Chapter Eighteen
Istri yang Sedang Menggoda
POV: Helena
Aku memutuskan menggoda Aries secara sadar pada Sabtu pagi. Keputusan itu lahir setelah Nadia berkata aku tidak boleh terus mencium laki-laki lalu membuatnya menebak apakah ia boleh bernapas.
Aries sedang membaca di sofa. Aku duduk di ujung lain, lalu bergeser sampai paha kami bersentuhan.
Ia membalik halaman.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya. Aries tetap membaca, meski matanya tidak berpindah dari paragraf yang sama.
“Bukunya bagus?” tanyaku.
“Tadi bagus.”
“Sekarang?”
“Ada gangguan.”
Aku menarik tangannya dan meletakkannya di pinggangku. “Gangguannya seperti ini?”
Napas Aries berubah, tetapi ia hanya memegangku ringan. “Kamu sedang apa?”
“Duduk sama suami sendiri.”
“Biasanya duduk nggak perlu strategi militer.”
Aku mengangkat wajah. “Kamu nggak suka?”
“Aku sedang berusaha memastikan kamu benar-benar mau, bukan sedang menguji apakah aku bisa menahan diri.”
Kejujurannya membuat permainan terasa terlalu nyata. “Dua-duanya.”
Aries menutup buku. “Kalau tujuan kamu membuat aku kacau, berhasil.”
“Wajah kamu masih tenang.”
Ia mengambil tanganku dan menempelkannya ke dadanya. Detaknya cepat.
“Jangan percaya wajah analis risiko.”
Aku tersenyum. Mengetahui aku memengaruhinya memberi keberanian baru.
“Nilai ciuman pertama aku berapa?” tanyaku.
“Nggak bisa dinilai. Terlalu singkat.”
“Protes?”
“Observasi.”
Aku berlutut di sofa agar sejajar. “Kalau mau memperbaiki data, bilang.”
Tatapan Aries turun ke bibirku. “Aku mau mencium kamu.”
Tidak ada kalimat terselubung atau gerakan yang memaksaku mengikuti. Keinginannya diletakkan di antara kami untuk kujawab.
“Boleh,” kataku.
Aries menyentuh pipiku sebelum mendekat. Ciumannya lembut, lebih lama daripada ciuman impulsifku, tetapi tetap memberi ruang untuk mundur. Aku tidak mundur. Tanganku mencengkeram kemejanya dan membalas.
Ketika kami berhenti, dahinya tetap menempel pada dahiku.
“Masih oke?” tanyanya.
“Oke.”
“Yakin?”
“Kalau tanya tiga kali, nilainya turun.”
Aries tertawa, napasnya masih tidak teratur. “Sekarang berapa?”
“Delapan.”
“Kriterianya?”
“Rahasia juri.”
Ia hendak mendekat lagi, lalu berhenti. “Boleh mencoba naik?”
Aku menekan telunjuk ke bibirnya. “Ujiannya selesai hari ini.”
“Kejam.”
“Biar ada motivasi.”
Aku kembali duduk di bawah lengannya. Aries membuka buku, tetapi kali ini memegangnya terbalik.
“Bukunya,” kataku.
Ia melihat sampul yang berada di bawah lalu menutupnya. “Istri aku merusak literasi.”
Aku tertawa dan menyandarkan kepala lagi. Godaan itu bukan lagi cara menutupi ketertarikan. Aku sudah mengatakan boleh, membalas, dan tetap tinggal setelahnya.
Sore hari Nadia menelepon dan menanyakan hasil eksperimen. Aku bilang penilaian sementara delapan.
“Delapan dari sepuluh?”
“Iya.”
Suara Aries muncul dari dapur. “Sistem penilaiannya nggak transparan.”
Nadia berteriak kegirangan. Aku memutus sambungan sebelum ia meminta laporan teknis.
Aries kembali membawa dua kopi. Ia memberiku satu lalu duduk, tidak menggunakan ciuman tadi sebagai alasan untuk terus menyentuh.
Aku yang menyelipkan diri ke sisinya.
“Sekarang apa?” tanyanya.
“Menikmati efek setelah ujian.”
Tangannya melingkar di pinggangku. “Bagian ini dinilai?”
“Bagian ini bonus.”
Aku belum mengatakan cinta. Namun untuk pertama kalinya aku tidak menyangkal keinginan, tidak kabur setelah ciuman, dan tidak membiarkan Aries sendirian menafsirkan apa artinya. Hari itu aku memilihnya dengan tubuh dan suara yang sama-sama sadar.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda reading
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang