde,” katanya, dengan penuh keyakinan. “Tapi tetap effortless. Kayak street style Tokyo yang ketemu minimalisme Skandinavia.”

Cleo menatap pakaiannya sendiri. Kaus abu-abu kebesaran dan celana training.

“Ini baju tidur,” katanya.

Ronde empat: Menunggu.

Kevin menunggu di parkiran studio selama tiga jam, bersandar di mobilnya dengan dua gelas kopi, siap menawarkan tumpangan pulang.

Cleo keluar lewat pintu belakang.

“Dia tahu aku di sana,” kata Kevin. “Dia kirim foto pintu belakang. Pakai keterangan dada. Ar, dia kirim foto. Dia ngeluangin waktu buat foto pintu dan kirim ke aku. Itu perhatian.”

“Itu ejekan.”

“Ejekan yang perhatian.”

Ronde lima: Puisi.

Aku tidak mau membahas ronde lima. Cukup dikatakan bahwa Kevin menulis puisi, dan di dalam puisi itu ada kalimat matamu seperti lampu sen motor yang menyala di tengah kabut hatiku, dan Cleo mengembalikan puisi itu dengan koreksi tata bahasa menggunakan tinta merah, lengkap dengan nilai: C-.

Kevin membingkai kertas itu.

Ronde enam: Bu Ningsih.

Kevin sekarang laundry dua kali seminggu dan sudah akrab dengan Bu Ningsih, pemilik Laundry Kilat. Suatu hari, Cleo datang untuk mengambil cuciannya sendiri, dan Bu Ningsih—tanpa diminta, menurut sumpah Kevin—berkata, “Mbak, Mas Kevin itu anak baik lho. Dia laundry-nya selalu dilipat rapi dulu sebelum dikasih ke saya.”

Cleo menatap Bu Ningsih lama.

“Bu Ningsih,” katanya, “Ibu dibayar berapa?”


Davina menonton semua ini dari kursi lipat di sebelah kananku.

Dia datang ke bengkel hampir setiap sore sekarang. Tidak setiap hari—dia punya acara, dan aku punya klien—tapi cukup sering sehingga kursi lipat itu sudah tidak pernah kulipat lagi. Dia datang membawa camilan yang berbeda setiap kali, dan setiap kali dia bilang dia kebetulan lewat. Aku berhenti mengoreksinya setelah hari ketiga.

Dia juga membuat grup percakapan. Hanya berisi kami berdua.

Namanya: Tim Sukses Buaya (RAHASIA!!!)

“Ini markas strategi,” katanya, memegang ponselnya seperti jenderal memegang peta. “Kita berdua sekutu. Kevin nggak boleh tahu. Cleo pasti nggak boleh tahu. Tugas kita: menyelamatkan temanmu dari kehancuran dan menyelamatkan temanku dari kesepian.”

“Cleo kesepian?”

Davina berhenti. Dia menatap ponselnya sebentar, lalu menatapku.

“Cleo pernah pacaran sama cowok yang mirip Kevin,” katanya pelan. “Ganteng, pinter ngomong, semua orang suka. Dia dimainin. Parah. Sejak itu dia nolak semua cowok yang kelihatan kayak gitu, bahkan sebelum mereka selesai ngomong.” Dia menghela napas. “Dan temanmu itu kelihatan persis kayak gitu.”

Aku memikirkan itu. Kevin dengan senyum giginya, parfum mahalnya, buket lima puluh tangkainya, puisi lampu sen motornya.

“Kevin bukan kayak gitu,” kataku.

“Aku tahu. Kamu tahu. Cleo nggak tahu.”

“Karena Kevin terus berusaha kelihatan.”

Davina memiringkan kepala.

“Kevin terus berusaha bikin Cleo terkesan,” kataku, pelan, menyusun pikiranku seperti menyusun nada. “Bunga. Katering. Puisi. Semuanya buat dilihat. Semua itu yang dilakukan cowok yang mainin Cleo dulu, kan? Yang bikin terkesan.”

“...Iya.”

