Chapter Thirty Four
Lampu yang Menunggu Suamiku
POV: Helena
Perjalanan ke vila harus ditunda karena proyek kantor Aries mengalami masalah. Jumat sore dia menelepon dengan suara lelah dan mengatakan kemungkinan pulang lewat tengah malam.
“Maaf,” katanya. “Aku tahu kita sudah rencana.”
“Kita pergi minggu depan.”
“Kamu kecewa?”
“Iya.” Aku memilih jujur. “Tapi aku nggak marah sama kamu. Selesaikan yang perlu diselesaikan, lalu pulang.”
Dia diam sesaat. “Terima kasih.”
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Aku kirim.”
“Nggak perlu—”
Dia berhenti sendiri. Aku bisa membayangkan wajahnya ketika menyadari jawaban lama hampir keluar.
“Tolong kirim,” koreksinya. “Yang hangat.”
“Bagus.”
Aku memesan sup dan nasi untuk seluruh tim kecilnya. Raka mengirim foto Aries memegang sendok dengan keterangan pasien belajar patuh. Aku membalas dengan emoji penghargaan, lalu menutup laptop kerjaku lebih awal.
Salah satu anggota tim Aries mengirim pesan terima kasih melalui nomor kantor. Katanya suasana rapat sejak sore tegang dan makanan membuat semua orang berhenti saling menyalahkan selama dua puluh menit. Aku meminta dia memastikan Aries tidak mengambil semua tugas sendirian.
Balasannya mengejutkanku: Pak Aries justru sudah membagi tugas, Bu. Beliau bilang ingin pulang sebelum istrinya tidur.
Aku membaca kalimat itu dua kali. Aries bukan hanya belajar meminta dariku; dia mulai memberi batas pada dunia luar. Kepulangannya tidak lagi berada di urutan terakhir setelah semua orang selesai membutuhkan dirinya.
Aku mengirim pesan: Aku bangga kamu membagi tugas.
Dia membalas: Sedang latihan punya tempat yang ingin dituju.
Dadaku menghangat. Aku tidak ingin menjadi alasan dia mengabaikan tanggung jawab, tetapi aku ingin rumah ini cukup berarti untuk masuk dalam perhitungannya.
Rumah terasa berbeda ketika Aries belum pulang. Bukan sepi yang asing, melainkan ruang yang sengaja menunggu satu suara tertentu: bunyi mobil di halaman, kunci di pintu, lalu salam pelan agar tidak mengejutkanku.
Aku makan sendiri, menyisihkan lauk untuknya, dan membereskan dapur. Pukul sepuluh, aku hampir naik ke kamar. Tanganku sudah berada di sakelar ruang tengah ketika ingatan malam pertama pernikahan muncul.
Dulu aku pulang larut dan menemukan satu lampu menyala. Aries tertidur di sofa, makanan hangat menunggu, dan aku belum mengerti bahwa cahaya kecil itu adalah bentuk cinta.
Aku menarik tangan dari sakelar.
Lampu tetap menyala.
Aku menyiapkan segelas air di meja, meletakkan makanan di wadah yang mudah dipanaskan, lalu mengambil selimut krem. Niat awal hanya menunggu sampai pukul sebelas. Setelah itu aku akan mengirim pesan dan tidur.
Sambil menunggu, aku membuka album Rumah. Foto pertama menunjukkan sudut ruang tengah yang masih kosong pada minggu awal pernikahan. Tidak ada karpet, tanaman, atau bingkai kami. Pada foto berikutnya muncul dua cangkir kopi. Lalu kemeja biru, selimut krem, lemari miring, dan catatan-catatan kecil yang semakin memenuhi papan.
Perubahan rumah itu berjalan sejajar dengan perubahan hatiku. Tidak ada satu foto yang bisa disebut titik jatuh cinta. Semua benda hanya menggeser sesuatu sedikit demi sedikit sampai hidup Aries dan hidupku tidak lagi memiliki garis pemisah yang jelas.
