Chapter Thirty Three

Belajar Meminta

POV: Aries

Tiga hari setelah Helena mengatakan cinta, aku masih terbangun dengan kebutuhan memastikan malam itu benar-benar terjadi. Bukti pertama biasanya berupa catatan di nakas. Pagi ini tulisannya: Aku mencintai kamu. Jangan senyum sendirian seperti orang aneh.

Aku sedang tersenyum ketika dia membuka pintu tanpa mengetuk.

“Tuh, kan.”

“Aku baru baca.”

“Kertasnya aku taruh sebelum tidur.”

“Aku membaca pelan.”

Dia merebut catatan itu, lalu melihat bekas lipatan di saku piyamaku. “Kamu bawa tidur?”

“Bisa dipakai sebagai barang bukti.”

“Bukti apa?”

“Kalau suatu hari kamu menyangkal.”

Helena menatapku beberapa detik, kemudian duduk di tepi ranjang. “Aku nggak akan menyangkal. Tapi kamu juga harus berhenti mengumpulkan bukti seperti cinta aku sedang diadili.”

Aku tahu dia benar. Kebahagiaan terasa begitu besar sampai sebagian diriku masih mencari syarat tersembunyi. Aku memasukkan catatan itu ke laci, bukan ke dompet.

“Ada yang aku mau,” kataku.

Wajahnya langsung serius. “Apa?”

Kalimatnya sudah kulatih sejak semalam, tetapi tetap terasa sulit saat harus keluar. “Jangan cuma bahagia. Tetap pilih aku ketika aku menyebalkan, takut, atau nggak tahu cara minta.”

Dia tidak langsung menjawab. Jantungku berdetak terlalu cepat.

“Itu permintaan seumur hidup,” katanya.

“Iya.”

“Berani juga.”

Aku hampir menarik ucapan tersebut, tetapi Helena memegang daguku agar tetap menatapnya.

“Aku pilih kamu,” lanjutnya. “Bukan versi rapi yang selalu tahu harus melakukan apa. Aku pilih yang tadi menyimpan catatan cinta di saku piyama juga.”

Napas yang kutahan keluar perlahan. Helena tersenyum seperti baru memenangkan sesuatu.

“Sekarang hadiah karena sudah berani meminta,” katanya.

“Apa?”

Dia mendorong bahuku sampai aku bersandar, lalu duduk lebih dekat. “Mau dicium atau mau sarapan?”

“Boleh dua-duanya?”

“Kemajuan kamu terlalu cepat.”

“Katanya harus belajar meminta.”

“Baik. Ciuman dulu.”

Bibirnya menyentuh bibirku tanpa ragu. Ciuman itu segera menjadi lebih dalam ketika tangannya naik ke tengkukku. Aku memegang pinggangnya, membiarkan ia menentukan jarak dan ritme. Tidak ada kebutuhan membuktikan apa pun. Kami sudah memilih batas kami, dan di dalam batas itu seluruh tubuhku terasa pulang.

Helena berhenti untuk bernapas. “Sarapan?”

“Lima menit lagi.”

“Kamu baru belajar meminta, sekarang mulai rakus.”

“Guru aku terlalu baik.”

Dia menciumku sekali lagi, lebih singkat, lalu menarikku turun ke dapur.

Sarapan ternyata roti panggang karena dia masih dilarang menyentuh nasi tanpa pengawasan. Aku hendak membuat kopi, tetapi Helena menunjuk kursi.

“Minta.”

“Tolong buatkan kopi.”

“Pakai?”

“Susu sedikit. Nggak pakai gula.”

“Aku tahu. Aku cuma ingin dengar kamu mengatakannya.”

Aku duduk dan menunggu. Menerima kopi seharusnya tidak terasa seperti latihan keberanian, tetapi kebiasaan mengurus diri sendiri selalu berbisik bahwa lebih cepat jika kulakukan sendiri. Aku membiarkan bisikan itu lewat.

Kopi buatan Helena sedikit terlalu banyak susu. Aku meminumnya dan berkata jujur.

“Besok susunya kurangi.”

Dia tersenyum lebar. “Siap.”

Tidak tersinggung. Tidak merasa gagal. Kejujuran kecil itu membuktikan permintaan tidak selalu berubah menjadi beban.

Di kantor, Raka menemukan aku menatap kalender kosong pada akhir pekan.

“Lo mau ngajak istri pergi tapi takut ngomong?”

“Gue cuma lihat jadwal.”

“Jadwal lo kosong. Wajah lo penuh rapat internal.”

Aku mengakui ingin mengajak Helena menginap di vila keluarga, tempat yang dulu sering kudatangi sendirian. Bukan perjalanan besar, hanya satu malam jauh dari pekerjaan. Masalahnya, aku takut permintaan itu terdengar seperti kewajiban setelah pengakuan cinta.

Raka meletakkan pena. “Lo bisa bilang mau, terus kasih dia ruang menjawab. Itu namanya ngajak, bukan menculik.”

“Kalau dia ada rencana?”

“Dia bilang nggak. Terus bumi tetap muter.”

Nasihat Raka selalu terdengar terlalu sederhana. Mungkin karena selama ini aku membuat kebutuhan menjadi sesuatu yang rumit agar punya alasan untuk menyembunyikannya.

Aku mengirim pesan: Akhir pekan ini mau ke vila sama aku? Aku pengin satu hari cuma berdua.

Balasan datang satu menit kemudian: Mau. Bawa selimut krem kita.

Aku menatap layar sampai Raka merebut ponsel dan membaca.

“Lihat? Nggak ada kiamat.”

Pada jam makan siang, Helena menelepon untuk membicarakan rencana. Dia menanyakan makanan apa yang ingin kubawa, kamar mana yang paling nyaman, dan apakah aku ingin berhenti di toko buku dalam perjalanan. Biasanya aku akan menjawab terserah agar pilihannya menjadi pusat perjalanan.

Kali ini aku membuka foto vila dan menunjuk kamar menghadap kebun.

“Aku mau kamar ini.”

“Kenapa?”

“Pagi di sana bagus. Aku pengin bangun bareng kamu dan nggak langsung melihat gedung.”

Hening beberapa detik membuatku hampir mengoreksi kalimat. Lalu Helena berkata, “Oke. Aku juga mau.”

Aku menambahkan ingin memasak makan malam sendiri, tetapi meminta dia menemaniku di dapur. Helena menyetujui dengan syarat ia hanya memotong bahan yang aman. Percakapan itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya sebuah perjalanan tidak dibangun sepenuhnya di sekitar kenyamanannya. Keinginanku ikut mengambil ruang, dan ternyata ruang itu tidak mengurangi miliknya.

“Kembalikan.”

“Bayar biaya konsultasi.”

Aku memberinya kopi dan menyimpan rencana perjalanan sebelum ia menambahkan agenda memalukan.

Sore hari Helena menjemputku. Biasanya aku yang datang ke kantornya, tetapi sejak sakit dia sesekali mengambil giliran. Beberapa rekan kerja melirik ketika aku masuk ke mobilnya. Helena menurunkan kaca dan melambaikan tangan kepada Raka.

“Terima kasih sudah mengajari suami aku mengajak kencan,” teriaknya.

Raka membungkuk seperti menerima penghargaan. Aku menutup wajah.

“Kamu harus mengumumkan?” tanyaku.

“Dia minta testimoni.”

“Gue bangga!” teriak Raka dari trotoar.

Helena tertawa sepanjang jalan keluar parkiran. Rasa malu bercampur bahagia dengan cara yang menyenangkan.

Di rumah, kami menyusun barang untuk vila. Helena memasukkan terlalu banyak camilan dan satu permainan kartu. Aku memasukkan obat, pengisi daya, serta senter cadangan. Dia mengeluarkan senter kedua dari tasku.

“Kita satu malam, bukan ekspedisi.”

