Chapter Twenty Eight

Terlambat Bukan Berarti Sedikit

POV: Aries

Helena masih memelukku ketika matahari naik. Aku bisa merasakan air matanya membasahi bahuku, sementara milikku sendiri tertahan di tempat yang sudah kukunci bertahun-tahun. Memintanya tidak pergi seharusnya terasa memalukan. Anehya, yang datang justru lega.

Kami akhirnya melepaskan pelukan karena perutnya berbunyi cukup keras untuk merusak suasana.

Dia mengusap wajah. “Jangan komentar.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Alis kamu komentar.”

“Alis aku cuma khawatir pada keberlangsungan hidup istrinya.”

“Buat roti. Jangan pakai pidato.”

Aku menuju dapur. Tangan masih gemetar ketika mengambil piring. Biasanya gerakan menyiapkan makanan mengembalikan kendaliku, tetapi kali ini Helena ikut masuk dan mengambil pisau dari tanganku.

“Duduk,” katanya.

“Aku bisa membuat roti.”

“Aku tahu. Aku juga bisa mengoles selai tanpa menyebabkan bencana nasional.”

“Riwayat memasak kamu membuat klaim itu meragukan.”

Dia menunjuk kursi. “Duduk, Aries.”

Aku menurut. Perintah sederhana itu terasa seperti kelanjutan percakapan kami: membiarkannya melakukan sesuatu untukku tanpa segera merebut kembali peran pemberi.

Helena membakar dua lembar roti pertama. Dia menatap pemanggang seolah benda itu mengkhianati negara. Aku menggigit bagian yang paling hitam sebelum dia sempat membuangnya.

“Nggak usah dimakan,” katanya.

“Katanya aku harus belajar menerima.”

“Menerima cinta, bukan karbon.”

Aku tertawa. Suara itu terdengar asing setelah malam panjang, tetapi tidak salah.

Kami makan berhadapan. Kotak lama masih terlihat dari ruang tengah. Setiap kali pandanganku jatuh ke sana, naluri pertama adalah membereskannya, membuang semua lembar, dan mengembalikan hidup kami ke bentuk sebelum rahasia terbuka.

Helena mengikuti tatapanku. “Jangan dibuang.”

“Isinya nggak berguna lagi.”

“Berguna buat aku memahami kamu.”

“Sebagian catatan itu berlebihan.”

“Sangat. Kamu punya daftar bengkel berdasarkan radius dari kantor aku. Itu sedikit menyeramkan.”

Aku menunduk. “Maaf.”

“Aku bercanda.” Dia menyentuh tanganku. “Sedikit.”

Jemarinya hangat. Aku membalik tangan dan menggenggamnya, lalu menunggu rasa takut menyuruhku melepaskan. Rasa itu datang, tetapi kali ini aku tidak menurut.

“Ada hal lain yang belum kamu tahu,” kataku.

Helena menghela napas. “Kalau ada ruang rahasia penuh foto aku, aku pindah.”

“Nggak ada ruang rahasia.”

“Syukurlah.”

“Cuma folder digital.”

Wajahnya membeku. Aku tidak tahan dan tertawa. “Bercanda. Isinya cuma foto yang kamu kirim sendiri.”

Dia menendang kakiku di bawah meja. Beat comedy kecil itu tidak menghapus luka, tetapi mengingatkan bahwa kami masih kami.

Aku menarik napas. “Waktu menerima perjodohan, aku sudah menyiapkan surat.”

“Surat apa?”

“Kalau setelah setahun kamu ingin pergi, aku akan setuju tanpa mempersulit. Pembagian asetnya juga sudah aku siapkan.”

Tangannya terlepas dari genggamanku. Bukan ditarik kasar; jemarinya hanya kehilangan tenaga.

“Di mana suratnya?”

“Brankas ruang kerja.”

Helena berdiri. “Ambil.”

Aku mengambil amplop itu dan kembali. Dia membacanya dalam diam. Surat tersebut menyatakan bahwa aku tidak akan menuntut alasan, tidak akan memakai keluarga untuk menahan, dan akan memastikan semua kebutuhan transisinya terpenuhi.

“Kamu bahkan menyiapkan apartemen untuk aku,” katanya.

“Supaya kamu punya tempat aman.”

“Tempat aman tanpa kamu.”

Aku tidak tahu cara menjawab.

Helena merobek surat itu menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Potongannya jatuh ke meja seperti salju yang sangat buruk.

“Itu dokumen,” kataku refleks.

“Bukan. Itu tiket kabur yang kamu simpan untuk aku tanpa pernah aku minta.”

“Aku bisa mencetak lagi.”

Tatapannya membuatku segera menambahkan, “Aku nggak akan.”

Dia duduk kembali, napasnya bergetar. “Aku merasa terlambat.”

“Terlambat untuk apa?”

“Untuk semua ini. Kamu sudah mencintai aku bertahun-tahun. Aku baru mulai melihat kamu setelah kita menikah. Bahkan sekarang, cinta aku belum punya sejarah sebanyak punya kamu.”

Aku memahami kesedihannya, tetapi tidak memahami hitungan yang ia gunakan. “Cinta bukan rekening umur.”

“Mudah buat kamu bilang. Kamu punya enam tahun kenangan ketika aku bahkan nggak sadar.”

“Enam tahun itu pilihan aku. Kamu nggak berutang waktu yang sama.”

Air matanya jatuh lagi. “Tapi aku ingin punya lebih banyak.”

Kalimat itu menghantam bagian diriku yang paling rapuh. Helena tidak menangis karena merasa wajib membalas. Dia berduka atas hari-hari yang tidak bisa kami ambil kembali.

Aku pindah ke kursi di sampingnya. “Lihat aku.”

Dia menggeleng.

