Chapter Twenty Nine
Operasi Mencintai Aries
POV: Helena
Dua hari setelah menemukan kotak lama, aku mengundang Nadia ke kafe dengan satu agenda rahasia. Dia datang memakai kacamata hitam, duduk tanpa menyapa, lalu meletakkan map merah di atas meja seperti agen intelijen.
“Aku siap,” katanya.
“Siap apa?”
“Operasi Mencintai Aries.”
Aku menatap tulisan besar pada sampul map. “Kenapa namanya memalukan?”
“Nama operasi harus mudah diingat. Alternatifnya Proyek Membalas Enam Tahun Cinta Diam-Diam, tapi kepanjangan.”
“Aku nggak mau membalas. Cinta bukan utang.”
Nadia melepas kacamata. “Bagus. Berarti terapi dari drama kemarin berhasil.”
Aku menjelaskan tujuanku: bukan menandingi semua yang pernah Aries lakukan, melainkan membuatnya terbiasa menerima perhatian tanpa berkata tidak perlu. Nadia mengangguk serius, lalu membuka map yang ternyata berisi bagan warna-warni.
Kategori pertama adalah makanan. Kategori kedua hadiah. Kategori ketiga sentuhan spontan. Kategori keempat diberi judul serangan romantis sampai korban menyerah.
“Kita bukan mau menculik dia,” kataku.
“Sikap Kak Aries terhadap kebahagiaan sendiri lebih keras daripada keamanan bank. Kita butuh strategi.”
Aku membaca usul pertama: mengirim seratus mawar ke kantor. Langsung kucoret. Usul kedua: makan malam dengan pemain biola. Kucoret juga. Usul ketiga: mencetak wajahku di bantal agar dia selalu merasa ditemani.
“Kamu datang untuk membantu atau menghancurkan pernikahan aku?”
“Aku memberi pilihan.”
Kami akhirnya sepakat memulai dari hal kecil. Aries paling nyaman menerima sesuatu kalau benda itu praktis. Masalahnya, semua kebutuhan praktisnya sudah dia urus sebelum sempat ditanyakan.
“Apa yang dia sering lupa?” tanya Nadia.
Aku membuka mulut, lalu menutupnya. Aries mengingat obat, tagihan, servis mobil, jadwal keluarga, bahkan kapan tanaman harus disiram. Namun ada satu hal yang berkali-kali ia abaikan: dirinya sendiri.
“Makan kalau sedang kerja,” jawabku. “Istirahat. Mengganti barang miliknya yang rusak selama masih bisa dipakai.”
Nadia mengetuk meja. “Itu celah kita.”
Operasi dimulai sore itu. Aku pulang lebih cepat dan menemukan dompet Aries di meja kerja. Kulitnya sudah retak di sudut. Aku memotretnya untuk mencari model serupa, lalu pergi sebelum dia pulang.
Toko ketiga memiliki dompet sederhana berwarna cokelat gelap, tanpa logo besar dan cukup tipis untuk seleranya. Aku hampir membelinya, tetapi teringat percakapan kami: merawat bukan berarti memutuskan sepihak.
Aku mengirim foto dua pilihan kepadanya: Yang mana lebih kamu suka?
Balasannya datang: Buat siapa?
Buat suami aku yang dompetnya kelihatan habis perang.
Tiga titik muncul lama. Lalu: Yang kiri. Tapi aku bisa beli sendiri.
Aku mengetik: Aku tahu. Aku yang mau belikan.
Jawabannya hanya satu kata: Oke.
Kata pendek itu membuatku tersenyum di tengah toko. Bukan hadiah yang terasa seperti kemenangan, melainkan kesediaannya untuk tidak menolak.
Malamnya, Aries menerima kotak kecil tersebut dengan kedua tangan. Dia membuka, memeriksa jahitan, lalu menatapku seperti aku baru memberinya sesuatu yang jauh lebih besar.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Aku boleh bilang dompet lama masih bisa dipakai?”
“Boleh, kalau mau tidur di gudang sama koleksi kabel.”
Dia langsung memindahkan kartu-kartunya. Aku duduk di samping, memperhatikan setiap benda kecil yang selama ini tidak kukenal: kartu anggota toko buku, foto keluarga, kartu nama Raka yang dicoret dengan tulisan jangan dipercaya soal investasi.
Di bagian paling belakang ada foto paspor kecilku.
“Kenapa ada ini?”
Aries tampak tertangkap. “Mama kamu kasih waktu mengurus dokumen pernikahan.”
“Dan kamu simpan di dompet?”
“Ukurannya pas.”
“Jawaban buruk.”
“Karena aku suka.”
Kejujurannya membuat niat menggoda lenyap. Aku mengambil foto itu dan memasukkannya ke dompet baru. “Kalau begitu tetap simpan.”
Hari berikutnya, aku mengirim makan siang ke kantornya. Bukan menu mewah, hanya nasi, lauk favoritnya, dan catatan: Sudah makan? Laporan bisa menunggu dua puluh menit.
Raka mengirim foto Aries menatap kotak makan seperti baru menerima penghargaan negara.
Aku membalas: Pastikan dia makan.
Raka menjawab: Biaya pengawasan satu kopi.
Aku mentransfer harga dua kopi dengan keterangan jasa menjaga suami keras kepala. Lima menit kemudian Aries menelepon.
“Kamu menyuap Raka?”
“Aku menggunakan sumber daya.”
“Dia sekarang keliling kantor bilang dirinya kepala pengamanan rumah tangga kita.”
“Setidaknya kamu makan?”
Terdengar bunyi sendok. “Sedang.”
“Enak?”
“Enak.” Setelah jeda, dia menambahkan, “Aku senang.”
Dua kata terakhir disampaikan hati-hati, seperti pengakuan yang perlu dilatih. Dadaku menghangat.
Operasi berlanjut tanpa map Nadia. Aku mengisi bensin mobilnya sebelum tangki kosong, menaruh permen jahe di tas kerjanya, dan mengganti kabel pengisi daya yang terkelupas. Setiap kali Aries berkata aku tidak perlu melakukan itu, aku menjawab bahwa tahu tidak perlu berbeda dari ingin.
Dia mulai membalas dengan menerima. Kadang wajahnya masih bersalah. Kadang dia mencoba mengerjakan sesuatu untukku beberapa menit kemudian, seolah hadiah harus segera diseimbangkan. Aku selalu menangkapnya.
Percobaan paling jelas terjadi ketika aku mengganti payung lipatnya yang rusak. Lima belas menit setelah membuka hadiah, dia muncul membawa secangkir kopi dan tiket film untuk akhir pekan. Aku menatap dua benda itu, lalu menatapnya.
“Kamu sedang bayar payung?”
“Aku sedang mengajak istri aku berkencan.”
“Kenapa tepat setelah menerima hadiah?”
Aries memandangi tiket seolah baru menyadari waktunya terlalu mencurigakan. “Refleks.”
Aku menerima kopinya, tetapi mengembalikan tiket ke saku kemejanya. “Ajak aku lagi besok, saat kamu nggak sedang panik.”
Keesokan sore dia berdiri di pintu ruang kerjaku dan mengeluarkan tiket yang sama. “Aku sudah menunggu dua puluh empat jam. Mau kencan sama aku?”
“Mau.”
Senyumnya kali itu bebas dari rasa bersalah. Kami menonton film buruk dan menghabiskan lebih banyak waktu menertawakan dialog daripada mengikuti cerita. Di perjalanan pulang, Aries mengakui ia menikmati payung barunya karena tombolnya tidak macet. Pengakuan kecil itu terasa lebih romantis daripada tiket mana pun.
“Jangan bayar balik,” kataku ketika dia menawarkan memijat pundakku setelah menerima makan siang.
“Aku memang mau.”
“Benar-benar mau atau panik karena baru menerima?”
Aries berpikir. “Dua-duanya.”
“Tunggu sampai tinggal yang pertama.”
Dia menghela napas, lalu duduk kembali. Lima menit kemudian aku justru menyandarkan punggung ke dadanya dan meminta dipeluk. Itu bukan pembayaran. Itu kehidupan yang bergerak dua arah tanpa buku kas.
Nadia datang malam Jumat untuk mengevaluasi operasi. Begitu melihat dompet baru di meja, dia memberi centang besar pada bagannya.
“Target menerima hadiah. Tahap berikutnya: liburan romantis mendadak.”
“Tahap berikutnya aku belajar bikin sarapan,” kataku.
Aries yang sedang minum hampir tersedak. “Kenapa operasi ini mulai mengancam keselamatan aku?”
“Kamu dengar dari kapan?”
“Sejak dia menyebut target.”
Nadia menutup map cepat-cepat. “Saya hanya konsultan.”
Aries mengambil map itu sebelum kami bisa mencegah. Dia membaca daftar mawar, pemain biola, dan bantal berwajahku. Bahunya bergerak menahan tawa.
“Bantal ini menarik.”
“Jangan dukung dia.”
“Bisa ditaruh di ruang kerja.”
Aku merebut map, sementara Nadia memotret ekspresi kami untuk bahan pemerasan masa depan.
Sebelum pergi, Nadia menyerahkan satu kartu evaluasi kepada Aries. Pertanyaannya hanya tiga: apakah merasa diperhatikan, apakah merasa tertekan, dan apakah bersedia menerima perhatian berikutnya. Aries mengisinya dengan serius hanya untuk menggangguku.
Pada kolom pertama dia memberi nilai sepuluh. Kolom kedua nol. Kolom ketiga ia mencentang ya, lalu menulis catatan: dengan syarat ketua operasi juga bersedia menerima balasan yang tidak lahir dari kepanikan.
Aku membaca dua kali. “Jadi sekarang kamu membuat syarat?”
“Aku sedang belajar meminta.”
Nadia menepuk meja seperti moderator debat. “Permintaan diterima. Operasi ini resmi punya dua arah.”
Aku menyimpan kartu tersebut di dompetku. Aries tidak harus berhenti memberi untuk belajar menerima. Kami hanya perlu memastikan kebaikannya lahir dari keinginan, bukan ketakutan bahwa ia harus membayar tempatnya di hidupku.
Setelah sepupuku pulang, aku menemukan Aries berdiri di dapur menatap catatan makan siang yang ia bawa pulang. Dia meratakannya dan menempelkan pada papan dekat jadwal menyiram tanaman.
“Kenapa disimpan?” tanyaku.
“Karena aku suka.”
Jawaban yang sama seperti foto di dompet, tetapi kali ini dia mengucapkannya tanpa menyembunyikan diri di balik ukuran atau kegunaan.
Aku memeluknya dari belakang. “Operasi hari pertama berhasil.”
“Operasinya berapa lama?”
“Seumur hidup, mungkin.”
Tubuhnya menegang sepersekian detik, lalu rileks dalam pelukanku. Dia menutup tangannya di atas tanganku.
“Kedengarannya lama,” katanya.
“Takut?”
“Sedikit.”
“Tetap di sini.”
“Aku tetap di sini.”
Aku tersenyum pada punggungnya. Mencintai Aries tidak membutuhkan seratus mawar atau rencana dramatis. Untuk saat ini, cukup membuat satu ruang kecil setiap hari di mana dia boleh menerima, senang, dan percaya bahwa kebahagiaannya tidak sedang mengambil apa pun dariku.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries reading
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang