Chapter One
Satu Lampu yang Belum Padam
POV: Helena
Di hari kesebelas pernikahanku, aku pulang pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit dan mendapati satu lampu ruang tengah masih menyala. Rumah dua lantai itu sudah sunyi. Sepatu kerja Aries ada di rak, jasnya tergantung rapi, dan televisi menampilkan layar hitam. Satu-satunya benda yang terasa hidup adalah lampu kuning di dekat sofa—dan laki-laki yang tertidur di bawahnya dengan kepala miring serta laptop terbuka di paha.
Aku berdiri di ambang pintu lebih lama daripada yang seharusnya. Kami menikah karena dua keluarga merasa kami cocok, bukan karena sebuah kisah cinta. Sebelum akad, aku sudah mengatakan bahwa aku bisa berusaha menjadi istri yang baik, tetapi tidak bisa menjanjikan cinta. Aries menjawab bahwa aku tidak perlu menjanjikan sesuatu yang belum kupunya. Sejak itu, dia tak pernah menyinggungnya lagi.
Aku melepas sepatu pelan-pelan. Baru dua langkah, mata Aries terbuka. Tatapannya sempat kosong, lalu langsung jatuh ke jam dinding.
“Jam segini baru pulang?” Suaranya serak karena tidur. Aku refleks menegakkan punggung.
“Kalau kamu mau marah, besok aja. Otakku sudah tutup.” Dia menutup laptop.
“Aku mau nanya kamu sudah makan atau belum.”
Nada suaranya datar, tanpa interogasi. Itu justru membuat jawaban bohong terasa konyol.
“Makan siang.”
“Berarti belum.”
“Secara teknis, makan siang termasuk makan.” Aries bangkit dan merapikan rambutnya dengan satu tangan.
“Secara teknis, kamu juga termasuk manusia. Manusia perlu makan lebih dari sekali.” Aku mengikuti langkahnya menuju dapur sambil menahan senyum.
“Kamu selalu seformal ini kalau baru bangun?”
“Nggak. Kalau benar-benar formal, aku akan bikin surat teguran.”
Di atas meja makan ada semangkuk sup ayam yang sudah ditutup. Aries memanaskannya tanpa bertanya apakah aku mau. Aku duduk dan memperhatikan punggungnya. Kemeja putih yang tadi pagi licin sekarang kusut di bagian bahu. Dia pasti sudah menunggu cukup lama. Perasaan bersalah muncul, kecil tetapi tajam.
“Kamu nggak perlu nungguin aku.” Dia tetap menatap microwave.
“Aku tahu.”
“Terus kenapa belum tidur?”
“Tadi kerja.”
“Sambil merem?” Dia menoleh.
“Itu metode efisiensi baru.”
Sup hangat diletakkan di depanku bersama sendok. Rasanya ringan, tidak terlalu asin, dan anehnya persis seperti yang kubutuhkan setelah rapat panjang.
“Kamu masak?” tanyaku.
“Beli.”
“Syukurlah.” Aries menarik kursi di seberang.
“Aku juga senang standar kamu terhadap kemampuan suami sendiri sangat realistis.” Untuk pertama kalinya malam itu, aku tertawa sungguhan.
Dia tidak ikut makan. Dia hanya duduk sambil mengecek surel di ponselnya, seolah menemaniku pada hampir tengah malam adalah kegiatan biasa. Aku jadi makin tidak nyaman.
“Kalau aku pulang malam lagi, tidur aja.”
“Oke.” Jawabannya terlalu mudah.
“Beneran?”
“Beneran.”
“Lampunya juga matiin.” Kali ini dia mengangkat wajah.
“Kalau semua lampu mati, kamu masuk rumah gelap.”
“Aku bisa nyalain sendiri.”
“Aku tahu.” Lagi-lagi dua kata itu. Bukan penolakan, bukan persetujuan. Hanya pengakuan bahwa aku mampu, sementara dia tetap memilih melakukan sesuatu untukku.
Setelah mangkukku kosong, Aries membawanya ke wastafel. Aku hendak merebut, tetapi dia mengangkat mangkuk jauh dari jangkauanku.
“Aku bisa cuci sendiri.”
“Aku juga bisa.”
“Tapi aku yang makan.”
“Dan aku yang tadi beli. Kepemilikan mangkuk masih diperdebatkan.” Aku mendecakkan lidah.
“Pernikahan kita baru sebelas hari dan sudah ada sengketa aset.”
“Besok kita panggil notaris.”
Kami naik ke lantai dua bersama. Di ujung koridor terdapat dua kamar yang saling berhadapan. Sejak malam pertama, Aries memilih kamar di sebelah tangga dan menyerahkan kamar utama kepadaku. Katanya kamar itu punya lemari lebih besar dan cahaya pagi yang kusukai. Aku sempat merasa keputusan itu adalah cara halus untuk mengingatkan bahwa pernikahan kami tidak benar-benar normal.
Tangannya sudah memegang gagang pintu ketika aku bertanya, “Kamu memang mau kita terus tidur terpisah?” Aries berhenti. Dia tidak tampak tersinggung atau berharap.
“Sampai kamu nyaman.”
“Kalau aku nggak pernah nyaman?” Ada jeda singkat.
“Berarti pintu kamar aku tetap di sini.” Dia mengetuk daun pintunya pelan.
“Kalau butuh apa pun, kamu tinggal ketuk.”
Jawaban itu seharusnya melegakan. Anehnya, ada bagian kecil dalam diriku yang justru terasa sesak.
“Kamu nggak merasa ditolak?” tanyaku sebelum sempat menahan diri. Aries menatapku cukup lama.
“Aku menikahi kamu, bukan membeli akses tanpa batas ke hidup kamu.” Suaranya tetap lembut.
“Kamu nggak berutang kenyamanan tubuh atau perasaan cuma karena sekarang pakai cincin yang sama.”
Aku menunduk pada cincin di jariku. Selama sebelas hari, benda itu masih sering terasa asing. Malam ini, untuk pertama kali, beratnya tidak terasa seperti beban.
“Makasih,” kataku. Aries tersenyum kecil.
“Sama-sama. Tapi besok jangan pulang selarut ini.” Aku langsung menyipit.
“Katanya nggak menginterogasi.”
“Itu bukan interogasi. Itu permintaan dari orang yang besok harus bangun pagi tapi punya istri keras kepala.”
Aku masuk kamar sambil menggeleng, tetapi sebelum menutup pintu, aku melihat Aries kembali turun. Beberapa detik kemudian cahaya dari bawah padam. Rupanya dia hanya belum mematikan lampu karena aku belum pulang. Aku berdiri di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, mendengarkan langkahnya kembali naik.
Dua pintu tetap memisahkan kami malam itu. Namun ketika aku berbaring, aroma sup ayam masih tertinggal di lidah dan cahaya lampu kuning tadi masih menetap di kepala. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke rumah ini, aku tidak merasa sedang menginap di kehidupan orang lain.
Aku mencoba tidur, tetapi ponselku bergetar. Ada pesan dari Aries: Besok berangkat jam berapa? Aku membalas pukul tujuh, lalu bertanya kenapa. Jawabannya datang cepat: Biar sarapan nggak kesiangan. Aku mengetik bahwa dia tidak perlu menyesuaikan jadwalnya. Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi. Akhirnya dia hanya menulis: Aku juga sarapan. Kebetulan waktunya sama. Aku tahu itu kebohongan kecil yang sengaja dibuat agar perhatiannya terasa ringan.
Aku keluar kamar untuk mengembalikan gelas yang tadi kubawa. Pintu di seberang terbuka dan Aries muncul membawa kabel laptop. Kami sama-sama berhenti.
“Belum tidur?” tanyanya.
“Mau minum.”
“Gelasnya kosong.” Aku melihat gelas di tangan, lalu mendengus.
“Aku mau mengembalikan ini.”
“Ketahuan.” Dia berjalan ke tangga, tetapi aku memanggilnya.
“Aries, kalau besok kamu bangun duluan… kopi aku jangan terlalu panas.” Dia mengangguk seolah permintaan itu sangat biasa.
“Jam tujuh kurang sepuluh.”
“Kok tahu?”
“Kamu butuh sepuluh menit buat protes sebelum minum.”
Aku tertawa, dan dia ikut tersenyum sebelum turun. Di kamar, aku menyadari permintaan kecil tadi adalah yang pertama sejak menikah. Sebelumnya aku selalu mengambil sendiri apa yang kubutuhkan supaya tak ada ruang bagi salah tafsir. Meminta kopi terasa sepele, tetapi kepada Aries, permintaan itu seperti membuka jendela kecil. Dia tidak mencoba masuk lebih jauh. Dia hanya berdiri di luar dan memastikan aku tahu dia mendengar.
Pukul enam lima puluh keesokan paginya, aroma kopi merayap sampai ke lantai dua. Saat turun, cangkirku sudah menunggu, tidak terlalu panas. Aries sedang membaca berita dengan rambut masih sedikit berantakan.
“Tepat waktu,” kataku.
“Aku takut dapat evaluasi kinerja.”
“Masa percobaan kamu masih panjang.”
“Berapa lama?”
“Belum ditentukan.” Dia mengangguk serius.
“Aku akan berusaha dapat kontrak tetap.” Aku duduk sambil menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Saat hendak berangkat, Aries mengulurkan kotak makan. Aku bilang kantor menyediakan makan siang, tetapi dia menunjukkan isinya hanya potongan buah.
“Buat sebelum rapat sore. Kemarin kamu bilang pusing jam empat.” Aku bahkan lupa pernah mengeluh. Aku menerima kotak itu dan memasukkannya ke tas. Di mobil, aku membuka pesan darinya: Kalau pulang terlambat, kabari. Bukan supaya dia mengawasi, tetapi supaya dia tahu kapan harus membiarkan lampu menyala. Aku mengetik: Oke. Lalu, setelah ragu beberapa detik, menambahkan: Jangan ketiduran di sofa lagi. Leher kamu nanti sakit. Balasannya hanya emoji hormat yang konyol, tetapi cukup membuat perjalanan pagiku terasa lebih ringan.
Aku menyimpan kotak buah itu di kursi sebelah, hati-hati agar tidak terbalik. Perhatian Aries memang selalu kecil, tetapi entah kenapa tak pernah terasa ringan.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam reading
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang