Chapter Twenty Four

Bukan Karena Berutang

POV: Helena

Aku menunggu Aries duduk, lalu memegang cangkir tanpa minum. Kemarahanku sudah turun, tetapi rasa sakit masih ada. Setelah semua keberanian yang kukumpulkan, dia menganggapnya mungkin sebagai rasa terima kasih.

“Lihat aku,” kataku.

Aries menurut.

“Aku nggak mencium kamu karena kamu mengisi bensin mobil. Aku nggak memeluk kamu karena kamu membuat sarapan. Dan aku nggak duduk di sini karena kasihan.”

“Aku tahu kamu nggak berniat—”

“Dengar dulu.”

Dia diam.

“Semua hal yang kamu lakukan memang membuat aku melihat kamu. Tapi yang membuat aku mendekat adalah siapa kamu saat melakukannya. Kamu nggak pernah menjadikannya tagihan. Kamu bikin aku aman.”

Aku menarik napas. “Rasa terima kasih itu ada. Tapi rasa terima kasih nggak bikin aku menunggu suara mobil kamu tiap sore. Rasa terima kasih nggak bikin rumah terasa terlalu sepi ketika kamu sengaja masuk kamar lebih cepat.”

Aries menutup mata sesaat. “Aku bikin kamu merasa ditolak.”

“Iya. Ruang yang nggak diminta bisa terasa seperti dinding.”

Dia mengangguk, menerima kalimat itu tanpa memperbaikinya dengan alasan.

Aries menunduk. “Kadang rasa aman bisa disalahartikan sebagai cinta.”

“Mungkin. Tapi ketertarikan aku ke suara pagi kamu bukan rasa aman.”

Dia mengangkat wajah, terkejut.

“Cara aku lihat lengan kamu waktu pakai kemeja biru juga bukan terima kasih. Cemburu aku ke Keira jelas bukan pembayaran. Dan aku cukup yakin keinginan mencium kamu bukan efek bensin penuh.”

“Aku juga sengaja memakai kemeja kamu kemarin,” tambahku. “Aku ingin kamu lihat dan menggodaku seperti biasa.”

“Aku lihat.”

“Tapi kamu jawab seperti admin toko.”

“Itu jawaban paling aman yang terpikir.”

“Aku menikah dengan analis risiko, bukan mesin balas otomatis.”

Sudut bibirnya naik sedikit. Ketegangan tidak hilang, tetapi setidaknya kami kembali berbicara dalam bahasa kami sendiri.

Aku menunjukkan selfie kemarin. “Menurut kamu perempuan ini kelihatan sedang membayar cicilan budi?”

“Dia kelihatan cantik dan agak mengancam.”

“Benar. Dia sedang menggoda suaminya.”

“Pesannya diterima terlambat.”

“Pastikan lain kali tepat waktu.”

Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi rasa bersalah menahannya.

“Aku takut berharap,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kalau aku percaya kamu mulai mencintai aku, lalu ternyata bukan…”

“Aku belum mengucapkan kata itu.”

Dia mengangguk, luka kecil muncul di matanya.

Aku mengambil tangannya. “Bukan karena perasaannya nggak ada. Aku cuma ingin mengatakannya ketika aku benar-benar siap berdiri di balik kalimat itu. Bukan saat marah, bukan setelah dicium, bukan karena kamu menunggu.”

Jemarinya bergetar tipis.

“Tapi satu hal bisa aku pastikan,” lanjutku. “Aku sedang menuju ke sana karena aku memilih kamu. Setiap hari.”

“Aku memilih duduk di samping kamu waktu ada kursi lain. Aku memilih memasukkan barang aku ke lemari kamu. Aku memilih pulang ke sini meski kantor lebih dekat ke apartemen lama. Dan malam itu, aku memilih minta dicium.”

Aku menekan telunjuk ke dadanya. “Kebaikan kamu membuka pintu, Aries. Tapi aku yang berjalan masuk.”

Matanya memerah. Dia menatap meja, mungkin malu membiarkanku melihat betapa dalam kalimat itu mengenainya.

“Aku ingin dipilih,” katanya nyaris tak terdengar. “Dan keinginan itu bikin aku takut.”

“Kenapa?”

“Kalau aku mengaku menginginkannya, aku nggak bisa pura-pura akan baik-baik saja kalau kehilangan.”

Kejujuran itu terasa lebih intim daripada ciuman. Selama ini Aries menyediakan tempat aman tanpa meminta tempat yang sama dariku. Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku nggak bisa janji hidup nggak berubah. Tapi aku bisa janji kamu nggak perlu menebak sendirian.”

“Itu cukup.”

“Belum. Kamu juga harus bicara sebelum tiga hari bertingkah seperti customer service.”

“Itu bagian tersulit.”

“Makanya kita latihan.”

Aries mengembuskan napas panjang. “Maaf.”

“Aku maafkan kalau kamu berhenti mengambil keputusan tentang perasaan aku tanpa bertanya.”

“Aku akan coba.”

“Bukan coba.”

“Aku akan berhenti.”

Kami menyusun kesepakatan sederhana: tidak membaca pikiran, tidak menyamarkan ketakutan sebagai perlindungan, dan tidak menghilang diam-diam setelah kedekatan yang kami pilih bersama. Kesepakatan itu tidak menjamin kami tak akan salah lagi. Ia hanya memberi jalan pulang ketika salah terjadi.

