Chapter Nineteen

Kalau Mau, Bilang

POV: Aries

Helena menghabiskan tiga hari menggoda lalu pura-pura tidak tahu efeknya. Ia mencium pipiku sebelum kerja, mengirim pesan berbahaya saat rapat, dan duduk terlalu dekat setiap kali aku mencoba membaca.

Aku menikmati semuanya sampai malam ketika ia menggeser tanganku ke pinggangnya lalu mengeluh karena aku tetap bertanya.

“Kamu harus selalu minta izin?” katanya.

“Untuk hal yang menyangkut tubuh kamu, iya.”

“Kadang aku ingin kamu langsung tahu.”

Aku mematikan televisi. “Aku bisa menebak. Tapi kalau tebakan aku salah, yang menanggung bukan cuma aku.”

Helena terdiam. Aku mengusap ibu jarinya.

“Keinginan kamu boleh diucapkan. Nggak membuat kamu terlalu agresif atau kurang anggun.”

“Kalau aku ingin dipeluk?”

“Aku peluk.”

“Kalau ingin dicium?”

Jantungku berdetak lebih cepat. “Aku cium.”

“Kalau aku belum tahu?”

“Kita berhenti sampai tahu.”

Ia menatapku lama, lalu membuka kedua tangan. “Peluk aku.”

Aku menariknya ke dada. Helena melingkarkan lengan di pinggangku dan mengembuskan napas, seolah baru menurunkan sesuatu yang berat.

“Begini?”

“Lebih erat.”

Aku menurut. Wajahnya tersembunyi di leherku. Tidak ada permainan kali ini, hanya permintaan yang dipenuhi tanpa rasa malu.

“Enak juga,” gumamnya.

“Apa?”

“Minta sesuatu terus dapat.”

“Aku juga baru belajar.”

Kami diam. Film tetap berhenti. Pelukan itu menjadi latihan bagi kami berdua: Helena belajar menyebut keinginannya; aku belajar bahwa dibutuhkan tidak sama dengan memiliki kendali.

Pagi berikutnya aku berdiri di pintu kamarnya ketika ia memasang anting.

“Aku mau cium kening kamu.”

Helena menoleh. “Kenapa diumumkan?”

“Karena aku sedang latihan bilang mau.”

Senyumnya muncul. “Boleh.”

Aku mencium keningnya. Tangannya memegang lenganku, menahan satu detik lebih lama.

“Cuma kening?”

“Permintaan aku cuma itu.”

“Kamu harus belajar serakah.”

“Guru aku suka memberi ujian mendadak.”

Ia mencubit pinggangku lalu pergi sambil tertawa.

Malamnya Helena pulang dengan bahu turun dan mata lelah. Ia meletakkan tas, kemudian menatapku.

“Permintaan?” tanyaku.

“Peluk. Lama.”

Aku membuka tangan. Ia masuk tanpa ragu.

“Ada lagi?”

“Usap rambut.”

Aku menurut. Beberapa minggu lalu, Helena akan menunggu aku menebak lalu kecewa jika salah. Sekarang ia memberiku cara mencintainya dengan benar.

“Kamu menikmati ini,” tuduhku.

“Banget.”

“Aku bisa ketagihan dibutuhkan.”

Ia mengangkat wajah. “Butuh bukan berarti aku nggak bisa sendiri. Aku cuma memilih nggak selalu sendiri.”

Kalimat itu membebaskan kami berdua. Kebutuhannya bukan kelemahan, dan keinginanku menerimanya bukan hak kepemilikan.

Aku mencium keningnya lagi. “Permintaan aku sekarang.”

“Apa?”

“Jangan bilang nggak apa-apa kalau sebenarnya kecewa.”

Helena berpikir, lalu mengangguk. “Dengan syarat kamu juga bilang kalau cemburu, takut, atau capek.”

“Sulit.”

“Makanya latihan.”

Kami menyepakati aturan tersebut dalam pelukan, bukan sebagai kontrak sempurna, melainkan jalan keluar ketika kebiasaan lama kembali.

Sebelum tidur Helena mengetuk pintuku. “Aku punya satu permintaan lagi.”

“Apa?”

“Besok kalau mau cium aku, jangan kening terus.”

Ia pergi sebelum aku pulih. Aku berdiri di pintu sambil tertawa pelan.

Ternyata mengatakan mau tidak menjadikan cinta menuntut. Ia justru memberi orang yang dicintai hak paling penting: menjawab dengan bebas.