Chapter Twenty Two
Aku Lagi Pengin Dicium
POV: Helena
Keinginan untuk dicium muncul pukul sembilan malam ketika Aries sedang membaca laporan di ruang kerja. Tidak ada suasana romantis. Aku hanya berdiri di pintu, melihat keningnya berkerut, lalu merasa ingin mengambil perhatiannya sepenuhnya.
Aku masuk dan menutup laptopnya.
“Pekerjaan aku belum selesai,” katanya.
“Istirahat lima menit.”
“Perintah?”
“Permintaan.”
Aries bersandar. “Mau apa?”
Semua keberanian yang kupelajari selama beberapa minggu berkumpul di ujung lidah. “Aku lagi pengin dicium suami sendiri. Masa harus bikin surat permohonan dulu?”
Tatapan Aries berubah gelap. Dia berdiri perlahan.
“Nggak ada masalah,” katanya.
Aku tersenyum menang. “Nah—”
“Aku cuma mau memastikan kamu sadar konsekuensinya.”
“Konsekuensi ap—”
Aries menciumku.
Bukan ciuman singkat yang selama ini kami bagi. Tangannya memegang pipiku, bibirnya bergerak perlahan tetapi pasti. Aku meraih kemejanya, membalas tanpa ragu. Ketika aku membuka sedikit jarak untuk bernapas, dia berhenti.
“Masih mau?” bisiknya.
Aku mengangguk. “Masih.”
Ciuman kedua lebih dalam. Aries tetap memberiku ruang, tetapi tidak lagi menyembunyikan betapa dia menginginkannya. Tanganku naik ke tengkuknya. Dunia menyempit menjadi kehangatan, napas yang bertemu, dan detak jantung di bawah telapak tanganku.
Saat napasku mulai kacau, aku menepuk dadanya. Aries langsung mundur. Dahinya menempel pada dahiku, kedua tangannya tetap di tempat yang aman.
“Oke?”
“Oke.”
“Yakin?”
“Kalau kamu tanya sekali lagi, aku turunkan nilai kamu.”
Dia tertawa pelan, napasnya sama berat. “Nilainya berapa?”
“Sepuluh.”
Aries membeku. “Akhirnya.”
“Jangan sombong. Bisa turun.”
Dia mencium ujung hidungku, lalu mundur satu langkah. Tidak ada usaha membawa momen lebih jauh. Deep kiss itu menjadi batas, bukan pintu menuju sesuatu yang belum kami sepakati.
Aku duduk di tepi meja karena lutut terasa lemah. Aries mengambil air dan menyerahkannya.
“Kamu selalu kasih air setelah bikin orang nggak bisa napas?”
“Prosedur keselamatan.”
“Analis risiko.”
“Istri aku aset penting.”
Aku tertawa sambil menerima gelas.
Setelahnya kami duduk di lantai, punggung bersandar pada meja. Keheningan tidak canggung. Aku menyentuh bibir dan Aries menangkap gerakanku.
“Menyesal?”
“Nggak.”
“Takut?”
“Sedikit. Bukan sama kamu.”
“Sama apa?”
Aku mencari kata yang tepat. “Sama seberapa besar aku menginginkannya.”
Aries tidak menganggap itu undangan. Dia menggenggam tanganku. “Kita bisa berhenti di mana pun kamu mau.”
“Kamu nggak kecewa?”
“Aku baru dapat nilai sepuluh. Masa kecewa?”
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Kami menyusun aturan sambil tetap duduk di lantai. Kalau salah satu bilang berhenti, kami berhenti. Kalau ragu, kami bertanya. Tidak ada asumsi bahwa satu ciuman harus berlanjut menjadi hal lain.
“Kamu punya aturan?” tanyaku.
“Kamu juga harus bilang kalau menginginkan sesuatu. Aku nggak mau selalu menebak lalu takut tebakan aku salah.”
Permintaan itu masuk akal, tetapi tetap membuat pipiku panas. Selama ini aku menganggap keberanian adalah berani menerima. Ternyata meminta tanpa menyamarkannya sebagai candaan membutuhkan keberanian berbeda.
“Sepakat.”
Aries mengulurkan tangan seperti hendak meresmikan kontrak. Aku menjabatnya, lalu kami tertawa karena betapa tidak romantisnya adegan itu.
“Sekarang boleh aku minta sesuatu?” tanyanya.
“Apa?”
“Ciuman biasa. Buat penutup rapat.”
Aku berdiri di antara kedua lututnya dan mencium bibirnya singkat. “Rapat ditutup.”
“Notulennya akan aku simpan.”
“Kamu menyebalkan.”
“Nilai tetap sepuluh?”
“Sembilan koma sembilan karena banyak bicara.”
Aries meletakkan tangan di dada seolah terluka. Aku baru menyadari betapa ringan rasanya menggoda setelah percakapan jujur. Membicarakan batas tidak merusak momen. Justru percakapan itu membuat momen aman untuk dikenang.
Malam itu aku kembali ke kamar sendiri. Tidak ada ajakan tidur bersama, tidak ada implikasi lain. Di depan pintu, Aries mencium keningku dan berkata selamat malam.
Di ranjang, tubuhku masih mengingat ciuman tersebut. Namun yang paling membekas bukan intensitasnya. Yang membuatku tersenyum adalah cara Aries berhenti saat aku meminta napas, lalu memilih duduk dan berbicara alih-alih mengubah keinginan menjadi kewajiban.
Aku mengambil ponsel dan hampir mengirim pesan bahwa bibirku masih kesemutan, lalu menghapusnya karena malu. Lima detik kemudian pesan dari Aries masuk lebih dulu.
