Chapter Twenty Three

Yang Juga Ingin Dipilih

POV: Aries

Setelah malam nilai sepuluh, aku melakukan kesalahan lama: mundur. Bukan secara drastis. Aku tetap membuat sarapan dan menjemput Helena. Namun aku mengurangi godaan, berhenti meminta ciuman, dan tidur lebih cepat agar tidak terlalu lama berdua.

Aku mengatakan kepada diri sendiri sedang memberi ruang. Sebenarnya aku takut.

Ketakutan itu menyamar rapi. Aku sengaja mandi lebih lama agar Helena tertidur dulu. Aku membawa laptop ke ruang kerja meski tidak ada laporan mendesak. Ketika dia duduk di bawah selimut yang kami beli bersama, aku memilih kursi tunggal dan berkata punggungku pegal.

Pada malam kedua, Helena menepuk tempat kosong di sampingnya. Aku pura-pura tidak melihat karena sedang membalas pesan. Wajahnya tidak langsung berubah, tetapi tangannya turun perlahan. Rasa bersalah menempel sampai pagi.

Aku tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa dipilih. Yang tidak kuketahui adalah bagaimana menerima kemungkinan bahwa seseorang sedang memilihku. Selama hanya aku yang memberi, aku bisa mengendalikan risiko. Begitu Helena mulai memberi balik, aku punya sesuatu yang bisa hilang.

Helena bergerak begitu cepat dari belum bisa menjanjikan cinta menjadi meminta deep kiss. Bagian terburuk dalam diriku bertanya apakah dia benar-benar menginginkanku atau hanya sedang membayar semua kebaikan yang pernah kuberikan.

Raka menyadari perubahan itu saat makan siang.

“Lo kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kalau jawaban lo persis mantan-mantan gue, berarti ada masalah.”

Aku menceritakan ketakutanku. Raka mendengarkan tanpa mengejek.

“Lo bisa sayang sama orang tanpa minta balasan,” katanya. “Tapi jangan sampai lo lupa kalau lo juga manusia.”

“Gue nggak mau dia merasa harus mencintai gue.”

“Terus lo mau terus menolak setiap kali dia mencoba?”

“Gue nggak menolak.”

“Lo mundur. Buat orang yang sedang mendekat, bedanya tipis.”

Aku mengusap wajah. “Kalau ternyata cuma rasa terima kasih?”

“Tanya dia. Jangan putuskan perasaannya sendiri atas nama melindungi.”

Aku memutar gelas kosong. “Gue cuma pengin dia bebas.”

“Bebas itu termasuk bebas milih lo, bodoh.”

Aku menatap Raka tajam, tetapi dia tidak mundur.

“Lo selalu bilang nggak butuh balasan. Kedengarannya mulia, tapi bisa jadi itu cara lo memastikan nggak pernah perlu meminta apa-apa.”

“Meminta apa?”

“Dipilih. Diyakinkan. Disayang balik.”

Kata-kata itu membuatku diam. Mengakui bahwa aku juga ingin ditunggu terasa hampir memalukan.

Raka mencondongkan tubuh. “Helena bukan proyek kebaikan lo. Dia pasangan lo. Kasih dia kesempatan buat hadir ketika lo takut.”

“Sejak kapan lo bijak?”

“Sejak cicilan kartu kredit bikin gue mengenal penderitaan.”

Aku tertawa pendek, tetapi inti ucapannya tinggal. Aku belum memperlakukan Helena sebagai pasangan dalam ketakutanku. Aku memperlakukannya sebagai seseorang yang harus dilindungi bahkan dari keputusannya sendiri.

Sore itu Helena mengirim selfie memakai kemejaku yang kebesaran. Biasanya aku akan menggoda. Aku hanya membalas cantik. Tiga titik muncul, lalu hilang.

Lima menit kemudian, dia mengirim foto kedua dengan ekspresi datar dan tulisan: Terima kasih atas ulasan Anda. Aku mengetik beberapa jawaban, menghapus semuanya, lalu meletakkan ponsel. Bahkan diamku sekarang menyakiti dengan cara yang bisa kulihat.

Di parkiran kantor aku menatap foto itu lagi. Helena sengaja memakai kemeja biru karena tahu aku menyukainya. Itu bukan tindakan seseorang yang pasif membayar utang. Itu undangan untuk bermain dalam bahasa yang kami bangun bersama. Namun rasa takut lebih pandai berdebat daripada logika.

Ketika pulang, dia sedang duduk di sofa tanpa menyalakan televisi.

“Kamu menghindari aku?”

“Nggak.”

“Tiga hari ini kamu tidur sebelum aku, duduk jauh, dan balas selfie aku kayak customer service.”

Aku duduk di kursi seberang. Pilihan yang langsung membuat alisnya naik.

“Aku cuma nggak mau kamu merasa kita harus terus naik.”

“Naik apa?”

“Kedekatan. Ciuman. Semua ini.”

“Siapa yang bilang ada tangga?” Helena bertanya. “Kita bukan sedang mengejar level.”

“Aku tahu, tapi setelah malam itu—”

“Setelah malam itu kita bicara, bikin aturan, lalu sarapan sambil ketawa. Yang bikin aku bingung justru kamu menghilang pelan-pelan.”

Aku ingin menjelaskan bahwa aku tetap di rumah, tetap menjemputnya, tetap memastikan pintu terkunci. Namun kehadiran bukan sekadar tubuh yang tersedia untuk membantu. Helena meminta bagian diriku yang tidak bisa digantikan layanan apa pun.

Helena memandangku lama. “Aku yang minta dicium.”

“Aku tahu.”

“Aku yang bilang masih mau.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa keputusan aku malah kamu curigai?”

Pertanyaannya tepat mengenai kesalahanku.

“Aku takut kamu melakukan ini karena merasa berutang,” kataku.

Wajahnya terluka. “Kamu pikir aku mencium kamu sebagai pembayaran?”

“Aku nggak tahu.”

“Harusnya tanya.”

“Aku takut jawaban kamu berubah kalau ditanya.”

“Kalau berubah, itu tetap hak aku.”

Helena meremas ujung kemejaku. “Kamu pernah mengajariku bahwa batas aku akan kamu hormati. Sekarang aku memilih mendekat, tapi kamu memperlakukan pilihan itu seolah aku nggak cukup paham diri sendiri.”

Aku tidak pernah bermaksud merendahkannya, tetapi niat tidak menghapus akibat. Dengan menganggap perasaannya sekadar efek kebaikanku, aku menempatkan diriku sebagai penafsir utama hidupnya.

“Kamu benar,” kataku.

“Aku nggak butuh menang. Aku butuh kamu percaya kalau aku bilang mau.”

“Aku ingin percaya.”

“Itu belum sama.”

“Belum,” aku mengakui.

“Iya.”

Helena berdiri. Aku tidak menahannya. Dia berjalan ke tangga, lalu berhenti.

“Aku butuh waktu supaya nggak ngomong dalam keadaan marah.”

“Oke.”

“Tapi jangan kabur besok pagi.”

“Aku tunggu.”

Malam itu rumah terasa kembali seperti sebelum dia tinggal di sana. Lampu ruang tengah menyala, tetapi tak ada suara dari kamar seberang. Aku menyadari betapa banyak kehidupan yang sekarang bergantung pada keberadaannya.

Aku mencoba tidur, tetapi setiap sudut kamar memantulkan bukti bahwa kami sudah bercampur: pelembap tangannya di nakas, kabel pengisi daya yang ia pinjamkan, satu jepit rambut di dekat bantal. Bahkan ketika berada di kamar berbeda, Helena sudah tinggal di rutinitasku.

Aku turun dan duduk di sofa. Selimut krem terlipat di sandaran. Aku tidak mengambilnya karena teringat caranya memanggilku agar duduk mendekat. Mundur tidak selalu menciptakan keamanan. Kadang ia hanya meninggalkan orang lain sendirian dengan pertanyaan yang seharusnya dijawab bersama.

Aku membuka album Rumah di ponsel. Setiap foto menunjukkan pilihan Helena sendiri: tangannya menggenggamku, kepalanya di bahuku, senyum yang tidak pernah kuminta. Menganggap semuanya sebagai rasa utang berarti meremehkan keberaniannya.

Aku menulis di aplikasi catatan: Aku takut berharap. Aku ingin dipilih. Aku salah karena tidak bertanya. Kalimat kedua paling sulit dibiarkan tetap ada. Berkali-kali aku hampir menghapusnya, seolah kebutuhan akan membuat cintaku kurang tulus.

Menjelang subuh langkah Helena berhenti di atas tangga. Sesaat kemudian pesan masuk: Jangan lupa, besok kita bicara.

Aku membalas: Aku nggak akan pergi.

Jawabannya hanya: Oke. Kata pendek itu bukan pengampunan, tetapi cukup untuk membuatku kembali bernapas.

Pagi hari, aku menunggu di meja tanpa membuat kopi untuknya. Bukan karena marah; aku ingin memberi ruang bagi percakapan, bukan menutupnya dengan layanan seperti biasa.

Helena turun dan melihat cangkir kosong.

“Kopi aku?”

“Aku belum buat. Aku nggak tahu apakah membuatnya akan terasa seperti…”

Dia mengangkat tangan. “Buat kopi, Aries. Jangan jadi aneh.”

Aku menurut. Ketika kembali, dia mendorong kursi di sebelahnya, bukan seberang.

“Duduk. Kita selesaikan.”

Aku duduk. Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu cara melindungi diri selain mendengarkan.

Catatan di ponsel masih terbuka di saku. Aku tidak membacanya keras-keras, tetapi aku membiarkan tiga kalimat itu tetap ada sebagai pegangan. Helena tidak membutuhkan pidato sempurna. Ia membutuhkan aku hadir ketika jawabannya mungkin menakutkan.

Aku mendorong cangkir kopinya sedikit lebih dekat. Gerakan lama itu terasa berbeda setelah semalam: bukan cara membungkam masalah dengan perhatian, melainkan tanda bahwa aku bisa tetap merawat sambil berhenti bersembunyi. Helena menyentuh gagang cangkir, lalu menatapku lurus.

“Aku akan jelaskan sekali,” katanya. “Setelah itu kamu harus percaya bahwa aku tahu perasaan aku sendiri.”

“Iya.”

Satu kata itu bukan keberanian penuh. Namun untuk pagi tersebut, itu adalah caraku membuka pintu dan membiarkannya masuk ke bagian diriku yang selama ini selalu kukunci.

Aku meletakkan kedua tangan di meja agar tidak tergoda mengalihkan percakapan dengan sentuhan. Ketakutan masih ada, keras dan akrab, tetapi kali ini aku tidak akan menyebutnya perlindungan. Aku akan menamainya dengan jujur dan membiarkan Helena memutuskan apa yang ingin ia lakukan setelah mendengarnya.