Chapter Five

Rumah Kamu

POV: Helena

Sabtu sore, aku menemukan satu kardus terakhir milikku masih tertutup di ruang kerja. Isinya buku, bingkai foto, dan benda-benda kecil dari apartemen lama. Aries duduk di lantai membantu membuka bungkus koran.

“Taruh rak mana?” tanyanya.

“Terserah. Ini rumah kamu.” Tangannya berhenti.

Dia tidak langsung membetulkan. Dia menaruh sebuah novel ke rak, merapikan posisinya, lalu berkata, “Rumah kita.” Dua kata itu disampaikan biasa saja, tetapi membuat ruangan seakan lebih sunyi.

“Maksudku, secara dokumen memang atas nama kamu,” kataku.

“Kalau itu masalahnya, nanti bisa diurus.”

“Bukan begitu.”

“Berarti rumah kita.”

Aku memeluk bingkai foto ke dada.

“Kamu gampang banget membagi sesuatu yang besar.” Aries menoleh.

“Aku mengajak kamu menikah. Agak terlambat kalau sekarang pelit ruang lemari.”

“Lemari aku memang lebih besar.”

“Itu penindasan struktural.” Aku tertawa, dan ketegangan yang tadi muncul perlahan mengendur.

Kami melanjutkan membongkar kardus. Aries menemukan foto masa kuliahku dengan rambut pendek.

“Ini kamu?”

“Jangan komentar.”

“Aku cuma mau bilang lucu.”

“Itu penghinaan.”

“Kenapa?”

“Perempuan nggak mau dibilang lucu kalau sedang merasa cantik.” Dia menatap foto, lalu wajahku.

“Kalau aku bilang dua-duanya, aman?”

Aku terdiam. Delivery-nya terlalu tenang, seperti dia sedang memastikan ukuran rak.

“Kamu belajar flirting dari mana?” tanyaku.

“Nggak belajar.”

“Bakat alami?”

“Targetnya yang bikin gampang.” Aku melempar gumpalan koran. Dia menangkapnya dan tertawa.

Di bagian bawah kardus ada cangkir keramik retak yang tetap kubawa karena hadiah dari almarhum nenek. Aries memeriksanya hati-hati.

“Jangan dibuang,” kataku cepat.

“Aku nggak akan buang.”

“Sudah nggak bisa dipakai.”

“Benda nggak harus berguna supaya boleh tinggal.” Dia membungkusnya lagi dan menaruhnya di rak paling aman.

Kalimat itu membuat dadaku menghangat. Aku mengalihkan perhatian pada buku agar dia tidak melihat. Di sela beberapa halaman, kutemukan nota lama dan karet rambut. Aries mengambil kotak kecil, lalu menulis sesuatu pada labelnya: Barang Helena—jangan dibuang.

“Kenapa ditulis begitu?”

“Supaya asisten rumah tangga tahu.”

“Atau supaya kamu tahu?”

“Aku punya daya ingat bagus.”

“Benar. Kamera pengawas.”

Ponselku bergetar. Nadia mengajak makan malam bersama beberapa teman. Biasanya aku akan langsung setuju. Apartemen lamaku selalu terasa terlalu sepi pada akhir pekan, jadi aku jarang menolak ajakan keluar. Aku menatap Aries yang sedang memasang foto keluargaku di sisi rak yang mudah terlihat.

“Kamu malam ini ada acara?” tanyaku.

“Nggak.”

“Mau makan apa?”

“Apa aja.”

“Jawaban paling nggak membantu sedunia.”

“Aku bisa bikin daftar opsi dengan analisis risiko.”

“Jangan.” Aku mengetik balasan kepada Nadia: lain kali saja.

Aries tak tahu aku membatalkan rencana. Dia mengangkat cangkir retak, memastikan tempatnya stabil.

“Kenapa foto keluarga kamu ditaruh depan?” tanyaku.

“Supaya kelihatan.”

“Ini ruang kerja kamu.”

“Ruang kerja kita kalau kamu mau pakai.”

Kata kita muncul lagi. Bukan sebagai koreksi, melainkan tawaran yang selalu bisa kuterima atau kutolak. Aries tidak pernah menutup jalan keluar, tetapi dia juga tidak membiarkanku berdiri sebagai tamu.

Menjelang malam, aku pergi membeli minuman sementara dia mandi. Ketika kembali, aku membawa kopi favoritnya. Aries turun dengan rambut masih basah dan berhenti melihat gelas di meja.

“Buat aku?”

“Nggak. Buat hantu rumah ini.”

“Hantunya tahu pesanan aku?”

“Aku punya daya ingat bagus.”

Dia mengambil kopi itu, tetapi tidak langsung minum.

“Makasih.” Hanya satu kata. Tatapannya membuat gestur sederhana itu terasa jauh lebih besar. Aku duduk di sofa dan menyalakan televisi.

“Kita pesan makan, ya. Aku nggak mau mempertaruhkan dapur lagi.”

“Keputusan bijak.”

“Kamu harusnya bilang masakan aku berkembang.”

“Berkembang menjadi ancaman baru.”

Aku melempar bantal. Aries menangkapnya, lalu duduk di ujung sofa yang lain. Jarak di antara kami cukup untuk satu orang. Sepuluh menit kemudian, tanpa sadar aku bergeser mencari posisi lebih nyaman. Ketika film dimulai, jarak itu tinggal setengah orang. Tak satu pun dari kami membahasnya.

Makanan datang. Aries mengambil pesananku tanpa perlu bertanya mana yang kupilih. Dia memisahkan sambal karena tahu aku hanya suka sedikit pedas. Aku menyodorkan kopinya ketika dia lupa minum. Pertukaran kecil itu berlangsung tanpa kesepakatan, seperti kami sudah lama berbagi meja.

“Tadi Nadia ngajak keluar,” kataku saat iklan.

“Kenapa nggak pergi?”

“Malas.”

“Kamu biasanya nggak malas.” Aku meliriknya.

“Kamu mengawasi jadwal sosial aku juga?”

“Informasi dari grup keluarga terlalu lengkap.”

“Aku cuma lagi pengin di rumah.”

Aries mengangguk. Dia tidak bertanya apakah keputusanku ada hubungannya dengan dia. Mungkin memang tidak. Mungkin aku hanya lelah. Namun saat itu, berada di sofa sambil memegang gelas dingin dan mendengar tawanya terasa lebih menarik daripada restoran mana pun.

Malam semakin larut. Sebelum naik, aku mematikan televisi.

“Lampu ruang tengah dimatikan?” tanyanya. Aku melihat lampu kuning yang menyala di sudut.

“Nanti aja. Aku mau ambil air dulu.” Aries mengangguk dan naik lebih dulu.

Aku berdiri sendiri beberapa saat. Dua minggu lalu, lampu itu menunggu kepulanganku. Sekarang aku sengaja membiarkannya menyala sampai Aries masuk ke kamarnya. Konyol, karena dia sudah berada di dalam rumah. Tetapi mungkin cahaya tidak selalu diperlukan agar seseorang bisa melihat jalan. Kadang ia hanya mengatakan bahwa kehadiran seseorang diperhatikan.

Di lantai dua, kami berhenti di depan dua pintu yang sama.

“Selamat malam,” katanya.

“Selamat malam.” Aku masuk, lalu menoleh sebelum menutup pintu.

“Aries?” Dia menunggu. Aku hampir mengatakan rumah kita, tetapi kata itu masih terlalu baru di lidah.

“Makasih sudah bantu beresin barang aku.”

“Sama-sama.” Dia tersenyum dan masuk ke kamarnya. Aku menutup pintu pelan. Di seberangnya, pintu Aries ikut tertutup. Jarak fisik kami belum berubah sejak malam pertama, tetapi rumah ini sudah berubah bentuk di kepalaku. Bukan lagi miliknya, belum sepenuhnya milikku—namun ada satu ruang di antara keduanya yang perlahan mulai bisa kusebut milik kami.

Keesokan paginya aku kembali ke ruang kerja. Foto keluargaku benar-benar berada di depan, sejajar dengan foto keluarga Aries. Bukan ditaruh lebih rendah, bukan diselipkan di sudut. Dua keluarga menempati rak yang sama. Aku membayangkan dia mengatur letaknya saat aku membeli kopi kemarin, menggeser barang miliknya untuk menciptakan ruang tanpa memberitahuku bahwa dia sedang berkorban.

Aku membuka laptop di meja kerja dan mencoba menjawab surel. Lima belas menit kemudian Aries muncul di pintu membawa dua cangkir.

“Katanya ini ruang kerja kita,” ujarku.

“Masih berlaku?”

“Selama kamu nggak mengusir pemilik lama.” Dia meletakkan kopiku di sisi kanan, tempat tanganku biasa meraih.

“Aku bisa pindah ke bawah kalau kamu perlu tenang.”

“Nggak usah.” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Aku menambahkan,

“Mejanya luas.”

Kami bekerja berhadapan hampir satu jam. Sesekali terdengar bunyi papan ketik dan sendok menyentuh cangkir. Tidak ada percakapan penting. Namun keheningannya berbeda dari kesunyian apartemen lamaku. Dulu diam berarti tidak ada siapa-siapa. Di sini diam memiliki napas lain, gerakan kursi, dan seseorang yang sesekali mendorong piring biskuit ke arahku tanpa mengalihkan mata dari layar.

Saat Aries menerima telepon dan keluar, aku melihat label pada kardus kosong: Barang Helena—jangan dibuang. Aku melepas label itu dan menempelkannya di bagian dalam laci meja. Aku tidak tahu kenapa ingin menyimpannya. Mungkin karena tulisan itu membuktikan bahwa sebelum aku mampu menyebut tempat ini milik kami, Aries sudah lebih dulu membuat ruang untuk semua yang kubawa—bahkan barang retak, kebiasaan merepotkan, dan hati yang belum bisa menjanjikan apa-apa.

Malam berikutnya aku pulang pukul tujuh, hampir dua jam lebih cepat daripada kebiasaanku. Aries sedang memotong sayuran dan menatap jam ketika melihatku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kenapa harus ada apa?”

“Kamu pulang cepat.” Aku meletakkan tas.

“Aku tinggal di sini. Wajar aku pulang.” Aries mengangguk, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Aku mengambil pisau lain dan berdiri di sampingnya. Kami menyiapkan makan malam sederhana, saling mengejek bentuk potongan wortel, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa sedang membantu di dapurnya. Aku sedang memasak di sebuah rumah yang perlahan, tanpa izin resmi dariku, mulai terasa seperti tempat pulang.