Chapter Twenty One
Rumah Kita
POV: Helena
Karpet ruang tengah rusak karena kopi tumpah. Aries bilang cukup dibersihkan. Aku bilang warnanya memang sudah menyedihkan sejak awal. Perdebatan itu membawa kami ke toko perabot pada Sabtu pagi dengan daftar pendek yang dalam dua puluh menit berubah menjadi satu troli penuh.
“Kita cuma mau beli karpet,” kata Aries sambil melihat dua bantal, lampu meja, dan tanaman kecil.
“Rumah kita terlalu kosong.”
Kata itu keluar begitu alami sampai aku baru menyadarinya setelah Aries berhenti mendorong troli.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak ada.” Senyumnya tumbuh pelan. “Rumah kita, ya?”
Aku memegang pot tanaman agar tidak perlu melihatnya. “Memangnya salah?”
“Sama sekali nggak.”
Dulu dia harus membetulkan ketika aku menyebut rumah itu miliknya. Hari ini, aku mengucapkan kita tanpa berpikir. Bukan keputusan besar. Hanya kenyataan yang akhirnya mengejar perasaanku.
Kami memilih karpet abu-abu hangat. Aries ingin desain polos, aku memilih pola tipis. Setelah sepuluh menit berdebat, kami mengambil pilihanku karena dia berkata rumah yang terlalu tenang membutuhkan sedikit keributan seperti pemilik barunya.
“Aku keributan?”
“Keributan favorit.”
Aku memukul lengannya dengan bantal pajangan. Seorang pramuniaga melihat kami dan tersenyum.
Di bagian selimut sofa, kami menemukan dua pilihan. Aries mengambil warna biru tua, aku memilih krem.
“Ambil dua,” katanya.
“Boros. Kita cuma punya satu sofa.”
“Kalau kamu merebut selimut saat tidur, aku masih punya cadangan.”
“Aku nggak merebut.”
“Ada bukti film tiga minggu lalu.”
Aku memasukkan satu selimut besar warna krem ke troli. “Pakai satu. Belajar berbagi.”
Aries menatap ukurannya lalu kepadaku. “Ini strategi supaya duduk mepet?”
“Kalau takut, beli dua.”
“Siapa bilang takut?”
Kami akhirnya membawa satu selimut.
Saat memilih bingkai foto, Aries mengambil ukuran besar. Aku bertanya foto apa yang akan dipasang. Dia menunjukkan selfie parkiran kami.
“Itu wajah aku jelek.”
“Katanya suami kamu tetap ganteng.”
“Aku sedang membangun kepercayaan diri kamu.”
“Berhasil.”
Kami mencetak foto lain: kami tertawa dengan krim kue di hidung. Tidak sempurna, tetapi terasa seperti kami.
Di rumah, Aries menggelar karpet sementara aku memasang sarung bantal. Tanaman kecil diletakkan dekat jendela. Lampu meja menggantikan sudut gelap yang dulu kosong. Ruang tengah berubah bukan karena barang mahal, tetapi karena setiap benda dipilih dalam perdebatan kecil kami.
Aries memegang bingkai. “Di mana?”
Aku menunjuk rak di depan sofa. “Biar kelihatan.”
Dia memasangnya lalu berdiri di sampingku. “Bagus.”
“Lumayan.”
“Orangnya atau bingkainya?”
“Bingkainya tertolong orang.”
Dia mengenali balasan dari kemeja biru dan tertawa.
Malamnya kami mencoba selimut baru. Cukup besar untuk berdua, tetapi Aries sengaja duduk jauh hingga bagian tengah tertarik.
“Dekat sini,” kataku.
“Katanya belajar berbagi.”
“Berbagi bukan berarti selimutnya tegang kayak tenda.”
Dia bergeser sampai paha kami menempel. Aku menyandarkan kepala ke bahunya, dan selimut jatuh nyaman di atas kaki.
“Strategi berhasil,” bisiknya.
Aku mencubit pinggangnya. Aries menangkap tanganku dan mencium buku-bukunya.
Film berjalan, tetapi aku lebih banyak melihat perubahan ruangan. Lampu kuning, foto kami, tanaman yang kupilih, dan selimut yang membungkus dua tubuh. Rumah itu tak lagi hanya tempat Aries membuat ruang bagiku. Aku mulai meninggalkan pilihanku sendiri di setiap sudut.
Sebelum tidur, aku menyiram tanaman. Aries mengingatkan terlalu banyak air bisa membuat akar busuk.
“Besok kamu saja,” kataku.
“Tanamannya punya dua orang tua sekarang?”
“Jangan aneh.”
Dia menuliskan jadwal menyiram di papan kecil: bergantian. Aku tertawa melihat keseriusannya.
Di lantai dua, aku berhenti di depan pintu kamar. “Aku senang tadi.”
“Belanja?”
“Milih barang buat rumah kita.”
Aries tidak menggoda. Dia hanya mengangguk dengan mata yang terlalu lembut. Aku menarik kerahnya dan mencium bibirnya singkat.
“Selamat malam.”
Belum sempat aku masuk, bel rumah berbunyi. Ibu dan Nadia berdiri di depan pintu membawa sekotak makanan, katanya kebetulan lewat, meski wajah Nadia terlalu antusias untuk disebut kebetulan.
Begitu masuk, Nadia berhenti di atas karpet baru dan mengedarkan pandangan seperti petugas inspeksi.
“Wah. Ada warna selain abu-abu milik Kak Aries.”
“Abu-abu itu elegan,” protes Aries.
“Abu-abu itu warna ruang tunggu dokter.”
Ibu menahan tawa. Tatapannya singgah pada bingkai foto kami, lalu pada selimut yang belum sempat dilipat. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyentuh lenganku sebentar. Aku memahami kebahagiaan kecil yang ia sembunyikan dalam gerakan itu.
Nadia mengangkat pot tanaman. “Ini siapa yang pilih?”
“Aku,” jawabku.
“Yang bakal lupa menyiram?”
“Makanya ada jadwal.”
Aries menunjuk papan kecil dengan bangga. Nadia membacanya lalu menatap kami bergantian. “Kalian bikin jadwal hak asuh tanaman?”
“Namanya pembagian tanggung jawab,” kata Aries.
“Namanya sudah kelewat domestik.”
Anehnya, kata domestik tidak membuatku ingin mengelak. Beberapa bulan lalu aku mungkin akan menjelaskan bahwa ini hanya pernikahan yang sedang kami jalani sebaik mungkin. Sekarang aku justru ingin mempertahankan setiap benda di ruangan itu dari ejekannya.
Kami makan di ruang tengah karena meja penuh kardus. Selimut baru dipakai berempat dan terbentang tidak adil di atas kaki kami. Aries berkali-kali menarik ujungnya ke arah Ibu, lalu aku menarik kembali karena kakiku dingin.
“Baru beli sudah jadi sumber konflik,” kata Ibu.
“Ini latihan negosiasi,” jawabku.
Aries menyerahkan seluruh bagiannya kepadaku. “Aku mengalah demi stabilitas rumah tangga.”
“Jangan dramatis. Sini setengah.”
Aku membentangkan kain itu ke lututnya lagi. Nadia bersiul kecil, dan aku melempar bantal ke arahnya.
Setelah mereka pulang, ruang tengah dipenuhi piring kotor dan remah kue. Aku mengumpulkan gelas sementara Aries membongkar lemari kecil yang kami beli tanpa rencana. Petunjuk perakitannya tampak sederhana sampai dia memasang papan belakang secara terbalik.
“Analis risiko kalah sama enam baut,” kataku.
“Petunjuknya ambigu.”
“Gambarnya jelas.”
“Gambarnya provokatif.”
Aku duduk di lantai untuk membantu. Bahu kami bersenggolan setiap kali meraih obeng. Dua puluh menit kemudian, lemari itu berdiri sedikit miring, tetapi cukup kokoh untuk menampung album foto, buku-bukuku, dan koleksi piringan hitam Aries.
Dia menunjuk rak paling atas. “Bagian kamu.”
“Kenapa dipisah?”
“Supaya rapi.”
Aku memindahkan satu bukuku ke sebelah piringan hitamnya. “Lebih rapi begini.”
Aries menyelipkan satu piringan ke antara novel-novelku. “Sekarang adil.”
Di dasar kardus, aku menemukan struk panjang. Nama Aries tercetak sebagai pembayar, tetapi aku mentransfer setengah totalnya saat itu juga.
“Nggak perlu,” katanya ketika notifikasi masuk.
“Perlu. Aku ikut memilih, aku ikut punya.”
“Aku nggak pernah bilang barang di sini bukan punya kamu.”
“Aku tahu. Ini bukan soal izin.” Aku melipat struk dan memasukkannya ke laci. “Aku mau ikut membangun.”
Dia tidak mengembalikan uangnya. Ia membiarkanku berkontribusi tanpa menganggap penolakanku terhadap perlindungannya sebagai penolakan terhadap dirinya.
Kami kembali ke sofa untuk merapikan sisa film. Jemarinya terjalin dengan jemariku, kadang longgar, kadang mengerat ketika cerita menegangkan. Kedekatan itu tidak membutuhkan pengumuman. Tubuh kami seperti sudah hafal ke mana harus kembali.
Ketika kredit muncul, Aries hendak bangun, tetapi aku menahannya dengan berat kepala di bahunya.
“Lima menit lagi.”
“Besok kerja.”
“Rumah kita punya jam sendiri.”
Dia kembali bersandar. “Kalau begitu, lima menit versi rumah kita.”
Kami duduk hampir setengah jam. Aku bercerita ingin mengganti tirai dapur; dia mengusulkan papan untuk menempel foto. Tidak ada keputusan besar, hanya rencana kecil yang diam-diam mengandaikan kami akan tetap di sana cukup lama untuk mewujudkannya.
Saat masuk kamar, aku tahu kata kita tidak lagi sekadar tata bahasa. Itu adalah keputusan kecil yang mulai kupilih setiap hari.
Aku menyimpan foto struk belanja di album Rumah. Bukan karena nominalnya penting, melainkan karena hari itu kami berhenti membagi hidup menjadi wilayah milikku dan miliknya. Ada karpet pilihan kami, lemari miring rakitan kami, dan satu selimut yang hanya nyaman kalau kami duduk berdekatan. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak tampak seperti janji besar yang menakutkan. Ia tampak seperti daftar tirai, jadwal menyiram, dan alasan sederhana untuk pulang lebih cepat bersama setiap hari nanti.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita reading
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang