Chapter Twenty

Selfie untuk Suamiku

POV: Helena

Aku mengirim selfie kepada Aries pukul sepuluh pagi. Aku memakai syal pemberiannya dan menulis: Cocok buat makan malam nanti?

Pesan dibaca dalam satu menit. Tidak ada jawaban.

Lima menit kemudian Raka mengirim pesan: Tolong jangan kirim apa-apa lagi. Sahabat saya sedang gagal fungsi di ruang rapat.

Aku tertawa sampai rekan di sebelah menoleh.

Aries akhirnya membalas: Cocok. Terlalu cocok. Saya mengajukan izin pulang cepat.

Aku: Ditolak. Kerja yang benar.

Ia mengirim foto wajah datarnya di ruang rapat. Di belakangnya Raka memegang dahi.

Sepanjang hari kami bertukar foto. Aries mengirim makan siang, aku mengirim sepatu yang kupilih. Ia meminta foto lengkap, aku menjawab informasi terbatas untuk suami dengan nilai delapan.

Saat makan malam keluarga, Aries datang terlambat memakai kemeja biru. Tatapannya menemukan aku di antara banyak orang dan berhenti lebih lama daripada sopan santun.

“Jangan lihat begitu,” bisikku ketika ia duduk.

“Katanya foto terbatas. Aku sedang melengkapi data.”

“Di depan keluarga?”

“Aku cuma lihat istri sendiri.”

Kalimat yang dulu membuatku kabur kini justru membuatku tersenyum.

Reza, anak rekan Papa, mengajakku berbicara tentang proyek. Aries tidak menginterupsi. Tangannya hanya mendarat ringan di belakang kursiku, cukup untuk memberitahu ia ada.

Reza memuji penampilanku lalu pergi. Ibu jari Aries mengetuk sandaran dua kali—kebiasaannya ketika menahan sesuatu.

Aku mendekat. “Cemburu?”

“Sedikit.”

“Mau bilang apa?”

Ia memikirkan jawabannya. “Aku ingin jadi orang yang paling kamu cari di ruangan ini.”

Kejujurannya tidak berubah menjadi larangan. Aku menyelipkan tangan ke lengannya. “Dari tadi juga kamu.”

Nadia melihat kami dari seberang meja lalu mengirim pesan: Kalian menjijikkan.

Aku membalas dengan selfie berdua. Aries belum siap; wajahnya terkejut, sementara aku tersenyum lebar.

“Hapus,” katanya.

“Nggak.”

“Aku jelek.”

“Suami aku tetap ganteng.”

Aries berhenti protes. Nadia mengirim emoji muntah.

Dalam perjalanan pulang, aku menjadikan foto tersebut sebagai gambar kontaknya. Aries meminta versi yang lebih layak. Kami berhenti di minimarket dan mengambil selfie baru di bawah lampu parkir.

Sesaat sebelum kamera memotret, ia mencium pipiku. Hasilnya menangkap mataku yang melebar dan senyumnya yang sangat puas.

“Curang.”

“Nilainya?”

“Delapan setengah.”

“Naik setengah.”

“Karena teknik kejutan.”

Aku mencetak foto itu dengan printer kecil di rumah. Satu kutaruh di meja kerja. Satu lagi kuselipkan ke dompet Aries.

Ketika menemukannya keesokan hari, ia mengirim foto dompet terbuka: Saya menang.

Aku: Nilai sembilan belum tercapai.

Aries: Ujian berikutnya kapan?

Aku: Malam ini.

Balasannya datang setelah jeda: Raka minta saya berhenti tersenyum di rapat.

Malamnya ia pulang lebih awal dan menemukan aku menunggu di sofa dengan pakaian rumah biasa.

“Katanya ada ujian?”

“Ada.”

Aku berdiri dan merapikan kerahnya, lalu mencium pipi kiri dan kanan. Aku berhenti tepat di depan bibirnya.

“Bagian terakhir harus pakai izin,” bisikku.

Aries menelan ludah. “Boleh aku cium?”

“Boleh.”

Ciumannya lembut. Kali ini aku membalas tanpa ragu, tangan naik ke bahunya. Ketika kami menjauh, napas kami sama-sama tidak teratur.

“Nilai?” tanyanya.

Aku berpura-pura berpikir. “Sembilan.”

“Satu poin lagi?”

“Biar tetap berusaha.”

Aries tertawa lalu menempelkan dahi ke dahiku. Tidak ada ciuman lanjutan. Momen itu berhenti pada kehangatan dan rasa aman.

Kami melihat selfie parkiran bersama. Foto tersebut tidak indah secara teknis, tetapi wajah kami tidak sedang menjaga kesan apa pun.

“Masukkan ke album Rumah,” kataku.

Aries menoleh. Nama album itu pernah ia buat setelah presentasiku; selama ini isinya benda-benda dan sudut rumah. Belum ada foto kami berdua.

“Yakin?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Kita juga bagian dari rumah.”

Ia menyimpan foto itu tanpa komentar. Tatapan lembutnya sudah cukup menunjukkan makna pilihan tersebut.

Dulu chat kami hanya berisi kebutuhan praktis. Kini layar ponsel dipenuhi foto buruk, godaan, dan bukti bahwa aku mencari Aries bukan hanya ketika membutuhkan bantuan. Aku mencarinya karena semakin banyak bagian hari yang terasa belum lengkap sebelum kubagikan kepadanya.