Chapter Eleven
Kursi Kosong di Sebelahku
POV: Helena
Malam penghargaan perusahaan dimulai tanpa Aries. Rapatnya molor dan pesan terakhirnya menyuruhku makan lebih dulu. Aku sudah membaca pesan itu tiga kali, tetapi piring di depanku tetap utuh.
Kursi di sebelahku kosong. Setiap pintu ballroom terbuka, mataku bergerak sendiri.
Nadia mengikuti arah pandangku. “Kalau dilihat terus, pintunya nggak akan melahirkan suami kamu.”
“Aku cuma lihat pelayan.”
“Pelayan yang tinggi, pakai jas, dan namanya Aries?”
Aku hendak membalas ketika Keira, rekan lama Aries, berhenti di meja. Kami pernah bertemu sebentar. Ia cantik, ramah, dan terlalu mudah mengingat nama semua orang.
“Kursi ini kosong?” tanyanya sambil menunjuk tempat di sebelahku.
“Ada orang.”
Jawabanku terlalu cepat. Keira melihat kartu nama Aries di meja lalu tersenyum memahami.
“Aku cuma mau duduk sebentar sampai meja timku dibuka.”
“Suamiku akan datang.”
Kata suamiku keluar dengan tekanan yang bahkan kudengar sendiri. Nadia menunduk, pura-pura batuk agar tawanya tidak terlihat.
Keira mengambil kursi lain. Tidak ada konflik, tidak ada alasan rasional untuk jantungku masih berdebar.
Aries tiba dua puluh menit kemudian. Jasnya sedikit kusut dan napasnya belum teratur, tanda ia berjalan cepat dari parkiran.
“Maaf,” katanya.
Aku menggeser kursinya keluar. “Duduk. Makanannya dingin.”
Tatapannya jatuh ke piringku. “Kamu belum makan?”
“Belum sempat.”
Nadia akhirnya menyerah menahan diri. “Dia menunggu partner sarapan versi malam.”
Aku menendangnya di bawah meja, tetapi kakiku mengenai Aries. Dia meringis sambil menahan senyum.
“Sambutannya hangat sekali.”
“Itu buat Nadia.”
“Sayang.”
Begitu ia duduk, bahuku turun. Kursi yang tadi hanya benda kosong kembali berada di tempat yang benar. Kesadaran itu lebih memalukan daripada lelucon Nadia.
Setelah makan, Keira datang menyapa Aries. Mereka membicarakan proyek lama dengan mudah, seperti dua orang yang memiliki banyak referensi bersama. Ketika Keira tertawa dan menyentuh lengannya singkat, sendokku berhenti di udara.
Nadia berbisik, “Oh.”
“Apa?”
“Aku baru menyaksikan kelahiran kecemburuan.”
“Aku nggak cemburu.”
“Kamu menatap tangannya seperti mau mengajukan gugatan.”
Aku meletakkan sendok. Aries kembali ke kursinya setelah Keira pergi mengambil minuman. Tanpa alasan, aku menggeser kursi sedikit mendekat. Lutut kami bersentuhan.
“Sempit?” tanyanya.
“Nggak.”
Aku tidak menjauh. Aries juga tidak. Di tengah ballroom besar, sentuhan kecil itu terasa seperti tanda kepemilikan yang tidak berhak kuucapkan.
Keira berpamitan sebelum acara selesai. “Kita harus ngopi kapan-kapan. Aku mau tanya soal proyek baru.”
“Kirim ke grup tim saja,” jawab Aries. “Biar datanya lengkap.”
Aku menyukai kata tim lebih dari yang seharusnya.
Dalam perjalanan pulang, Aries bertanya kenapa aku diam.
“Capek.”
“Oke.”
Jawaban tenangnya membuatku kesal karena tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan belum kuakui.
“Keira cantik,” kataku.
“Iya.”
Aku menoleh. “Cepat banget jawabnya.”
“Kalau aku bilang nggak, kamu tahu aku bohong.”
“Kamu memperhatikan?”
“Aku punya mata.” Dia melirikku sebentar. “Tapi sepanjang acara, yang aku cari cuma kursi di sebelah kamu.”
Aku melihat jalan. Pantulan wajahku di kaca tampak terlalu puas.
“Kamu pernah suka dia?” tanyaku.
Aries tidak menggodaku. “Nggak. Kami teman kerja. Dia juga sudah menikah.”
Rasa lega datang begitu cepat sampai tak bisa kusangkal.
Sampai rumah, aku melepas sepatu dan berkata, “Kalau acara berikutnya kamu terlambat, kabari.”
“Supaya?”
“Supaya kursi kamu nggak diambil orang.”
Aries berhenti. “Kamu jagain tempat aku?”
Aku bisa berlindung di balik susunan meja seperti tadi. Kali ini aku memilih jawaban yang sedikit lebih jujur.
“Iya.”
Senyumnya berubah lembut. “Terima kasih.”
“Jangan besar kepala.”
“Sulit. Istri aku cemburu.”
Aku melempar tas kecil ke dadanya. Aries menangkap sambil tertawa.
Di depan kamar, aku menyadari kecemburuan tidak memberiku hak mengatur siapa yang boleh berbicara dengannya. Namun perasaan itu memberi informasi yang tidak bisa lagi kuhindari: aku sudah menyediakan tempat untuk Aries dalam hidupku, dan melihat orang lain mendekati tempat tersebut membuatku takut kehilangan sesuatu yang belum berani kusebut milikku.
Keesokan pagi kursi di sebelahku kosong karena Aries sedang membuat kopi. Aku menaruh tanganku di atas dudukannya sebelum ia kembali.
Tempat itu bukan miliknya karena cincin atau kewajiban. Aku menjaganya karena aku menginginkan Aries berada cukup dekat untuk lutut kami bersentuhan lagi.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku reading
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang