Chapter Fourteen

Buat Aku, Kamu Itu Rumah

POV: Helena

Hari terburuk dalam tiga bulan terakhir berakhir dengan aku duduk di mobil tanpa tenaga untuk menyalakan mesin. Klien membatalkan proyek besar, dua anggota tim saling menyalahkan, dan keputusan direksi jatuh ke kepalaku seolah semuanya kesalahanku.

Ponsel bergetar.

Aku di depan lobi, tulis Aries.

Aku lupa sudah memberi tahu bahwa mobilku masuk bengkel. Entah bagaimana ia mengingat jadwal yang bahkan hampir kulupakan.

Ketika masuk mobilnya, aku tidak sanggup tersenyum. Aries menyodorkan air lalu menjalankan kendaraan. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Hanya menurunkan volume musik dan membiarkanku diam.

Di rumah, ia memanaskan sup. Aku duduk di meja dapur dengan kepala berat.

“Mau cerita?” tanyanya.

“Nggak sekarang.”

“Oke.”

Tidak ada pertanyaan kedua. Aries makan di seberangku. Diamnya bukan kekosongan yang harus kuisi, melainkan ruang tempat aku boleh berantakan tanpa ditonton.

Setelah beberapa suapan, air mataku jatuh. Aku menghapusnya dengan kesal.

Aries mendorong tisu. “Kalau mau nangis, nggak perlu minta maaf.”

“Aku benci hari ini.”

“Aku juga.”

“Kamu bahkan nggak tahu kejadiannya.”

“Hari yang bikin kamu nangis otomatis masuk daftar musuh.”

Tawa kecil lolos di tengah tangis. Aries tidak terlihat puas karena berhasil menghibur. Ia menunggu.

Aku akhirnya bercerita: proyek yang hilang, rasa bersalah kepada tim, dan ketakutan bahwa mungkin aku tidak sekompeten yang semua orang pikirkan. Aries mendengarkan tanpa menyela atau buru-buru membereskan masalah.

“Besok kita lihat apa yang bisa diperbaiki,” katanya setelah aku selesai. “Malam ini kamu boleh capek.”

Kata boleh meruntuhkan pertahananku. Selama ini lelah selalu terasa seperti kegagalan yang harus dibela. Di dekat Aries, aku tidak perlu membuktikan sudah berusaha cukup keras untuk berhak istirahat.

Kami pindah ke sofa. Aku menyandarkan kepala ke bahunya dengan sadar. Aries menarik selimut menutupi kakiku.

“Kenapa kamu selalu nungguin aku pulang?” tanyaku.

Ia diam cukup lama hingga aku mengangkat kepala.

“Kamu itu rumah.”

Aku menatapnya. “Rumah apaan? Aku aja jarang ada di rumah.”

Tidak ada senyum main-main di wajahnya.

“Bukan rumah yang aku tinggali,” katanya. “Buat aku, kamu tempat yang pengin aku datangi setelah capek menghadapi dunia di luar.”

Dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang hangat. Seluruh perhatian Aries mendadak memiliki bentuk: lampu yang menyala, makanan yang menunggu, pesan singkat, dan kesediaannya duduk dalam diam. Ia tidak sedang membuatku betah di rumahnya. Selama ini, akulah tujuan pulangnya.

Aries mengambil gelas, mungkin sadar kalimatnya terlalu jauh. “Makanya jangan sering lembur. Rumah aku susah dicari.”

Aku memukul lengannya, tetapi air mata jatuh lagi. Kali ini bukan karena pekerjaan.

“Kamu nggak boleh ngomong begitu waktu aku lagi lemah.”

“Mau aku tarik?”

“Jangan.” Jawabanku keluar cepat. “Jangan tarik apa pun.”

Aku kembali bersandar, lebih dekat ke dadanya. Detak jantungnya cepat meski tubuhnya tetap diam, seolah takut satu gerakan akan membuatku menyesal.

“Kalau aku rumah kamu,” kataku pelan, “jangan terus berdiri di luar.”

“Aku menunggu diizinkan masuk.”

Aku belum tahu cara memberi izin sepenuhnya. Jadi aku mengambil tangannya dan meletakkannya di pipiku.

Aries menahan napas. Telapak tangannya hangat. Ia tidak mengusap atau menarikku mendekat; ia menerima bentuk kepercayaan yang kuberikan tanpa mengubahnya menjadi lebih.

Kami duduk seperti itu sampai tangisku berhenti.

Malamnya, di depan pintu kamar, Aries bertanya apakah aku ingin segelas air. Aku mengangguk. Ia mengambilkannya, menaruh di nakas, lalu berhenti di ambang tanpa melangkah masuk lebih jauh.

“Aries.”

Ia menoleh.

“Aku nggak lagi sedih karena kerjaan.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu masih kelihatan takut?”

Senyumnya rapuh. “Karena sekarang yang bisa bikin aku salah bukan kata-kata, tapi harapan aku sendiri.”

Aku memahami bahwa pengakuannya tidak hanya memberi rasa aman. Ia juga menyerahkan sesuatu yang bisa kulukai.

Aku mengulurkan tangan. Aries kembali ke sisi ranjang dan menggenggamnya.

Tidak ada janji cinta. Aku belum siap. Namun malam itu aku membiarkannya tinggal sampai napasku tenang, memberi rumahku satu pintu terbuka yang tidak ada kemarin.

Sebelum pergi, Aries mematikan lampu utama dan menyisakan lampu meja. “Selamat malam.”

“Selamat pulang,” jawabku.

Ia berhenti sesaat di pintu, lalu tersenyum. Untuk pertama kalinya aku mengerti: mungkin rumah bukan tempat yang kita miliki, melainkan seseorang yang membuat kita tidak perlu kuat sepanjang waktu.