Chapter Thirty One
Segelas Air di Samping Tempat Tidur
POV: Aries
Tubuhku mulai memberi peringatan sejak siang: tenggorokan kering, kepala berat, dan dingin yang tidak cocok dengan suhu kantor. Aku mengabaikannya sampai Raka meletakkan telapak di dahiku tanpa izin.
“Lo demam.”
“Tangan lo bukan termometer.”
“Benar, tapi wajah lo mirip dokumen gagal audit.”
Aku masih ingin menyelesaikan satu laporan. Raka menutup laptopku dan mengirim pesan kepada Helena sebelum sempat kurebut ponselnya.
“Kenapa kasih tahu dia?”
“Karena gue pengin hidup. Kalau dia tahu gue membiarkan lo pulang sendiri dalam keadaan begini, gue jadi tersangka.”
Ponselku langsung berdering. Nama istriku muncul di layar.
“Halo,” jawabku.
“Duduk di tempat. Aku jemput.”
“Aku bisa menyetir.”
“Itu bukan jawaban yang aku minta.”
“Mobilnya bagaimana?”
“Raka bawa.”
Raka memberi hormat dari seberang meja. Aku menyadari kudeta ini direncanakan sangat cepat.
Dua puluh menit kemudian Helena muncul di kantor. Beberapa rekan kerja yang belum pernah melihatnya langsung menoleh, lalu pura-pura kembali bekerja. Dia tidak memperhatikan reaksi itu. Tatapannya hanya mencari wajahku.
“Berdiri bisa?” tanyanya.
“Bisa.”
“Bagus. Jangan sok kuat.”
Dia mengambil tasku. Aku mencoba merebut, tetapi satu tatapannya cukup membuat tanganku turun. Raka menyelipkan laptop ke dalam tas tanpa charger agar aku tidak bekerja di rumah.
“Pengkhianat,” kataku.
“Pahlawan kesehatan masyarakat,” jawabnya.
Di mobil, Helena menyalakan pendingin paling rendah dan menyuruhku menyandarkan kursi. Aku masih mencoba membahas makan malam ketika dia menyentuh dahiku.
“Panas.”
“Aku memang menarik.”
“Kalau masih bisa menggoda berarti belum sekarat.”
“Dokter yang kejam.”
“Pasien yang cerewet.”
Sesampainya di rumah, aku berniat tidur di kamar sendiri agar tidak menularkan. Helena mengantar sampai ranjang, mengambil termometer, lalu menelepon dokter keluarga. Semua gerakannya teratur seolah ia sudah mempelajari prosedur ini.
Baru ketika ia membuka laci dan mengeluarkan obat yang tepat, aku teringat motif lama yang selalu kulakukan untuknya. Kali ini gelas air berada di tangannya.
“Minum,” katanya.
“Nanti.”
“Sekarang.”
Aku menerima obat dan menghabiskan air. Helena menarik selimut sampai dadaku, kemudian meletakkan gelas isi ulang di nakas.
Pemandangan itu sederhana, tetapi sesuatu di dalam diriku terasa penuh. Selama bertahun-tahun aku membayangkan kebahagiaan sebagai kemampuan memastikan ia tidak kekurangan apa pun. Aku tidak pernah membayangkan betapa hangatnya menjadi orang yang gelasnya diisi.
“Kenapa lihat gelas begitu?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
“Jawaban lama.”
Aku mengoreksi diri. “Aku senang kamu menyiapkannya.”
Ekspresinya langsung melunak. “Bagus.”
Helena hendak keluar untuk membuat bubur. Tanganku menangkap pergelangannya sebelum sempat berpikir.
“Jangan pergi jauh.”
Dia menatap genggamanku, lalu kembali duduk. “Aku cuma ke dapur.”
“Iya. Maaf.”
“Jangan minta maaf karena minta ditemani.”
Aku melepaskan sedikit, tetapi dia membalik tangannya dan menyelipkan jari-jari di antara jemariku.
“Aku pesan bubur saja,” katanya. “Teknologi diciptakan supaya istri tetap bisa menjaga suami manja.”
“Aku baru minta satu kali.”
“Statistiknya melonjak seratus persen.”
Demam membuatku terlalu lambat menyiapkan balasan. Helena menang mudah dan tampak sangat puas.
Dia bekerja dari kursi dekat ranjang sambil menunggu pesanan. Setiap beberapa menit tangannya menyentuh dahiku. Aku mengatakan suhu tubuh tidak berubah secepat itu. Dia menjawab dirinya sedang melakukan kontrol kualitas.
Nadia menelepon lewat video untuk memastikan aku belum meninggal. Helena mengarahkan kamera ke wajahku tanpa persetujuan.
“Masih hidup,” kata Nadia. “Walau tampilannya kurang meyakinkan.”
“Terima kasih atas kepeduliannya,” jawabku.
“Aku peduli sama Kak Helena. Kalau Kak Aries sakit terlalu lama, dia ikut galak ke semua orang.”
Helena memutus sambungan. Beberapa detik kemudian pesan dari Nadia masuk ke ponselku: semangat, pasien. Aku menunjukkan layar dan kami tertawa pelan. Comedy dari luar kamar membuat sakitku terasa kurang mengurung.
Ketika bubur datang, aku mencoba duduk sendiri. Kepala langsung berputar. Helena menopang bahuku dan menumpuk bantal di belakang.
“Aku bisa makan sendiri,” kataku.
“Aku tahu.”
Jawaban yang sama dari hari sarapan. Dia menyerahkan mangkuk dan tidak memaksa menyuapi. Perawatannya tidak mengambil kemampuanku; ia hanya hadir di sisi kemampuan itu.
Aku menghabiskan setengah sebelum menyerah. Helena tidak memaksa sisa mangkuk. Dia mencatat jam minum obat di ponselnya dan memasang alarm.
Dokter menelepon untuk menanyakan gejala. Helena menyebut semuanya dengan rinci, termasuk berapa banyak air yang kuminum dan kapan terakhir makan. Aku mencoba menyela bahwa batukku tidak parah. Dia menutup mikrofon.
“Pasien punya kecenderungan mengecilkan keluhan,” katanya kepada dokter.
“Fitnah medis,” protesku.
Dokter tertawa dari pengeras suara dan menyuruhku istirahat dua hari. Helena langsung mengirim pesan ke asistensku untuk membatalkan rapat pagi. Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu mengambil alih kantor aku?”
“Aku menjalankan rekomendasi profesional.”
“Kamu menikmati kekuasaan ini.”
“Sedikit.”
Dulu aku mungkin akan diam-diam membuka laptop setelah dia pergi. Kali ini aku menyerahkan kata sandi surel kerja agar asistanku bisa mengambil dokumen yang diperlukan, lalu mematikan ponsel. Pilihan itu terasa seperti bentuk percaya yang tidak kalah besar dari meminta ditemani.
“Kamu belajar dari kotak itu?” tanyaku.
“Sebagian.”
Rasa bersalah datang. “Aku minta maaf kamu harus menemukannya begitu.”
“Aku juga. Tapi sekarang berhenti meminta maaf dan tidur.”
“Perintah lagi?”
“Permintaan yang disampaikan dengan ancaman.”
Aku tertidur dengan tangannya masih dalam genggamanku.
Saat bangun, kamar sudah gelap. Gelas di nakas kembali penuh. Ada kain kompres baru, obat berikutnya, dan catatan tulisan tangannya: Aku di ruang kerja. Panggil, jangan sok mandiri.
Aku tertawa kecil lalu batuk. Alih-alih bangun, aku mengirim pesan: Tolong ke sini.
Pintu terbuka kurang dari satu menit. Helena muncul membawa laptop, wajahnya khawatir.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Terus panggil?”
Aku merasa konyol, tetapi memaksa diri menjawab jujur. “Aku ingin lihat kamu.”
Dia berhenti di sisi ranjang. Senyum perlahan tumbuh, bukan mengejek, melainkan seperti seseorang yang baru menerima hadiah.
“Geser,” katanya.
“Nanti tertular.”
“Aku duduk di atas selimut.”
Dia bersandar pada kepala ranjang di sampingku. Aku meletakkan kepala di pahanya, sesuatu yang tidak akan kulakukan dalam keadaan sehat karena terlalu sadar diri. Jemarinya masuk ke rambutku.
Aku teringat masa kecil ketika sakit selalu berarti berusaha tidak merepotkan siapa pun. Mama merawatku, tetapi aku belajar cepat mengatakan sudah membaik agar ia bisa kembali bekerja. Kebiasaan itu tumbuh menjadi keyakinan bahwa menjadi mudah dicintai berarti memiliki sedikit kebutuhan.
“Kamu melamun,” kata Helena.
“Aku baru sadar aku sudah lama latihan bilang nggak perlu.”
Tangannya berhenti sesaat. “Sekarang latihan bilang perlu.”
Aku menatap langit-langit. “Aku perlu kamu.”
Kalimat itu keluar serak, mungkin karena demam, mungkin karena takut. Jemarinya kembali mengusap rambutku.
“Aku di sini,” jawabnya.
Tidak ada lelucon setelahnya. Kami membiarkan pengakuan itu tinggal di kamar, sederhana dan tanpa syarat.
“Nyaman?” tanyanya.
“Iya.”
“Butuh apa lagi?”
“Air nanti.”
“Oke.”
“Dan kamu tetap di sini sampai aku tidur.”
“Oke.”
Meminta dua hal berturut-turut tidak membuat dunia runtuh. Helena tidak tampak terbebani. Justru sentuhannya menjadi lebih ringan, seolah akhirnya aku membuka pintu yang selama ini ia ketuk.
Pagi berikutnya demam turun. Aku bangun dan menemukan ia tertidur miring di sampingku, masih di atas selimut, laptop tertutup di kursi. Tangannya berada dekat gelas air, seakan bahkan dalam tidur siap meraihnya.
Aku tidak membangunkannya. Namun kali ini aku juga tidak bangun diam-diam untuk membuat sarapan. Aku tetap berbaring, membiarkan tubuh beristirahat dan membiarkan seseorang menjaga.
Ketika alarm obat berbunyi, Helena terkejut sampai hampir jatuh dari sisi ranjang. Aku menangkap lengannya dan tertawa, lalu batuk karena tertawa terlalu keras.
“Jangan ketawa. Ini pengorbanan istri teladan,” katanya sambil mematikan alarm.
“Istri teladan yang hampir mencederai diri sendiri.”
“Pasiennya harus lebih menghargai dedikasi.”
Dia menyerahkan obat dan gelas. Aku meminumnya tanpa menawar waktu, membuatnya mengangkat alis puas. Kemajuan kami mungkin terlihat konyol dari luar, tetapi bagiku tindakan menerima segelas air tanpa berkata nanti adalah pembongkaran kebiasaan puluhan tahun.
Ketika Helena terbangun, hal pertama yang ia lakukan adalah menyentuh dahiku. “Sudah lebih dingin.”
“Dokter tangan kembali bekerja.”
“Biaya konsultasinya mahal.”
“Berapa?”
“Satu pelukan.”
Aku membuka kedua tangan. Dia masuk tanpa ragu, hati-hati agar tidak menekan tubuhku. Aku memeluknya dan menutup mata.
Gelas air di nakas terkena cahaya pagi. Benda yang sangat biasa itu pernah menjadi caraku mencintai tanpa suara. Sekarang ia menjadi bukti bahwa cinta bisa kembali kepadaku tanpa berubah menjadi utang, dan aku akhirnya cukup berani untuk meminumnya sampai habis.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur reading
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang