Chapter Two
Suami yang Terlalu Siap
POV: Helena
Aku bangun dengan sakit kepala dan menemukan segelas air di meja samping tempat tidur. Di bawah gelas ada dua tablet obat dalam bungkus kecil, lengkap dengan secarik kertas bertuliskan: Minum setelah sarapan. Jangan sok kuat. Tulisan tangan Aries terlalu rapi untuk sebuah ancaman, tetapi kalimat terakhir jelas ancaman.
Aku membawa kertas itu turun. Aries sedang menyeduh kopi dengan kaus abu-abu dan celana rumah.
“Kamu masuk kamar aku?” tanyaku. Dia menoleh santai.
“Pintunya kebuka. Kamu tidur masih pakai jam tangan, lampu nyala, dan alis berkerut kayak sedang negosiasi sama mimpi.”
“Terus kamu taruh obat?”
“Aku taruh air. Obatnya di bawah gelas supaya kamu nggak bisa pura-pura nggak lihat.”
Aku duduk di meja makan. Di depanku sudah ada roti panggang, telur, dan kopi tanpa gula. Masalahnya, itu persis sarapan yang biasa kupesan.
“Kamu tahu aku nggak pakai gula dari mana?”
“Waktu acara makan malam keluarga, kamu mengembalikan kopi karena diberi satu sachet gula.”
“Itu enam bulan lalu.”
“Daya ingat aku bagus.”
“Atau kamu mengumpulkan data tentang aku.” Aries meletakkan cangkirnya.
“Riset istri lebih penting daripada riset investasi.”
Aku hampir tersedak kopi. Dia duduk seolah baru membicarakan indeks saham, bukan melontarkan kalimat yang membuat ujung telingaku panas.
“Kalau flirting, kasih peringatan dulu.”
“Aku cuma menjelaskan prioritas.”
“Itu lebih parah.”
“Dicatat.”
Setelah sarapan, aku mencari charger ponsel. Charger milikku tertinggal di kantor. Di laci dekat sofa ada satu kabel baru dengan label kecil H. Aku mengangkatnya.
“Ini apa?”
“Charger.”
“Aku tahu bentuk charger.”
“Bagus. Berarti riset aku belum perlu mencakup kemampuan mengenali benda.” Aku menatapnya tajam. Aries menahan senyum.
Di laci yang sama ada plester, ikat rambut hitam, tisu basah tanpa parfum, permen jahe, bahkan lip balm merek yang biasa kupakai. Aku mengeluarkan satu demi satu seperti petugas bea cukai menemukan barang selundupan.
“Kenapa semua ini ada di sini?”
“Biar gampang dicari.”
“Kenapa ada ikat rambut?”
“Kamu sering kehilangan.”
“Kok tahu?”
“Dalam tiga acara keluarga, kamu dua kali pinjam dari Nadia dan sekali pakai karet pembungkus kotak kue.”
Aku memegang ikat rambut itu sambil merasa sedang berhadapan dengan manusia atau kamera pengawas.
“Aries, ini sedikit menyeramkan.” Senyumnya langsung menghilang.
“Kalau bikin kamu nggak nyaman, aku singkirkan.” Jawabannya begitu cepat hingga rasa geli di dadaku berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. Dia tidak membela diri atau bilang aku berlebihan. Dia siap mundur.
“Bukan nggak nyaman,” kataku.
“Cuma… aku belum terbiasa ada orang yang menyiapkan barang sebelum aku minta.” Aries mengangguk.
“Kalau begitu bilang kalau ada yang kelewatan.”
“Kamu selalu punya batas pengaman untuk semua hal, ya?”
“Aku kerja di bidang yang mengajarkan satu kesalahan kecil bisa mahal.”
“Pernikahan bukan proyek.”
“Makanya aku lebih hati-hati.”
Jawaban itu mengikuti pikiranku sampai kantor. Saat Nadia melihat obat di tanganku, dia langsung mengambil kertas catatan Aries.
“Jangan sok kuat,” bacanya.
“Romantis juga suami pilihan orang tua.” Aku merebut kertas itu.
“Ini bukan romantis. Ini manajemen risiko.”
“Oh, tentu. Kalau dia menyiapkan obat, itu manajemen risiko. Kalau dia menyiapkan bunga, mungkin mitigasi bencana.”
Aku menyimpan kertas itu di laci meja, bukannya membuangnya. Sepanjang siang sakit kepalaku membaik, tetapi pikiranku tetap kembali pada laci kecil di rumah. Barang-barang di sana tidak mahal. Tidak ada hadiah yang perlu kupuji, tidak ada gestur besar yang bisa dipamerkan. Hanya benda-benda praktis yang keberadaannya berarti seseorang pernah memperhatikan kebiasaanku.
Malamnya aku pulang lebih awal. Aries belum tiba. Rumah terasa terlalu diam tanpa suara langkahnya. Aku menyalakan lampu ruang tengah lalu berdiri beberapa detik di bawah cahaya kuning yang semalam menungguku. Perasaan aneh melintas—seolah aku baru memahami bahwa lampu dapat menjadi sebuah kalimat.
Aku masuk dapur dan melihat dua jenis kopi di rak. Kopiku tanpa gula berada di sebelah kopi milik Aries. Di pintu kulkas ada daftar belanja: telur, susu rendah lemak, roti gandum, permen jahe. Tulisan terakhir ditambahkan dengan tinta berbeda: stok Helena tinggal tiga.
Aku seharusnya menganggap itu berlebihan. Sebaliknya, aku mengambil pena dan menambahkan satu baris: kopi Aries juga tinggal sedikit. Ketika dia pulang setengah jam kemudian, dia berhenti di depan daftar itu.
“Kamu nambahin?”
“Iya. Jangan merasa spesial. Aku cuma tidak mau tinggal sama orang yang kehabisan kafein.”
Aries menoleh kepadaku, lalu pada lampu yang sudah menyala.
“Kamu pulang cepat.”
“Kebetulan.”
“Dan menyalakan lampu.”
“Rumah gelap.”
“Aku bisa nyalain sendiri.” Dia mengembalikan kalimatku semalam dengan wajah polos. Aku mendengus.
“Kalau semua perhatian kamu selalu dikembalikan begini, capek juga.”
“Baru satu lampu,” katanya.
“Kamu masih punya banyak waktu buat nyerah.” Aku ingin menjawab, tetapi senyum kecilnya membuat kata-kataku terlambat. Jadi aku berbalik menuju dapur. Di belakangku, dia tertawa pelan.
Malam itu, sebelum tidur, segelas air kembali ada di meja samping ranjang. Kali ini aku tahu siapa yang menaruhnya. Aku juga tahu pintu kamarku tadi kubiarkan terbuka sedikit lebih lama daripada biasanya.
Aku membawa charger berlabel H ke kantor. Setiap kali kabel itu terlihat di meja, Nadia memasang senyum menyebalkan. Saat makan siang dia bertanya apakah Aries juga sudah menyiapkan kotak darurat untuk suasana hatiku.
“Mungkin isinya cokelat, voucher pijat, dan surat permintaan maaf kosong yang tinggal ditandatangani.” Aku menyuruhnya fokus pada makanannya. Nadia malah berkata,
“Kamu sadar nggak, sejak menikah kamu lebih sering cerita soal rumah?” Aku ingin membantah, tetapi tidak menemukan contoh yang bisa menyelamatkanku.
Sore hari hujan turun deras dan pekerjaan menumpuk. Aries mengirim pesan singkat: Aku ada dekat kantor kamu. Mau pulang bareng? Tidak ada pertanyaan kenapa aku belum selesai, tidak ada perintah segera turun. Aku membalas masih satu jam lagi. Dia menjawab akan menunggu di kedai kopi bawah gedung. Ketika akhirnya turun sembilan puluh menit kemudian, dia duduk membaca dengan dua minuman di meja.
“Katanya satu jam,” ucapnya.
“Ada revisi.”
“Makanya aku beli ukuran besar.”
Di mobil, aku menemukan payung lipat baru di saku pintu sebelahku. Warnanya hitam polos, persis tipe yang kusukai.
“Jangan bilang ini juga kebetulan,” kataku.
“Musim hujan.”
“Di sisi kamu saja?”
“Aku sudah punya.”
“Kalau aku pindah duduk ke belakang?”
“Besok aku taruh satu di sana.” Aku memukul lengannya pelan. Aries tertawa, lalu menyalakan pemanas kaca agar pandanganku tidak terganggu embun.
Malam itu aku memasukkan satu benda ke laci dekat sofa: obat pereda nyeri otot yang pernah kulihat dipakai Aries setelah lama menyetir. Aku tidak memberi label A. Aku bahkan tidak yakin dia akan menyadarinya. Namun tindakan itu membuatku paham sedikit tentang kesenangan aneh yang mungkin dia rasakan—menyiapkan sesuatu yang belum diminta, lalu berharap benda itu tak pernah dibutuhkan.
Aries menemukan obat nyeri otot itu dua hari kemudian. Dia mengangkat kotaknya dari laci saat aku membaca di sofa.
“Ini punya kamu?” Aku pura-pura tidak melihat.
“Bukan.”
“Berarti tumbuh sendiri.”
“Mungkin rumah kamu subur.” Dia duduk di ujung sofa.
“Rumah kita.” Koreksinya lembut. Lalu dia berkata,
“Makasih.” Tidak ada godaan kali ini. Aku mengangguk dan kembali menatap buku, meski sudah tidak membaca satu kalimat pun. Ternyata menerima perhatian darinya terasa hangat, tetapi melihatnya menerima perhatianku membuat kehangatan itu bergerak ke tempat yang belum kukenal.
Aku mengambil buku lagi untuk menyembunyikan wajah. Aries tidak mengejar reaksiku. Dia hanya menyimpan obat itu kembali, tepat di tempat yang mudah dijangkau. Sikapnya membuatku lega sekaligus penasaran: bagaimana dia bisa memberi begitu banyak perhatian tanpa pernah berdiri menunggu ucapan terima kasih? Pertanyaan itu menetap bahkan setelah halaman buku kubalik beberapa kali.
Malam itu gelas air kembali menunggu di samping ranjang, tetapi kali ini ada satu benda tambahan: permen jahe. Aku tersenyum sebelum sempat mencegahnya. Lalu aku meletakkan segelas air lain di depan pintu kamar Aries—balasan kecil yang kuharap tidak membuatnya terlalu percaya diri.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap reading
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang