Chapter Sixteen

Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang

POV: Helena

Ciuman pertama kami terjadi karena Aries terlalu banyak bicara. Setidaknya, itu alasan yang kupakai agar tidak perlu mengakui aku sudah memikirkan bibirnya sejak beberapa hari lalu.

Malam itu dia mencoba dasi untuk acara keluarga. Simpulnya miring. Aku berdiri di depannya dan mengambil alih.

“Kamu sengaja bikin salah supaya dibantu?” tanyaku.

“Aku memberi istri aku kesempatan menyentuh suaminya secara legal.”

Aku mendongak. “Percaya diri banget.”

“Buktinya kamu belum lepas.”

Tanganku memang masih memegang dasinya. Jarak kami terlalu dekat. Aries tersenyum, tidak mengejek, tetapi jelas sadar napasku berubah.

“Jangan lihat aku begitu.”

“Aku lagi lihat istri sendiri. Ada aturan baru?”

Aku menarik dasinya. Wajah Aries turun. Sebelum keberanian hilang, aku mencium bibirnya.

Hanya satu sentuhan singkat. Begitu sadar apa yang kulakukan, aku mundur. Aries membeku seolah seluruh rumah baru saja bergeser.

“Lupain,” kataku.

“Nggak.”

“Aries.”

“Itu ciuman pertama istri aku.” Senyum tipis muncul. “Aku pelit. Yang begitu nggak aku buang.”

Wajahku panas. Aku berbalik, tetapi dia tidak mengejar atau menyentuh.

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?” tanyaku tanpa menoleh.

“Aku sedang memilih kalimat yang nggak bikin kamu kabur.”

“Sudah telat.”

Aku berjalan ke tangga. Suaranya menghentikanku di anak tangga pertama.

“Helena.”

Aku menoleh.

“Aku senang. Tapi aku nggak akan menganggap itu izin untuk hal lain.”

Kelegaan bercampur rasa kecewa yang memalukan. Sebagian diriku ternyata ingin tindakanku berarti sesuatu.

“Kalau aku ingin itu berarti?” tanyaku.

Aries menatap lurus. “Bilang setelah kamu nggak sedang panik.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu. Jantungku tidak menunjukkan niat tenang.

Lima menit kemudian ponsel berbunyi. Aries mengirim foto dasi yang kini jauh lebih miring: Korban ditinggalkan di lokasi kejadian.

Aku tertawa meski masih malu. Balasanku: Urus sendiri.

Keesokan pagi aku turun dengan rencana bersikap normal. Aries sudah duduk di meja. Tatapannya jatuh sepersekian detik ke bibirku.

“Jangan,” kataku.

“Aku belum bicara.”

“Wajah kamu bicara.”

“Wajah aku dari lahir begini.”

Aku duduk di seberang. Ia menaruh kopi di depanku dan menjaga jarak seperti biasa. Tidak ada usaha mengambil ciuman balasan.

“Kamu benar-benar nggak marah?”

“Karena dicium istri sendiri?”

“Karena aku menyuruh melupakan.”

Aries memutar cangkir. “Aku nggak bisa pura-pura itu nggak penting. Tapi aku juga nggak akan membuat kamu membayar keberanian satu detik dengan sesuatu yang belum kamu mau.”

Kata membayar mengingatkanku pada ketakutan lama tentang utang. Aries bahkan tidak membiarkan ciuman menjadi alat tukar.

“Itu bukan kesalahan,” kataku akhirnya.

Ia mengangkat wajah.

“Aku malu. Beda.”

Senyumnya muncul pelan. “Baik.”

“Dan jangan besar kepala.”

“Sudah telanjur.”

Aku menendang kakinya di bawah meja. Kali ini tepat sasaran.

Sebelum berangkat, Aries berdiri di pintu. “Aku boleh menyimpan ciuman itu sebagai kenangan baik?”

Permintaannya terdengar formal dan sedikit konyol, tetapi memberiku kendali atas arti momen tersebut.

“Boleh,” jawabku. “Tapi jangan dipamerkan.”

“Sayang sekali. Aku sudah mau cetak sertifikat.”

Aku tertawa, lalu merapikan dasinya sekali lagi. Tangan kami sama-sama diam ketika jarak wajah kembali dekat.

Aku tidak menciumnya lagi. Belum.

Namun kali ini aku juga tidak kabur. Ciuman pertama itu tidak dibuang, tidak ditagih, dan tidak dipakai untuk mendorongku. Ia tinggal di antara kami sebagai satu langkah yang kupilih sendiri—cukup penting untuk disimpan, cukup aman untuk suatu hari diulang.