Chapter Thirty
Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
POV: Helena
Alarm berbunyi pukul lima pagi. Aku mematikannya, menatap langit-langit, dan mempertanyakan semua keputusan yang membawaku ke tahap memasak sarapan untuk lelaki yang bisa membedakan telur matang sempurna hanya dari suara minyak.
Aku turun diam-diam dengan rambut berantakan. Resep nasi goreng sederhana sudah terbuka di ponsel. Nadia bersikeras mengirim video panduan, tetapi durasinya empat puluh menit dan separuh isinya dia tertawa saat mengiris bawang.
Langkah pertama terlihat aman: panaskan minyak. Langkah kedua menghancurkan kepercayaan diriku karena bawang meletup begitu masuk wajan. Aku mundur sampai menabrak kulkas.
“Kita sedang diserang?” suara Aries terdengar dari pintu.
Aku berbalik. Dia berdiri memakai kaus tidur, rambut acak-acakan, dan wajah yang terlalu menghibur untuk seseorang yang baru bangun.
“Naik lagi.”
“Ada asap.”
“Itu bagian dari proses.”
“Proses evakuasi?”
Aku mengacungkan spatula. “Kalau kamu masuk dapur, aku pukul.”
Aries mengangkat kedua tangan. “Aku cuma mau memastikan asuransi rumah aktif.”
Dia duduk di kursi makan, sesuai perintah, tetapi matanya mengikuti setiap gerakanku. Pengawasan itu membuatku semakin gugup. Aku memasukkan nasi terlalu cepat, menumpahkan kecap terlalu banyak, lalu mencoba mengimbanginya dengan nasi tambahan sampai porsinya cukup untuk enam orang.
“Kita mengundang tetangga?” tanyanya.
“Diam.”
“Aku mendukung dari jauh.”
“Wajah kamu nggak mendukung.”
“Wajah aku terharu.”
“Wajah kamu takut.”
“Manusia bisa merasakan dua emosi sekaligus.”
Aku akhirnya menyajikan dua piring. Warnanya lebih gelap daripada rencana dan telur mata sapinya memiliki bentuk yang tidak dikenal ilmu geometri. Aries menatapnya dengan kesungguhan seorang juri kompetisi.
“Kalau nggak enak, bilang,” kataku.
“Kalau enak?”
“Bilang lebih keras.”
Dia mengambil satu suapan. Aku menunggu. Wajahnya tetap tenang, kemampuan yang sangat tidak membantu.
“Bagaimana?”
“Rasanya berani.”
“Itu bukan rasa.”
“Kecapnya punya karakter kuat.”
Aku merebut sendoknya dan mencoba. Rasa asin langsung memenuhi mulut. “Kenapa kamu masih makan?”
“Karena kamu bangun jam lima untuk membuatnya.”
“Itu bukan alasan buat menyiksa lidah.”
Aku hendak mengambil piring, tetapi Aries menahannya. “Aku sungguh mau makan.”
“Karena nggak enak menolak?”
“Karena ini sarapan pertama yang kamu buat untuk aku.”
Kalimatnya menurunkan spatula pertahananku. Aku duduk di seberang dan mendorong segelas air kepadanya.
“Minum banyak. Kita harus menyelamatkan ginjal kamu.”
Dia tertawa lalu menyelesaikan hampir setengah piring sebelum aku memaksanya berhenti. Kami membuat telur orak-arik bersama sebagai pengganti, dengan syarat aku yang memegang spatula dan dia hanya memberi instruksi dari kursi.
“Api kecil,” katanya.
“Ini sudah kecil.”
“Itu sedang.”
“Kompor ini menghakimi aku.”
“Kompor cuma punya angka.”
“Nada angkanya merendahkan.”
Telur kedua berhasil. Aries memakannya dengan nasi putih dan sambal, lalu memberi nilai sembilan.
“Kenapa bukan sepuluh?”
“Supaya ada alasan kamu masak lagi.”
“Manipulatif.”
“Strategis.”
Saat membereskan meja, dia berdiri membawa piring ke wastafel. Aku menunjuk kursinya.
“Duduk.”
“Aku cuma mencuci.”
“Hari ini kamu menerima.”
“Menerima bukan berarti lumpuh.”
“Benar. Tapi kamu selalu mencari pekerjaan begitu ada orang merawat kamu.”
Aries berhenti. Piring masih di tangannya. Setelah beberapa detik, dia meletakkannya kembali dan duduk.
Aku mencuci sambil merasakan tatapannya di punggung. Dulu aku mungkin menganggap pekerjaannya sebagai kebiasaan orang rapi. Sekarang aku tahu gerakan itu juga cara melarikan diri dari posisi penerima.
“Rasanya aneh,” katanya.
“Duduk?”
“Melihat kamu mengurus sesuatu buat aku.”
“Buruk?”
“Nggak. Justru itu masalahnya.”
Aku mengeringkan tangan dan berdiri di depannya. “Senang bukan masalah.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu secara logika?”
Dia tersenyum bersalah. “Iya.”
Aku menyentuh pipinya. “Kalau begitu, tubuh kamu perlu mengejar logikanya.”
Aries menarik tanganku dan mencium telapak dengan lembut. “Terima kasih untuk sarapannya.”
Aku membuka lemari untuk mencari wadah, lalu melihat sederet kotak makan yang selalu Aries siapkan untukku. Beberapa memiliki label hari, satu memiliki sekat khusus agar saus tidak membuat lauk lembek. Selama ini benda-benda itu muncul seperti bagian alami dapur. Baru sekarang aku membayangkan waktu yang ia habiskan memilihnya.