“Cleo nggak butuh dibikin terkesan.” Aku meletakkan kunci setem. “Dia butuh dilihat.”

Hening.

Aku menoleh ke kanan. Davina sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Bukan senyum mesin. Bukan senyum lesung. Bukan senyum merencanakan sesuatu. Ekspresi keempat. Seperti orang yang baru menemukan sesuatu di sakunya yang dia kira sudah hilang bertahun-tahun.

“Kamu tahu dari mana?” tanyanya pelan.

Aku tidak menjawab. Karena jawabannya duduk di kursi lipat di sebelah kananku, dengan remah keripik singkong di ujung bibirnya.

Dia tidak mendesak. Dia hanya menatapku sebentar lagi, lalu tersenyum—dengan lesung—dan mengetik sesuatu di grup rahasia kami, meskipun aku duduk tiga puluh senti darinya.

Pemilik Sisi Kanan: rapat strategi selesai. keputusan: ajarin buayanya MELIHAT.

Pemilik Sisi Kanan: p.s. kamu ganteng kalau lagi pinter.

Pemilik Sisi Kanan: p.p.s. kamu juga ganteng kalau lagi nggak pinter. aku cuma pengin ngetik ‘ganteng’ dua kali.

Aku membaca pesan itu dengan orangnya duduk di sebelahku, menontonku membaca, dan telingaku terbakar.


Malam itu, aku bicara dengan Kevin.

Aku tidak menceritakan soal masa lalu Cleo—itu bukan hakku. Aku hanya bilang padanya: berhenti.

“Berhenti apa?”

“Berhenti bikin dia terkesan.”

“Terus aku harus ngapain? Diem aja?”

“Perhatiin dia.”

Kevin mengerutkan kening. “Aku sudah perhatiin dia. Aku tahu dia suka paha atas.”

“Bukan yang kayak gitu.” Aku berpikir, mencari cara menjelaskan sesuatu yang selama ini hanya kulakukan tanpa kupikirkan. “Kalau kamu nyetel piano, kamu nggak mukul tutsnya keras-keras biar kedengeran bagus. Kamu dengerin. Kamu cari di mana yang salah. Di mana yang capek. Terus kamu betulin pelan-pelan. Nggak ada yang tepuk tangan. Tapi pianonya tahu.”

Kevin menatapku lama.

“Ar,” katanya. “Itu hal paling romantis yang pernah kamu omongin seumur hidup, dan kamu ngomonginnya soal piano.”

“Aku cuma ngerti piano.”

“Kamu nggak cuma ngerti piano.” Dia menatapku dengan mata menyipit. “Kamu belajar ini dari mana?”

Aku kembali ke meja kerja.


Ronde tujuh.

Kevin tidak menceritakan ronde tujuh padaku. Aku mengetahuinya dari Davina, yang mengirim pesan suara ke grup rahasia pada jam sepuluh malam hari Kamis, berdurasi empat puluh dua detik, yang tiga puluh detik pertamanya hanya berisi pekikan.

Setelah pekikan itu reda, ceritanya begini:

Cleo bekerja empat belas jam di pemotretan katalog pernikahan. Sepatu hak dua belas senti sepanjang hari, karena dia harus mencontohkan cara berjalan untuk para model. Sore harinya, Kevin datang ke studio untuk menjemput klien agensinya—kali ini benar-benar urusan kerja—dan melihat Cleo di lorong.

Dia tidak menyapa. Dia tidak melempar gombalan. Dia tidak membawa bunga.

Dia melihat bagaimana Cleo berjalan. Bagaimana tumit kanannya sedikit terangkat, menghindari tekanan. Bagaimana dia bersandar ke dinding setiap kali tidak ada yang melihat.

Satu jam kemudian, di atas kap mobil Cleo di parkiran, ada sebuah kotak sepatu. Isinya sepasang sandal datar berbahan kain lembut, ukuran tiga puluh delapan. Tidak ada kartu. Tidak ada nama. Tidak ada puisi.

Dan Cleo, menurut laporan Davina, berdiri di parkiran menatap sandal itu selama hampir lima menit.

Lalu dia memakainya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, dia membalas pesan Kevin dengan lebih dari satu kalimat.

Cleo: Ukurannya pas. Kamu tahu dari mana?

Kevin: Aku lihat.

Davina mengirim tangkapan layar percakapan itu—Kevin yang meneruskannya ke Davina dengan empat puluh emoji tangisan—ke grup rahasia kami. Di bawahnya, dia menulis:

Pemilik Sisi Kanan: KITA MENANG RONDE TUJUH

Pemilik Sisi Kanan: ‘aku lihat’ ARYA DIA NGOMONG ‘AKU LIHAT’

Pemilik Sisi Kanan: itu kamu banget. kamu nularin dia.

Aku membaca pesan itu berulang kali. Aku tidak tahu harus merasakan apa. Bangga, mungkin, karena Kevin akhirnya mengerti. Lega, karena perangnya tidak sia-sia.

Tapi yang paling kuat adalah perasaan lain, perasaan yang lebih pelan, di bawah semua itu.

Itu kamu banget.

Dia sudah memperhatikanku cukup lama, dan cukup dekat, untuk tahu apa yang aku banget.


Hari Sabtu, ponselku tidak mengeong.

Aku tahu dia sedang bekerja. Pernikahan besar di Hotel Tentrem, delapan ratus tamu, dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam. Dia sudah memberitahuku tiga hari sebelumnya, dengan pesan doain aku ya, aku bakal senyum 12 jam, pipiku bakal meledak.

Aku bekerja di bengkel seharian. Palu-palu piano gereja dari Klaten. Pekerjaan yang biasanya kusukai, karena lambat dan tenang dan tidak ada yang bicara.

Aku memeriksa ponsel jam sebelas pagi. Tidak ada meongan.

Jam dua siang. Tidak ada.

Jam empat sore, jam lima, jam enam. Tidak ada.

Aku memeriksa ponsel sebelas kali dalam satu hari. Aku menghitungnya, karena aku menghitung semua hal. Sebelas kali. Sama dengan jumlah nggak yang kuucapkan ke Kevin sebelum aku menyerah.

Aku tidak tahu apa artinya itu. Aku memilih untuk tidak memikirkannya.

Jam sepuluh malam, saat aku sudah mematikan lampu kerja dan duduk sendiri di pojok bengkel dengan segelas teh yang sudah dingin, ponselku mengeong.

Pemilik Sisi Kanan: capek.

Pemilik Sisi Kanan: pipi pegel. kaki pegel. semuanya pegel.

Pemilik Sisi Kanan: tapi pas liat hp tadi dan inget mau chat kamu, pipiku pegel yang enak.

Aku menatap pesan itu di gelap. Cahaya layar ponsel memantul di lensa kanan kacamataku.

Aku menimbang apa yang harus kutulis. Aku selalu menulis pendek, karena aku hanya menulis yang benar, dan yang benar biasanya pendek. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku menulis sesuatu yang tidak menjawab pertanyaan. Karena dia tidak bertanya apa-apa.

Aku: Istirahat. Pipimu kerja 12 jam hari ini.

Balasannya datang dalam dua detik.

Pemilik Sisi Kanan: kamu ngitung?

Aku: Aku ngitung.

Tidak ada balasan selama satu menit. Dua menit. Lalu:

Pemilik Sisi Kanan: lesungnya muncul. dua-duanya. padahal aku lagi sendirian di kamar.

Pemilik Sisi Kanan: kamu tanggung jawab ya.

Aku meletakkan ponsel di atas meja kerja, di sebelah garpu tala, dengan layar menghadap ke bawah.

Lalu aku mengambilnya lagi. Dan membaca pesan itu sekali lagi.

Di gelap bengkel, tidak ada yang melihat. Tidak ada Kevin, tidak ada Bu Dosen, tidak ada Kila. Hanya aku, dan piano-piano yang diam, dan satu mata yang bisa melihat dan satu yang tidak.

Aku tersenyum.

Aku tidak tahu apakah aku punya lesung pipit. Aku tidak pernah memeriksa.