Chapter Twenty Six

Kalau Dia Menikah, Berhenti

POV: Helena

Aku membawa kotak itu ke ruang kerja, meletakkannya di lantai, lalu duduk di depan meja Aries seperti seseorang yang sedang memeriksa arsip hidupnya sendiri. Dia berada di dapur, sengaja cukup dekat untuk dipanggil dan cukup jauh untuk tidak mengawasiku membaca.

Nasi yang dibawa Raka mendingin. Tidak satu pun dari kami menyentuhnya.

Amplop di dasar kotak bertuliskan namaku, tetapi tidak tersegel. Di dalamnya ada beberapa lembar catatan yang tampaknya ditulis pada waktu berbeda. Sebagian hanya daftar. Sebagian adalah kalimat yang dicoret sampai hampir tak terbaca.

Lembar pertama bertanggal lima tahun lalu. Isinya pengingat untuk tidak mengirim ucapan terlalu pagi karena aku mungkin merasa aneh menerima pesan dari orang yang belum dekat. Aries akhirnya menitipkan ucapan ulang tahun lewat grup keluarga.

Lembar lain mencatat bahwa aku menyukai bunga matahari tetapi membenci buket terlalu besar karena merepotkan dibawa. Aku tidak ingat kapan pernah mengatakan itu di dekatnya.

Aku memanggil dari ruang kerja. “Kapan kamu tahu soal bunga matahari?”

Aries muncul di ambang pintu. “Acara pernikahan sepupu kamu. Kamu bantu staf memindahkan buket, terus bilang bunganya cantik tapi ukurannya menyusahkan.”

“Itu enam tahun lalu.”

“Mungkin.”

“Kamu ingat kalimat acak enam tahun lalu?”

Dia mengusap tengkuk. “Kalau diucapkan kamu, otak aku kadang nggak tahu cara membuangnya.”

Dalam keadaan lain, jawaban itu akan membuatku menggoda. Sekarang ia hanya menambah berat di dadaku.

“Kenapa semua ini ada di kotak?”

“Karena suatu saat aku perlu berhenti mengingat.”

Aku menatapnya. Aries segera menyadari ia telah mengatakan terlalu banyak. Namun kali ini aku tidak membiarkannya mundur.

“Berhenti karena apa?”

“Lanjut baca saja,” katanya pelan.

Dia kembali ke dapur. Aku membalik lembar berikutnya dengan jari dingin.

Catatan itu pendek. Tidak memiliki tanggal, tetapi tintanya lebih baru daripada halaman awal. Tulisan Aries tetap rapi, seolah kalimat di sana hanyalah prosedur yang harus dipatuhi.

Kalau Helena menikah dengan orang yang dia cintai, berhenti. Jangan cari alasan untuk muncul. Jangan kirim apa pun lewat Nadia. Jangan tanya kabarnya pada Mama. Pastikan semua catatan dibuang. Kebahagiaannya bukan tempat untuk kesedihanmu.

Aku membacanya dua kali. Pada kali ketiga, kata-katanya pecah karena air mata memenuhi pandangan.

Tidak ada rencana merebutku. Tidak ada kalimat tentang menunggu pernikahanku gagal. Aries telah menyiapkan cara menghilang dengan disiplin yang sama ketika ia menyiapkan obat dan nomor bengkelku.

Di bawah daftar itu ada satu tambahan: Kalau butuh bantuan darurat, bantu sekali lewat orang lain. Setelah itu pergi lagi.

Aku menutup mulut agar suara yang keluar tidak terdengar. Kebaikannya bahkan menyusup ke dalam rencana perpisahan. Dia bersedia tetap menolong, selama aku tidak perlu tahu bahwa hatinya ikut berada di sana.

Aries datang setelah mendengar kursi bergeser. Dia berhenti ketika melihat lembar di tanganku.

“Itu seharusnya sudah dibuang,” katanya.

“Kenapa belum?”

“Aku lupa kotaknya masih ada.”

“Kamu nggak pernah lupa apa pun tentang aku.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Aku berdiri dan mengangkat kertas tersebut. “Jadi ini rencana kamu?”

“Dulu.”

“Kalau aku menikah dengan orang lain, kamu akan hilang?”

“Aku akan menjaga jarak.”

“Jangan pakai kata yang lebih cantik.”

Rahangnya mengeras. “Iya. Aku akan hilang.”

Aku berjalan melewatinya menuju ruang tengah karena ruang kerja terasa kekurangan udara. Aries mengikuti beberapa langkah di belakang tanpa mencoba mengambil catatan dari tanganku.

“Kamu mau membuang semua bukti ini lalu bertingkah seolah aku nggak pernah berarti?”

“Bukan begitu.”

“Terus bagaimana?”

“Kamu akan punya suami. Hidup kamu sendiri. Perasaan aku nggak punya hak masuk ke sana.”

“Tapi kamu tetap akan membantu kalau aku darurat.”

Tatapannya turun. “Kalau memang nggak ada orang lain.”

Aku tertawa kecil, suara yang patah dan sama sekali tidak lucu. Bahkan dalam skenario ketika hatinya hancur, dia masih membuat pengecualian untuk keselamatanku.

Pintu depan terbuka dan Nadia masuk sambil membawa dua kantong camilan. Dia pasti dipanggil Raka sebagai bala bantuan. Senyumnya menghilang begitu melihat wajah kami.

“Aku datang di waktu yang buruk?”

“Sangat,” jawabku.

“Oke. Aku taruh keripik, lalu bisa pergi atau memeluk seseorang. Pilih paket layanan.”

Aries hampir menyuruhnya pergi, tetapi aku menunjuk sofa. “Duduk. Aku mau kamu jawab jujur.”

Nadia duduk dengan kantong camilan masih dipeluk. Aku menunjukkan catatan itu. Wajahnya berubah sedih sebelum selesai membaca.

“Kamu tahu?” tanyaku.

“Nggak soal catatan ini. Tapi dia pernah bilang kalau kamu punya pasangan serius, aku harus berhenti memberi kabar tentang kamu.”

“Dan kamu setuju?”

“Aku marah dulu.” Nadia melirik Aries. “Aku bilang dia sok suci. Dia bilang ini bukan soal suci, cuma soal batas.”

Aries bersandar pada dinding. “Memang soal batas.”

“Nggak,” kataku. “Ini soal kamu memutuskan bahwa satu-satunya cara mencintai aku adalah dengan tidak pernah membutuhkan apa pun.”

Dia menatapku, terluka karena aku menyentuh sesuatu yang selama ini ia lindungi.

Nadia berdiri perlahan. “Aku rasa paket layanan yang tepat adalah meninggalkan keripik dan kabur.”

“Kali ini keputusan kamu benar,” kata Aries.

“Catat tanggalnya. Langka.”

Humor kecil itu jatuh di antara kami dan tidak mampu memperbaiki apa pun, tetapi cukup memberi ruang untuk bernapas. Nadia memelukku singkat sebelum pergi.

Ketika pintu tertutup, aku menatap Aries lagi. “Waktu keluarga menjodohkan kita, apa yang kamu pikirkan?”

“Bahwa aku beruntung.”

“Cuma itu?”

“Dan bahwa aku harus memastikan keberuntungan aku nggak berubah jadi penjara buat kamu.”

“Makanya kamar terpisah. Semua batas. Semua pilihan.”

“Iya.”

“Makanya kamu siap kalau aku suatu hari minta pergi.”

Dia tidak menjawab. Diamnya cukup.

Aku meremas catatan sampai kertasnya kusut. “Kamu masuk pernikahan ini sambil tetap menyiapkan cara kehilangan aku.”

“Karena cincin nggak otomatis membuat hati kamu jadi milik aku.”

Aku tahu dia benar. Justru kebenaran itu yang menyakitkan. Aries menghormatiku begitu dalam sampai ia membangun pintu keluar bahkan sebelum aku ingin tinggal.

“Apa kamu pernah berharap aku jatuh cinta sama kamu?”

Untuk pertama kalinya malam itu, pertahanannya retak. Matanya memerah, tetapi suaranya tetap tenang. “Setiap hari.”

“Lalu kenapa nggak pernah bilang?”

“Karena harapan aku bukan kewajiban kamu.”

Air mataku jatuh. Aries bergerak satu langkah, lalu berhenti, menunggu izin bahkan ketika aku menangis karena dirinya.

Aku membenci jarak itu. Aku juga memahami dari mana jarak itu dibangun.

“Jangan sentuh aku dulu,” kataku, bukan karena menolak, melainkan karena jika dia memeluk sekarang, aku mungkin akan menggunakan kehangatannya untuk lari dari pertanyaan yang harus kuselesaikan.

“Oke.”

Aku naik ke kamar membawa catatan tersebut. Di tangga, aku menoleh. Aries masih berdiri di tempat yang sama, kedua tangan di sisi tubuh, menepati permintaanku meski seluruh wajahnya ingin mendekat.

Di kamar, aku meratakan kertas kusut itu di atas meja. Kalimat kalau dia menikah, berhenti tetap terbaca. Aku sudah menikah dengannya, tetapi sebagian diri Aries masih hidup menurut catatan lama: jangan meminta, jangan mengganggu, dan bersiap pergi jika kebahagiaanku menunjuk arah lain.

Malam itu aku akhirnya memahami bahwa masalah kami bukan apakah Aries mencintaiku. Masalahnya adalah dia telah berlatih kehilangan begitu lama sampai mungkin tidak tahu cara percaya ketika seseorang memilih tinggal.

Aku duduk di tepi ranjang, mendengarkan langkahnya berhenti di depan pintu lalu menjauh tanpa mengetuk. Dia menghormati permintaanku sampai ke titik yang menyakitkan. Sebagian diriku ingin membuka pintu dan menariknya masuk. Bagian lain tahu pelukan saja tidak akan mencabut keyakinan yang tumbuh enam tahun.

Aku mengambil spidol merah dan mencoret kata berhenti pada salinan catatan itu. Di bawahnya kutulis: tanya aku. Tulisanku miring karena tangan gemetar, tetapi pesannya jelas. Besok aku akan menunjukkan bahwa kebebasan bukan berarti Aries harus selalu menghilang lebih dulu. Kebebasan juga berarti memberiku hak menjawab sebelum dia memutuskan akhir seorang diri.

Ponselku menyala karena pesan darinya: Aku di bawah kalau kamu butuh apa pun. Aku mengetik beberapa jawaban, lalu memilih satu yang paling jujur: Aku butuh kamu tetap di sana. Jangan pergi.

Balasannya tiba segera: Aku tetap di sini.

Untuk malam itu, kalimat tersebut cukup. Bukan menyelesaikan, bukan memaafkan seluruh kebiasaan lamanya, tetapi menahan pintu agar tetap terbuka sampai kami berani melewatinya bersama.