“Listrik bisa mati.”

“Ada senter ponsel.”

“Baterai ponsel bisa habis.”

“Makanya ada power bank.”

Aku mengambil senter kembali. “Aku mau membawanya.”

Helena berhenti, lalu mengangguk. “Oke. Itu permintaan yang sangat membosankan, tapi diterima.”

Aku tertawa. Ternyata belajar meminta juga berarti membiarkan diri memiliki preferensi kecil tanpa harus menyusun pembelaan.

Helena kemudian mengangkat selimut krem dari sofa. “Ini benar-benar dibawa?”

“Kamu yang minta.”

“Aku ingin memastikan kamu nggak keberatan. Nanti sofanya kehilangan identitas.”

“Aku mau membawanya.”

“Baik. Senter membosankan dan selimut sentimental masuk.”

Dia menaruh keduanya di tas yang sama. Melihat benda praktis dan benda emosional berdampingan terasa seperti gambaran diriku yang mulai ia terima utuh: bagian yang selalu bersiap menghadapi listrik mati dan bagian yang diam-diam ingin membawa sepotong rumah ke mana pun kami pergi.

Sebelum menutup tas, aku memasukkan permainan kartu pilihannya. Helena menyadarinya dan tersenyum.

“Ini karena kamu mau atau supaya aku senang?”

Aku memikirkan jawaban jujur. “Aku mau lihat kamu curang lagi.”

“Aku nggak pernah curang.”

“Kamu menyimpan kartu di bawah paha.”

“Itu strategi penyimpanan.”

Kami berdebat sampai lupa bahwa percakapan dimulai sebagai latihan meminta. Barangkali keberhasilan terbesar justru ketika kebutuhan tidak lagi terasa seperti agenda terapi, hanya bagian alami dari hidup bersama.

Malamnya kami duduk di sofa, selimut krem di atas kaki. Helena sedang membaca daftar lagu untuk perjalanan ketika aku memanggil namanya.

“Ya?”

“Aku mau kamu tetap memilih aku.”

Dia meletakkan ponsel. “Aku sudah jawab pagi tadi.”

“Aku tahu. Aku cuma ingin mengatakannya tanpa takut.”

Helena menggenggam tanganku. “Kalau suatu hari kamu takut lagi, minta lagi.”

“Nggak capek?”

“Mencintai kamu mungkin bikin capek sesekali. Tapi itu bukan alasan pergi. Kamu juga capek mencintai aku dan tetap tinggal.”

Kejujurannya lebih menenangkan daripada janji bahwa semuanya akan selalu mudah. Aku mencium punggung tangannya.

“Kalau aku kembali bilang nggak perlu?” tanyaku.

“Aku akan tanya sekali lagi. Kalau memang nggak perlu, aku hormati. Kalau kamu cuma takut, kita bicara.”

“Bagaimana kamu membedakan?”

“Kadang nggak bisa. Makanya kamu harus jujur.”

Aku mengangguk. Cinta tidak membuat Helena mampu membaca pikiranku, dan seharusnya memang tidak. Tugasku bukan memberi petunjuk samar lalu berharap ia menebak. Tugasku adalah membuka mulut, bahkan ketika suara terasa kecil.

“Aku juga akan tetap memilih kamu,” kataku.

“Bagus. Sekarang minta hal lain.”

Aku memikirkan segala sesuatu yang dulu kutahan: pelukan, waktu, perhatian, keyakinan bahwa ia akan pulang. Tidak semuanya harus diminta sekaligus.

“Sandarkan kepala di sini,” kataku sambil menunjuk bahu.

Helena menurut dan menarik selimut lebih tinggi. Film dimulai tanpa ada yang benar-benar menonton. Permintaan kecil itu memenuhi ruang yang dulu selalu kujaga tetap kosong. Aku akhirnya mengerti bahwa cinta tidak menjadi kurang tulus ketika berkata aku mau. Kadang, kalimat itulah yang memberi orang lain kesempatan menjawab aku juga.