Aku mengangguk. “Bagus.”

Kami masih duduk tegang. Aku membuka kedua tangan.

“Sini.”

Aries ragu. “Kamu masih marah.”

“Iya. Aku bisa marah sambil peluk suami.”

Dia pindah ke kursiku dan memeluk. Tubuhnya terasa kaku sampai aku mengusap punggungnya.

“Aku juga takut,” bisikku. “Bedanya, aku tetap datang.”

Pelukannya mengencang. “Aku akan belajar tetap di tempat.”

Setelah sarapan, kami terlambat bekerja. Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli. Percakapan itu lebih penting daripada rapat mana pun.

Di mobil, Aries tidak langsung menyalakan mesin. “Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Aku percaya kamu.”

Kalimat sederhana itu mahal baginya. Memercayaiku berarti menyerahkan kendali atas hasil, membiarkan perasaanku tumbuh dengan bentuk dan waktunya sendiri.

“Terima kasih,” kataku. “Nah, yang ini boleh dibalas dengan rasa terima kasih.”

Dia menggeleng sambil tersenyum dan menyalakan mobil.

Siang hari Aries mengirim pesan: Boleh aku jemput?

Aku membalas: Boleh. Bukan karena berutang.

Dia mengirim emoji tertawa dan hati—kombinasi yang belum pernah dipakai.

Saat menjemput, dia membawa bunga kecil. Aku langsung mengangkat alis.

“Ini permintaan maaf, bukan investasi,” katanya.

“Aku terima. Tapi jangan kira masalah selesai karena bunga.”

“Masalahnya selesai karena kita bicara. Bunga bonus.”

Aku mencium pipinya. “Jawaban bagus.”

Dalam perjalanan pulang, tangannya beberapa kali bergerak di dekat persneling lalu kembali ke setir, seolah ingin menggenggamku tetapi belum yakin boleh. Aku mengambil tangannya saat lampu merah.

“Kamu boleh tanya,” kataku.

“Boleh pegang tangan?”

“Boleh.”

“Boleh kelamaan?”

“Sampai lampu hijau.”

Ketika lampu berubah, dia melepaskan tanpa keluhan. Dua persimpangan kemudian, aku yang mengulurkan tangan lebih dulu. Aries menerimanya dengan senyum yang tidak perlu kulihat untuk kurasakan.

Di rumah, kami meletakkan bunga di samping foto pada rak baru. Aries berdiri di belakangku tanpa menyentuh, seolah masih takut mendekat.

Aku menarik tangannya ke pinggangku. “Jangan mundur lagi tanpa bilang.”

“Oke.”

“Dan kalau takut, ngomong.”

“Takut sekarang.”

Aku menoleh. “Takut apa?”

“Takut bahagia terlalu banyak.”

“Bahagia bukan utang juga,” kataku. “Kamu nggak perlu membayarnya dengan ketakutan.”

Dia mengangguk. Tangannya tetap di pinggangku, hangat tetapi tidak menahan. Aku bisa mundur kapan saja, dan justru karena itu aku memilih tetap dekat.

Bunga kecil di rak tampak miring. Di belakangnya ada foto kami, di bawahnya buku dan piringan hitam yang tercampur. Tidak satu pun benda itu membuktikan cinta. Namun semuanya menyimpan keputusan bebas yang membuat rumah ini menjadi milik kami bersama.

Aku memutar tubuh dan menatapnya. “Biasakan.”

Lalu aku menciumnya. Bukan untuk membuktikan apa pun, bukan untuk menghapus pertengkaran, dan bukan untuk membayar kebaikannya. Aku menciumnya karena ingin. Ketika kami berhenti, Aries tidak bertanya kenapa. Dia akhirnya menerima pilihanku sebagai jawaban yang berdiri sendiri.

Dahinya menempel pada dahiku. “Nilai?” tanyanya hati-hati.

“Nggak semua hal harus dinilai.”

“Berarti jelek?”

“Berarti kamu harus diam dan nikmati.”

Dia menurut selama kira-kira empat detik. “Aku masih boleh bikin kopi besok?”

Aku tertawa. “Boleh. Karena kamu suka membuatnya dan aku suka meminumnya. Bukan karena ada tagihan di antara kita.”

“Kalau kamu bilang rasanya enak, itu termasuk pembayaran?”

“Itu umpan balik.”

Malam itu kami duduk di bawah satu selimut lagi. Aries tidak mengambil kursi jauh, dan aku tidak perlu memanggilnya mendekat. Ketakutan masih tampak di caranya menatapku, tetapi kali ini ia tidak membiarkan takut membuat keputusan untuk kami.

Sebelum naik, aku menambahkan satu aturan di papan jadwal tanaman: kalau ragu, tanya. Aries membaca lalu menambahkan: kalau takut, tetap bicara.

Kami menatap dua kalimat itu seperti janji kecil yang cukup kuat untuk saat ini. Aku belum mengucapkan cinta. Dia tidak memaksaku mempercepatnya. Di antara kami tidak lagi ada neraca kebaikan dan balasan—hanya dua orang yang akhirnya berani mengakui bahwa mereka sama-sama ingin dipilih. Dan malam itu, tanpa syarat tambahan apa pun, kami memilih tetap tinggal.