← Separuh yang Kulihat

Chapter Thirty Four

Kabut yang Menipis

POV: Davina

Setiap pagi, Arya memberiku laporan cuaca.

Itu dimulai di hari kesembilan. Dia bangun di kasur lipat, masih telungkup, masih dengan wajah di lubang bantal donat. Aku sudah bangun lebih dulu—aku selalu bangun lebih dulu sekarang, karena alarm pertama berbunyi jam enam—dan aku berbaring di lantai di bawahnya, menatap ke atas, ke wajahnya yang menunduk.

“Pagi,” kataku.

“Pagi.”

“Garisnya di mana?”

Dia diam sebentar. Aku tahu dia sedang memeriksa. Menatapku dari atas, lewat mata kanan yang penuh gas, mengukur di mana batas bergoyang itu jatuh di wajahku.

“Di alismu,” katanya.

“Alis kiri atau kanan?”

“Dua-duanya. Garisnya lurus. Di atas garis, buram. Di bawah garis, lebih jelas.”

“Jadi kamu bisa lihat mataku?”

“Bentuknya.”

Aku tersenyum. Aku tahu dia bisa melihat bentuk senyumku, meskipun tidak bisa melihat lesungnya. Aku tidak peduli. Aku tersenyum setiap pagi di lantai bengkel, dan tidak ada satu pun dari senyum itu yang senyum kerja.

Hari kesepuluh: “Di hidungmu.”

Hari kesebelas: “Di bawah hidungmu. Aku bisa lihat mulutmu. Buram.”

Hari kedua belas: “Di dagumu.”

Aku menjerit kecil di lantai. Ibu Arya, yang sedang memasak di kompor kecil di ruang depan, menjatuhkan spatula.

“Kenapa, Nduk?”

“Garisnya di dagu, Bu!”

Ibu Arya berjalan ke ambang pintu ruang belakang, dengan spatula di tangan dan celemek penuh noda kecap, dan menatap kami. Anaknya, telungkup di kasur lipat. Aku, telentang di lantai di bawahnya, dengan rambut berantakan di semen dan kaus abu-abu kebesaran bertuliskan nama toko cat.

“Garis apa?” tanya Ibu Arya.

“Garis gasnya, Bu. Makin turun. Sekarang di dagu. Berarti dia bisa lihat seluruh mukaku di bawah garis.”

Ibu Arya menatapku lama. Lalu dia tertawa, pelan, dan menyeka matanya dengan ujung celemek.

“Kalian ini,” katanya. “Kayak nonton tukang ukur tanah.”


Hari keempat belas, dr. Hendra mengizinkan Arya mengangkat kepala.

Tidak sepenuhnya. Tidak boleh mendongak lama. Tapi dia boleh duduk tegak. Boleh tidur miring. Boleh berjalan dengan kepala lurus, bukan menunduk.

Kami kembali ke bengkel dari rumah sakit dengan perayaan kecil. Kevin membawa martabak manis cokelat-keju. Cleo membawa es teh dua gelas, dengan dua sachet gula untuk salah satunya. Mama dan Papa datang untuk pertama kalinya ke bengkel—Mama membawa rantang, yang langsung dia tukar dengan rantang Ibu Arya, seperti dua diplomat yang bertukar dokumen perjanjian—dan Papa membawa sebuah radio kecil.

“Buat dengerin musik klasik,” kata Papa ke Arya. Dia meletakkan radio itu di meja kerja, di sebelah garpu tala. “Waktu nunduk. Saya dengar dari Vina kamu nunduk dua minggu. Pasti bosan.”

“Makasih, Om.”

“Stasiunnya udah saya setel. Frekuensi 101,4.” Papa berhenti, dan telinganya merah. “Itu stasiun yang saya dengerin tiap pagi sekarang. Sejak kamu nyetel piano Rini.”

Arya menatapnya. Aku melihat dia mengangkat kepala—pelan, hati-hati, untuk pertama kalinya dalam dua minggu—dan menatap Papa lurus. Dengan mata kanan yang masih penuh gas di bagian bawah.

“Om kelihatan,” kata Arya.

Papa berkedip.

“Om kelihatan dari mata sampai kaki,” kata Arya. “Kepalanya masih buram. Tapi Om kelihatan.”

Papa tidak menjawab. Dia hanya menepuk bahu Arya. Bahu kanan. Dua kali. Lalu dia berbalik dan pura-pura sangat tertarik pada piano tegak di dinding, dan Mama menatap punggungnya dengan wajah yang tidak pernah kulihat sejak aku berumur enam tahun.


Di hari kelima belas, Arya berdiri dari kursi dan mencoba berjalan ke pintu dengan kepala tegak.

Dia berhasil tiga langkah. Lalu dia menabrak KURSI PEMILIK SISI KANAN.

“Aduh.”

“Kamu nggak lihat kursinya?”

“Kursinya di bawah.” Dia menatap kursi itu, sekarang terguling dengan bantal kucing di lantai. “Bagian bawah masih gas. Masih buram. Aku lihat atas lebih jelas.”

“Kebalikan dari minggu lalu.”

“Kebalikan dari sebelum operasi,” katanya. “Dulu tirainya di bawah. Sekarang gasnya di atas, tapi cairannya di bawah, tapi garisnya turun, tapi—” Dia berhenti, bingung. “Duniaku kebalik-balik.”

Aku tertawa. Aku mengambil KURSI PEMILIK SISI KANAN dari lantai, membetulkannya, meletakkan bantal kucing di atasnya.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku narasiin. Di bawahmu ada kursi. Di bawahmu ada kaki meja. Di bawahmu ada Kevin.”

“Kenapa ada Kevin di bawahku?”

Kami berdua menatap lantai. Kevin berbaring di sana. Telentang. Di bawah kursi tunduk yang sudah tidak dipakai. Menatap ke atas dengan wajah serius.

“Aku lagi coba,” kata Kevin. “Rasanya jadi Kak Davina dua minggu ini. Lihat Arya dari bawah.”

“Terus?” tanyaku.

“Dari bawah,” kata Kevin, “lubang hidungnya kelihatan gede banget.”

Cleo, dari KURSI ARYA, menutup wajahnya dengan dua tangan.


Ibu Arya pulang ke Magelang di hari keenam belas.

Dia pamit di depan pintu hijau, dengan tas jinjing kain batik dan rantang susun tiga yang sudah kosong. Dia memeluk Arya lama. Dia membisikkan sesuatu di telinga kanannya yang tidak bisa kudengar.

Lalu dia menoleh padaku.

“Nak,” katanya.

“Iya, Bu.”

Dia memelukku. Pelukan yang sama seperti hari pertama dia datang—rantang di tengah, tangan yang menepuk punggungku pelan dan berulang-ulang.

“Ibu titip, ya,” bisiknya.

“Iya, Bu.”

“Dan kamu juga,” katanya, sedikit lebih pelan, “titip diri kamu sendiri. Ke dia.” Dia mundur, menatap wajahku. “Anak Ibu itu bisa lihat hal-hal yang orang lain nggak lihat. Dari dulu. Biar dia lihat kamu, Nak. Yang capek-capeknya juga.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku mengangguk.

Kevin mengantar Ibu Arya ke terminal. Di dalam mobil, sebelum pintunya ditutup, Ibu Arya menurunkan kaca jendela dan berteriak ke arah bengkel:

“Le! Jaketmu! Pasal tiga belas!”

Arya, di ambang pintu hijau, menatap ibunya. Lalu menatapku.

“Kamu kasih tahu Ibu soal pasal tiga belas?”

“Ibu yang bikin pasal tiga belas,” kataku. “Aku cuma kasih nomor.”


Minggu-minggu berikutnya, garisnya terus turun.

Di minggu keempat, garis itu sudah di bagian paling bawah pandangannya. Seperti gelembung kecil yang mengambang di dasar gelas, bergoyang setiap kali dia melangkah. Dunia di atasnya jadi makin jelas, hari demi hari. Seperti kabut pagi yang menipis di atas sawah.

Arya mulai bisa membaca lagi. Huruf raksasa di ponselnya, satu per satu. Lalu huruf yang sedikit lebih kecil. Lalu kertas partitur di atas papan piano—hanya bagian atasnya, hanya not-not yang besar.

Dia belum menyentuh tuts piano. Dia bilang belum saatnya. Dia bilang lagunya harus dimainkan dengan mata yang bisa melihat ujungnya.

Kevin dan Cleo pergi makan bakmi di Kotagede setiap Sabtu malam. Mereka tidak menyebutnya kencan. Kevin menyebutnya pertemuan evaluasi kuliner. Cleo menyebutnya memberi makan buaya supaya dia nggak menggigit orang. Tapi Cleo memakai sandal krem setiap Sabtu malam, dan Kevin selalu memotret kakinya diam-diam dari bawah meja, dan aku tahu, karena Kevin mengirim foto-foto itu ke grup rahasia Tim Sukses Buaya yang ternyata masih ada.

Kevin: Kak, dia pakai sandalnya lagi 🥹

Aku: kevin kamu motret kaki orang dari bawah meja itu creepy

Kevin: aku tahu. aku nggak bisa berhenti.

Dia: Itu grup rahasia. Kenapa Kevin ada di sini?

Kevin: AR KAMU BISA BACA??? HURUFNYA KECIL LHO INI

Dia: Aku perbesar.

Kevin: AR BISA BACA GRUP RAHASIA

Kevin: ya Allah aku nangis lagi di kamar mandi kantor


Di minggu keenam, gasnya hilang.

Aku tahu karena Arya meneleponku jam enam pagi. Bukan pesan. Telepon. Dia hampir tidak pernah menelepon.

“Davina.”

“Hm?” Aku masih setengah tidur. “Kenapa? Matamu kenapa?”

“Garisnya nggak ada.”

Aku duduk tegak di tempat tidur.

“Nggak ada?”

“Aku bangun, aku buka mata, aku cari. Nggak ada. Nggak ada gelembung. Nggak ada garis.” Suaranya aneh. Datar, seperti biasa, tapi ada sesuatu di bawahnya. Nada yang naik. Beberapa sen. “Semuanya satu.”

Aku berlari ke bengkel. Aku tidak mandi. Aku tidak sisir rambut. Aku memakai kaus abu-abu bertuliskan nama toko cat dan celana training dan sandal jepit. Ojekku adalah mas-mas yang sama, yang sudah mengantarku ke bengkel lebih dari lima puluh kali. Dia menatapku lewat spion.

“Mbak, mukanya kok gitu?”

“Pacar saya bisa lihat, Mas.”

Mas-mas ojek diam sebentar. Lalu dia menarik gas lebih kencang.


Arya berdiri di ambang pintu hijau waktu aku datang.

Tanpa kacamata. Kacamata lamanya sudah tidak cocok; minus di mata kanannya berubah setelah operasi, kata dr. Hendra, dan dia harus menunggu gasnya hilang untuk diperiksa ulang.

Dia menatapku.

Dari ujung jalan, sepuluh meter. Aku melihatnya menatapku. Dengan mata kanan, tanpa garis, tanpa gelembung. Aku melihat kepalanya bergerak sedikit, mengikutiku berjalan. Tidak menunduk untuk menaruhku di bagian atas pandangannya. Tidak mendongak untuk menaruhku di bagian bawah.

Hanya menatap. Lurus.

Lima meter. Tiga meter.

Aku berhenti di depannya. Di sisi kanannya.

“Kelihatan?” bisikku.

Dia menatapku lama. Tanpa kacamata, dunia di mata kanannya pasti masih kabur di pinggir-pinggirnya, karena minus. Tapi aku dekat. Cukup dekat.

“Kelihatan,” katanya.

“Jelas?”

“Nggak sejelas dulu.” Dia berhenti. “Tapi jelas.”

“Kelihatan apa?”

Dia mengangkat tangan kanannya. Dia menyentuh wajahku dengan ujung jari. Pelan. Seperti menyentuh tuts yang tidak ingin dia bunyikan terlalu keras. Alis kiriku. Tahi lalat di bawah mata kananku. Bibirku.

Lalu dia berhenti di pipiku.

“Aku belum lihat,” katanya pelan.

“Belum lihat apa?”

“Lesungnya.”

Aku menatapnya. Aku tidak mencoba tersenyum. Aku tidak mencoba memanggilnya. Aku hanya berdiri di depan pintu hijau Bengkel Piano Mahendra, jam tujuh pagi, dengan rambut berantakan dan kaus pinjaman dan sandal jepit, dan menatap laki-laki yang bisa melihat wajahku lagi.

Dan aku merasakannya. Naik dari perut, lewat dada, ke pipi. Bukan dipasang. Bukan dipakai. Naik sendiri, seperti air mendidih.

Dia menatap pipiku.

“Itu,” bisiknya.

“Ada?”

“Ada.” Suaranya pecah. “Dua. Aku lihat dua-duanya.”

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya juga. Di pipi kanannya. Kecil. Satu. Yang hanya aku yang pernah lihat.

Aku menyentuhnya dengan ujung jari.

“Punyamu juga ada,” bisikku.


Kontrol di rumah sakit hari itu berlangsung dua jam.

dr. Hendra memeriksa semuanya. Obat tetes yang dingin. Pupil yang melebar. Cahaya terang disorotkan ke dalam mata, ke atas, ke bawah, ke kiri. Lalu tes-tes yang lain. Membaca huruf di papan. Menatap titik di tengah layar dan menekan tombol setiap kali ada cahaya kecil yang berkedip di pinggir.

Aku menunggu di ruang tunggu dengan Kevin dan Cleo. Kevin makan tiga lemper yang dibekalkan Ibu Arya lewat paket kilat dari Magelang. Cleo memakai sandal krem. Aku memegang kotak kayu kecil di pangkuanku.

Dua jam kemudian, perawat memanggilku masuk.

Arya duduk di kursi pasien. dr. Hendra duduk di balik mejanya, dengan kacamata berbingkai emas dan wajah yang tenang.

“Retinanya menempel,” kata dr. Hendra. “Sempurna. Makula bagus. Penglihatan tengahnya, dengan kacamata yang tepat, akan hampir sama seperti sebelum operasi.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Tapi,” kata dr. Hendra, dan dia menatap Arya, bukan aku, “lapang pandang Mas di bagian bawah luar berkurang. Sedikit. Permanen. Area yang dulu lepas paling lama—di situ retinanya sudah nggak bisa kerja sepenuhnya.” Dia berhenti. “Artinya, dunia Mas sedikit lebih kecil dari sebelumnya. Di sisi kanan bawah. Mas harus lebih hati-hati sama tangga, trotoar, benda-benda rendah.”

Arya mengangguk.

“Dan minusnya berubah. Kita buat kacamata baru.”

Arya mengangguk lagi.

“Mas Arya,” kata dr. Hendra, lebih pelan. “Mas mengerti? Ini bukan seratus persen.”

Arya menatap dokternya. Lalu dia menoleh ke kanan. Ke arahku. Aku berdiri di ambang pintu ruang periksa.

Dia menatapku lama. Dari kursi pasien. Dengan satu-satunya mata yang bisa melihat, yang sekarang bisa melihat sedikit lebih sedikit dari sebelumnya.

“Nggak apa-apa, Dok,” katanya.

“Mas yakin?”

“Saya bisa lihat dia,” kata Arya. “Dari sini. Lesungnya juga.” Dia berhenti. “Selebihnya, dia bisa narasiin.”

dr. Hendra menatapku. Lalu menatap Arya. Lalu dia tertawa—pendek, lelah, lega—dan melepas kacamata berbingkai emasnya untuk menggosok matanya sendiri.

“Satu lagi,” katanya, memakai kacamatanya kembali. “Gasnya sudah habis. Mas sudah boleh naik pesawat.”

Aku berhenti bernapas.

“Saran saya, tunggu satu atau dua bulan lagi untuk perjalanan jauh,” lanjut dr. Hendra. “Biar retinanya benar-benar kuat. Tapi secara medis, sudah aman.”

Arya menoleh padaku lagi.

Aku tidak tahu apa yang ada di wajahku. Aku tidak memeriksa.


Aku menangis di lorong rumah sakit.

Bukan di toilet. Bukan di balik pilar. Bukan di tangga darurat. Di lorong. Di depan kursi-kursi plastik biru dan orang-orang tua dengan penutup mata dan perawat yang lewat membawa map. Di depan Kevin dan Cleo.

Aku menangis keras. Dengan suara. Dengan bahu yang berguncang dan ingus yang tidak kuseka. Aku menangis seperti anak kecil yang baru jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah, dan dia tertawa terus, dan di foto di album keluarga, lesungnya muncul lima detik sebelum dia jatuh.

Kevin menangis juga. Tentu saja. Kevin menangis kalau melihat orang lain menangis. Dia memelukku dari kiri. Cleo, setelah menghela napas panjang, memelukku dari belakang. Dan dari kanan—

Dari kanan, Arya.

Dia memelukku. Dengan tangan kanan melingkar di bahuku, dan wajahnya di rambutku yang belum disisir.

Seorang ibu tua dengan penutup mata di kursi terdekat menatap kami berempat, berpelukan dan menangis di tengah lorong rumah sakit mata. Lalu dia menoleh ke suaminya.

“Pak,” katanya. “Anak-anak zaman sekarang kok nangis-nangisan terus, ya.”

“Mungkin kabar baik, Bu.”

“Oh.” Ibu tua itu menatap kami lagi. Lalu dia tersenyum. “Selamat ya, Mas, Mbak.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku terlalu sibuk menangis.

Di depan semua orang. Tanpa pilar. Tanpa napas empat kali. Tanpa senyum yang dipakai seperti jaket.

Dan tidak ada yang memintaku berhenti.


Di mobil Kevin, dalam perjalanan pulang, Arya duduk di jok belakang di sebelah kiriku. Aku di kanannya. Tentu saja.

Dia menatap ke luar jendela. Ke Jalan Kaliurang yang ramai. Ke toko-toko, ke pohon-pohon, ke motor-motor yang lewat. Dia menatap dengan cara yang aneh. Pelan. Seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh dan melihat kota lamanya dengan mata yang baru.

“Davina,” katanya tanpa menoleh.

“Hm.”

“Pak Darto masih nunggu.”

Aku menatapnya.

“Piano aula,” katanya. “Nada La-nya turun dua belas sen. Mungkin lebih sekarang. Udah berbulan-bulan.” Dia menoleh padaku. “Kamu mau nonton?”

Aku tidak tahu dia tahu. Aku tidak pernah bilang padanya. Aku bilang ke Pak Darto, dan aku minta Pak Darto merahasiakannya, karena aku ingin itu jadi kejutan.

“Pak Darto cerita,” kata Arya, seolah membaca pikiranku. “Waktu aku sakit. Dia bilang ada yang mau jadi orang pertama yang dengar pianonya bener lagi.”

Aku menatapnya. Aku merasakan lesungku muncul lagi. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak mau.

“Pasal sembilan,” kataku.

“Pasal sembilan,” katanya. “Dan satu lagi.”

“Apa?”

Dia menatap lurus ke depan. Ke jalan. Ke kaca depan mobil Kevin, di mana Kevin sedang bernyanyi pelan dengan suara fals dan Cleo sedang pura-pura tidak mendengarkan.

“Lagunya,” kata Arya. “Udah bisa aku mainin sekarang. Sampai ujung.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menyandarkan kepala di bahu kanannya. Di tempat parkir resmiku. Pasal sepuluh.

Dan di luar jendela, Jogja lewat. Pelan. Jelas. Sedikit lebih kecil dari sebelumnya, di sisi kanan bawah.

Tapi cukup.