“Besok aku buat bekal,” kataku.
Aries langsung terlihat waspada. “Kita baru saja melewati satu insiden.”
“Aku bisa belajar.”
“Aku percaya. Ginjal aku hanya butuh masa pemulihan.”
Aku melempar lap tangan. Dia menangkap sambil tertawa.
Kami kemudian membuat daftar menu yang benar-benar bisa kumasak. Aries tidak mengambil alih; dia hanya menuliskan tingkat kesulitan dari satu sampai lima. Telur rebus mendapat satu. Sup mendapat tiga. Ayam panggang mendapat lima dan catatan jangan dicoba tanpa pengawasan orang dewasa.
“Aku dua puluh delapan tahun,” protesku.
“Usia bukan sertifikasi dapur.”
Aku menambahkan kopi di daftar dengan nilai nol. Aries mencoret dan memberi angka dua karena menurutnya takaran susuku selalu berubah. Perdebatan berakhir saat dia mengakui sebenarnya menyukai kopi buatanku meski rasanya tidak konsisten.
“Termasuk nasi asin?”
“Terutama nasi asin.”
“Kamu nggak perlu bohong demi romantis.”
“Aku nggak bohong. Nasi itu akan menjadi standar keselamatan keluarga kita.”
Aku mencubit telinganya. Dia tertawa dan memeluk pinggangku, membiarkan kepalanya bersandar di perutku. Posisi itu membuatku diam. Biasanya akulah yang bersandar, sementara dia menjadi penyangga.
Tanganku masuk ke rambutnya. “Capek?”
“Sedikit.”
“Kerjaan?”
“Banyak. Tapi bisa diatur.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Belum terbiasa.”
Aku tidak memarahinya. Aku hanya mengusap rambutnya dan membiarkan ia diam selama beberapa menit. Mungkin menerima juga berarti tidak harus menjelaskan semuanya dengan segera.
Siang hari, foto nasi gorengku beredar di grup keluarga. Aries rupanya mengirimnya kepada Raka dengan tulisan sarapan terbaik, dan Raka meneruskannya ke Nadia. Sepupuku menelepon sambil tertawa sampai suaranya hilang.
“Itu nasi goreng atau material atap?”
“Aku blokir kamu.”
“Jangan. Aku punya resep penyelamat.”
Mama ikut mengirim pesan beberapa menit kemudian: Mama bangga, tapi tolong buka jendela. Rupanya Nadia sudah membesar-besarkan asap dapur menjadi hampir kebakaran. Papa menawarkan alat pemadam baru. Dalam setengah jam, kegagalan sarapanku berubah menjadi rapat keselamatan keluarga.
Aries membaca grup sambil tersenyum. “Setidaknya semua orang peduli.”
“Mereka menertawakan aku.”
“Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Aku merebut ponselnya dan mengirim foto piring kosong sebagai bukti makanan tetap habis. Raka menjawab bahwa cinta memang membutakan indera pengecap. Aries membalas dengan stiker orang menendang, penggunaan emosi digital yang semakin berkembang sejak menikah denganku.
Malamnya Nadia datang membawa bahan-bahan dan menyatakan kelas remedial dimulai. Aries dijadikan juri, meski aku curiga dia sudah disuap untuk memberi nilai bagus.
Percobaan kedua jauh lebih baik. Nadia mengambil kredit penuh meski ia hanya berdiri sambil makan kerupuk. Aries menghabiskan satu piring dan menambah setengah.
Kali ini aku memperhatikan cara Aries menerima. Dia tidak buru-buru berdiri mencuci piring. Dia duduk, meminta tambah, dan menyebut bagian yang paling disukai. Pujian itu spesifik, bukan perlindungan terhadap perasaanku. Aku menyadari menerima dengan jujur juga berarti berani memberi umpan balik tanpa takut pemberinya kecewa.
“Besok terlalu banyak garam, bilang,” kataku.
“Boleh?”
“Harus.”
“Kalau gosong?”
“Bilang. Setelah itu pesan makanan.”
“Ini perkembangan besar.”
Nadia mengangkat tangan seperti bersumpah. “Saya saksi bahwa pasangan ini akhirnya menemukan konsep komunikasi dasar.”
Kami mengusirnya dari dapur dengan dua lap tangan sekaligus.
“Nilai?” tanyaku.
“Sepuluh.”
“Karena benar-benar enak?”
“Karena aku mau sepuluh.”
Aku menerima jawaban itu. Cinta tidak selalu perlu penilaian objektif.
Setelah Nadia pulang, kami menyimpan sisa nasi dalam kotak. Aries menempelkan label bertuliskan sarapan pertama yang aman dimakan. Aku mengganti tulisannya menjadi sarapan kedua; yang pertama juga dimakan karena suami aku keras kepala.
Kami berdebat di depan kulkas sampai dia mencium pipiku untuk menghentikan protes. Aku membalas dengan ciuman singkat di bibir.
“Ini pembayaran?” tanyanya.
“Bonus juri.”
“Aku bisa menaikkan nilai jadi sebelas.”
“Terlambat.”
Malam itu dapur masih berantakan dan aroma bawang menempel di rambutku. Sarapanku tidak sempurna, bahkan nyaris tidak layak. Namun Aries duduk ketika kuminta, mengatakan dirinya lelah, dan menerima sesuatu yang kubuat tanpa buru-buru membalas. Bagiku, itu keberhasilan yang lebih besar daripada nasi goreng mana pun.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi reading
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 35 Pulang