“Kamu boleh menyuruh aku meminta. Sekarang aku minta kamu lihat aku.”

Helena mengangkat wajah. Matanya merah, hidungnya juga. Dia masih menjadi pemandangan yang paling ingin kulindungi, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak mencoba menghapus penyebab tangisnya dengan jawaban aman.

“Cinta kamu datang belakangan,” kataku. “Itu fakta. Tapi belakangan bukan berarti kurang.”

“Bagaimana kalau tetap lebih sedikit?”

“Siapa yang mengukurnya?”

“Aku.”

“Alat ukurnya rusak.”

Dia tertawa pendek di sela tangis. “Kamu menyebalkan.”

“Aku belajar dari istri aku.”

Aku menyentuh pipinya, memberi waktu untuk mundur. Dia justru memegang pergelangan tanganku dan menahannya di sana.

“Kamu memilih aku ketika punya alasan untuk tidak memilih,” lanjutku. “Kamu mendekat ketika aku mundur. Kamu marah karena aku terus menyiapkan kehilangan. Itu bukan cinta kecil.”

“Tapi kamu sudah melakukan begitu banyak.”

“Jangan ubah cinta menjadi kompetisi siapa paling menderita atau paling banyak memberi.”

Itu nasihat yang juga harus kudengar sendiri. Selama bertahun-tahun aku menjadikan kemampuan tidak meminta sebagai bukti ketulusan. Padahal cinta tidak kehilangan kemurnian ketika menginginkan jawaban.

Helena meraihku lebih dulu. Kepalaku jatuh ke bahunya, posisi yang jarang kubiarkan terjadi. Tangannya mengusap belakang kepalaku dengan gerakan lambat.

“Cinta aku mungkin terlambat,” bisiknya. “Tapi bukan berarti sedikit.”

Pertahanan terakhirku runtuh.

Aku tidak menangis keras. Air mata hanya keluar tanpa izin, membasahi kain bajunya. Namun tubuhku gemetar seperti sedang melepaskan beban yang terlalu lama dianggap bagian dari tulang.

Helena tidak menyuruhku berhenti. Tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya memeluk, satu tangan di rambutku dan satu lagi di punggung, memberiku tempat untuk tidak menjadi orang yang paling kuat di ruangan.

“Maaf,” kataku setelah napas cukup stabil.

“Untuk apa?”

“Baju kamu.”

Dia menarik tubuhku sedikit dan melihat noda air mata di bahunya. “Kemeja ini punya kamu.”

Aku baru sadar dia masih memakai kemeja biruku sejak kemarin. Tawa kecil keluar bersamaan dengan sisa tangis.

“Berarti aman,” kataku.

“Kalau rusak, suami aku yang ganti.”

“Suami kamu tampaknya punya beban finansial berat.”

“Dia juga punya istri cantik. Seimbang.”

Kepercayaan dirinya begitu alami sampai aku tertawa lebih jelas. Helena tersenyum, tetapi kali ini aku tidak menganggap senyumnya sebagai satu-satunya hasil yang kubutuhkan. Aku menginginkan tempat di samping senyum itu, dan aku membiarkan diri mengakuinya.

Kami mengumpulkan potongan surat. Helena memasukkannya ke tempat sampah, lalu menyuruhku menghapus salinan digital di hadapannya. Aku melakukannya tanpa menyimpan cadangan.

“Bagaimana kalau suatu hari kamu benar-benar ingin pergi?” tanyaku.

“Kita bicara pada hari itu. Bukan hidup setiap hari seolah hari itu pasti datang.”

Jawabannya tidak memberi jaminan palsu. Justru karena itu aku bisa mempercayainya.

Kotak lama kami pindahkan ke lemari ruang kerja, bukan kembali ke gudang. Helena ingin membacanya pelan-pelan, dengan syarat aku boleh menjelaskan konteks dan mengakui ketika tindakanku kelewat jauh.

“Ini arsip sejarah,” katanya sambil menutup lemari.

“Sejarah memalukan.”

“Sejarah suami aku jatuh cinta sendirian dan sok misterius.”

“Aku nggak sok misterius.”

“Kamu punya catatan alergi rahasia.”

Aku tidak punya pembelaan.

Sore itu kami akhirnya makan nasi yang dibawa Raka, dipanaskan dua kali dan rasanya nyaris menyerah. Helena menyuapiku satu sendok ketika aku sedang membaca pesan kerja.

“Aku bisa makan sendiri,” kataku.

“Aku tahu.”

Jawaban itu menghentikanku. Ia tidak merawat karena menganggapku tidak mampu. Ia merawat karena ingin, persis seperti yang selama ini kulakukan untuknya.

Aku menerima suapan kedua tanpa protes.

Malamnya, lampu ruang tengah tetap menyala meski kami berdua berada di rumah. Helena duduk di sampingku di bawah selimut krem, kepalanya pada bahuku dan tanganku dalam genggamannya.

Tidak ada yang selesai sepenuhnya. Aku masih takut meminta. Dia masih berduka atas waktu yang tidak kami miliki. Namun surat untuk pergi sudah menjadi potongan kertas, dan untuk pertama kalinya aku tidak menyiapkan jalan keluar sebelum hari buruk datang.

“Minta satu hal lagi,” katanya.

Aku berpikir lama. “Tetap di sini sampai film selesai.”

“Gampang.”

“Dan besok.”

Helena mengangkat kepalanya, lalu mencium keningku. “Besok kamu minta lagi.”

Aku mengangguk. Barangkali begitulah aku akan belajar: bukan dengan meminta selamanya sekaligus, melainkan satu hari, satu pelukan, dan satu kesempatan untuk menerima cinta yang datang belakangan tetapi memenuhi seluruh ruang yang dulu kosong.