Chapter Ten
Senyummu Sudah Cukup
POV: Aries
Helena menemukan tagihan servis mobil di meja kerja dan langsung tahu aku sudah membayarnya. Ia berdiri di pintu dengan kertas di tangan, sementara aku menyelesaikan panggilan kantor.
Begitu telepon ditutup, dia meletakkan tagihan di depanku. “Kenapa kamu bayar?”
“Mobilnya perlu diservis.”
“Aku tahu. Aku sudah bilang mau urus akhir pekan.”
“Bengkelnya punya jadwal kosong kemarin. Aku kebetulan lewat.”
Helena menatap angka pada kertas. “Ini bukan soal bisa atau nggak. Aku nggak mau semua urusan aku otomatis jadi tanggung jawab kamu.”
Aku hendak menjawab tidak masalah, tetapi wajahnya membuatku berhenti. Ia bukan menolak perhatian. Ia takut menerima terlalu banyak tanpa tahu apa yang kuharapkan sebagai balasan.
“Duduk dulu,” kataku.
“Jangan alihkan.”
“Aku nggak mengalihkan. Aku mau jawab dengan benar.”
Helena duduk di kursi seberang. Tagihan itu tetap di antara kami seperti bukti sebuah perkara.
“Aku bayar karena aku punya waktu dan bengkel menelepon aku soal jadwal,” kataku. “Bukan karena kamu nggak mampu. Bukan juga karena aku sedang mencatat jasa.”
“Tapi kamu selalu begitu. Bensin, obat, makanan, sekarang servis. Aku bahkan nggak sempat meminta.”
“Kalau kamu nggak suka aku mengambil keputusan tanpa bilang, itu salah aku. Aku bisa tanya lain kali.”
Jawaban itu sedikit menurunkan bahunya, tetapi pertanyaan utama masih ada di matanya.
“Kenapa kamu mau melakukan semua itu?”
Aku sudah lama menyiapkan banyak jawaban aman. Karena kami menikah. Karena aku memang teratur. Karena hal-hal tersebut mudah dilakukan. Tidak satu pun cukup jujur.
“Karena aku senang hidup kamu jadi sedikit lebih ringan,” jawabku.
“Cuma itu?”
Aku melihat perempuan yang dulu hanya bisa kuperhatikan dari jarak aman. Sekarang ia duduk di ruang kerjaku, mengenakan kaus rumah, menuntut kejujuran yang mungkin akan membuatnya mundur.
Namun berbohong juga berarti meremehkan keberaniannya bertanya.
“Melihat kamu senyum sudah cukup.”
Helena tidak bergerak. Kalimat itu keluar lebih telanjang daripada yang kurencanakan.
Aku melanjutkan sebelum ia salah memahami. “Bukan berarti kamu harus senyum buat aku. Bukan berarti kamu berutang kebahagiaan. Aku cuma bilang aku melakukan hal-hal itu karena aku memilihnya.”
“Kalau aku nggak pernah membalas?”
Pertanyaan itu pelan, hampir takut.
“Kamu nggak wajib membalas.”
“Itu nggak adil.”
“Buat siapa?”
“Buat kamu.”
Aku bersandar. “Adil bukan berarti semua perhatian harus punya nilai tukar yang sama.”
“Kamu mudah bilang begitu karena selalu jadi pihak yang memberi.”
Kalimatnya tepat mengenai sesuatu yang tidak ingin kuperiksa. Memberi memang lebih mudah. Selama aku tidak meminta, aku tidak perlu mengetahui apakah ada sesuatu untukku.
Aku menurunkan pandangan ke tagihan. “Mungkin.”
Helena tampak terkejut karena aku tidak membantah.
“Aku nggak mau dikasihani,” kataku. “Dan aku nggak sedang mengorbankan diri. Kalau ada hal yang membuat aku nggak nyaman, aku akan bilang.”
Itu janji yang terdengar sederhana, meski aku belum yakin bisa menepatinya.
Helena mengambil ponsel dan mentransfer setengah biaya servis. Notifikasi muncul di layarku.
“Aku nggak minta—”
“Aku tahu. Aku mau.”
Ia sengaja memakai kalimat yang sering kugunakan. Aku bisa mengembalikan uangnya, tetapi itu berarti mengulang kesalahan yang sama: memutuskan sendiri bentuk perhatian yang boleh ia berikan.
“Oke,” kataku.
Helena menunggu, mungkin mengira aku akan berdebat. Ketika tidak, ekspresinya melunak.
“Dan lain kali, tanya sebelum bayar sesuatu yang besar.”
“Sepakat.”
“Aku juga akan tanya kalau mau membantu kamu.”
“Membantu apa?”
“Nah, itu masalahnya. Aku nggak tahu kamu butuh apa.”
Aku hampir menjawab tidak butuh apa-apa. Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah ketika melihat frustrasi di wajahnya.
“Kopi,” kataku akhirnya.
“Apa?”
“Aku mau kopi. Kalau kamu bersedia buat.”
Permintaan itu kecil, tetapi membuat dadaku tegang. Helena menatapku beberapa detik, kemudian berdiri.
“Pakai gula?”
“Nggak. Susu sedikit.”
“Aku tahu.”
Ia pergi ke dapur. Aku duduk sendirian, menyadari aku baru memberi seseorang kesempatan melakukan sesuatu untukku tanpa lebih dulu memastikan aku bisa membalas.
Rasa tidak nyaman datang bukan karena aku meragukan kemampuannya membuat kopi. Aku terbiasa mengubah kebutuhan menjadi pekerjaan yang bisa kuselesaikan sendiri. Meminta berarti membiarkan orang lain mengetahui ada ruang kosong, lalu mempercayai mereka tidak akan menggunakannya untuk menguasai.
Helena muncul lagi di pintu. “Kenapa wajah kamu seperti habis mengambil keputusan investasi?”
“Aku sedang menunggu kopi.”
“Sangat berat, ya?”
Aku hampir menyangkal. Sebaliknya, aku mengangguk. “Sedikit.”
Ia tidak menertawakan. “Kalau begitu, mulai dari kopi dulu.”
Kalimat itu tidak memaksa janji besar. Ia hanya menawarkan satu latihan kecil yang bisa gagal tanpa melukai siapa pun.
Helena kembali membawa dua cangkir. Kopiku terlalu encer, tetapi aku mengatakan hal itu setelah satu teguk.
“Serius?” tanyanya.
“Kamu minta aku bilang kalau ada yang nggak nyaman.”
Dia mencoba dari cangkirku dan mengernyit. “Iya, ini buruk.”
Kami tertawa. Ketegangan yang memenuhi ruang kerja sejak tadi akhirnya pecah.
Helena mengambil cangkir itu. “Aku buat ulang.”
“Nggak usah. Masih bisa diminum.”
“Aku mau belajar.”
Kali ini aku membiarkannya pergi tanpa merasa harus menyelamatkan usahanya. Kopi kedua lebih kuat. Ia berdiri di samping meja menunggu penilaian.
“Pas,” kataku.
Senyumnya muncul—puas, sedikit bangga, dan sama sekali bukan senyum yang kupaksa.
Helena lalu menarik selembar kertas kosong dan membuat dua kolom. Di kiri ia menulis hal yang boleh langsung dilakukan. Di kanan, hal yang harus ditanyakan dulu.
“Ini apa?” tanyaku.
“Supaya perhatian nggak berubah jadi pengambilalihan.”
Di kolom kiri kami menulis membuat kopi, menyiapkan makan ketika salah satu terlambat, dan mengingatkan obat. Di kolom kanan masuk pembayaran besar, mengubah jadwal, serta membawa kendaraan ke bengkel.
Aku menunjuk ruang kosong di bawahnya. “Kalau pelukan?”
Ujung penanya berhenti. “Tanya dulu.”
“Dicatat.”
“Kenapa kamu senyum?”
“Karena kategorinya tersedia.”
Helena menutup kertas dengan telapak, pipinya memerah. Godaan itu mengembalikan kehangatan tanpa menghapus inti percakapan kami.
Ia menempelkan daftar pada papan kecil di dapur. Kesepakatan tersebut kelak mungkin berubah, tetapi hari itu kami menemukan bahasa pertama untuk membedakan merawat dan mengambil kendali.
Sebelum keluar dari ruang kerja, Helena menoleh. “Besok kamu minta apa?”
Aku berpikir. “Temani sarapan.”
“Itu sudah biasa.”
“Tetap sesuatu yang aku mau.”
Ia mengangguk. “Oke. Besok aku datang.”
Aku tidak mengatakan bahwa kemungkinan ia menolak sempat membuatku takut. Permintaanku diterima bukan karena ia berutang biaya servis, melainkan karena ia juga menginginkan pagi itu. Perbedaannya kecil di permukaan, tetapi menjadi fondasi bagi segala sesuatu yang kelak harus kupelajari tentang menerima.
Kalimat tadi masih benar. Melihatnya seperti itu memang terasa lebih dari cukup. Namun saat Helena duduk dan menyerahkan kopi kepadaku, aku menemukan sesuatu yang belum berani kuakui: mungkin suatu hari aku ingin belajar menerima lebih dari senyumnya.
Untuk sekarang, aku memegang cangkir buatan istriku dan berkata terima kasih. Ia tidak berutang apa pun. Tetapi perhatian yang ia pilih sendiri terasa berbeda dari semua kebahagiaan yang selama ini cukup kulihat dari jauh.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup reading
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang