Chapter Three
Aku Nggak Minta Dilayani
POV: Aries
Bau gosong membangunkanku pada Minggu pagi. Aku turun dengan pikiran pertama tentang korsleting, tetapi menemukan Helena berdiri di dapur sambil memegang spatula seperti senjata. Di wajan ada sesuatu yang mungkin pernah bercita-cita menjadi telur. Asap tipis naik menuju alarm kebakaran yang belum berbunyi. Aku menatap wajan, lalu istriku.
“Kita perlu evakuasi?”
Dia menoleh tajam.
“Aku bikin sarapan.”
“Aku lihat.”
“Ekspresi kamu bilang kamu sedang melihat TKP.”
“Aku sedang menentukan apakah korban masih bisa diselamatkan.” Helena mematikan kompor dengan gerakan kesal. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa riasan, dan ada sedikit tepung di pipi. Pemandangan sederhana itu menghantamku lebih keras daripada seharusnya.
Aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa dia benci merasa tidak berguna. Pernikahan membuatnya seperti sedang mengikuti ujian dengan aturan yang tak pernah dia pelajari. Dua hari terakhir dia melihatku menyiapkan makanan dan kebutuhan rumah. Pagi ini rupanya dia memutuskan harus membalasnya.
Aku mengambil spatula dari tangannya.
“Duduk.”
“Aku belum selesai.”
“Telurnya sudah.”
“Aries.”
“Helena.” Dia menyipit.
“Jangan pakai nama aku dengan nada begitu.”
“Nada bagaimana?”
“Kayak suami.” Aku hampir tertawa.
“Itu efek samping cincin.”
Dia tidak duduk.
“Aku mau belajar masak.”
“Boleh.”
“Terus kenapa diambil?”
“Karena belajar berenang juga nggak dimulai dengan lompat ke laut saat badai.”
“Ini cuma telur.”
“Yang sekarang punya tekstur batu bara.” Dia memukul lenganku dengan serbet. Aku membiarkannya, terutama karena dia menahan senyum.
Aku membuka kulkas dan mengeluarkan bahan baru. Helena berdiri di sampingku.
“Kamu sebenarnya bisa masak?”
“Dasar.”
“Semalam bilang sup beli.”
“Karena kalau aku masak setelah pulang kerja, kamu baru makan saat sarapan.” Dia mendecakkan lidah.
“Sombong.”
“Jujur.”
Kami membuat telur dadar bersama. Aku menunjukkan cara mengecilkan api dan menunggu bagian bawah matang. Dia terlalu dekat ketika membungkuk untuk melihat wajan; rambut yang terlepas menyentuh lenganku. Aku memusatkan perhatian pada kompor. Menikahi perempuan yang sudah lama kucintai ternyata jauh lebih mudah di atas kertas daripada berdiri di sampingnya ketika dia memakai kaus longgar dan mengeluh karena telur tidak mau dilipat rapi.
“Pegang tanganku,” katanya. Aku menoleh terlalu cepat. Helena mengangkat spatula.
“Buat ngajarin gerakannya.”
“Oh.”
“Kenapa bilang oh?”
“Nggak apa-apa.” Aku berdiri di belakangnya dan menutup tanganku di atas tangannya. Bahunya menegang sesaat, lalu rileks. Kami membalik telur bersama. Jarak ini belum termasuk dalam daftar batas yang dia buat, tetapi aku tidak berniat menganggap diamnya sebagai izin lebih jauh.
Begitu telur berpindah ke piring, aku mundur. Helena menatap hasilnya dengan bangga.
“Tuh, bisa.”
“Karena tanganku.”
“Tangan kamu cuma staf pendukung.”
“Baik, Bu Direktur Telur.” Dia tertawa, suara yang membuat dapur terasa lebih terang.
Saat sarapan, dia mendorong piring terbaik ke arahku.
“Yang ini buat kamu.”
“Kita bagi.”
“Aku bikin buat kamu.”
“Kita yang bikin.”
“Kamu selalu harus membantah?”
“Hanya kalau istri aku mencoba membayar tagihan yang nggak pernah aku kasih.” Senyumnya memudar sedikit. Aku tahu kami akhirnya sampai pada percakapan sebenarnya.
“Aku nggak enak kamu terus menyiapkan semuanya,” katanya.
“Aku juga harus melakukan sesuatu sebagai istri.” Aku meletakkan garpu.
“Kamu nggak harus melayani aku supaya pernikahan ini dianggap sah.”
“Aku bukan bilang melayani.”
“Tapi kamu merasa ada daftar tugas yang harus dilunasi.”
Helena menunduk pada telurnya.
“Mama bilang rumah tangga harus seimbang.”
“Setuju.”
“Sejauh ini kamu yang lebih banyak melakukan.”
“Karena aku lebih dulu tahu cara rumah ini berjalan. Kamu baru pindah dua minggu.” Aku menarik piring ke tengah.
“Keseimbangan bukan berarti setiap satu gelas air harus dibayar satu piring telur.”
“Terus aku harus apa?” tanyanya. Pertanyaan itu nyaris membuatku mengatakan jawaban yang paling jujur: tetaplah di sini. Pulanglah. Isi rumah ini dengan suaramu. Namun itu terlalu besar untuk diberikan kepada seseorang yang belum menjanjikan hatinya.
“Kalau capek, bilang. Kalau butuh sesuatu, minta. Kalau ada yang bikin nggak nyaman, jangan diam.”
Dia mengangkat wajah.
“Cuma itu?”
“Untuk sekarang.”
“Enak banget kamu.”
