Chapter Seventeen

Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini

POV: Aries

Aku mencintai Helena jauh sebelum cincin berada di jarinya. Semuanya dimulai di lorong belakang gedung pesta, ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikannya.

Empat tahun lalu aku kembali ke gedung karena kunci mobil tertinggal. Para tamu sudah pulang dan dekorasi sedang dibongkar. Seorang staf katering perempuan tua duduk pucat di lantai sambil memegang dada.

Helena berjongkok di sampingnya. Gaun mahalnya menyentuh lantai, sepatu haknya tergeletak, dan buku menu dipakai untuk mengipasi perempuan itu.

“Tolong ambil air hangat,” katanya ketika melihatku.

Aku mengambil air dan memanggil petugas medis. Helena ikut sampai klinik meski keluarganya sudah menelepon berkali-kali.

Di ruang tunggu ia duduk dengan kaki lecet dan riasan yang mulai pudar. Aku bertanya kenapa tidak pulang.

“Kalau aku yang sakit dan sendirian, aku juga pengin ada orang yang nunggu.”

Ia mengatakannya tanpa tahu kalimat itu akan menetap bertahun-tahun.

Setelah malam itu, aku mulai memperhatikan dari pertemuan keluarga ke pertemuan berikutnya. Helena selalu meninggalkan jejak kebaikan saat tak ada penonton: mengingat nama sopir, menyisihkan makanan untuk staf, duduk bersama anak kecil yang menangis di acara membosankan.

Aku jatuh cinta kepada perempuan yang baik ketika tidak ada kamera.

Sekarang perempuan itu baru saja menciumku, lalu meminta aku tidak membuang kenangannya. Aku membawa kebahagiaan tersebut ke kantor seperti rahasia yang terlalu terang.

Raka melihatku menatap layar mati. “Akhirnya dicium?”

Aku mengangkat alis. “Nadia memang nggak bisa simpan rahasia?”

“Bukan Nadia. Muka lo.”

Ia duduk di depan meja. “Lo balas?”

“Nggak. Dia panik.”

“Bagus lo berhenti. Tapi hati-hati, mundur terus juga bisa terasa seperti penolakan.”

Kalimat itu mengusik. Selama ini aku percaya mundur selalu bentuk hormat. Namun jika Helena sedang berjalan mendekat, menjauh tanpa penjelasan akan membuatnya menanggung keberanian sendirian.

Malamnya ia membaca di sofa. Aku hampir memilih kursi seberang, lalu duduk di sampingnya.

“Boleh?” tanyaku.

“Kamu sudah duduk.”

“Aku bisa pindah.”

“Jangan.”

Bahu kami bersentuhan. Aku menahan keinginan untuk mengubah kontak kecil itu menjadi lebih.

“Soal kemarin,” kataku. “Aku nggak mau diam aku dianggap penolakan.”

Helena menutup buku. “Bukan?”

Aku tertawa pendek. “Aku butuh seluruh pengendalian diri supaya nggak mencium kamu balik.”

Buku di tangannya turun. “Oh.”

“Tapi kamu panik. Jadi aku berhenti.”

“Kalau aku nggak panik?”

“Aku akan tanya dulu.”

Ia menatapku lama, kemudian menyandarkan kepala ke bahuku. “Belum sekarang.”

“Oke.”

“Tapi bukan berarti nggak mau.”

Jantungku berdenyut terlalu keras. “Kamu sengaja menyiksa aku?”

“Sedikit.”

Tawa kami memecah ketegangan tanpa menghapus makna di bawahnya. Untuk pertama kalinya aku tidak hanya memberi ruang; aku mengatakan apa yang kuinginkan di dalam ruang itu.

Sebelum tidur, aku membuka laci meja kerja. Kartu klinik dari malam empat tahun lalu masih ada. Di belakangnya terdapat catatan pertama yang pernah kutulis tentang Helena: alergi pada jenis plester tertentu, kaki lecet, pastikan ada yang mengantar pulang.

Catatan praktis itu kemudian bertambah, tetapi ia belum perlu melihat seluruhnya. Empat tahun cinta bisa terasa seperti gunung bagi seseorang yang baru mulai berjalan ke arahku.

Aku menutup laci. Menyimpan sejarah untuk waktu yang tepat berbeda dari menggunakannya sebagai utang. Aku ingin Helena memilih versi diriku yang ia kenal sekarang, bukan merasa wajib membalas lelaki yang diam-diam mengingat terlalu banyak.

Ketika keluar, ia menunggu di koridor.

“Permintaan hari ini?” tanyanya.

Aku memikirkan nasihat Raka. “Pegang tangan aku sampai kamu ngantuk.”

Kami duduk di lantai dekat dua pintu kamar. Jemarinya masuk di antara jemariku. Lima belas menit kemudian kepalanya jatuh ke bahu.

Aku tidak meminta ciuman lain. Namun kali ini aku juga tidak berpura-pura bahwa sedikit saja selalu cukup. Aku membiarkan diriku menginginkan hari ketika Helena menciumku lagi dan tidak meminta melupakannya.

Cinta itu sudah ada sebelum cincin. Bedanya, sekarang untuk pertama kalinya ada kemungkinan aku tidak akan terus mencintai sendirian.