Chapter Seven

Dua Jam di Bahuku

POV: Aries

Helena memilih film berdurasi hampir tiga jam lalu tertidur pada menit kedua puluh. Kepalanya jatuh ke bahuku, tangannya melingkari lenganku, dan dalam satu detik aku kehilangan hak bergerak.

Di layar, tokoh utama sedang melompat dari gedung. Aku lebih sibuk mengatur napas agar dada tidak bergerak terlalu jelas.

Aku bisa membangunkannya. Minggu ini ia pulang terlambat tiga malam berturut-turut dan masih turun untuk sarapan bersamaku setiap pagi. Lingkaran gelap di bawah matanya membuat keputusan itu mudah: aku membiarkannya tidur.

Empat puluh menit kemudian lengan kiriku mulai kebas.

Aku mencoba menggerakkan jari. Helena menggumam, lalu memeluk lebih erat.

“Baik,” bisikku. “Kamu menang.”

Ponselku bergetar di meja. Raka menelepon, kemungkinan hendak mengantar dokumen yang kutinggalkan. Aku tidak bisa menjangkau layar tanpa menggeser Helena. Telepon berhenti, lalu bel rumah berbunyi.

Aku menutup mata. Raka tahu kode pintu.

Dia masuk sambil membawa map, berhenti di ruang tengah, dan memandang kami dengan ekspresi seseorang yang baru menemukan bahan ejekan untuk sepuluh tahun.

Aku mengangkat telunjuk ke bibir.

Raka menunjuk lenganku dan membentuk kata mati rasa dengan bibir.

Aku mengangguk.

Dia mengangkat ponsel untuk memotret. Tatapanku membuatnya berpikir ulang, tetapi sebelum pergi ia meletakkan obat oles otot di samping map.

Sahabat yang baik akan menolong. Raka memilih dokumentasi medis untuk memperpanjang lelucon.

Film berakhir dua jam kemudian. Helena terbangun saat musik kredit berbunyi. Dia menatap layar, kemudian tangannya yang masih memeluk lenganku.

Dia melepaskannya secepat tersentuh api. “Aku tidur?”

“Nggak. Kamu sedang menguji daya tahan bahu manusia.”

Wajahnya memerah. “Kenapa nggak bangunin?”

“Kamu capek.”

“Tangan kamu bagaimana?”

Aku mencoba mengangkatnya. Lengan itu hanya bergerak sedikit sebelum jatuh lagi.

Helena menutup wajah. “Ya Tuhan. Berapa lama?”

“Dua jam kurang beberapa menit.”

“Kamu bodoh.”

“Informasi itu sudah sering disampaikan.”

Dia segera bergeser mendekat dan memijat bahuku. Tekanannya terlalu pelan untuk membantu, tetapi keseriusan di wajahnya membuatku tidak ingin menghentikan.

“Sakit di sini?” tanyanya.

“Sedikit ke kanan.”

Jarinya berpindah. Aku mengangguk, lalu sadar situasi ini jauh lebih berbahaya daripada rasa kebas.

“Kenapa kamu bisa diam selama itu?”

Jawaban jujurnya adalah karena berat kepalanya merupakan sesuatu yang sudah lama kuinginkan tanpa berhak kuminta. Aku tidak bisa memberikan jawaban itu sekarang.

“Filmnya mahal,” kataku. “Sayang kalau terganggu.”

Helena menekan bahuku lebih keras. Aku meringis.

“Itu hukuman karena bohong,” katanya.

Aku menatapnya. “Kamu tahu aku bohong?”

“Filmnya jelek. Kamu bahkan nggak ingat nama tokoh utama.”

Dia benar. Aku tidak ingat separuh cerita karena terlalu sadar pada napasnya di leherku.

“Aku nggak membangunkan karena kamu kelihatan butuh tidur,” jawabku akhirnya. “Nggak ada alasan lain yang perlu kamu tanggung.”

Tangan Helena berhenti. Kata tanggung mungkin membuatnya sadar aku sedang menutup pintu sebelum ia merasa berutang.

“Kalau sakit, kamu boleh membangunkan aku,” katanya. “Aku nggak akan marah.”

“Dicatat.”

“Dan kalau aku tertidur lagi, geser saja.”

“Siap.”

Kami sama-sama tahu aku mungkin tidak akan melakukannya.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Raka masuk ke grup kecil kami: Turut berduka untuk lengan kiri Aries. Semoga jasanya dikenang.

Helena membaca, lalu menoleh pelan. “Raka tadi ke sini?”

“Sebentar.”

“Dia lihat?”

“Cukup untuk menjadi ancaman keamanan.”

Helena menelepon Raka saat itu juga. “Kalau ada foto, hapus.”

Suara Raka terdengar dari pengeras. “Nggak ada foto. Gue masih ingin hidup.”

“Bagus.”

“Tapi gue sudah pesan plakat Bantal Suami Terbaik.”

Helena memutus sambungan dan melempar bantal sofa ke arah pintu, seolah Raka masih berdiri di sana. Aku tertawa sampai bahuku sakit lagi.

“Jangan ketawa,” katanya sambil mengambil obat oles yang ditinggalkan Raka.

“Sulit.”

Dia mengoleskan obat dengan hati-hati. Kali ini tekanannya tepat. Perhatiannya tidak terasa seperti pembayaran; ia tidak sedang menghitung dua jam lalu membalas dua jam perawatan. Ia hanya tidak ingin aku kesakitan karena dirinya.

Setelah tanganku pulih, aku meraih remote. “Mau ulang dari awal?”

“Nggak. Filmnya memang jelek.”

“Terus?”

Helena mengambil bantal lain dan meletakkannya di antara kami. “Cari yang lebih pendek.”

Aku memilih film komedi sembilan puluh menit. Sepuluh menit kemudian bantal pembatas jatuh ke lantai karena Helena bergeser mengambil camilan. Bahu kami kembali bersentuhan.

Dia menyadarinya, tetapi tidak pindah.

Menjelang akhir film, Helena menguap. Kali ini ia menoleh kepadaku sebelum menyandarkan kepala ke bahu kanan.

“Boleh?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat seluruh penderitaan lengan kiriku terasa pantas.

“Boleh.”

“Kalau kebas, bilang.”

“Aku akan bilang.”

Kami tahu kemungkinan aku menepatinya kecil, tetapi ada hal yang lebih penting: kali ini ia memilih kedekatan itu dalam keadaan sadar. Aku mengangkat selimut menutupi kakinya, lalu membiarkan kepalanya menetap sampai kredit selesai.

Di tengah film, ia mengangkat kepala. “Sudah mulai kebas?”

“Belum.”

Helena mengamati wajahku seperti sedang mencari kebohongan. Lalu ia mengubah posisi, menyelipkan bantal kecil di antara bahu dan kepalanya agar beratnya tidak sepenuhnya kutahan.

“Begini lebih aman,” katanya.

Aku hampir mengatakan tidak perlu, tetapi itu akan menolak caranya menjaga kenyamanan kami berdua. “Lebih nyaman,” aku mengakui.

Ia kembali bersandar. Perubahan kecil itu membuat adegan tersebut bukan lagi cerita tentang aku diam-diam menanggung sakit demi kedekatan. Helena hadir di dalam keputusan itu. Ia meminta izin, memeriksa keadaanku, lalu menyesuaikan diri.

Setelah film selesai, ia tidak langsung berdiri. “Kamu sering begitu, ya?”

“Begitu bagaimana?”

“Membiarkan sesuatu sakit selama orang lain nyaman.”

Pertanyaannya terlalu dekat dengan kebiasaan yang tak pernah kupikirkan sebagai masalah. Aku mengangkat bahu kanan, satu-satunya yang bisa bergerak bebas.

“Nggak selalu.”

“Barusan dua jam.”

“Kamu butuh tidur.”

“Dan kamu butuh lengan.”

Aku tertawa, tetapi Helena tidak. Tatapannya membuatku menjawab lebih serius.

“Kadang lebih mudah diam daripada membuat orang merasa bersalah.”

“Kalau kamu bilang dari awal, aku bisa pindah tanpa merasa bersalah.”

Ia menyentuh bantal kecil di bahuku. Solusi itu begitu sederhana sampai aku tidak punya bantahan.

“Lain kali bilang,” katanya.

“Lain kali?”

Baru setelah kata itu keluar, Helena sadar ia baru saja mengandaikan akan bersandar lagi. Pipinya memerah.

“Kalau ada,” jawabnya cepat.

Aku menahan senyum. “Baik. Kalau ada.”

Percakapan itu berakhir sebagai godaan, tetapi pesannya tinggal. Menjaga seseorang tidak harus berarti meniadakan rasa sakit sendiri. Bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan memahami betapa pentingnya pelajaran kecil dari sebuah bantal yang diselipkan istriku di bahu.

Ketika ia masuk kamar, Helena menoleh dari pintu. “Bahu kanan lebih nyaman.”

“Profil kanan aku memang lebih bagus.”

Dia tertawa dan menutup pintu.

Aku memijat lengan kiri yang masih kesemutan. Rasa sakitnya akan hilang besok. Yang lebih sulit hilang adalah kesadaran bahwa malam ini Helena tidak hanya merasa aman di rumah ini. Ia mulai merasa aman bersandar padaku.