Chapter Twelve
Suara Pagi Seorang Suami
POV: Helena
Aku mengetahui suara Aries saat baru bangun lebih berbahaya daripada kemeja biru tua pada pukul enam lewat dua belas menit.
Alarm di kamarnya berbunyi terus. Aku mengetuk dua kali sebelum pintu terbuka. Aries berdiri dengan rambut berantakan, kaus hitam kusut, dan mata setengah tertutup.
“Kenapa?” Suaranya rendah dan serak.
Aku lupa alasan kedatanganku selama dua detik. “Alarm kamu.”
Dia menoleh ke dalam. “Aku kira bagian dari mimpi.”
“Mimpi kamu berisik.”
Aries bersandar di kusen. “Kamu masuk mimpi aku?”
“Bukan itu maksudnya.”
“Sayang sekali.”
Aku berbalik terlalu cepat dan hampir menabrak dinding. Tawa pelannya mengejarku sampai tangga.
Di dapur, aku menuang kopi sambil marah pada diri sendiri. Kami tinggal serumah. Aku sudah melihatnya mengantuk, lelah, bahkan berkeringat setelah memperbaiki keran. Kenapa satu suara serak bisa membuat fungsi otakku berhenti?
Aries turun sepuluh menit kemudian memakai kemeja kerja. Ia menggulung lengan sambil berjalan. Mataku mengikuti gerakan tangannya sampai ia berhenti di seberang meja.
“Ada yang salah?”
“Manset kamu.”
“Kenapa?”
“Nggak sama tinggi.”
Itu bohong. Keduanya rapi.
Aries mengulurkan tangan. “Bantu.”
Aku seharusnya mengaku salah lihat. Sebaliknya, aku berdiri dan menyentuh lengannya. Kehangatan kulit di ujung jariku membuat napasku pendek. Aries diam, tatapannya mengikuti wajahku.
“Sudah,” kataku.
“Yang kanan?”
“Sudah benar.”
“Aku bisa bikin salah kalau kamu mau.”
Aku melepaskannya. “Manja.”
“Punya istri perhatian, masa nggak dimanfaatkan?”
Aku kembali ke kursi. Aries menyembunyikan senyum di balik cangkir, jelas sadar reaksiku meski cukup baik untuk tidak mengejarnya lebih jauh.
Di kantor, Nadia mendengarkan keluhanku dengan wajah gembira.
“Jadi sekarang masalahnya suara?”
“Aku nggak bilang masalah.”
“Kamu menjelaskan suara seraknya selama tiga menit.”
“Aku memberi konteks.”
“Konteks bahwa kamu tertarik sama suami sendiri.”
Aku menusuk salad. “Dia memang suami aku. Wajar.”
Nadia meletakkan garpu. “Wah. Penyangkalannya sudah naik dari nggak mungkin menjadi wajar.”
Sore itu Aries menjemput. Sabuk pengamanku terjepit di belakang kursi. Dia membungkuk untuk mengambilnya, membawa wajah dan aroma parfumnya terlalu dekat.
Aku mundur sampai bahuku menempel ke pintu.
Aries langsung berhenti. “Maaf.”
Dia kembali ke kursinya dan membiarkanku memasang sabuk sendiri. Lega muncul bersamaan dengan kehilangan yang tidak masuk akal.
Di lampu merah, aku menyentuh lengannya. “Aku bukan nggak nyaman.”
“Aku mengerti.”
“Aku cuma kaget.”
“Oke.”
“Jangan oke terus.”
Aries menatapku. “Kalau aku tanya kenapa kamu mundur, kamu akan jawab jujur?”
Aku membuka mulut lalu menutupnya.
“Makanya aku bilang oke,” katanya.
Malamnya, listrik padam saat aku sedang keluar kamar. Aku tidak suka gelap, fakta yang pernah kusebut sepintas di sebuah acara keluarga. Lampu ponsel menyala dari ujung koridor. Aries datang tanpa dipanggil.
“Aku di sini,” katanya.
Dua kata itu, dengan suara pagi yang kini lebih lembut, langsung meredakan ketegangan di bahuku.
Ia berdiri di antara aku dan tangga, memberi cahaya tetapi tidak menyentuh. Ketika listrik kembali, kami masih saling berhadapan. Rambutnya basah sehabis mandi. Setetes air bergerak dari leher ke kerah kaus.
Mataku mengikutinya.
Aries menangkap arah pandangku. Sudut bibirnya naik. “Ada yang salah?”
Pertanyaan yang sama seperti pagi tadi.
Kali ini aku tidak menciptakan masalah pada manset. “Nggak.”
“Yakin?”
Aku mengangguk, lalu memaksa diri tetap berdiri. Tidak kabur, tidak mengubah topik. Tatapan kami bertahan sampai jantungku terasa terlalu keras.
“Keringkan rambut,” kataku akhirnya. “Nanti sakit.”
“Bantu?”
Aku mengambil handuk di bahunya dan menyodorkannya ke dada. “Jangan serakah.”
Aries tertawa. Aku masuk kamar, tetapi tidak menutup pintu secepat biasanya.
Di depan cermin, aku akhirnya berhenti mencari istilah aman. Masalahnya bukan Aries tiba-tiba menjadi menarik. Dia mungkin selalu begitu. Akulah yang sekarang memperhatikan suara, tangan, aroma, dan jarak tubuhnya.
Aku tertarik kepada suamiku.
Pengakuan itu tidak menyelesaikan apa pun, tetapi setidaknya besok pagi aku tidak perlu menyalahkan alarm ketika menunggu dia mengucapkan namaku lagi.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami reading
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang