Chapter Eight

Pesan Tanpa Alasan

POV: Helena

Percakapan kami di ponsel awalnya hanya berisi kebutuhan rumah: beli sabun, pulang terlambat, tagihan sudah dibayar. Perubahan dimulai ketika Aries mengirim foto kucing gemuk yang duduk di kap mobilnya dengan tulisan kendaraan disandera.

Aku membalas: Negosiasi pakai makanan.

Dia mengirim foto kedua. Kucing itu sekarang duduk di pangkuannya.

Negosiasi gagal. Sandera berpihak pada penculik.

Aku tertawa di tengah rapat sampai tiga orang menoleh. Sejak hari itu, percakapan kami dipenuhi hal-hal yang tidak perlu: bentuk awan aneh, papan iklan salah eja, makan siang yang terlihat menyedihkan, dan komentar tentang tetangga yang menyanyi terlalu keras.

Tidak satu pun pesan penting. Namun setiap kali sesuatu lucu terjadi, tanganku otomatis mencari namanya.

Suatu siang aku mengirim foto cangkir kantor yang pegangannya patah: korban rapat anggaran.

Biasanya Aries membalas dalam hitungan menit. Setengah jam berlalu tanpa tanda dibaca.

Aku kembali bekerja. Lima belas menit kemudian, aku memeriksa lagi.

Masih belum dibaca.

Aku tahu dia bekerja. Aku juga tidak berhak mengharapkan jawaban cepat untuk foto cangkir. Meski begitu, layar kosong mulai mengganggu konsentrasiku.

Nadia masuk membawa berkas dan melihatku membalik ponsel agar layar menghadap meja.

“Bertengkar?”

“Sama siapa?”

“Suami yang chat-nya kamu cek setiap empat menit.”

“Aku menunggu pesan klien.”

Ponselku bergetar. Aku langsung mengambilnya. Hanya promosi toko.

Nadia tersenyum kejam. “Kliennya bernama Aries?”

Aku menyuruhnya keluar. Dia pergi sambil menghitung keras-keras berapa kali aku akan memeriksa ponsel sampai sore.

Pukul empat, pesanku masih belum dibaca. Kekesalanku berubah menjadi khawatir. Aries selalu memberi kabar jika akan sulit dihubungi. Aku mengetik sedang sibuk?, lalu menghapusnya karena terdengar menuntut. Kutulis kamu oke?, lalu menghapusnya juga.

Akhirnya aku menelepon.

Nomornya tidak aktif.

Dadaku mengencang. Aku menghubungi Raka, berusaha terdengar biasa.

“Aries sama kamu?”

“Nggak. Tadi dia presentasi di gedung klien.”

“Ponselnya mati.”

Raka berhenti bercanda. “Gue cek.”

Dua belas menit berikutnya terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya. Ketika Raka kembali menelepon, suaranya santai.

“Dia aman. Gedung klien melarang ponsel di ruang presentasi, terus rapat molor. Baru selesai.”

Aku mengembuskan napas. “Oke.”

“Mau gue bilang istrinya hampir kirim tim pencari?”

“Jangan macam-macam.”

“Terlambat. Dia di sebelah gue.”

Suara Aries terdengar menjauh dari ponsel Raka. “Helena telepon?”

Aku memutus sambungan.

Satu menit kemudian Aries menelepon dari nomornya sendiri.

“Maaf. Ponsel dititipkan di loker dan rapatnya kacau.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu khawatir?”

“Aku cuma memastikan kamu hidup. Kalau kamu mati, urusan administrasinya banyak.”

Aries tertawa pelan. “Aku hidup.”

“Bagus.”

“Cangkir kamu turut berduka.”

Jadi ia sudah membaca pesanku. Rasa lega datang bersama malu karena reaksiku sendiri.

“Kamu masih di kantor?” tanyanya.

“Iya.”

“Aku jemput.”

“Nggak perlu.”

“Aku tahu. Aku mau.”

Empat puluh menit kemudian mobilnya berhenti di depan gedung. Begitu masuk, aku melihat kabel pengisi daya tersambung ke ponselnya yang hanya memiliki baterai tiga persen.

“Harusnya kamu kasih tahu dari awal,” kataku.

“Aku kira rapat cuma satu jam.”

“Kalau nanti terjadi lagi, pinjam ponsel orang.”

Aries tidak menertawakan nada komandoku. “Oke.”

Kami terdiam sampai lampu merah. Aku tahu ia berhak menanyakan kenapa jawabannya penting bagiku. Dia justru menunjuk sebuah toko di pinggir jalan.

Sebelum berbelok, Aries berkata, “Aku akan kasih tahu kalau nanti ada rapat seperti itu lagi.”

“Aku nggak minta laporan setiap jam.”

“Aku tahu. Tapi tadi kamu khawatir karena aku mengubah pola tanpa kabar.”

Ia menyebutnya pola, bukan tuntutan. Aku memang terbiasa mendapat respons, sama seperti terbiasa menemukan lampu menyala ketika pulang. Ketika pola itu mendadak hilang, yang terasa bukan sekadar pesan tak dibalas, melainkan hilangnya satu tanda aman.

“Aku juga akan bilang kalau sedang nggak bisa balas,” kataku.

“Sepakat.”

Kesepakatan tersebut terdengar praktis, tetapi maknanya lebih dalam: kami mengakui bahwa pesan-pesan remeh kami sudah cukup berarti untuk dijaga.

“Mau beli cangkir baru?”

Pertanyaan itu memberi jalan keluar tanpa mempermalukanku. Aku mengangguk.

Di toko, Aries mengambil cangkir dengan tulisan Istri Bos. Aku mengembalikannya dan memilih yang polos. Diam-diam ia memasukkan sendok kecil berbentuk kucing ke keranjang.

“Buat negosiator sandera,” katanya.

Aku tertawa, lalu mengambil satu sendok berbentuk anjing untuknya.

Malamnya, setelah masuk kamar, aku menerima foto cangkir barunya di meja kerja. Pesannya: sudah sampai kamar. Ponsel terisi. Masih hidup.

Aku membalas foto cangkirku di nakas: diterima. Jangan hilang lagi.

Tiga titik muncul.

Siap.

Keesokan hari aku menghadapi presentasi penting. Sebelum memasuki ruang rapat, aku mengirim foto pintunya kepada Aries tanpa penjelasan. Ia langsung tahu.

Semoga lancar. Kabari setelah selesai.

Dua jam kemudian, aku keluar dengan kontrak yang disetujui dan tangan masih gemetar karena sisa adrenalin. Rekan-rekanku mengajak merayakan dengan kopi. Aku ikut berjalan, tetapi lebih dulu mengetik satu kata kepada Aries.

Berhasil.

Balasannya datang hampir seketika: Aku tahu kamu bisa.

Aku berhenti di koridor. Selama bertahun-tahun, keberhasilan selalu terasa seperti sesuatu yang harus segera dipindahkan ke target berikutnya. Hari itu, karena ada seseorang yang menunggu kabar, aku membiarkan diriku merayakan selama beberapa detik.

Nadia melongok dari bahuku. “Dia balas cepat sekarang?”

“Iya.”

“Dan kamu mengaku menunggu?”

Aku memasukkan ponsel ke tas. “Aku cuma memberi kabar.”

“Tentu.” Nadia mengangkat tangannya seperti bersumpah. “Tidak ada perasaan di sini. Hanya sistem notifikasi suami istri.”

Aku tidak membantah sekeras biasanya. Nadia menyadarinya dan senyumnya berubah dari mengejek menjadi lembut.

Malam itu Aries membawa pulang kue kecil bertuliskan selamat. Ia tidak mengundang keluarga atau mengubah keberhasilanku menjadi acara besar. Kami memakannya di dapur, hanya berdua.

“Kamu yakin sudah tahu aku bisa?” tanyaku.

“Nggak.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku yakin kamu akan melakukan yang terbaik,” koreksinya. “Hasilnya tetap bisa buruk. Kalimat motivasi seharusnya jujur.”

Aku tertawa. “Romantis sekali.”

“Aku analis risiko.”

Ia memberiku potongan kue dengan krim paling banyak. Aku memotretnya sebelum makan dan mengirim foto itu kepadanya meski ia duduk tepat di seberang.

Aries melihat ponsel, lalu kepadaku. “Kenapa kirim?”

“Biar ada di chat.”

Percakapan kami telah berubah menjadi arsip kehidupan yang tidak masuk kalender: kucing, cangkir patah, kekhawatiran, keberhasilan. Aku ingin momen ini tersimpan di antara semuanya.

Dia menyimpan foto tersebut ke album khusus bernama Rumah. Aku pura-pura tidak melihat nama album itu, tetapi malamnya aku membuka chat kami dari awal dan menyadari sesuatu.

Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap atas. Kami tidak lagi mencari alasan untuk saling menghubungi. Pesan itu sendiri sudah menjadi alasan—cara mengetuk dari kejauhan, membagikan bagian kecil dari hari, dan mendengar seseorang menjawab, aku ada.