Masih oke?
Aku membalas: Masih. Kamu?
Jawabannya cepat: Sedang berusaha menyelesaikan laporan yang hurufnya sudah tidak terbaca.
Aku tertawa sendiri. Kami berada di kamar terpisah, tetapi jarak itu tidak terasa seperti penolakan. Itu adalah ruang yang kami pilih bersama setelah mengatakan apa yang kami mau.
Pagi berikutnya, aku menemukannya menyiapkan sarapan. Ada bekas kurang tidur di bawah matanya. Begitu melihatku, tangannya yang memegang spatula berhenti sepersekian detik.
“Selamat pagi,” katanya terlalu resmi.
“Selamat pagi, Pak Aries.”
“Kenapa pakai Pak?”
“Karena suasananya seperti kantor.”
Ujung telinganya merah. “Aku sedang mencoba menghormati aturan.”
Aku menyenggol bahunya. “Menghormati aturan bukan berarti pura-pura nggak terjadi apa-apa.”
“Kalau aku mengakui yang terjadi, kemungkinan aku senyum bodoh cukup besar.”
“Coba.”
Senyum itu muncul, lebar dan tidak terkendali. Dadaku menghangat karena untuk sekali ini aku tidak hanya menerima kebahagiaan Aries. Aku penyebabnya, dan aku tidak ingin mengecilkan peran itu.
“Aku juga senang,” kataku.
Aries mengembuskan napas seperti baru mendapat izin bernapas. “Oke.”
“Cuma oke?”
“Kalau aku jawab jujur, telurnya gosong.”
Telurnya memang nyaris gosong. Kami memakannya berdampingan, lutut kami berkali-kali bersentuhan di bawah meja. Tidak ada satu pun sentuhan yang terasa menuntut kelanjutan.
Keesokan pagi, dia bertingkah normal. Terlalu normal.
“Kamu nggak mau bahas nilai sepuluh?” tanyaku.
“Aku menyimpannya dalam arsip permanen.”
“Wajah kamu datar.”
“Kalau aku senyum terus, Raka akan curiga.”
“Raka bahkan belum lihat.”
Ponsel Aries berbunyi. Pesan dari Raka muncul: Kenapa lo kirim stiker joget jam 9.17 malam?
Aku tertawa sampai hampir menumpahkan kopi. Aries mengambil ponsel dengan wajah bersalah.
“Katanya normal?”
“Aku punya kelemahan sesaat.”
Pesan kedua masuk sebelum ia menyembunyikan layar: Dan kenapa lo hapus tiga pesan setelah itu?
“Tiga?” tanyaku.
“Kesalahan teknis.”
“Tunjukkan.”
“Sudah dihapus demi keamanan nasional.”
Aku mencoba merebut ponselnya. Aries menyerah ketika aku mengancam menurunkan nilai menjadi delapan. Raka mengirim tangkapan layar notifikasi: akhirnya dicium, bro, disusul dua pesan panik yang memintanya melupakan semuanya.
Aku menutup wajah. “Kamu cerita ke Raka tiga detik setelahnya?”
“Aku butuh saksi sejarah.”
“Aku akan pindah kota.”
“Aku ikut.”
Jawaban spontan itu membuat tawa kami berubah lembut. Bahkan dalam lelucon, dia selalu memasukkan dirinya ke masa depanku tanpa mengurungku di dalamnya.
Aku mendekat dan mencium pipinya. “Boleh lemah sesekali.”
Dalam perjalanan kerja, aku menyadari sesuatu telah berubah. Bukan status kami—kami sudah suami istri sejak awal. Yang berubah adalah keberanianku mengakui keinginan tanpa merasa cinta menjadi kurang murni. Ciuman kami tidak mengambil apa pun dariku. Ia justru mengembalikan suara yang selama ini kutahan.
Sepanjang hari, kenangan itu datang pada waktu-waktu memalukan: saat rapat, ketika lift berhenti, bahkan ketika aku membaca surel tentang anggaran. Namun setiap kali jantungku melonjak, aku juga mengingat pertanyaannya: masih mau? Bukan hanya bibir Aries yang tinggal dalam ingatan, melainkan kesempatan untuk menjawab.
Saat makan siang, Nadia menelepon menanyakan tirai dapur. Aku menjawab terlalu cepat dan dia langsung curiga.
“Kenapa suara kamu bahagia banget?”
“Karena makan siang gratis.”
“Bohong. Kak Aries melakukan apa?”
Aku hampir tersedak. “Kenapa harus dia?”
“Karena tanaman nggak bisa bikin orang senyum begitu.”
Aku menolak menjawab dan memutus sambungan setelah dia tertawa. Menyimpan rahasia kecil itu terasa menyenangkan. Bukan karena ciumannya memalukan, melainkan karena untuk beberapa jam aku ingin pengalaman itu hanya menjadi milik kami.
Malamnya, aku menemukan Aries sudah duduk di sofa. Kali ini dia tidak berpura-pura sibuk. Tempat di sampingnya kosong dan selimut terbuka setengah, undangan yang tidak memaksa.
“Film?” tanyanya.
Aku duduk di sampingnya. “Film. Cuma film.”
“Cuma film,” ulangnya.
Sepuluh menit kemudian aku menggenggam tangannya lebih dulu. Aries tidak mengubah sentuhan itu menjadi apa pun. Ia hanya membalas genggamanku, membuktikan bahwa keinginan bisa hadir tanpa harus terus membesar. Batas kami bukan dinding yang mematikan kedekatan. Ia adalah bentuk kepercayaan yang memungkinkan aku datang lagi besok.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium reading
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang