Chapter Twenty Seven
Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
POV: Helena
Aku tidak tidur. Menjelang pagi, catatan Aries masih terbentang di meja dan kemarahanku telah berubah bentuk. Bukan lagi marah karena ia menyimpan rahasia, melainkan karena ia begitu mudah mengeluarkan dirinya dari setiap kemungkinan bahagiaku.
Saat turun, lampu ruang tengah masih menyala. Aries duduk di sofa dengan pakaian kemarin. Makanan di meja tetap utuh. Rupanya dia juga tidak tidur.
Dia berdiri ketika melihatku. “Kamu oke?”
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa. Bahkan sekarang pusat perhatiannya tetap aku.
“Nggak,” jawabku. “Dan kali ini kamu nggak boleh memperbaikinya dengan kopi.”
Tangannya yang sempat bergerak ke arah dapur berhenti. “Oke.”
Aku duduk di sofa. Bukan di ujung jauh, melainkan tepat di depannya. Catatan kusut itu kuletakkan di meja seperti barang bukti.
“Aku mau jawaban yang jujur. Bukan jawaban yang paling aman buat aku.”
“Aku akan coba.”
“Kenapa kamu nggak pernah minta aku?”
Aries menarik napas panjang. “Minta apa?”
“Minta aku melihat kamu. Minta kesempatan. Minta aku tinggal. Apa saja.”
“Karena cinta yang harus diminta bukan cinta yang aku mau.”
“Itu terdengar indah, tapi kejam.”
Alisnya berkerut. “Ke siapa?”
“Ke kamu. Dan sekarang ke aku.”
Dia duduk perlahan. “Aku nggak pernah bermaksud—”
“Aku tahu. Semua rasa sakit ini lahir dari hal yang nggak pernah kamu maksudkan. Itu justru masalahnya.”
Aku mengambil buku hitam dari dalam kotak. “Kamu hafal alergi aku, ukuran sepatu aku, cara menenangkan migrain aku. Tapi kamu nggak pernah memberi aku kesempatan hafal kapan kamu takut.”
Aries menatap buku itu, bukan wajahku. “Aku bisa mengurus diri sendiri.”
“Aku juga bisa. Tapi kamu tetap memilih mengurus aku.”
“Itu berbeda.”
“Karena kamu yang memberi?”
Dia terdiam.
Aku bergerak lebih dekat. “Waktu kamu bilang kamu juga ingin dipilih, aku pikir kamu mulai mengerti. Tapi di bagian paling dalam, kamu masih percaya cinta kamu mulia kalau kamu siap dibuang.”
“Aku nggak pernah bilang dibuang.”
“Kamu menulis petunjuk cara menghilang dari hidup aku.”
Suaraku meninggi. Aries tidak membalas dengan nada yang sama. Ketenangannya biasanya membuatku aman; pagi itu, ketenangan tersebut terasa seperti pintu yang tidak bisa kubuka.
“Kalau waktu itu kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, apa yang seharusnya aku lakukan?” tanyanya. “Datang dan bilang aku sudah menjaga kamu diam-diam bertahun-tahun? Membuat kamu merasa bersalah karena bahagia?”
“Bukan itu yang aku tanyakan.”
“Tapi itu kenyataannya.”
“Kenyataannya sekarang aku istri kamu. Aku berdiri di sini, memilih kamu, dan kamu masih bicara seolah kebahagiaan aku adalah tempat yang mungkin nggak punya kamu.”
Wajahnya menegang. “Karena mungkin saja begitu.”
Kalimat itu memotong napasku.
“Maksud kamu?”
“Perasaan bisa berubah. Kamu bisa menemukan sesuatu yang lebih kamu inginkan. Kalau hari itu datang—”
“Kamu akan melakukan apa? Belajar menghilang lagi?”
Aries memejamkan mata. “Kalau bahagia kamu bukan sama aku, aku akan belajar ikhlas.”
Dadaku seperti runtuh. Dia mengucapkannya bukan sebagai ancaman atau pengorbanan yang ingin dipuji. Ia benar-benar bersedia menanggung kehilangan selama aku selamat dari rasa bersalah.
“Melihat kamu senyum sudah cukup,” lanjutnya pelan.
Kalimat yang dulu terdengar manis sekarang berubah menjadi pisau. Cukup berarti dia tidak akan meminta tempat di sampingku. Cukup berarti senyumku boleh dimiliki dunia, sementara dia berdiri di luar bingkai.
Air mata mengalir sebelum sempat kutahan. “Nggak. Itu nggak cukup.”
Aries bergerak, tetapi berhenti lagi. “Helena—”
“Kamu bilang aku rumah kamu.” Aku menekan telapak ke dada agar bisa bernapas. “Sekarang aku paham. Kamu itu rumah. Bukan cuma tempat yang menerima orang pulang. Rumah juga harus dihuni, dirawat, dan percaya bahwa orang yang tinggal di dalamnya nggak selalu sedang mencari pintu keluar.”
Lock phrase itu akhirnya membuka sesuatu yang selama ini tidak kulihat. Aries telah menjadi tempat aman bagiku, tetapi membiarkan dirinya kosong. Dia menyalakan lampu untuk kepulanganku sambil bersiap memadamkan seluruh rumah jika aku memilih alamat lain.
“Aku nggak tahu cara memastikan kamu nggak pernah terluka,” katanya.
“Aku nggak minta itu. Aku minta kamu berhenti menentukan bahwa kehilangan kamu adalah harga yang wajar untuk kebahagiaan aku.”
“Kalau pilihannya memang begitu?”
“Kenapa kamu selalu mulai dari kemungkinan aku pergi? Kenapa bukan kemungkinan aku bertahan?”
Aries menatapku. Untuk pertama kali, aku melihat ketakutan tanpa lapisan humor atau ketenangan. Dia bukan tidak percaya padaku. Dia tidak percaya dirinya boleh berharap sebanyak itu.
“Karena berharap pernah terasa terlalu mahal,” katanya.
Aku teringat semua tahun yang terlipat di dalam kotak: bantuan anonim, pesan yang ditahan, bunga yang tak pernah dikirim, dan aturan untuk pergi. Selama itu dia menjaga harapan tetap kecil agar bisa membawanya sendirian.
“Sekarang kamu nggak sendirian.”
“Aku tahu secara logika.”
“Aku nggak sedang presentasi logika.”
Senyum kecil nyaris muncul di wajahnya, rapuh dan singkat. “Kamu memang mengerikan kalau presentasi.”
“Raka bilang aku persuasif.”
“Raka takut sama kamu.”
Komedi tipis itu membuat napasku sedikit lebih teratur. Namun aku belum selesai.
Aku mengambil tangannya dan meletakkannya di atas dadaku. Jantungku berdebar keras di bawah telapak tangannya.
“Ini bukan rasa terima kasih,” kataku. “Ini bukan kasihan. Ini akibat kamu masuk ke hidup aku dan menjadi bagian yang sekarang nggak bisa aku bayangkan hilang.”
“Kamu nggak harus membuktikan—”
“Aku tahu. Aku mau mengatakan.”
Aries menelan kata berikutnya. Aku melihat perjuangannya untuk tidak mengubah pengakuanku menjadi sesuatu yang harus ia kecilkan demi melindungiku.
“Aku terlambat melihat kamu,” lanjutku. “Itu kesalahan aku. Tapi jangan hukum kita berdua dengan terus hidup seolah aku masih perempuan yang nggak tahu apa-apa tentang perasaannya.”
“Aku nggak menghukum siapa pun.”
“Kamu menolak hadir penuh di masa depan karena masa lalu mengajari kamu untuk tidak meminta.”
Dia menarik tangannya, bukan untuk menjauh, melainkan menutup wajah. Bahunya turun. Ketenangan yang selalu kukenal mulai retak.
“Aku takut,” katanya dari balik kedua tangan. “Kalau aku percaya semuanya, aku akan menginginkan lebih banyak.”
“Minta.”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Mulai dari satu hal.”
Aries menurunkan tangan. Matanya basah. “Jangan pergi hari ini.”
Permintaan itu begitu kecil dibanding semua yang telah ia berikan sampai tangisku pecah lebih keras.
“Aku nggak pergi.”
“Walau kamu masih marah?”
“Aku bisa marah sambil tinggal.”
Dia mengangguk, seolah konsep itu baru baginya. Selama ini perbedaan mungkin selalu ia baca sebagai awal perpisahan. Aku meraih kerah bajunya dan menariknya ke dalam pelukan.
Tubuhnya kaku beberapa detik sebelum kedua lengannya mengelilingiku. Tidak ada ciuman. Tidak ada usaha membuat kesedihan menjadi romantis. Kami hanya berpegangan di ruang tengah yang masih diterangi lampu semalam.
“Aku belum selesai,” bisikku di bahunya.
“Aku tahu.”
“Kita masih harus bicara soal semua catatan itu.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu harus makan.”
“Yang terakhir terasa paling mengancam.”
Aku tertawa sambil menangis. Aries mengusap punggungku dengan hati-hati.
Pagi datang melalui jendela tanpa meminta izin. Untuk pertama kalinya, Aries telah meminta sesuatu dariku, dan aku akhirnya mengerti betapa sepinya cinta yang selalu memberi jalan keluar. Aku memeluknya lebih erat, bukan sebagai pembayaran atas tahun-tahun yang hilang, melainkan sebagai jawaban untuk hari ini: aku masih di sini.
Setelah tangis mereda, aku menunjukkan coretan merah pada catatannya. Aries membaca kata tanya aku berulang kali. Jemarinya menyusuri bekas tinta seolah mencoba memahami aturan baru yang jauh lebih sulit daripada menghilang.
“Kalau jawabannya menyakitkan?” tanyanya.
“Kita sakit bersama. Jangan lindungi aku dengan cara meninggalkan aku sendirian.”
Dia melipat kertas itu, kali ini bukan untuk disembunyikan, melainkan menaruhnya di atas meja tempat kami berdua bisa melihat. “Aku nggak janji langsung bisa.”
“Aku nggak minta langsung. Aku minta jujur.”
Aries mengangguk. Lalu, dengan suara nyaris hilang, dia mengaku belum makan sejak kemarin. Aku menatapnya tidak percaya sebelum memanggil Raka dan meminta bantuan mengirim sarapan.
Raka menjawab lewat pengeras suara, “Akhirnya ada yang bisa memaksa manusia itu makan. Gue pensiun dengan tenang.”
Aries mencoba mengambil ponsel, tetapi aku menjauhkannya. Tawa kecil kami terdengar aneh di antara sisa tangis, sekaligus sangat perlu. Kesedihan tidak menghapus kehidupan sehari-hari; ia hanya membuat kami memilih menjalaninya dengan lebih jujur.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku? reading
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang