Chapter Thirteen

Cemburu yang Nggak Punya Hak

POV: Aries

Helena memberi tahu saat sarapan bahwa ia akan makan malam dengan Adrian, rekan kuliah yang datang dari Surabaya untuk membahas proyek. Ia menyampaikannya seperti informasi jadwal biasa.

“Pulang mungkin jam sembilan,” katanya.

“Oke.”

Kata itu keluar terlalu mudah. Di bawah meja, jariku menekan gagang cangkir.

Aku pernah bertemu Adrian. Cerdas, ramah, belum menikah, dan cukup nyaman dengan Helena untuk memanggilnya Lena—panggilan yang bahkan keluarganya jarang gunakan.

“Kalian berdua?” tanyaku.

Helena mengangkat wajah. “Awalnya berdua. Timnya mungkin menyusul.”

“Baik.”

Aku ingin bertanya kenapa harus makan malam, kenapa tidak rapat siang, dan apakah Adrian tahu batas. Semua pertanyaan itu kutelan karena pernikahan tidak memberiku hak mengubah persahabatan Helena menjadi tersangka.

Sore hari, Raka memergokiku melihat jam untuk kelima kalinya.

“Ada bom waktu?”

“Nggak.”

“Istri lo makan malam sama cowok itu, ya?”

Aku menatapnya. “Dari mana tahu?”

“Muka lo seperti orang yang bilang santai sambil merencanakan audit pajak.”

Aku kembali ke laptop. “Dia bebas bertemu siapa pun.”

“Benar. Lo juga bebas bilang lo cemburu.”

“Buat apa? Supaya dia batal karena merasa bersalah?”

Raka duduk di ujung meja. “Bilang perasaan beda sama memberi perintah.”

Secara logika aku tahu. Namun aku terlalu takut kebutuhan akan terdengar sebagai tuntutan. Lebih aman menjadi suami yang selalu mengerti daripada mengakui ada bagian diriku yang ingin diprioritaskan.

Pukul delapan lewat, Helena mengirim foto meja makan. Ada tiga orang lain bersama mereka. Ketegangan di dada turun, disusul rasa malu karena lega hanya setelah melihat bukti.

Aku membalas: Semoga lancar. Hati-hati pulang.

Ia mengetik lama sebelum menjawab: Cuma itu?

Aku tidak tahu apa yang diharapkannya. Kutulis: Mau dijemput?

Nggak usah. Aku bawa mobil.

Setelah itu tidak ada pesan lagi.

Helena pulang pukul sembilan kurang. Aku berada di ruang tengah dengan laptop terbuka dan satu halaman yang tidak berubah selama setengah jam.

“Sudah makan?” tanyaku.

Ia meletakkan tas. “Sudah.”

“Pertemuannya lancar?”

“Lancar.”

Kami terdengar seperti dua orang yang baru menikah kemarin.

Helena berdiri di depanku. “Kamu marah?”

“Nggak.”

“Cemburu?”

Aku bisa menyangkal dan mengembalikan kenyamanan palsu. Wajahnya menunjukkan ia sudah tahu jawabannya.

“Iya,” kataku.

Helena duduk di meja rendah, tepat di depanku. “Kenapa nggak bilang?”

“Karena itu perasaan aku, bukan kesalahan kamu.”

“Aku nggak bilang itu kesalahan aku.”

“Aku nggak mau kamu merasa harus membatalkan.”

“Aku mungkin nggak akan batal. Tapi aku bisa menjelaskan Adrian bawa timnya, atau mengajak kamu datang setelah kerja.”

Kemungkinan sederhana itu tidak pernah kupikirkan karena aku sudah sibuk melindunginya dari permintaan yang belum kuucapkan.

“Aku nggak mau mengatur,” kataku.

“Memberi tahu kamu cemburu bukan mengatur. Memutuskan respons aku sebelum bertanya justru mengambil pilihan aku.”

Kalimat itu mengenai pusat cacatku. Dengan menahan semua kebutuhan, aku mengira sedang memberinya kebebasan. Padahal aku juga menutup pintu agar ia tidak bisa memilih merawatku.

“Maaf,” kataku.

“Jangan minta maaf karena cemburu. Minta maaf kalau nanti menyuruh aku berhenti punya teman.”

“Aku nggak akan.”

“Bagus.”

Ia mengulurkan tangan. Aku menggenggamnya.

“Untuk informasi,” katanya, “aku nggak suka dipanggil Lena sama Adrian.”

“Kenapa dibiarkan?”

“Karena aku lupa mengoreksi.” Senyumnya muncul. “Tapi wajah kamu barusan lucu.”

“Aku sedang jujur. Jangan dihina.”

“Aku menghargai kejujurannya.” Helena mendekat sedikit. “Dan aku agak senang kamu cemburu.”

“Kenapa?”

“Biar adil. Aku sudah pernah kesal lihat perempuan pegang lengan kamu.”

Rasa hangat yang sangat tidak dewasa memenuhi dada. “Jadi kita impas?”

“Bukan skor.”

“Kamu belajar cepat.”

Helena berdiri sambil tetap menggenggam tanganku. “Lain kali, bilang. Aku nggak bisa memilih kamu kalau kamu menyembunyikan semua pilihan.”

Ia naik ke kamar, meninggalkanku dengan kalimat yang jauh lebih menakutkan daripada kecemburuan tadi.

Aku selalu menganggap cinta terbaik adalah cinta yang tidak meminta. Malam itu aku mulai mengerti: kadang tidak meminta juga berarti tidak mempercayai orang yang dicintai untuk menjawab dengan bebas.