Aku mengambil foto baru: satu lampu, satu gelas air, dan tempat kosong di sofa. Kukirimkan ke album tanpa membagikannya kepada siapa pun. Foto itu bukan bukti kesepian. Ia adalah janji bahwa ruang kosong tersebut sudah diperhitungkan untuk seseorang.
Pukul sebelas lewat, Aries mengabari rapat terakhir belum selesai. Aku membalas foto sofa dan lampu: Rumah masih buka.
Tiga titik muncul lama sebelum jawabannya datang: Jangan tunggu. Kamu besok ada agenda.
Aku mengetik: Aku tahu. Aku mau.
Tidak ada balasan beberapa menit. Kemudian satu pesan masuk: Aku usahakan cepat pulang.
Aku menyalakan film, tetapi alurnya tidak masuk. Setiap suara kendaraan membuatku menoleh. Ternyata menunggu seseorang bukan kegiatan pasif. Ada kekhawatiran kecil, perhitungan waktu, dan keputusan berulang untuk tetap terjaga.
Aku teringat berapa kali Aries melakukan ini tanpa mengirim pesan yang membuatku merasa bersalah. Dia tidak pernah bertanya kenapa lama atau kapan pulang dengan nada menuntut. Sekarang aku mengerti pengendalian yang dibutuhkan untuk membuat perhatian terasa seperti pintu terbuka, bukan tali yang menarik.
Aku menulis pesan panjang, menghapusnya, lalu memilih kalimat sederhana: Kabari kalau sudah berangkat. Hati-hati.
Batas antara peduli dan mengontrol bukan soal berapa banyak cinta di dalamnya, melainkan apakah orang yang dicintai tetap punya ruang bernapas. Pelajaran itu dulu diberikan Aries lewat tindakan. Malam ini aku mencoba mengembalikannya.
Nadia menelepon setelah melihat status daringku.
“Belum tidur?”
“Nunggu Aries.”
“Wah, plot berputar.”
“Jangan ganggu.”
“Mau ditemani video call?”
“Nggak perlu.”
“Nah, sekarang kamu terdengar kayak dia.”
Aku mendesah. Nadia tertawa, lalu benar-benar menemani lewat video sambil melipat pakaian. Kami membicarakan hal remeh sampai dia salah memasukkan kaus ke tumpukan handuk tiga kali.
“Kamu tahu,” katanya, “dulu Kak Aries sering tanya aku apakah kamu sudah sampai rumah setelah acara. Sekarang kamu yang menghitung jam.”
“Aku baru tahu menunggu bisa selelah ini.”
“Makanya nanti jangan sambut dia dengan marah.”
“Aku nggak marah.”
“Wajah kamu kelihatan siap memarahi seluruh direksi.”
Aku memutus panggilan setelah mengucapkan selamat malam. Komedi Nadia menahan kekhawatiranku agar tidak tumbuh liar.
Pukul dua belas lewat empat puluh, hujan mulai turun. Aku mengirim pesan menanyakan apakah Aries menyetir sendiri. Dia menjawab akan memesan mobil daring karena terlalu lelah. Keputusan itu membuatku lega sekaligus sedih membayangkan betapa berat harinya.
Aku memanaskan sup sekali, lalu mematikannya agar tidak rusak. Gelas air di meja kuganti karena permukaannya mulai terkena debu. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu kulihat sebagai otomatis ternyata membutuhkan perhatian yang terus dipilih.
Sekitar pukul satu, Raka mengirim pesan: Dia baru berangkat. Jangan khawatir. Gue paksa naik mobil.
Aku membalas terima kasih dan menawarkan kopi sebagai biaya pengamanan. Raka menjawab bahwa jabatan kepala pengamanan rumah tangga masih aktif.
Aku tersenyum lalu menarik selimut sampai bahu. Mata mulai berat. Aku berniat hanya menutupnya lima menit.
Sebelum tertidur, aku menyetel alarm tiga puluh menit dan meninggalkan pesan suara singkat. Aku bilang pintu sudah dikunci tetapi kuncinya bisa dibuka dari luar, makanan ada di dapur, dan dia tidak perlu berjalan pelan karena aku memang menunggu.
Pesan itu terdengar sangat domestik ketika kuputar ulang. Tidak puitis, tidak dramatis. Namun cinta kami selalu paling jujur dalam instruksi praktis: minum obat, hati-hati di jalan, makanan tinggal dipanaskan. Bedanya, kini bahasa itu bergerak ke dua arah.
Dalam setengah sadar, aku mendengar kunci berputar. Langkah kaki masuk perlahan. Pintu ditutup hati-hati, kemudian suasana diam cukup lama.
Aku membuka mata sedikit. Aries berdiri di dekat sofa dengan tas di satu tangan. Rambutnya lembap terkena hujan, kemejanya kusut, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan.
Tatapannya berpindah dari lampu ke gelas air, makanan, lalu kepadaku.
“Kamu benar-benar menunggu,” katanya sangat pelan.
Aku ingin menjawab, tetapi kantuk menarikku lagi. Yang berhasil keluar hanya gumaman.
Aries meletakkan tas, berlutut di samping sofa, dan menyentuh rambutku. Jemarinya dingin.
“Aku sudah pulang,” bisiknya.
Kalimat itu membuat tubuhku rileks sepenuhnya. Aku menangkap tangannya dan menempelkannya ke pipi tanpa membuka mata.
“Air,” kataku.
“Nanti.”
Aku membuka satu mata. “Sekarang.”
Dia tertawa lirih, mengambil gelas, dan minum sampai habis. Setelah itu dia duduk di lantai, punggung bersandar pada sofa, seolah terlalu lelah untuk bergerak lagi.
Aku bergeser dan menepuk tempat kosong. “Naik.”
“Aku masih basah.”
“Selimut bisa dicuci.”
Aries duduk di sampingku. Aku menarik selimut menutupi kami berdua dan menyandarkan kepala ke bahunya. Kini bahunya yang terasa berat di kepalaku, bukan sebaliknya.
“Makan?” tanyaku.
“Nanti sedikit.”
“Kerjaan selesai?”
“Selesai untuk malam ini.”
“Capek?”
Dia mengangguk. Pengakuan tanpa kata itu sudah cukup besar.
Aku menggenggam tangannya. “Tidur lima menit dulu.”
“Kamu besok—”
“Jangan atur aku.”
“Galak.”
“Istri kamu.”
Dia tersenyum dan memejamkan mata. Beberapa menit kemudian napasnya melambat. Aku tetap terjaga, memperhatikan wajahnya yang akhirnya tenang.
Ponselnya bergetar sekali di saku. Aku tidak mengambilnya. Dunia luar bisa menunggu beberapa menit; lelaki yang selalu menyediakan dirinya untuk semua orang akhirnya sedang beristirahat di rumahnya sendiri.
Ketika tubuhnya miring karena kehilangan keseimbangan, aku menopang kepala dan menarik bantal dari ujung sofa. Aries membuka mata setengah.
“Merepotkan?” gumamnya.
“Sedikit.”
Dia terlihat hendak meminta maaf.
“Tapi aku mau,” tambahku sebelum kata itu keluar.
Matanya tertutup lagi. “Oke.”
Satu kata penerimaan itu menjadi hadiah kecil di ujung malam panjang.
Pada malam pertama, Aries menunggu agar aku tidak pulang ke rumah yang gelap. Malam ini aku memahami bahwa lampu itu bukan sekadar benda yang dibiarkan menyala. Ia adalah pesan: ada seseorang yang memperhitungkan kepulanganmu.
Aku mencium pelipisnya. “Selamat datang.”
Aries tidak bangun, tetapi genggamannya mengerat.
Kami tertidur di sofa dengan dua tubuh terbungkus satu selimut dan lampu ruang tengah masih menyala. Untuk pertama kalinya dalam cerita rumah ini, bukan hanya aku yang memiliki cahaya untuk dituju. Suamiku juga pulang kepada seseorang yang memilih menunggu.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku reading
- 35 Pulang