“Aku memang suami paket hemat.” Helena tertawa lagi. Ketegangan menghilang, tetapi aku menyimpan percakapan itu baik-baik. Dia belum tahu bahwa keberadaannya di meja yang sama sudah terasa seperti sesuatu yang terlalu banyak untuk kuminta.
Setelah sarapan, aku mencuci piring sementara dia mengeringkan. Helena menemukan catatan kecil di dekat kotak obat—daftar alergi dan nomor dokter keluarganya yang kutulis jika sewaktu-waktu diperlukan.
“Ini juga riset investasi?” tanyanya.
“Manajemen risiko.”
“Kalian semua jawabannya sama.”
“Karena analisnya satu orang.”
Dia melipat catatan itu lalu mengembalikannya, bukan membuangnya.
“Kalau aku alergi sama suami terlalu siap, obatnya apa?” Aku menatapnya.
“Paparan bertahap.”
“Berapa lama?”
“Seumur hidup biasanya efektif.” Wajahnya diam sepersekian detik sebelum dia mengibaskan lap ke arahku.
Aku menangkap lap itu sambil tertawa. Flirting kecil masih aman selama selalu ada pintu keluar baginya. Itu aturan yang kubuat sendiri: aku boleh membuatnya tersenyum, tetapi tak boleh membuatnya merasa harus membalas. Masalahnya, setiap hari Helena tampak sedikit lebih betah. Dan setiap perubahan sekecil apa pun membuat aturan itu semakin sulit kupegang.
Siang itu dia tertidur di sofa dengan buku di dada. Aku mengecilkan televisi, menaruh selimut di kakinya, lalu kembali bekerja di kursi seberang. Tidak ada pengakuan, tidak ada sentuhan yang tak perlu. Hanya rumah yang kini memiliki suara napas dua orang. Untuk saat ini, itu cukup.
Menjelang sore Helena terbangun dan langsung meraba ponselnya. Selimut di kakinya jatuh. Aku mengambilnya sebelum menyentuh lantai.
“Jam berapa?” tanyanya.
“Empat lewat.”
“Kenapa nggak bangunin aku?”
“Kamu kelihatan capek.” Dia duduk sambil merapikan rambut.
“Aku ngiler nggak?”
“Informasi itu rahasia negara.” Matanya membesar.
“Aku ngiler?” Aku tidak tahan dan tertawa.
“Nggak. Tapi sekarang aku tahu cara bikin kamu panik.”
Dia merebut bantal dan memeluknya.
“Kamu kerja dari tadi?” Aku mengangguk.
“Kenapa nggak di ruang kerja?”
“Di sini lebih terang.” Itu bukan alasan sebenarnya. Aku memilih kursi seberang karena ingin berada di ruangan yang sama, meski kami tidak bicara. Helena melihat laptopku, lalu sofa, seakan menghitung jarak.
“Besok kalau aku ketiduran lagi, bangunin.”
“Kenapa?”
“Biar kamu nggak harus menjaga.”
“Aku nggak menjaga.”
“Terus?” Aku menatap layar.
“Menemani rumah.”
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada rencana. Helena terdiam. Aku segera menambahkan, “Televisinya juga butuh penonton, meski penontonnya mendengkur.” Dia melempar bantal. Aku menangkapnya dan suasana kembali ringan. Namun saat dia pergi mengambil air, jemarinya menyentuh bahuku sekilas—bukan kebetulan, kurasa, karena jalannya masih cukup lebar.
Malamnya aku menemukan obat nyeri otot di laci dekat sofa. Benda itu tidak ada kemarin. Tidak ada label, tetapi hanya satu orang yang mungkin menaruhnya. Aku memegang kotaknya cukup lama. Helena belum mencintaiku; aku tidak boleh menciptakan cerita dari satu perhatian kecil. Namun untuk pertama kalinya, sesuatu di rumah ini disiapkan khusus untukku. Aku mengembalikannya ke laci dengan hati-hati, seperti menyimpan hadiah yang tak boleh terlihat terlalu berharga.
Aku tidak memakai obat itu malam tersebut, tetapi keesokan paginya bahuku benar-benar nyeri. Helena melihatku memijat tengkuk dan langsung menunjuk laci.
“Pakai.” Aku menurut tanpa protes. Tatapannya terlihat puas, seolah baru memenangkan perdebatan yang tak pernah kami mulai.
“Ternyata suami terlalu siap juga bisa butuh bantuan,” katanya.
“Jangan sebarkan. Reputasi aku hancur.” Dia tersenyum, lalu berdiri di belakang kursiku dan menekan bahuku sekali untuk menunjukkan titik yang sakit. Sentuhannya singkat, wajar, dan cukup untuk membuatku lupa kalimat berikutnya. Helena tidak menyadarinya. Syukurlah.
Setelah dia pergi, aku menatap pintu dapur yang baru dilewatinya. Satu kotak obat seharusnya tidak berarti banyak. Namun Helena telah melihat sesuatu yang mungkin kubutuhkan, mengingatnya, lalu menyediakan ruang kecil untukku di antara barang-barangnya. Aku harus berhati-hati agar harapan tidak tumbuh dari keramahan. Sayangnya, hati jarang mau mematuhi aturan yang dibuat kepala.
Aku menutup laptop dan pergi membantu menyiapkan makan malam. Menjaga jarak ternyata tidak selalu berarti berdiri jauh. Kadang artinya tetap berada di dekatnya, sambil menahan diri agar kehadiran yang dia tawarkan tidak kutafsirkan sebagai janji.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani reading
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang